Pada saat ini, Jacob tentu tak mengenal siapa Alinzar sebenarnya. Karena memang hawa yang Alinzar tawarkan kepada Jacob saat ia pertama kali bertemu dengannya sangatlah misterius sekaligus mencurigakan. Karena kemungkinan besar Alinzar sudah beraliansi dengan Max saat ini. Hal yang tidak mungkin terjadi kepada Max mengingat dia sangat membenci Vampir dan semua kaumnya. Jacob mencoba untuk melarikan diri dari tempat ini dan tak mau terkurung bersama orang-orang aneh di sekitarnya. Tapi mau seperti apa lagi, Dia memang tak memiliki pilihan untuk mengikuti Alinzar dan dua bocah kecil itu bersama mereka.
Mereka berlari bersama-sama melewati sebuah lorong kecil dan juga sempit. Semakin lama Jacob berjalan, entah kenapa dia merasa kalau lorongnya semakin besar, tapi dia juga tak tahu apakah lorong ini yang membesar atau tubuhnya yang mengecil. Apa pun itu, Jacob benar-benar tak tahan berada di lorong ini lama-lama karena memang udaranya yang pengap tidak berubah, aroma kumuh dan juga debu yang menyingsing di tempat ini membuatnya sangat mengerikan dan juga busuk di saat yang bersamaan.
“Hei, dimana kita akan pergi? Apa yang akan kita lakukan nanti?” Tanya Jacob. Dia sudah mencoba berkali-kali untuk bertanya kepada orang-orang ini, namun tidak ada yang menjawabnya sedari tadi. Mereka hanya diam sambil menoleh ke arah Jacob dengan sinis dan aneh. Entah apa yang mencegah orang-orang itu untuk berbicara kepada Jacob mengenai rencana mereka sendiri melewati lorong sempit ini. “Bisakah kau diam saja pemburu? Setiap ucapan yang keluar dari mulutmu hanya membuatku pusing dan juga tak enak badan. Jika kau tidak bisa diam, aku akan meninggalkanmu di sini sendirian!”
“Berani-beraninya kau bicara seperti itu, tidak tahukah kau berhadapan dengan siapa hah! Aku adalah Jacob, mercenaries paling hebat di seluruh Kerajaan Merleth. Semua orang di kerajaan pasti tahu siapa diriku dan apa yang telah kuperbuat. Sedangkan kau seorang Vampir berani-beraninya ingin melawanku hah!” Teriak Jacob tersinggung dengan lemparan ucapan yang diberikan Alinzar kepadanya. Marcell dan Julio pun langsung saja saling menatap dengan kecewa dan kesal. Mereka pun saling berbisik, walaupun ucapan mereka masih bisa didengarkan jelas oleh Jacob di sana. “Sudah kubilang bukan, membawanya adalah sebuah rencana yang buruk. Aku yakin kalau rencana kita akan berjalan baik-baik saja bila tanpa ada dirinya”.
“Aku akan mengatakan ke mana tujuan kita jika kau mau berhenti mengoceh dan menutup mulutmu, kau mengerti?” tanya Alinzar kepada Jacob di sana. Jacob langsung saja mengangguk dengan cepat karena dia memang penasaran dan ingin mengetahui apa sebenarnya yang akan mereka lakukan. “Dan jika pun kau tidak bisa berhenti berbicara, maka mungkin trisula ini akan langsung menancap ke mulutmu dan membisukannya dengan sekejap. Dan kau mungkin tidak akan dapat berkata-kata lagi, untuk selamanya. Kau bisa menerima itu?” Tanya Alinzar kembali kepada Jacob, tapi tentu saja itu membuat Jacob makin marah dan tersinggung dengan setiap ucapan bocah Vampir sok keren itu. Trisula yang dipegang Alinzar memang sangat menakutkan bahkan ia rela menukar pedangnya hanya untuk mendapatkan trisula itu jika memang Alinzar mau menukarnya di sana.
“Kau pasti sudah kenal dengan Mathilda, Wanita yang telah melahap kepala dari para bawahan-bawahanmu. Kita akan menuju tempat yang tidak mungkin dituju orang itu, dan berusaha untuk menangkapnya di sana. Di ruangan itu ada sebuah cadangan jiwa dari Mathilda agar kemampuan regenerasi dan kelahiran kembalinya menjadi hilang untuk sementara, atau mungkin selamanya. Kita harus memastikan itu setelah kita mengetahui apa yang terjadi dengan Max saat dia melawan Angela dan juga Ankha.” Ucap Marcell dan juga Julio kepada Jacob di sana.
“Dua gadis, cadangan jiwa, kelahiran kembali? Tunggu, apa yang sebenarnya kita lawan di tempat ini? Makhluk apa yang bisa melakukan kemampuan sebanyak itu dalam satu tempat? Apakah aku berada di dunia lain yang memiliki makhluk sihir aneh dan juga mengerikan?” Tanya Jacob tak paham. Marcell dan Julio saling menatap, dia sadar kalau pemburu ini tak tahu apa-apa tentang tempat dimana ia berada sekarang. Mereka sangat ingin mengatakan dimana sebenarnya keberadaan Sang pemburu ini sekarang namun terlalu lelah untuk menjelaskannya panjang lebar. Mereka pun hanya membalasnya dengan dua perkataan yang dia yakin sudah menjawab itu semua, “Mathilda dan semua keluarga di rumah ini adalah Werewolf. Dan rumah ini sendiri adalah perantara antara dunia kita dan juga dunia lain”.
“Dunia lain? Werewolf? Tidak mungkin, Aku hanya dapat menemukan sesuatu seperti itu di buku ataupun dongeng-dongeng. Mana mungkin sesuatu semengerikan seperti itu ada di kerajaan kita sekarang!” Jacob terlihat panik dan juga mengeluh sampai membuat Alinzar menoleh karena terlalu kesal. Dia langsung saja memberikan segumpal darahnya yang melayang lalu dia eratkan ke mulut Jacob membuatnya tak bisa berbicara lagi, “Kau telah melanggar perkataanmu Pemburu, dan kau akan merasakan akibatnya sekarang!”
Berlari untuk waktu yang cukup lama, Jacob dan juga kawanan orang-orang yang baru dia kenal itu langsung saja keluar dari lorong misterius dan tiba di sebuah kamar. Tampak lebih sempit daripada kamar-kamar yang lain. Alinzar langsung menyingkirkan darah yang ia jejalkan ke mulut Jacob, membuat pemburu itu langsung saja muntah karena merasa jijik merasakan bau darah yang amis dan anyir di dalam lidahnya sepanjang waktu saat dia berlari dengan kecepatan yang mengerikan seperti itu. “Jika kau melakukan itu lagi kepadaku, aku bersumpah kepadamu wahai Vampir. Kalau aku akan mengambil tugas Max yang tak becus dia lakukan dan membunuh dirimu dan juga semua kaummu. Kau harus memegang kata-kataku ini jika kau ingin menyelamatkan dirimu sendiri!”
Meskipun sudah tiba di ruangan yang dia inginkan, Marcell dan Julio malah terlihat bingung dan buyar. Pandangannya mereka alihkan ke berbagai arah seperti tidak melihat sesuatu yang dia inginkan. Alinzar melihat di seluruh ruangan ini, memang tampak sempit namun dengan pencahayaan yang lebih baik karena di samping kanannya ada sebuah jendela yang menghadap matahari membuatnya mendapatkan sebuah cahaya alami dari sana. Alinzar pun mendekat ke arah Marcell dan Julio penasaran apa yang membuat mereka bingung. “Dimana benda itu? Seharusnya ada di sini, apa yang mungkin sudah terjadi? Apa mereka tahu apa yang akan kita rencanakan?”
Alinzar masih tak paham dengan apa yang Marcell dan Julio coba katakan. Namun ia melihat seorang pria tua dengan kondisi wajah yang sangat menyedihkan berjalan pelan-pelan sambil memegang tembok dan dinding di sekitarnya. Dia benar-benar terlihat kesulitan untuk berjalan sampai-sampai hampir jatuh untuk beberapa kali. Alinzar yang tak mengenalnya langsung saja mencoba untuk mendekati pria itu dan menghampirinya mencoba untuk menyelamatkan dia, tapi Marcell dan juga Julio melarang Alinzar untuk melakukan itu dan langsung saja berteriak menyebutkan namanya. “Tidak Alinzar! Jangan menyelematkannya! Kau tak tahu siapa dia, dia orang yang berbahaya! Tidak seharusnya dia berada di sini. Dia adalah Ayah kami!”
Pria tua itu adalah Roccus Conro, istri dan juga ayah dari keluarga Conro. Kondisinya yang lumpuh membuatnya menyerahkan status kepala keluarganya kepada Sang Istri yaitu Mathilda. Namun entah kenapa untuk saat ini, Roccus masih bisa berjalan walaupun sangat kesulitan untuk menjaga kedua kakinya tetap berdiri seimbang menginjak tanah. “Ayah, apa yang kau lakukan di ruangan ini? Bukankah kau seharusnya diam di kamarmu dan beristirahat? Atau apakah kau tersesat dan mencoba untuk mencari ibu?” Tanya Marcell dan Julio, berasumsi kalau ayahnya masih belum paham kalau Marcell dan Julio sedang berkhianat melawan keluarganya sendiri.
Tapi kemudian, Roccus tertawa dengan sangat histeris sampai-sampai dia mengangkat kepalanya dan hendak jatuh. Alinzar refleks ingin sekali membantunya, namun seketika ia teringat kalau pria ini benar-benar terlihat aneh. Alinzar menganggap kalau pria ini sudah sedikit tidak waras sehingga bertindak seperti itu. “Jangan mengira kami tidak tahu apa yang kalian lakukan. Perbuatan kalian di dalam rumah ini akan mendapat ganjaran tersendiri di neraka. Dan aku yakin kalau kalian akan membusuk di sana lebih lama daripada orang-orang yang berbuat keji selain kalian!” Untuk pertama kalinya, Marcell dan Julio bisa mendengar Roccus berbicara. Selama dia terjebak di rumah ini, Marcell dan Julio tidak pernah sekalipun mendengar ayahnya itu berbicara, atau pun juga berinteraksi dengan orang lain.
“Apa yang kau katakan ayah! Kami adalah anakmu, kami akan senantiasa membantumu dan tidak mungkin akan mengkhianatimu! Jika kau berpikir kalau orang-orang ini adalah orang yang berbahaya dan akan membuat kita sengsara, tidak ayah. Mereka justru adalah orang-orang yang akan menyelamatkan kita dari neraka rumah ini!” Ucap Marcell dan Julio mencoba meyakinkan ayah mereka. Bocah-bocah itu tak tahu apakah itu akan berhasil untuk membujuknya, tapi yang jelas percobaan seperti itu memang layak untuk dicoba dan juga dikatakan. “Kau tidak mengerti apa yang kami coba katakan kepadamu dasar pengkhianat. Kami bukan keluargamu, dan kami tidak ingin penyelamatan dari siapa pun. Kami adalah orang-orang terpilih yang akan membuat kalian masuk ke dalam lubang neraka paling menyakitkan!”
Ruangan itu bergetar diiringi oleh dinding-dinding yang berputar seperti ada sebuah sumbur di belakangnya. Semua perabotan juga rubuh dan hancur begitu saja berubah menjadi pasir ketika menyentuh tanah. Cat dan juga lampu berubah menjadi sebuah lumut yang luntur dan kenyal menjijikkan. Sementara Roccus, tidak lagi berdiri dengan bersandar di depan tembok. Dia mengubah wujudnya dari seorang pria tua menyedihkan menjadi seorang monster bersayap dan berbulu lebat berwarna coklat. Roccus terlihat menjadi seorang iblis sesungguhnya, Dan mereka mungkin tidak memiliki kesempatan untuk kabur lagi, termasuk Marcell dan Julio.
“Oh tidak!” Ucap Julio dengan sangat panik. Dia mulai memikirkan semua kemungkinan rencana agar mereka bisa bertahan hidup, atau setidaknya kabur dengan selamat dari tempat ini. Berbeda dari saudara ataupun semua keluarganya yang lain, Marcell dan Julio tidak memiliki kemampuan untuk bertarung atau pun melawan seseorang. Mereka bahkan tidak memiliki kemampuan untuk mengubah diri mereka menjadi seorang Werewolf. Hanya bisa melarikan diri dari sesuatu ataupun masuk ke dalam lorong yang sempit seperti yang mereka selalu lakukan. Berada dalam situasi segenting itu, Julio langsung teringat sesuatu, “Alinzar! Saat kau menyerang Mathilda dan berada di kamarnya, apakah kau memecahkan atau menghancurkan sesuatu di sana! Karena kemungkinan besar itu adalah penyebab kenapa semua kekacauan ini terjadi sekarang!”
Alinzar menoleh bingung, karena banyak sekali barang-barang acak yang telah ia lempar bersama dengan max ke arah Mathilda saat itu. Alinzar langsung saja mencoba mengingat barang-barang apa saja yang mungkin berakibat fatal saat dia mencoba untuk mengalahkan Mathilda. Hingga akhirnya, Alinzar teringat akan sesuatu, “Ya benar, aku mengingatnya. Saat aku melempar sebuah benda berbentuk vas ataupun artefak, Mathilda terlihat sangat marah dan berkata sesuatu yang sangat buruk akan datang. Aku tak tahu apa yang dia maksud saat itu. Apakah mungkin ini berhubungan dengan apa yang terjadi sekarang?”
“Tidak mungkin kau telah memecahkan benda itu! Benda yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Dan sekarang, kau telah membuat situasi menjadi semakin kacau dan memburuk!” Balas Julio kepada Alinzar. Hanya Jacob di sini yang plonga-plongo tak paham apa yang mereka bertiga ucapkan. Marcell langsung saja melanjutkan menjelaskan benda apa itu sebenarnya yang telah dirusak oleh Alinzar dan juga Max. “Itu adalah segel pengamanan! Tidak ada yang boleh menyentuh atau merusak benda itu! Dan seharusnya, benda itu disimpan di tempat yang aman. Aku tak tahu bagaimana kalian bisa menemukannya dan menghancurkannya dengan semudah itu. Tapi memang, jika kalian merusaknya, maka sosok kegelapan yang membuat rumah dan semua keluarga ini menjadi terkutuk akan bangkit. Jiwa kegelapan itu dikurung di dalam segel vase itu dan siapapun yang membukanya, akan membuka kutukan yang ada di dalam sana juga!”
Tapi tiba-tiba dengan kecepatan yang tak dapat diperkirakan sebelumnya, Roccus dengan wujud mirip iblisnya itu langsung melaju dan mencekik Marcell di sana. Matanya memerah dan juga taringnya yang tajam membuat Marcell benar-benar ketakutan setengah mati. “Kau benar-benar banyak omong. Aku tidak mengajarkanmu menjadi sosok yang cerewet dan banyak cakap seperti itu. Kau adalah sebuah aib bagi rumah ini, dan saat kau lahir, aku seharusnya langsung membunuhmu tanpa berpikir ulang!”
Roccus melempar Marcell di dinding. Membuatnya menabrak dan menghancurkan sebagian dindingnya. Namun Marcell tidak jatuh di dinding itu dan membuatnya menempel di sana dengan sangat menakutkan. Julio tentu saja langsung berteriak melihat nasib dari saudaranya itu yang bernasib naas. Dia pun langsung menghampirinya dan memeriksa apakah Marcell masih tetap hidup setelah menerima serangan separah itu. Meskipun memejamkan matanya, Marcell masih hidup dan bisa bernafas dengan baik. Hanya saja kemungkinan besar dia sudah tidak sadarkan diri saat ini. Julio menoleh ke arah Roccus dan berkata, “Kami bukan aib di rumah ini. Justru kalian adalah monster sesungguhnya yang tak memiliki hati nurani. Kami bukan keluarga kalian!”
“Bocah tengik banyak omong!” Roccus langsung saja mendekati Julio yang berbicara kasar kepadanya, berusaha untuk menyerangnya dengan cara yang sama dilakukannya kepada Marcell. Namun secara tiba-tiba dengan tindakan heroik, trisula dan juga pedang menahan tangan Roccus yang hendak menyerang Marcell itu. Jacob dan juga Alinzar melakukan sesuatu di saat yang benar-benar tepat. “Tak kusangka kalau aku akan bersekutu dengan seekor Vampir melawan seorang jelmaan iblis!”