Chapter 55 : Max dan Dua Gadisnya

2013 Kata
Tepat di hadapan pemuda itu, ada dua sosok gadis yang sangat ia kenal. Seorang gadis yang bahkan pernah ditidurinya dengan tanpa sengaja, namun dia menghadapinya tidak dengan wujud sempurna, melainkan wujud monster penuh dengan bulu dan juga taring-taring menyeramkan. Max harus menghadapinya sendirian sekarang sementara Jacob dan juga dua bocah tadi harus kabur menyelamatkan diri mereka masing-masing. Max cukup percaya diri dengan hanya bermodalkan panah cahaya yang dia bawa di tangannya sekarang mampu untuk mengalahkan dua gadis itu. Sebelumnya sesaat Max belum menghadapi dua gadis itu dan bertemu Jacob, dia sudah menyusun siasat bersama Marcell dan Julio perihal cara untuk membunuh Mathilda dan semua cadangan jiwanya. Namun mereka tak bisa melakukan itu semua begitu saja hanya dengan langsung menghampirinya dan menyelesaikan semuanya secara bertarung. Karena selain hal tersebut sia-sia, mereka juga tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan Mathilda meskipun senjata suci dan juga kekuatan sudah mereka dapatkan. Max dan juga yang lainnya perlu memerlukan rencana lain. Dan salah satu dari rencana itu adalah dengan melibatkan Angela dan juga Ankha. Angela dan Ankha merupakan anak paling kesayangan yang dimiliki Mathilda, mungkin mereka adalah anak yang sangat-sangat dicintai karena sifat mereka yang mudah untuk dikendalikan dan juga berkomunikasi dengan orang lain ketimbang anak-anaknya yang lain. Karena Angela dan Ankha adalah anak kesayangan Mathilda, mereka berdua ditugaskan untuk menjaga sebuah ruangan yang berisi sebuah kumpulan jiwa-jiwa cadangan miliki Mathilda di suatu ruangan di tempat ini. Kumpulan jiwa itu sangat banyak bahkan sampai membuat semua populasi di kerajaan Merleth tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan populasi jiwa yang ada dalam koleksi itu. Hanya Angela dan Ankha yang tahu lokasi dari kumpulan jiwa itu, dan mereka bebas menggunakan semua jiwa cadangan itu jika dirasa sangat dibutuhkan dan mereka akan menggunakannya demi kepentingan semua keluarga di rumah ini. Bahkan anak-anak Mathilda yang lain tidak diberi kemewahan dengan mengakses semua jiwa itu dengan mudahnya karena memang saking pentingnya semua kumpulan jiwa itu. Marcell dan Julio bahkan mengatakan kalau Mathilda mungkin sudah mengumpulkan jiwa semenjak Calamity belum berlangsung dimulai dari kakek dan juga nenek buyutnya yang hidup di masa lampau. Hal itu juga menggambarkan betapa banyaknya kumpulan jiwa yang Mathilda miliki dari apa yang sudah ia raih selama hidup di dunia ini. Marcell dan Julio yang bahkan sudah menelusuri semua dinding, lorong, atap dari rumah ini juga tidak mengetahui dimana letak semua kumpulan jiwa itu. Mereka berdua bahkan mengira kalau kumpulan semua jiwa itu berada di dunia lain dan tak terikat di rumah ini. Namun jika memang itu benar adanya, bahkan Jade dan Judy pun bisa mengakses kumpulan jiwa itu dengan mudah tanpa membutuhkan bantuan Angela maupun Ankha yang sangat protektif terhadap benda yang mereka jaga dan kumpulkan. Semua yang ada di benak Marcell dan Julio hanyalah sebatas spekulasi dan juga imajinasi belaka, mereka berdua tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di tempat koleksi pengumpulan jiwa itu. Dan oleh karena itu, Max memiliki siasat untuk menyerang habis-habisan Angela dan Ankha agar kedua gadis itu bisa mengantarkannya pergi ke tempat ruangan kumpulan jiwa itu tanpa sadar. Tapi tentunya mengalahkan kedua gadis itu bukanlah perkara yang mudah, Max sendiri tidak bisa mengendalikan dan juga menggunakan panah cahayanya dengan benar. Apalagi Alinzar saat itu masih berada dalam kondisi sekarat dan tidak ada satu pun yang bisa membantu Max melawan Angela dan Ankha. Semua berada di tangan Max untuk menemukan ruangan rahasia penuh dengan koleksi jiwa tak bernyawa dan juga dosa itu. Max langsung saja menembakkan panahnya ke arah kepala Angela dan Ankha menusuk salah satu organ vital di depan mata mereka. Panah itu berhasil ditembak dan membuat Angela dan Ankha terluka untuk beberapa saat, sebenarnya Max cukup canggung saat bertemu mereka berdua. Dia masih tidak tahu apa intensi yang dilakukan Angela dan Ankha kepadanya pada malam itu. Apakah itu hanya sebatas pemuas nafsu belaka? Atau Angela dan Ankha telah melakukan sesuatu kepada Max sampai-sampai dia tidak menyadari sesuatu apa itu sebenarnya. Max takut jika saat dia bertarung dengan Angela dan Ankha sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi kepadanya dan membuat semua rencananya menjadi kacau dan bubar. Angela dan Ankha berjalan dengan berlari menuju Max berkecepatan tingkat tinggi. Mereka berdua tak memiliki intensi untuk mengalah atau pun memelankan serangan mereka meskipun sejarah mereka memang cukup merepotkan dan juga penuh dengan keanehan. Angela berada di sisi kanan Max, mencakarnya dari sisi itu, sedangkan Ankha berada di sisi kiri, mencakar dan menggigit nya dari sisi itu. Max tidak bisa menghindar dari kedua serangan itu, karena memang jaraknya untuk berguling dan menghindar cukup sempit dan ruang geraknya tidak mungkin untuk bisa dilakukan dengan benar. Max pun harus menerima pil pahit karena menerima serangan Ankha di sebelah kirinya saat dia menghindar Angela di sebelah kanan. Pinggang Max tercabik membuat sebuah bekas memanjang di kulitnya dan berdarah dengan sangat mengerikan, cakarnya menancap cukup dalam masuk ke organ Max di tubuhnya itu sampai Ankha bisa merasakan sebuah tulang dan juga benda keras menahan cakarnya untuk masuk lebih dalam. Kemudian, taring Ankha yang masih terbuka lebar ia gigitkan ke arah kuping bagian kiri Max membuat kupingnya terlepas dari tempatnya dan tak bisa dia dapatkan lagi dengan mudah. Ankha langsung saja di lempar dari tempat dia berada menuju tempat yang jauh dari sana dan menabrak tembok sampai merusaknya dengan sangat parah. Setelah terkena serangan itu, Max hanya berteriak kesakitan tak mampu melakukan apa-apa untuk menghindar dari serangan itu dan juga pasrah akan keadaannya yang terombang-ambing tak jelas. Tak ada yang tahu kalau semua yang Max lakukan saat ini, adalah sesuatu yang sudah ia perkirakan akan benar-benar terjadi. Max sengaja melakukan itu, hanya semata-mata agar membuat Angela dan juga Ankha melupakan hal yang benar-benar dia targetkan dari tadi itu. Max mengincar titik lemah dari Angela dan Ankha, yang berada tepat di belakang badannya, bersinar terang berwarna mirip seperti kristal yang ia temukan saat melawan Gargoyle raksasa di desa Frello. Kristal itu memang adalah sebuah titik kelemahan dari seorang Werewolf seperti halnya Gargoyle itu. Max langsung saja menembakkan panahnya ke arah cahaya itu dan mengenainya dengan tepat langsung ke dua titik secara bersamaan. Dalam keadaannya yang sekarang, Max memang kesulitan untuk menarik busur panahnya karena cederanya yang sangat parah dan mungkin tidak dapat ditolong lagi. Kemampuan penyembuhannya akan memakan waktu lama hanya untuk sampai dia bisa berdiri dan berjalan lagi dengan normal. Tapi apa pun itu, tembakan Max benar-benar membuat Angela dan Ankha kesakitan. Mereka langsung jatuh berguling-guling menahan rasa sakit yang amat sangat pedih sehingga membuat mereka harus mencari cara untuk meredam rasa sakit yang mereka rasakan itu. “Kurang ajar kau dasar pemburu! Bisa-bisanya kau mengelabuhi kami dan menyerang kami dari titik buta ini. Ingat ini pemburu, setelah kau melakukan ini, kami tidak akan segan-segan untuk membunuhmu dengan cara paling brutal yang pernah kami lakukan!” Teriak Angela dan Ankha kepada Max. Sebenarnya titik lemah itu tidak membuat mereka langsung kalah atau mati seperti halnya para Gargoyle. Bahkan titik lemah itu hanya ada di balik punggung milik Angela dan juga Ankha, tidak ada di saudara ataupun saudarinya yang lain. Titik lemah itu hanya membuat mereka merasa sedikit terbuka lebar dan juga tak bisa melakukan apa-apa untuk membuat mereka bisa bangkit kembali. Alasan Angela dan Ankha memiliki kelemahan itu adalah ketergantungan Angela dan Ankha terhadap jiwa. Sebenarnya, tidak seperti saudara-saudaranya, Angela dan Ankha tidak memerlukan jiwa itu untuk mereka konsumsi. Karena cukup Mathilda saja yang mengonsumsi itu semua sehingga membuatnya menyalurkan jiwa dan juga semua tenaga yang ia telah berikan kepada anak-anaknya. Namun karena Mathilda memang terlalu memanja Angela dan Ankha, dia memberikan sebagian dari jiwa yang sudah dikumpulkannya kepada kedua gadis itu. Dan sebenarnya, jiwa mereka sendiri tidak mampu mengonsumsi jiwa lain serakus dan sebanyak itu hanya terbatas. Sampai muncullah dua tonjolan yang berbahaya dan juga bersinar dengan terang itu. Max tahu kalau satu serangan miliknya tidak akan membuat Angela dan Ankha mengantarkannya ke tempat kumpulan jiwa dikumpulkan. Ia langsung saja menembak bagian belakang mereka sekali lagi membuat kedua gadis itu langsung saja menjerit kesakitan karena apa yang telah Max lakukan kepadanya. Tubuh mereka mulai sedikit berubah sekarang setelah mendapatkan serangan kedua dari Max tersebut, menjadi lebih kecil dan juga taring-taring yang ada di mulut dan juga cakar di tangan mereka menjadi tidak lebih bahaya dari pada yang lainnya. Max merasa mungkin ini memang saatnya ia datang dan membuntuti mereka dari belakang yang sudah berjalan terlalu jauh di depannya. Sambil terseok-seok memegang punggungnya, kedua gadis itu berjalan menuruni tangga dan menuju ruangan tamu berkumpul dengan meja dan juga kursi tempat Max melakukan perjamuan sebelumnya. Max tak tahu kenapa Angela dan Ankha mengantarnya ke tempat itu, karena dia melihat di sekeliling tidak ada sesuatu yang mencurigakan ataupun tanda-tanda kalau ada pintu rahasia di sana. Hanya ada lukisan-lukisan aneh beserta dengan bentuk-bentuk mereka yang memang menyeramkan. Max sendiri berjalan sambil melata seperti halnya seekor ular. Dia memaksakan tubuhnya sendiri saat ini agar bisa terjaga dan tidak pingsan begitu saja. Karena jika dia mulai tak sadarkan diri, mungkin semuanya akan berakhir di sini juga tanpa adanya penyelesaian yang sebenarnya. Angela dan juga Ankha ternyata membuka sebuah portal di sana, dengan kemampuan sihir kegelapan yang mereka punya. Portal itu terbuat dari potret lukisan-lukisan yang tergambar dengan jelas dan membentuk sebuah pola yang sangat familiar di mata Max saat pertama kali melihatnya. Pola sebuah bintang utara dengan tanduk dan juga titik yang bercahaya di setiap sudutnya. Max benar-benar tak boleh melewatkan kesempatan kali ini untuk ikut bersama Angela masuk ke dalam portal itu, karena memang dia berpotensi untuk melakukan sesuatu yang amat sangat jahat dan berbahaya di dalam sana, dan Max tak bisa menunggu Angela dan Ankha berbuat sesuatu yang buruk seperti itu. Dengan merayap bak seekor ulat, Angela dan Ankha tampak tak menyadari kalau ada Max di belakang mereka. Max terus saja berjalan dengan kondisi seperti itu. Dan sesampainya di portal itu, Max langsung saja masuk ke dalam dimensi kegelapan, sangat gelap dan terasa mirip seperti ruang yang ia temui Sang Ikan itu. Max bisa berdiri sekarang, seperti semua lukanya sembuh dan juga hilang dengan sendirinya. Sementara Angela dan Ankha melakukan sebuah ritual dengan mengangkat tangan mereka ke atas sambil mengayun-ayunkannya. Saat kedua gadis itu melakukan ritual itu, jeritan kesakitan dan tangis mulai merebak di seluruh arah dan juga penjuru. Max benar-benar tak tahan dengan situasi yang dia rasakan sekarang sampai dai menutup kepala dan juga telinganya. Ini berbeda saat dia berada dimensi kegelapan bertemu Sang ikan. Dunia ini, jauh lebih kelam dan juga mengerikan dibanding itu semua. Max langsung saja mengangkat panah cahayanya, membuat semua suara yang menjerit itu menjadi semakin histeris dan juga mengerikan. Max tak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya suara itu memang membuat semua keadaan di sekitarnya menjadi lebih baik, atau pun lebih buruk. Angela dan Ankha menyadari apa yang terjadi dengan mereka semua, kedua gadis itu langsung saja menoleh ke belakang. Menyadari kalau ada keberadaan Max yang ada di sana bahkan tak terdeteksi oleh sama sekali. “Dasar kau kecoa, bagaimana kau bisa ke tempat ini bersama kami. Seharusnya kau tidak bisa hidup dan melakukan apa yang kau mau saat berada di dimensi ini. Jiwamu akan keluar dan terhisap oleh tempat ini meninggalkan tubuhmu. Siapa kau sebenarnya!?” Ucap Angela dan Ankha kebingungan. Panah itu ia turunkan dari atas, dan membidik kepala Angela dan Ankha secara bersamaan. Di tempat ini, cahaya terasa sangat dibutuhkan karena itu bisa menerangi apa pun yang ada di sekitar mereka. “Entahlah, aku merasa aku memang ditakdirkan untuk membunuh kalian berdua di tempat ini. Aku tidak peduli apa yang telah kalian lakukan kepadaku tempo hari itu, tapi aku merasa apa yang kalian lakukan bukanlah sesuatu yang benar atau membanggakan untuk dilakukan. Jadi untuk sekarang, apakah kalian mempunyai kata-kata terakhir untuk kukatakan kepada ibu kalian nanti!” Dengan sekejap, Angela dan juga Ankha langsung mengubah wujud mereka menjadi seorang Serigala mematikan, di dalam ruangan gelap dan serba mematikan ini. Mereka malah langsung menyerang Max yang berada di sana tak mendengarkan apa yang coba ia sampaikan. “Dasar gadis tak waras, padahal sudah kuberi kesempatan kepada kalian. Kalau memang begitu, matilah di tempat ini!” Max menembakkan panah itu, dan membunuh Angela dan Ankha di tempat. Max. Langsung saja keluar dari dimensi kegelapan itu, dan kembali ke ruang tamu bersama semua lukisan misterius yang terpampang dengan tidak meyakinkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN