Mathilda sangat panik, calon mangsa jiwanya harus terganggu akibat kedatangan Max secara tiba-tiba di sana. Jacob masih tak bisa memproses apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Mengapa tiba-tiba ada Max di sana entah membantunya atau melakukan sesuatu yang dia belum inginkan. Tapi yang jelas melihat situasi yang terjadi sebelumnya, Jacob langsung saja lari dari kamar itu dan mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Semua anak buah Jacob juga ikut panik, mereka berlari ke arah pintu belakang bersama-sama mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing. Namun terlambat bagi mereka karena pintu sudah ditutup rapat-rapat oleh Mathilda, mengurung mereka di kamar itu bersama mereka. Jacob yang melompat sambil berguling ke depan tentu saja panik karena anak buahnya tidak ikut kabur bersamanya. Dia langsung saja menggedor pintu itu dengan keras-keras mencoba untuk membukanya dan menyelamatkan mereka semua di dalam. Jacob tidak pernah melakukan ini sebelumnya, menyelematkan anak buahnya. Tapi entah kenapa dia bertekad dengan sangat kuat sekarang, “Tidak bisakah kau membantuku membuka pintu ini baji-ngan!” Teriak Jacob kepada Max.
“Apa kau bo-doh! Jika kau membuka pintu itu, maka kau juga akan ikut terjebak dan tertangkap di kamar itu. Dan mungkin, mereka semua tidak akan dapat menemuimu lagi. Apa kau mau melakukan sesuatu demi anak buahmu itu?” Balas Max dengan bingung dan juga marah. Max memang selalu memiliki emosi yang sangat tinggi jika itu berkaitan dengan berinteraksi bersama Jacob. Jacob pun langsung saja menggedor-gedor pintu itu sambil menendangnya dari luar. “Aku tidak peduli apa perkataanmu, mereka adalah bawahanku, dan sudah seharusnya aku menyelamatkan mereka! Kau seorang pembantai mana paham apa yang aku coba katakan padamu!” Teriak Jacob kembali kepada Max.
Namun di balik kamar itu, Jacob bisa mendengar suara orang-orangnya berteriak dan meraung-raung minta tolong kepada Jacob yang berada di sisi lain ruangan ini, “Bos, Tolong kami! Di tempat ini sudah seperti neraka!” Ucap salah satu bawahan Jacob yang menangis dan meminta pertolongan dengan sangat keji. Jacob tak tahu apa yang terjadi di dalam sana, namun tiba-tiba keluar air dari matanya. Jacob langsung saja mengambil pedang miliknya, mencoba untuk menebas pintu itu dan mendobrak masuk ke dalamnya. Jacob benar-benar akan berbuat sesuatu yang nekat dan berbahaya demi menyelamatkan bawahannya saat ini.
Tahu kalau perbuatan Jacob itu sangat bodoh, dia langsung saja memanah Jacob dengan panah cahayanya dan membuatnya menyingkir dari luar pintu itu untuk berada di tempat lain yang lebih aman dan juga tidak mencoba-coba untuk mendobrak pintu itu menyelematkan bawahannya. Panah itu tepat mengenai da-da Jacob dan berhasil menjauhkannya dari pintu itu. Jacob menoleh ke arah Max dengan amarah yang sangat besar, Dia sangat kesal dengan kelakuan Jacob. “Dengar, aku mencoba memaafkanmu dengan apa yang kau lakukan kepadaku saat berada di kerajaan, dan sekarang kau mencoba untuk menghalangiku yang mencoba menyelamatkan orang-orang di dalam kamar itu. Tidak bisakah kau membiarkanku melakukan apa yang sedang coba kulakukan dasar monster!”
Jacob berbalik menyerang Max dengan sebuah pedang di tangan kanannya dan juga cakar besi di tangan kirinya. Max bisa saja menanggapi aksi Jacob ini namun dia memilih untuk menghindar dari pertarungan, karena Max tahu kalau dia membutuhkan Jacob untuk hidup daripada membutuhkannya untuk mati. “Aku tahu Jacob, namun kau tidak bisa menyelamatkan mereka lagi, mereka sudah menjadi sosok yang berbda sekarang. Kau mungkin mengira jika kau membuka pintu itu, maka orang-orangmu akan kembali seperti biasanya. Namun sebenarnya tidak, mereka sudah menjadi sesuatu yang lain sekarang!” Ucap Max sambil menghindar setiap serangan Jacob.
Sementara itu Jacob tidak berusaha mendengarkan perkataan Max dan terus saja menyerang Max dengan membabi buta. Bahkan Max sudah tahu arah-arah serangan yang akan dilakukan Jacob dengan pedangnya kali ini. Sangat mudah diprediksi dan juga bisa ditentukan ke mana arahnya pergi. Max sudah paham kalau Jacob tidak akan bisa berpikir jernih saat bertarung apabila emosi dan juga kemarahan meluap di dalam dirinya sendiri, benar-benar kebalikan dari kebanyakan orang yang bertarung agar bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing. Setiap gerakan Jacob hanya dipenuhi ego dan juga amarah yang tak terbendung sekarang.
Hingga akhirnya Max merasa lelah karena selalu menghindar di setiap serangan Jacob itu, dia pun berniat untuk menyudahi ini semua dengan menancapkan panahnya ke arah kaki dan juga badan Jacob sehingga dia tidak bisa bergerak. Dengan sangat cepat, Max melesatkan anak panah cahaya itu dan berhasil mengenai dua target yang dia inginkan. Penuh dengan amarah, Jacob pun berteriak dengan histeris tak mampu untuk melakukan apa-apa karena masih dalam kesakitan tersebut. “Kurang ajar kau pemban-tai sialan. Aku tidak akan pernah memaafkanmu atas perbuatanmu padaku kali ini!” Ucap Jacob kepada Max yang ada di sana. “Terserah padamu tentangku. Karena aku melakukan ini semua demi kebaikanmu juga. Dan bahkan, kau mungkin akan berterima kasih kepadaku karena aku telah menyelamatkan hidupmu!”
Saat kedua pemburu itu bertarung, mereka lupa kalau ada dua orang gadis yang memerhatikan mereka sejak tadi. Mengamati setiap gerak-gerik pertarungan sampai-sampai kedau gadis itu sudah hafal dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi Max, baru sadar kalau kedua gadis itu berada di sana barusan, rasa merinding dan juga takut menyelimuti badannya. Dia tak tahu apa yang akan direncanakan gadis itu kepada Max mau pun Jacob. Dan Max, mengenal dua gadis itu, gadis yang tidur bersama Max dan mengantar Jacob ke tempat ini. Mereka adalah Angela dan Ankha.
Angela dan Ankha berjalan perlahan-lahan menuju ke arah Jacob yang kesakitan. Mereka berdua menghampirinya dan menunduk mendekatinya. Tangan halus itu menyentuh pipi dan juga kepala dari Jacob, dengan tatapan iba dan juga simpati yang sangat tinggi. Jacob merasa bingung dengan apa yang terjadi, sampai-sampai dia mengatakan sesuatu untuk menolong rasa bingung dan juga ke tidak pahamannya, “Kalian jangan khawatir, ini hanyalah luka kecil dan tidak berbahaya. Aku tahu kalau baji-ngan itu tidak akan berani membunuhku, karena dia memang adalah sosok penjilat Brooks yang tidak mau mencemari namanya sendiri di depan mata bosnya”
Angela dan Ankha tersenyum geli, mereka bahkan sampai tertawa-tawa mendengar ucapan Jacob barusan. “Luka kecil? Dengar pemburu, tidak ada yang namanya luka kecil atau besar. Itu semua tergantung seberapa lemah atau pun kuatnya dirimu. Dan aku merasa kalau luka ini membutuhkan suatu penanganan, aku yakin ada sesuatu di rumah ini yang dapat membantu lukamu itu menjadi sembuh, namun itu saja jika kau memang berkenan untuk kami sembuhkan, apa kau bersedia untuk agar kami melakukannya kepadamu?” Tanya Angela dan Ankha kepada Jacob. Namun sebelum Jacob menjawabnya, Max langsung saja berteriak menyuruh Jacob agar menolak tawaran itu, “Tidak Jacob, jangan menerima perlakuan apa pun darinya!”
Jacob menoleh ke arah Max dengan tatapan kesal dan sinis. Dia tidak mungkin akan mendengarkan ucapan orang yang telah menyakitinya. Menolak ucapan Max, Jacob pun mengangguk dengan keras mengisyaratkan kalau ia mau menerima tawaran Angela dan Ankha. “Baiklah Tuan, pemburu, kami akan dengan senang hati membantu Anda!”
Angela dan Ankha membuka penutup mulut mereka. Betapa kagetnya Jacob saat melihat sesuatu di balik muka itu adalah taring dan juga lidah menjulur yang sangat panjang, membuatnya langsung ketakutan. Jacob langsung saja duduk mundur, namun yang dia lakukan percuma saja karena Angela dan Ankha sudah mengunci Jacob berada di hadapannya. Tatapannya benar-benar seperti monster yang haus akan darah dan juga jiwa. Jacob masih berada di dalam kondisi syok, tak tahu apa yang dilihat di depan matanya saat ini. Kedua gadis itu membuka mulutnya lebar-lebar dari sisi kiri dan kanan, bergantian ingin melahap Jacob agar semuanya kebagian hal yang paling enak dalam diri manusia, otak mereka.
Tapi sebelum kedua gadis itu berani menyerang Jacob, Max langsung saja menembak kepala Angela dan Ankha mengenainya dengan sangat tepat sampai-sampai terpojok dan berjalan mundur. Jacob masih tak paham dengan apa yang terjadi, tapi dua monster yang dia kira gadis itu terkena serangan Max dengan sangat mudahnya. Jacob langsung saja berdiri dan lari terbirit-b***t mendekati Max mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia memegang pedangnya berusaha untuk menyiapkan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi lagi menimpa dirinya. “Sudah kubilang jangan menerima tawaran mereka bukan. Jika kau mendengarkan perkataanku, kau mungkin tidak akan melihat pemandangan mengerikan seperti itu. Tapi hati-hati, mereka masih belum kalah.” Ujar Max kepada Jacob
Dan benar saja, Angela dan Ankha langsung bangun setelah diserang dengan telak oleh panah milik Max sebelumnya. Mereka berubah sepenuhnya ke wujud Werewolf mereka yang mengerikan dan juga menakutkan. Mereka langsung saja maju dan membuat sebuah sihir kegelapan mirip dengan sihir yang dilakukan oleh ibu mereka, hanya saja sihir ini sedikit berbeda dengan asap kegelapan. Sihir itu membuat partikel-partikel yang melaju ke hadapannya terbelah dan membuat semuanya menjadi terhisap ke dalam sana.
Max dan juga Jacob tentu saja tidak bisa terhindarkan dari serangan-serangan mematikan itu, mereka terus saja menghindar dari setiap serangan yang Angela dan Ankha berikan kepada mereka. Namun setiap Angela dan Ankha mengeluarkan serangan mereka, ruang di sekitar Jacob dan Juga Max juga ikut semakin sempit dan tak bisa bergerak bebas. Hanya membutuhkan waktu yang tidak lama bagi mereka mendekat ke arah Angela dan Ankha sampai benar-benar tak terhindarkan.
Tapi tiba-tiba kemudian dari samping lorong itu, terlihat dua orang anak kecil yang membuat Jacob bingung darimana mereka datang. Max langsung saja menarik lengan Jacob dan mengajaknya berlari ke arah dua bocah itu, Jacob tidak mengenal siapa mereka berdua, karena memang terlihat sangat mencurigakan dan juga aneh. Darimana mereka datang, “Siapa mereka berdua? Apa yang kau lakukan padaku!” Teriak Jacob kepada Max yang menariknya. Max hanya menoleh ke arah Jacob dengan sinis dan juga sebal, karena memang Jacob tidak tahu apa yang sedang terjadi di tempat ini. Max langsung saja melempar Jacob ke arah dua bocah itu yang kemudian di tangkapnya.
Dua bocah itu menarik Jacob kembali ke dalam lorong yang akan ia datangi, tapi ternyata Max tidak ikut dengannya. Dia bertarung dengan Angela dan Ankha di sana sendirian tidak dibantu oleh siapa pun, “Apa yang kau lakukan di sana Max? Mengapa kau tidak ikut bersamaku!” Teriak Jacob kepada Max. Max pun kembali menoleh, dia mengangkat panah cahayanya dan berusaha untuk mengisyaratkan kalau dia akan mereka melawan dua gadis itu yang lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai seorang monster sekarang sendirian. “Kau tahu apa yang akan ku lakukan, aku akan melawan mereka berdua dengan kemampuan ku sendiri, dan tentu saja tanpa bantuanmu. Cepat selamatkan dirimu Jacob, jangan khawatirkan aku.”
Jacob pun digeret oleh kedua bocah itu di dalam lorong yang sangat sempit dan sesak, lorong itu sangat panjang sampai=sampai Jacob tak tahu di mana letak ujung dari lorong itu. Dia hanya bisa melihat cahaya di sana dan membuatnya yakin kalau memang akan ada tujuan yang mereka berdua hampiri bukan terjebak dan berlari di ruang hampa selamanya. Dua bocah itu langsung saja melempar Jacob di sana, ruangan basement yang sangat luas namun juga sangat sempit di saat yang bersamaan. Jacob masih bisa merasakan rasa sakit yang dia rasakan di punggung dan juga pinggulnya.
“Hei, dimana kalian mengantarku? Cepat kembalikan aku kepada Max!” Cergah Jacob kepada dua bocah itu. Namun mereka hanya diam dan saling menatap tak menjawab apa-apa terhadap cergahan Jacob tadi. Jacob melihat seseorang yang duduk dengan badan yang cedera parah menatapnya di sana, dia berbadan pucat dan sangat familiar dengan wujud seperti itu. Sebelum Jacob bertanya siapa mereka, bocah-bocah itu pun memperkenalkan diri mereka sendiri. “Selamat datang pemburu, kau ada di sebuah ruangan yang aman sekarang. Kau tidak perlu khawatir akan kehadiran musuh, karena tempat ini berada di luar pengamatan mereka. Namaku adalah Marcell, dan ini saudaraku Julio. Kami adalah pemburu yang disekap dan ditangkap di tempat ini. Dan kami berusaha untuk kabur di tempat ini sama sepertimu.”
“Tunggu, tunggu. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak paham dengan apa yang kalian katakan soal pelarian diri, ada apa dengan kalian!” Ucap Jacob masih bingung memproses semua yang terjadi secara bersamaan di kepalanya. Tiba-tiba, pria yang duduk dan berbadan pucat itu berdiri. Dia mengeluarkan sebuah darah yang keluar dari tubuhnya dan melayang-layang di sekitarnya. Jacob langsung saja syok, karena dia tahu makhluk yang bisa melakukan sesuatu semacam itu.
“Apa? Kau belum pernah bertemu seorang Vampir sebelumnya?” Ucap pria itu dengan tatapan mengerikan.
“Aku kira kalian semua sudah mati, dibunuh oleh Max. Siapa sebenarnya dirimu?”
“Semuanya, kecuali aku. Namaku Alinzar, Sang Vampir terakhir. Dan sebaiknya, kau angkat bokongmu dari lantai itu, ada sesuatu yang harus kita kerjakan”.