“Dimana jalan keluarnya, aku akan menghampirinya sekarang juga,” Ucap Max buru-buru sambil menenteng panahnya. Dia membalik badannya mencoba untuk mencari pintu agar keluar dari sini. Tapi Marcell dan Julio tentu saja menahannya agar tidak bertindak gegabah dan buru-buru keluar dari ruangan ini. “Apa yang ingin kau coba lakukan Max? Kau ingin menyapanya dan memintanya untuk datang ke rumah ini bersamamu? Apakah saat kau bertarung melawan Mathilda kepalamu terbentur sesuatu sehingga membuatmu bertindak tidak rasional sekarang? Kau hanya akan menggali kuburanmu sendiri Max!” Ucap Marcell dan Julio menahan pemburu itu.
“Lalu apa yang akan kita lakukan? Kita tak bisa membiarkan Jacob masuk ke dalam dan menjadi beban kita selanjutnya. Membawa Alinzar yang lemah dan tidak mampu bertahan melawan serangan Mathilda saja membuatku sudah merasa kelelahan atas tingkahnya, belum lagi dengan Jacob dan para cecunguknya itu!” Balas Max sambil menunjuk Jacob di luar sana. Dia merasa kalau memang benar Jacob akan menjadi beban selanjutnya jika tidak segera memberitahukannya sesuatu atau mencoba untuk memperingatkannya.
“Tidak Max. Mathilda akan menangkapmu jika kau akan berusaha untuk menghampirinya. Apakah kau lupa apa yang bisa dia lakukan kepadamu? Dia akan membunuhmu dengan mudah bahkan sebelum kau bisa menyadarinya. Sekarang, turuti perintah dan rencana kami, dan kami akan menjanjikanmu apa itu arti kemenangan yang sesungguhnya! Dan dengarkan apa yang kuperintahkan padamu!” Ucap Marcell dan Julio kepada Max di sana. Max pun tertunduk diam, merasa rencana yang dilakukannya dengan insting pemburunya itu memang benar-benar tidak ada yang berhasil manjur ataupun membuat semuanya menjadi benar. Dia mungkin harus mendengarkan Marcell dan Julio kali ini.
Di lain sisi, Jacob dan bersama para anak buahnya datang di depan pagar, dia menunggu seseorang atau sesuatu untuk datang dan menyambut mereka. Namun sudah beberapa jam dia kemari, tidak ada yang datang untuk bertemu dengan mereka. “Jacob, apakah ini benar alamat yang sudah ditulis di dalam misi? Aku tidak melihat kalau alamat ini cocok dengan alamat yang sudah ditulis di papan misi itu. Apakah kau benar-benar yakin kalau tempat ini adalah alamat yang tepat?” Tanya salah satu anak buah Jacob kepada dirinya. Jacob pun menoleh ke anak buahnya itu, dengan pandangan sinis dan juga menyeramkan, “Jika kau merasa muak dengan apa yang terjadi di sini, tidak ada yang menyuruhmu untuk tetap tinggal, kau bisa kabur kapan saja dan pulang untuk menyusu di p******a ibumu. Apakah kau memang bocah seperti itu?” Balas Jacob dengan sindiran keras.
Jacob membawa pasukan yang cukup banyak di sini, dan entah kenapa dengan pasukan itu dia tidak langsung datang dan menyerbu ke tempat ini, apalagi mengetahui gaya bertarung Jacob yang pukul dulu, tanya belakangan. Kemungkinan besar memang Jacob berada di sini tidak untuk bertarung, melainkan melakukan sesuatu untuk berunding ataupun ingin bertemu dengan seseorang. Namun tidak ada yang tahu apa sebenarnya rencana Jacob di rumah ini. Bahkan para bawahan dan juga orang-orang yang telah mengikutinya cukup lama tidak diberitahu tentang perihal apa sebenarnya Jacob melakukan sesuatu ini. Dia sangat tertutup seperti membuat kalau misi ini adalah misi yang sangat rahasia.
Cukup lama mereka berada di sana, sampai membuat salah satu bawahannya merasa duduk dan lelah karena berada di sana terlalu lama. Jacob membawa 6 bawahan bersamanya, dan semuanya adalah pemburu kelas b. Sedikit lebih baik daripada pemburu kelas c. Mereka mengikuti Jacob hanya untuk menaikkan pangkat dan juga mendapatkan uang yang sudah pasti mereka dapatkan karena Jacob tidak pernah menggagalkan misinya. Di saat Jacob ingin mengajak orang, pasti semua anggota guild ingin untuk pergi bersamanya tanpa terkecuali. Mungkin Max adalah salah satu orang yang menolaknya. Dan juga Jacob sangat angkuh saat menjalankan misi sampai-sampai dia tak ingin rekannya sendiri mendapatkan bagian untuk membunuh musuh yang telah dia tangani.
Hingga akhirnya dua orang wanita cantik datang kepada mereka. Pakaian mereka sedikit terbuka memunculkan payu-dara mereka yang sangat besar dan anggun. Namun wajah mereka ditutupi separuh membuat semua orang di sana tak bisa mengenal siapa dirinya sebenarnya. Prajurit yang lelah dan terkantuk-kantuk itu kemudian langsung berdiri melihat wanita di hadapan mereka. Tampak sangat cantik dan menyegarkan. Hanya saja mereka berada di dalam misi sekarang. Orang-orang ini tak akan berani melakukan hal yang macam-macam membuat mereka terkena masalah yang akan nantinya berdampak kepada pekerjaan.
Berbeda dengan para anak buahnya, Jacob langsung saja menghampiri dua wanita itu dan mencoba untuk menggodanya, “Halo wanita-wanita cantik. Apa kalian adalah orang yang sudah diberikan pesan kepada kami untuk bertemu dengan seseorang di rumah ini? Kami memiliki misi untuk berada di dalam rumah ini. Dan jika kau tahu apa yang kami maksud, aku sangat ingin agar kalian mengantar kami ke tempat itu secara langsung,” Dua gadis itu tersipu malu mendengar godaan Jacob. Para bawahan Jacob juga tak merasa keberatan saat Jacob melakukan itu. Malahan karena Jacob, mereka bisa melihat senyum manis meskipun hanya terlihat di bagian atas wajah mereka.
“Benar Tuan, kami adalah orang yang kalian maksud. Dimana sopan santun kami, kau membawa banyak kawan hari ini. Dan sepertinya aku harus mengantar kalian untuk masuk ke dalam dan menyajikan kalian makanan, minuman, atau pun sesuatu yang lain,” Ucap dua wanita itu dengan nada cetil sambil mengedipkan matanya. Para bawahan Jacob langsung saja terpana oleh pesona dua gadis tersebut. Mungkin mereka akan benar-benar jatuh cinta jika dia terus mencoba untuk menggoda mereka di sini. Dua gadis itu pun berjalan ke dalam rumah, sementara Jacob dan para bawahannya mengikuti dari belakang.
Tidak seperti ekpektasi, mereka mengira rumah sebagus dan seluas itu yang dilihat dari luar ternyata nampak sangat berantakan saat masuk ke dalam. Jacob menyadari kalau ada sesuatu terjadi di raumah ini dan kemungkinan sangat fatal sampai-sampai dua gadis itu tak mau menceritakannya kepada mereka. Jacob tak ingin memulai topik itu karena dia takut untuk menyinggung dua gadis itu selaku tuan rumah di rumah ini. Dia hanya memilih diam dan menunggu gadis itu berbicara dan menyadari sendiri apa yang sedang terjadi di rumah mereka. Tapi meskipun begitu, para bawahan Jacob tidak mempedulikan rumah ini karena mereka asyik melihat pinggul gadis itu yang bergoyang ke sana kemari dengan indah.
“Maafkan kami jika rumah kami terlihat berantakan dan juga jelek. Kami memang mendapatkan sebuah masalah akhir-akhir ini dan kami masih belum memiliki waktu untuk memperbaikinya. Jadi jika kalian tidak berkenan dengan apa yang kalian lihat. Kami sungguh minta maaf.” Gadis itu membalik badannya dan sampai bersujud meminta maaf karena apa yang terjadi di rumah mereka. Jacob bingung karena tidak seharusnya mereka melakukan itu kepada Jacob dan juga kawanannya. Malahan, itu membuat Jacob sedikit merasa tidak enak, apalagi dengan gadis secantik dan semenarik mereka berdua di sana.
“Ini bukan kesalahanmu, aku yakin orang-orangku tidak akan masalah jika harus melihat pemandangan buruk di rumah ini. Aku yakin kalau mereka setuju dengan perkataanku. Bukankah begitu anak-anak!” Ucap Jacob kepada para bawahannya. Mereka langsung saja bersorak dan mengangkat tangan mereka karena setuju dengan apa yang ia katakan. “Terima kasih Tuan-Tuan sekalian, aku sangat berterima kasih karena kalian memahami apa sebenarnya yang terjadi kepada kami dan tidak menuntut sesuatu yang macam-macam. Karena memang kami sangat kewalahan dengan situasi yang terjadi di sana. Kami bahkan tak tahu harus meminta tolong kepada siapa, syukurlah kami bertemu dengan kalian di rumahku di saat yang benar-benar tepat. Terima kasih sekali lagi atas apa yang telah kalian lakukan kepada kami!”
Kerusakan yang terjadi di rumah ini memang benar-benar fatal dan terlihat berantakan. Karena dinding dan juga tembok yang ada di sana terlihat hancur berantakan seperti telah menabrak atau terkena suatu benda yang berat atau pun mengerikan. Jacob tak ingin berpikir tentang hal itu, namun kepalanya selalu mendengungkan sesuatu yang sama terus menerus sampai-sampai Jacob sendiri muak dengan apa yang ada di pikirannya. Jacob berpikir kalau sedang ada pertempuran atau pertarungan di tempat ini sampai-sampai membuat rumah ini hancur dan berantakan. Tanda-tandanya ada di mana-mana namun memang Jacob tak ingin menuduh atau berpikir ke arah situ.
“Maaf, aku lupa kalau aku belum memperkenalkan siapa namaku kepada kalian. Namaku adalah Jacob, dan mereka semua adalah anak buahku. Kusarankan kalau kau tidak perlu menghafal nama mereka karena kalian mungkin akan tidak bertemu lagi nantinya,” Ucap salam Jacob kepada dua gadis itu sambil menundukkan kepalanya. Dua gadis itu pun tentu saja ingin ikut membalas kebaikan Jacob dengan memperkenalkan diri mereka kepada Jacob yang ada di sana. “Salam kenal juga dari kami. Nama kami adalah Angela dan Ankha. Maaf jika kami tak dapat membuka muka kami, karena memang ada suatu masalah di sana. Mari, kami akan antarkan kalian kepada ibu kami, orang yang ingin sekali bertemu dengan Anda Tuan Jacob.”
Angela dan Ankha langsung saja mengantar Jacob dan semua anak buahnya ke tempat ibunya berada. Jacob tak tahu apa yang mereka lakukan sesampainya di sana namun mereka yakin kalau itu adalah semacam rundingan untuk menjaga properti atau sesuatu yang berharga menggunakan daya atau kekuatan yang mereka miliki. Jacob bisa melihat kalau memang rumah ini adalah rumah orang kaya terlihat dari perabotan yang tersimpan di sana terlihat elegan dan juga estetik melihat setiap orang yang melihatnya akan sadar betapa kayanya mereka di lingkungan ini percaya atau tidak.
Tapi terlepas dari itu semua, Iron Hammers memang terkenal sebagai sebuah Guild yang menyediakan jasa layanan keamanan kepada orang-orang yang membutuhkan tak mengenal siapa mereka baik orang baik ataupun orang jahat. Hanya saja mereka menggunakan tarif dan juga biaya yang lebih tinggi daripada guild kebanyakan. Karena sebenarnya Brooks selaku ketua dari Guild ini tak terlalu senang dengan pekerjaan semacam itu. Dia merasa kalau pekerjaan pengamanan merusak esensi yang sebenarnya dari membunuh dan memburu para monster. Tapi agar ekonomi dan juga anggaran guild terus berjalan, Brooks terpaksa harus berkompromi soal itu dan membiarkan mereka yang mau untuk melakukan pekerjaan semacam itu untuk pergi melakukannya.
Jacob dan semua anak buahnya tiba di sebuah ruangan, yang tak kalah berantakan daripada ruangan dan rumah yang lain. Di sana ada seorang wanita memakai topi dan juga sarung tangan berpenampilan anggun duduk menyambut mereka yang akan segera datang ke ruangan itu untuk melakukan misi yang akan mereka lakukan. “Selamat datang, aku yakin Tuan Jacob. Maaf jika keadaan sedikit memburuk. Biat kuhitung berapa banyak dari kalian yang telah datang di ruangan ini sesuai pesananku...” Wanita itu berhenti sejenak, menghitung para pria yang masuk dengan jari telunjuknya menunjuk setiap kepala orang yang bisa dia lihat dan juga hitung. “Ah, 6 orang. Termasuk dirimu menjadi 7. Aku yakin pesananku tidak sesuai dengan apa yang kuminta kepada bos kalian.” Ucapnya terlihat kecewa.
“Eh, maafkan aku Nona..”
“Mathilda”
“Ya nona Mathilda, aku rasa Anda sedikit salah paham di sini. Mungkin memang orang-orang yang Anda pesan tidak sebanyak yang Anda minta saat berada di papan misi itu. Namun aku yakinkan kepada Anda bahwa orang-orang ini adalah orang yang terbaik. Bahkan Anda mungkin tak dapat menemukan orang berkompeten selain mereka. Jadi kusarankan kepada Anda kalau Anda sebaiknya tidur sekarang, atau melakukan hal yang menurut Anda menyenangkan, karena kami akan melakukan sisa tugasnya kepada Anda!” Ucap Jacob mencoba meyakinkan Mathilda. Mendengar itu, lantas Mathilda dan juga gadis-gadis itu tertawa mendengarnya. Membuat Jacob sedikit bingung karena dia tak mengerti apa yang salah dengan kata-katanya barusan.
“Apakah kau mengerti apa yang baru saja kau ucapkan Tuan Jacob? Aku akan sangat berterima kasih jika dirimu memang akan melakukan seperti itu. Dan sekarang, suruh anak buahmu berbaris dengan rapi. Sementara, Angela. Bawakan aku kotak berisi pisau itu di sana. Kita akan melakukannya sekarang juga,” Jacob menyuruh semua bawahannya berbaris, sementara Angela membukakan kotak itu dan mengambil pisau yang ada di dalamnya. Mathilda mengambil pisau itu, bersiap-siap melakukan sesuatu.
Jacob tampak sangat curiga dengan apa yang Mathilda lakukan, dia langsung saja berseru mencoba untuk mengatakan apa yang dia resahkan. “Tunggu, Nona. Apa yang akan kau lakukan? Kau memesan kami untuk melakukan tugas penjagaan bukan?” Tanpa menjawab apa-apa, Mathilda langsung menusuk leher orang yang berbaris paling depan. Mengambil jiwa yang dia miliki berbentuk bundar dan juga dia letakkan langsung di sebuah kotak di bawahnya. Semua orang yang berbaris di sana langsung saja berlari ketakutan melihat rekan mereka mati begitu saja di tempat ini. “Siapa yang bilang seperti itu? Aku tentu saja akan mengambil semua jiwa kalian, dan termasuk dirimu Tuan Jacob!”
Tiba-tiba entah darimana, sebuah panah tertancap di mulut Mathilda membuatnya tak bisa berucap kata=kata apa-apa lagi. Jacob melihat arah dari panah itu, dan dia melihat Max yang muncul secara tiba-tiba di sana. “Max! Apa yang kau lakukan di tempat ini!”
“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Jacob, sebaiknya kalian cepat-cepat lari!”