Chapter 52 : Tindakan Gegabah

2058 Kata
Bantingan demi bantingan itu sangatlah keras, dan mungkin sampai-sampai membuat tubuh mereka hancur berkeping-keping. Mathilda tak memiliki tanda-tanda akan berhenti melakukan aksinya. Dia terus saja melakukan itu semua sampai membuat Max dan Alinzar merasa jera dan kesakitan luar biasa. Hingga akhirnya Mathilda menaruh Max dan Alinzar ke lantai kembali, membuat mereka menghirup udara segar dengan sangat lega dan menenangkan, walaupun mereka berdua tak tahu sampai kapan dia akan dapat merasakan udara dan nafas di sekitarnya ini. “Rasakanlah jantung dan paru-paru kalian yang bertebaran sekarang. Karena mungkin kalian tidak akan bisa menghirup udara lagi setelah ini!” Dari belakang Max dan Alinzar yang terkapar lemah tak berdaya, muncul sebuah benda tajam yang panjang dan runcing siap untuk menusuk mereka berdua secara bersamaan. Hampir sama dengan apa yang telah Alinzar lakukan saat hendak melawan Jade dan Judy. Kedua orang itu tak bisa kabur sekarang, mereka merasa senjata dan kekuatan yang baru saja mereka miliki terasa sia-sia dan tidak berguna tepat di hadapan Mathilda. Max pun mencoba untuk kabur dengan merayap di lantai persis seperti ulat yang ingin kabur dari makhluk atau hewan yang memangsanya. “Mau kemana kau kecoak kecil? Bukankah aku sudah berkata kalau aku membiarkan kalian mendapatkan udara segar ini dengan bebas hah?” Ternyata Max memiliki ide lain, hari-harinya sebagai seorang Mercenaries memang membuatnya selalu mendapatkan ide baru untuk membunuh atau mengalahkan musuhnya. Tapi Max tak tahu apakah rencana ini akan berhasil atau tidak dia lakukan untuk mengalahkan Mathilda, dia hanya berusaha untuk kabur atau melarikan diri dari cengkeramannya. Di tubuh Alinzar, banyak sekali darah dan luka yang bercucuran membuatnya tak bisa bergerak sama sekali meskipun harus merayap seperti Max. Darahnya juga tak bisa dia kontrol, sia-sia dia mengeluarkan darah sebanyak itu bila dia memang tak bisa melakukan apa-apa dengannya. Max melihat di belakang Mathilda, ada sebuah kotak yang mirip dengan kotak berisi pisau pembelah dimensi, Max berusaha untuk menembak kotak itu sampai hancur agar isi di dalamnya bisa keluar dan dengan mudahnya akan menargetkan ke arah Mathilda. Walaupun Max sebenarnya tak yakin kalau caranya ini akan berhasil, tapi dia memang tak memiliki pilihan lain selain melakukan itu. Sama seperti Mathilda, dia melakukan ini hanya semata-mata untuk membuatnya bertahan hidup lebih lama. Max menunggu momentum yang tepat sampai Mathilda lengah untuk menembakkan panahnya ke arah kotak itu. Dia mungkin akan bergerak dan membunuh Alinzar sekarang. Benar saja, Asap itu menarik dan mengangkat tubuh Alinzar yang menggantung, membuatnya terangkat dan Alinzar tidak bergerak seinci ataupun memberontak oleh ulah Mathilda tersebut. Matanya terbenam seperti tertidur dan terluka dengan sangat parah. Baik Mathilda atau pun Max tak tahu, apakah Alinzar sudah mati di sana. Mathilda membiarkan Max berjalan menggeliat di lantai dan tak menghiraukannya. Mathilda yakin dengan kondisi Max sekarang tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya ataupun orang lain di sana. Sementara Alinzar, sepertinya tak mampu menahan rasa sakit sama seperti yang diderita Max. Dia dengan mudahnya jatuh dan tak sadarkan diri terkena serangan Mathilda itu. “Oh tidak Vampir. Jangan mati dulu. Aku masih membutuhkan jiwamu untuk hal lain. Tidak bisakah kau bangun untuk kali ini saja!” Cara yang digunakan Mathilda untuk membangunkan Alinzar sedikit berbeda dari cara yang digunakan kebanyakan orang. Dia menampar Alinzar dengan sangat keras dan berulang kali hingga entah sampai kapan wanita itu akan berharap agar Alinzar untuk sadar. Max tak yakin kalau Mathilda sungguh percaya dengan apa yang dilakukannya akan membuat Alinzar kembali sadar dan mencium baunya kembali. Tapi dalam situasi seperti ini, Max mencium suatu momentum dan celah yang tak bisa dia hindari ataupun lewati lagi kali ini. Max langsung saja menembak kotak itu, memecahkannya dan membuatnya berlubang. Perhatian Mathilda tentu saja teralihkan oleh suara sesuatu yang pecah itu. Ia menoleh ke belakang dan melihat kotak miliknya pecah. “Tidak, apa yang telah kau lakukan! Kau telah membangkitkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibangkitkan!” Teriak Mathilda marah bercampur panik. Max sendiri tak tahu apa yang terjadi saat ia menembak kotak itu, tapi Max yakin itu adalah sesuatu yang sangat buruk. Mathilda langsung saja menaruh Alinzar kembali ke lantai dan bergantian mengangkat dan menarik Alinzar ke atas mencoba untuk mengancamnya. “Kau dasar makhluk tengik dan bo-doh!” Ucap Mathilda kepada Max. “Apa sebenarnya yang kau takutkan, seseorang sepertimu seharusnya tidak takut akan apa pun bukan? Apakah mungkin ikan itu akan datang dan memporak-porandakan rumah ini? Apa kau memang akan berpikir seperti itu?” tanya Max dengan sangat menantang ke arah Mathilda. Wujud wanita itu perlahan berubah, menjadi seorang werewolf raksasa dengan bulu dan juga cakarnya yang tajam. “Tidak, bukan ikan itu yang akan datang. Melainkan sesuatu yang lebih buruk. Kau dan aku akan terjebak di tempat ini tanpa salah satu dari kita akan bisa keluar dengan selamat. Dan semua itu karena dirimu kecoa yang bodoh dan tak bisa mengetahui dirinya sendiri!” Mathilda menarik cakarnya jauh-jauh, dan langsung saja mencoba untuk menusuk badan Max yang ia sedang cekik sekarang. Tapi tiba-tiba, sebuah perisai transparan muncul menghalangi Max dan juga cakar Mathilda yang akan menusuknya tersebut. Perisai itu juga membuat tangan kiri yang mencekik Max harus terpaksa putus dan jatuh ke lantai tak berdaya. Mathilda berteriak sangat keras karena kehilangan satu tangannya itu, dia melihat ke arah orang yang telah melakukan ini, dan ternyata itu adalah Marcell dan Julio, datang melalui lorong dan ruangan rahasia yang tak pernah Mathilda tahu pernah ada di sana sebelumnya. “Kalian dasar pengkhianat, kenapa kalian melakukan ini semua!” Kemampuan Marcell dan Julio sepertinya sangat terbatas dan mereka tak bisa berbuat lebih jauh daripada itu. Mereka langsung saja berlari dan mencoba untuk meraih Max dan Alinzar menyelamatkan mereka melalui lorong sempit dan juga kecil itu. Max menoleh ke arah Marcell dan Julio, sambil memegang panah yang ia bawa. “Kalian lagi, kenapa kalian repot-repot menyelamatkan kami yang telah bertindak bodoh dan malah membahayakan nyawa kalian sendiri. Asal kalian tahu, aku tidak akan berhutang budi apa pun kepada kalian!” Ucap Max sambil melirik Julio yang menggotongnya, Julio pun kemudian langsung saja membalas. “Hal yang pernah diajarkan kepadaku di rumah ini adalah jangan pernah memiliki hutang budi kepada seorang Mercenaries, maka dari itu aku menganggap urusan kita telah selesai di sini”. Kesakitan dengan sangat luar biasa, tidak bisa membuat Mathilda berdiam diri begitu saja. Dia harus melakukan sesuatu agar membawa mereka berdua kembali dan tidak kabur dari pandangannya. Namun saat Mathilda mencoba untuk mendekati mereka, perisai itu malah menghalangi Mathilda membuatnya tak bisa masuk. Marcell langsung saja berusaha untuk membangunkan Alinzar yang tak sadarkan diri dan membuatnya berjalan dengan kakinya sendiri. “Cepat bangun Alinzar? Kita tidak memiliki waktu banyak sebelum dia dengan mudahnya menjebol perisai tak terlihat itu. Akan sangat mudah baginya untuk melakukan itu. Jadi kumohon cepat bangunlah!” Terkena tamparan dan bantingan itu tentu saja tidak membuat Alinzar bangun dan sadar dengan mudah. Alhasil, dengan kemampuan regenerasi Max yang semakin cepat, dia sendirilah yang akan menggotong Alinzar membatunya kabur bersama-sama. “Jangan sangka kalian akan kabur dengan semudah itu. Aku akan membunuh kalian semua!” Perisai transparan itu pecah berkeping-keping. Membuat Mathilda bisa lari dan kabur dari sana dengan mudah. Dia langsung saja mengejar Max dan lainnya ke dalam lorong sempit itu. Tapi Mathilda tak berhasil melakukannya, dengan tubuhnya yang besar dan sempitnya lorong itu tak membuatnya lari dan mengikuti mereka dari belakang. Max dan lainnya, berhasil lolos. “Apa itu barusan? Kenapa kalian sungguh bodoh merasa kalau kalian bisa mengalahkannya? Tidakkah kalian tahu kekuatan apa yang dia miliki sesungguhnya? Perlukah kujelaskan semuanya dengan sangat detil kepada kalian?” Marcell dan Julio memarahi Max dan Alinzar yang terkapar di sana. Max dan Alinzar tak sempat untuk membalas omelan demi omelan yang mereka terima oleh bocah kecil berumur entah berapa lama mereka telah hidup di dunia ini. Alinzar bukannya tidak mau membalas omelan itu, lebih tepatnya ia tidak bisa melakukan apa-apa karena masih tak sadarkan diri saat ini. Entah memang sesuatu yang berubah atau memang ada sesuatu yang berubah terhadap Max. Yaitu ketahanannya semakin lama semakin bertambah kuat. “Terserah apa katamu wahai bocah. Mungkin kalian mengharapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kapasitas kami, kami merasa di atas angin dan berpikir bisa mengalahkannya dengan senjata baru yang kami miliki. Tapi ternyata itu sia-sia, dia dengan mudahnya hidup lagi setelah menerima serangan kami dengan telak. Semua terasa sia-sia. Dan sepertinya, aku dan Alinzar harus kabur dari tempat ini secepat dan sedini mungkin untuk menghindari orang maniak itu.” Balas Max dengan putus asa. Bahkan panah yang dia bawa tidak dia mainkan sekarang. Hanya membawanya di tangannya tanpa melakukan apa pun dengan itu. “Tidak Max. Kau tidak benar-benar tak berguna. Kau bisa mengalahkannya, hanya saja cara yang kau lakukan salah. Kau bertindak bodoh dengan langsung datang ke kamarnya yang sudah memiliki lingkaran dan penguatan sihir menguntungkannya. Jika saja kau datang kepada kami, mungkin kita akan bisa menyusun siasat dan rencana bersama-sama tanpa harus kalian menjadi korbannya. Tidakkah kalian paham hal sesimpel itu?” Bentak Marcell dan Julio kepada Max yang terlihat tertunduk lesu dengan sangat menyedihkan itu. Namun akhirnya Max mendongak ke atas melihat ke arah dua bocah itu, “Kau pikir, kami memiliki waktu agar kalian berdua untuk datang dan menyelamatkan kami di sana? Kau tidak tahu seberapa menakutkan hal itu saat kami melawan Jade dan Judy. Tidak, kalian tidak pernah mengerti itu, karena kalian adalah orang yang lemah selalu bersembunyi di bawah entah tempat apa ini menunggu kami berdua melakukan pekerjaan berbahaya dan kotor kepada kalian!” Teriak Max kepada bocah itu. Terdiam dan berpikir, Marcell dan juga Julio mulai memikirkan kalau Max memang mungkin sangat membutuhkan bantuan mereka saat melawan Jade dan Judy, hanya saja mereka tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk menyelamatkan mereka. Jika dua bocah itu datang di waktu yang salah, bisa saja mereka menjadi target selanjutnya dan menjadi sasaran empuk dua saudari mereka itu. “Maafkan kami Max, kami akui kalau kami memang salah tak peka terhadap situasi yang kalian hadapi. Tapi kau harus mendengarkan kami kali ini. Itu adalah tentang cara mengalahkan Mathilda!” Ucap Marcell dan Julio. “Terserah apa kata kalian, aku tidak tertarik dengan apa yang kalian tawarkan padaku. Bisa saja itu adalah sebuah omong kosong lain yang akan merayuku membuatnya bisa melakukan pekerjaan kalian”. “Tidak Max, ini berbeda. Karena memang Mathilda sangat sulit untuk dibunuh. Bahkan, hampir mustahil jika kalian mencoba membunuhnya tanpa mengalahkan atau menemukan sesuatu yang akan kami sebutkan ini. Mathilda mempunyai banyak sekali cadangan jiwa, membuatnya memang sangat mustahil untuk dibunuh!” Max mulai menoleh ke arah dua bocah itu, dia mulai tertarik dengan pembahasan yang akan mereka berdua ucapkan. “Jiwa? Jiwa apalagi yang kalian ingin katakan? Jangan bilang kalau ini adalah jiwa Mathilda yang sesungguhnya sedang tersimpan di suatu tempat dan kalian akan membuatku ke tempat itu dan mengambilnya. Apakah omong kosong semacam itu lagi?” tanya Max mulai muak dengan semua ini “Tidak Max, perkataanmu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Mathilda memiliki banyak sekali cadangan jiwa. Banyak sekali sampai-sampai kami sendiri tak tahu berapa banyak jumlah jiwa yang dia miliki. Dia akan mengganti jiwanya sesaat setelah dia meninggal atau jiwanya telah terputus dari wadah abadinya. Kau mungkin sudah menangkap apa yang ingin kukatakan kepadamu. Jika kau memang berniat untuk membunuh Mathilda, kau harus membunuh semua jiwa yang ia simpan di suatu tempat di rumah ini. Aku akan mengantarkan kalian ke sana.” Ucap Julio dan Marcell kepada Max. “Dengar, aku sudah muak dengan semua ini, aku akan pergi dari tempat ini, dan terserah kalian ingin ikut atau tidak. Aku memiliki urusan yang lebih penting daripada harus mengurusi seorang penculik jiwa atau werewolf sepertinya. Aku benar-benar akan kabur dari tempat ini tanpa menunggu kalian setuju atau tidak. Aku muak!” Jawab Max menolak pinta dari Julio dan Marcell itu. Kedua bocah itu saling menoleh, mereka ingin mengucapkan sesuatu yang mungkin akan menarik perhatian Max. “Dan ingin kutanya, urusan apa sebenarnya yang ingin kau urusi dengan segera itu? Apakah itu berhubungan dengan orang yang berada di luar gerbang itu?” Marcell dan Julio menunjuk ke arah jendela di ruangan ini. Max pun langsung saja berjalan pelan-pelan karena masih kesakitan dan melihat seseorang di luar jendela itu, seseorang yang ia sangat familiar dan tak tahu apa urusannya pergi ke tempat ini. “Jacob? Apa yang dia lakukan di tempat ini? Apakah dia tersesat dan diculik juga?” tanya Max penasaran. Entahlah, hanya satu cara bagimu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sana”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN