Chapter 51 : Mathilda dan Lidahnya

2008 Kata
“Bisakah kau hentikan caramu berjalan itu? Aku sudah muak dengan caramu berjalan. Tidak seperti seorang yang normal!” tegur Max kepada Alinzar di depannya. Alinzar pun menoleh, sambil menghentakkan trisulanya ke tanah. “Kau sendiri yang bilang kan kalau aku adalah seorang monster. Aku ingin melakukan apa pun yang kau mau tanpa harus kau berkomentar. Ingat itu!” balasnya dengan angkuh. Mereka berada tepat di sebuah lorong panjang sekarang, bertanya-tanya kepada diri mereka sendiri, dimana mereka harus pergi setelah ini? Langsung menuju ke Mathilda dan membunuhnya, atau mungkin mereka harus melakukan sesuatu hal yang lain lebih aman dan tidak membuat mereka berbahaya? Max berjalan di antara lorong itu, terasa sangat sepi dan juga sunyi. Seharusnya di antara semua suara hentakan dan juga teriakan Jade dan Judy itu akan membangkitkan kewaspadaan bagi siapa pun yang mendengarnya di rumah ini. Namun pada akhirnya, tidak ada dari mereka yang berada di rumah ini peduli akan hal itu. Max pun bingung, apa mungkin semuanya sudah ditentukan sejak awal oleh Mathilda dan juga anak-anaknya? “Kemana kita sekarang? Menunggu Marcell dan Julio menghampiri kita atau langsung pergi dan menuju Mathilda untuk membunuhnya? Menurutku dengan keadaan kita yang sekarang, kita harus membunuhnya. Mungkin dia masih tak sadar kalau kita akan datang dan membawa senjata baru di tangan kita. Tapi yang jelas apa pun itu, kita memang harus mencoba untuk membunuhnya secepat mungkin. Apakah kau keberatan dengan itu Max?” tanya Alinzar kepada Max. Max tidak memerhatikan Alinzar yang berbicara kepadanya, dia memeriksa panahnya dan mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan panah ini. “Ya, aku rasa memang itu satu-satunya pilihan yang paling tepat. Membunuhnya lebih cepat juga berarti kita bisa kembali ke Merleth lebih cepat. Kau tidak lupa dengan tujuan kita yang sebenarnya bukan? Kita harus segera menumpas monster menjijikkan itu dan pergi dari sini secepatnya!” Ucap Max ke Alinzar. Mereka berdua pun berjalan di lorong yang gelap dan sempit itu dengan pandangan lurus ke depan, siap untuk melawan siapa pun yang hendak menghalangi atau membunuhnya. Tapi apa pun itu, Max dan Alinzar yakin mereka tak terkalahkan sekarang. Bahkan mungkin bila George dan Josh bersaudara sudah hidup dan bangkit kembali, mereka berdua akan senantiasa untuk melawan dan membunuhnya lagi. Kekuatan benar-benar meningkat dan membuat mereka merasa di atas angin sekarang. Marcell dan Julio pernah berkata dimana letak Mathilda berada saat ini. Dia memiliki sebuah kamar di lantai paling atas menuju loteng yang sangat mudah di akses oleh siapa pun. Mathilda memang sengaja tinggal di situ agar seseorang yang menuju ke loteng akan sulit untuk datang dan mencoba kabur dari pandangannya. Max dan Alinzar akan menuju ke loteng itu mencoba untuk menghampirinya dan membunuh monster bia-dab itu. “Apakah kau yakin kalau jalan ini akan menuntun kita ke jalan yang benar? Aku merasa dua bocah itu menyembunyikan sesuatu atau sebuah rahasia diantara kita. Tidakkah kau merasa seperti itu juga?” tanya Alinzar kepada Max. Max hanya bergumam, meragukan kecurigaan Alinzar itu terhadap Marcell dan Julio. “Kau menganggap mereka apa? Seorang pengkhianat diantara pengkhianat? Kau mempercayai sesuatu seperti itu? Tak kusangka aku harus berbicara sesuatu kepadamu dengan sangat jelas Alinzar. Mereka adalah korban di tempat ini! Lebih buruk lagi, seorang sandra! Mereka mungkin telah melihat neraka yang sesungguhnya saat berada di tempat ini. Dan aku tidak akan membiarkan seseorang seperti mereka berada di neraka yang sesungguhnya. Aku juga memiliki hati nurani sebagai seorang manusia untuk menyelamatkan mereka! Dua bocah itu tak mungkin akan mengkhianati kita!” “Terserah apa katamu, namun aku masih menyimpan kecurigaan terhadap dua orang itu. Aku bukan bermaksud untuk menyinggungmu, tapi memang aku tidak bisa percaya dengan mereka” Jawab Alinzar. Mereka berdebat dan saling berbicara sampai-sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan pintu yang digadang-gadang sebagai tempat Mathilda beristirahat dan tinggal. Alinzar dan Max saling menatap, mereka berdua mencoba untuk meyakinkan diri masing-masing membuka pintu di sana. Max pun bersiap-siap menarik panahnya mencoba untuk membunuh Mathilda jika ia berada tepat di depan pintu. Sementara Alinzar sudah menyiapkan sihir darahnya mencoba untuk melindungi dirinya sendiri bilamana dia tiba-tiba di serang. Max membuka pintu itu, dan melihat kalau Mathilda sedang duduk di sana. Dengan sangat tenang dan kalem seperti tidak terjadi apa-apa di rumah ini. Max tetap mengarahkan panahnya ke kepala Mathilda berusaha berjaga-jaga bila dia akan melakukan sesuatu yang macam-macam. “Apa yang kalian lakukan di sana? Cepat kemari dan temani aku di sini. Ada sesuatu yang sangat ingin kubicarakan kepada kalian.” Max dan Alinzar masuk ke dalam ruangan yang sangat luas itu. Berbeda dengan ruangan Jade dan Judy dimana banyak sekali perabotan demi perabotan tertumpuk di sana, di ruangan ini terlihat benar-benar bersih dan juga cenderung rapi. Benar-benar menggambarkan sosok Mathilda di kepala Max dan Alinzar. Tepat di depan kursi yang diduduki Mathilda ada sebuah meja dan teko berisi teh di atasnya. Mathilda seperti telah mencoba mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perkiraannya. Max dan Alinzar pun duduk di kursi itu bersama-sama. “Apa yang kau inginkan?!” Tanya Max sambil terus membidik panahnya ke arah kepala Mathilda. “Tentu aku akan dengan senang hati mengatakan intensiku kenapa aku ingin berbicara dengan kalian dan tidak membunuh kalian saat aku melihat kalian. Kalian pikir, mengapa aku tidak memburu kalian dan membuat kalian datang dan membunuh anak-anakku satu persatu? Mungkin kalian mengira jika membunuhku akan menghentikan semua hal di rumah ini, namun sungguh sangat sedih untuk kukatakan kalau perbuatan kalian ini sia-sia. Dan aku akan memberitahukannya setelah kalian menurunkan senjata kalian.” Balas Mathilda dengan sangat tenang dan kalem. Max dan Alinzar saling melirik mengisyaratkan kepada masing-masing apakah dia bisa dipercaya dengan omongannya? Max pun akhirnya menurunkan bidikan panahnya, diikuti oleh Alinzar yang membatalkan sihir darahnya membuatnya benar-benar terbuka untuk diserang. Mathilda menuangkan teh ke dalam masing-masing cangkir dua orang itu, teh yang berasal dari teko keramik berwarna kuning terlihat antik dan juga mahal secara bersamaan. Max mencegah Alinzar untuk meminumnya dengan mengangkat tangannya tepat ke arah wajahnya. Mathilda terlihat bingung, seketika ia berkata, “Tenang saja, ini adalah minuman yang aman. Ini adalah teh Chamomile yang kami beli sendiri dari penjual lokal. Tidak ada bahan berbahaya ataupun racun di dalamnya. Aku sangat senang bila kalian meminumnya saat ini juga”. “Aku tidak peduli apakah kau senang, marah, sedih, ataupun takut sekalipun. Aku hanya ingin mendengar alasanmu melakukan ini semua. Kenapa kau menyandera orang-orang tak bersalah dan menyimpan jiwa mereka, termasuk Alinzar. Monster macam apa kau sebenarnya yang tega melakukan hal itu semua tanpa merasa bersalah, apakah kau memang monster kelas S yang memiliki hati nurani? Atau kau memang seorang monster biasa yang bergerak hanya dengan insting dan hawa nafsu kalian? Jika memang benar. Kau mungkin lebih buruk dari monster kelas c. Kau adalah sampah paling tak berguna” Ucap Max. Mathilda pun sontak tertawa mendengar itu keluar dari mulut Max. “Lihat siapa yang berbicara. Seorang monster yang telah membunuh dan membantai para Vampir itu sendiri. Ya, apa kau pikir kalau aku tak mengenal siapa dirimu, dan juga dirimu? Satu-satunya Vampir yang masih bertahan dan hidup sampai sekarang. Jujur saja, aku akan merasa sangat kehilangan dirimu jika aku tak berhasil mendapatkan jiwamu yang sangat unik dan langka itu wahai bocah Vampir!” Ucapan Mathilda cukup membuat Alinzar sedikit terpicu sampai membuatnya ingin berdiri dari kursi. Tapi Max menahannya agar tidak buru-buru melakukan sesuatu yang bodoh. “Alasan aku melakukan ini semua tentu saja, karena kekuatan dan juga hidup yang tak terbatas. Kau pikir kita sebagai makhluk hidup, memiliki tujuan apa selain untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini? Kami diasingkan dan diusir dari istana hanya karena kami memiliki cara yang sedikit unik dan tidak lazim daripada biasanya. Mengoleksi jiwa dan membuat mereka melakukan tugas kami pergi ke dunia lain. Selain itu, kami sama seperti kalian manusia! Melakukan sesuatu yang berguna bagi alam dan juga dunia dengan kebanyakan! Kami tak lupa untuk menyantuni dan membantu sesama, hanya saja lagi-lagi, dengan cara yang berbeda. Eh maaf pemburu, karena menyebutkan kalau dirimu adalah manusia, aku takut kalau itu akan menyinggung dirimu. Karena aku dan kau juga tak tahu siapa sebenarnya dirimu ini” Ucap Mathilda kepada Max dan Alinzar yang tepat berada di hadapannya itu “Jangan sekali-kali beraninya kau menyamakan dirimu dengan diriku! Kita adalah makhluk yang berbeda! Kau melakukan sesuatu untuk bertahan hidup dengan memangsa korban-korban tak berdosa dan lemah. Sementara aku melakukan sesuatu hanya untuk semata-mata agar bisa hidup. Kita benar-benar berbeda!” Ucap Max membuat garis perbedaan antara dirinya dengan Mathilda. Dan tentunya Mathilda tidak setuju dengan pernyataan Max barusan karena tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. “Eh tunggu, maafkan aku. Apa kau bilang tadi? Berbeda? Kau adalah seorang makhluk yang bisa berjalan dan melakukan apa yang kau pikir dan anggap benar karena hawa nafsu untuk membunuh dan balas dendammu benar-benar membara dan tiada henti. Sedangkan aku melakukan apa yang kulakukan hanya untuk bertahan hidup dan menyelamatkan semua keluargaku. Oh aku lupa, kau mengatakan sesuatu yang sama dengan pernyataanku. Kita benar-benar berbeda!” Max dan Alinzar benar-benar berada di ujung tanduk sekarang, mereka mungkin tidak akan dapat membendung dan menahan kesabaran mereka lagi. Jika saja Mathilda mengucapkan satu kata-kata lagi, mungkin trisula dan anak panah cahaya kedua orang itu menancap ke kepala Mathilda dengan sangat cpet membunuhnya dengan instan. Mereka hanya menunggu momentum yang tepat untuk melakukan itu. Bibir dan alis mereka yang naik turun tidak bisa mereka tahan dengan benar sampai-sampai benar-benar kelihatan seperti itu. Dan akhirnya, Mathilda mengatakan sesuatu, hal yang membuatnya penasaran selama ini. “Kau mungkin sudah mendapatkan kedua senjata itu dari Ikan di dunia lain itu. Biar kukatakan kepadamu, dia bukan makhluk yang baik-baik saja. Dia adalah The Corrupted, makhluk yang telah menyebabkan kekacauan di semua tempat di Odessa. Jika kalian menerima kekuatan atau mungkin sesuatu darinya, mau tidak mau kalian telah membuat kontrak dengan makhluk itu. Dan aku, entah berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun yang lalu juga membuat kontrak dengannya. Membuat kami semua berubah menjadi seorang Werewolf dan mendapatkan kekuatan abadi ini. Ikan itu telah membuat kami mendapatkan banyak sekali anugerah sampai-sampai kami sendiri lupa anugerah apa saja yang kami terima. Namun bukan ikan itu yang menjadi kekhawatiranku, melainkan kalian. Kalian berdua telah menjadi seorang bidak dari The Corrupted yang akan mengusik dan mengacak-acak dunia ini!” “Aku tidak peduli dengan itu semua, yang kupedulikan di dunia ini adalah dengan langsung membunuh dan menghabisimu di tempat ini secara langsung!” Max mengangkat busurnya, menembakkannya langsung ke arah kepala Mathilda yang ada di depannya. Sementara Alinzar melempar trisula miliknya ke arah leher dan juga kepala Mathilda membuatnya benar-benar tertusuk dan tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Bahkan Mathilda pun tak memiliki waktu untuk menghindar dari serangan jarak dekat dan mematikan itu. Kepala dan tubuhnya menempel tertusuk di dinding mengikuti trisula miliknya yang tertancap di sana. Dari kelihatannya, Mathilda mati dengan mengenaskan sekarang. Tapi Alinzar tahu kalau Mathilda tidak akan mati semudah itu, dia langsung saja mengeluarkan sihir darahnya dan mencoba untuk mengekang Mathilda di sana. Jari-jari dan kaki-kakinya diikat membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana dan terhenti di pojok dinding dan tembok. Tapi ternyata benar saja dugaan Max dan juga Alinzar, tubuh Mathilda yang sebelumnya tertancap menempel di tembok itu tiba-tiba berubah menjadi awan hitam dan membuatnya melebur bersama dengan udara menghilang dengan sendirinya. Saat ini, kondisi ruangan benar-benar gelap dan sesak karena ulah Mathilda yang melarikan diri dengan cara yang sangat aneh dan tidak lazim itu. Mathilda, tak akan semudah itu untuk dibunuh. “Usaha yang bagus, membunuhku di kamarku sendiri. Biar kukatakan kepadamu. Selama kalian menginjak rumah dan juga tanahku, aku akan datang dan meneror kalian meskipun kalian akan mengemis-ngemis meminta pertolongan. Akan kupastikan kalau kalian akan mendapat siksaan dan juga rasa sakit pedih belum pernah kalian rasakan sebelumnya!” Suara Mathilda bergema di dalam ruangan entah berasal dari mana. Namun asap di ruangan ini sungguh sangat sesak membuat Max dan Alinzar terbatuk-batuk oleh asap itu. Mereka berdua pun merasakan kalau lama kelamaan asap itu memadat dan mencekik mereka dari dalam. Asap itu berubah menjadi sebuah lengan, menggenggam leher mereka dengan sangat erat, lalu membanting mereka berdua ke lantai berkali-kali, sampai salah satu dari mereka berteriak kesakitan dan meminta tolong...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN