Chapter 50 : Trisula dan Panah Cahaya

2065 Kata
Berada di dalam total kegelapan, Max dan Alinzar tidak dapat melihat apa-apa sekarang. Bahkan melihat bayangan yang ada di dalam diri mereka harus tertutup oleh dinding dan juga kabut=kabut hitam yang menyelimuti tubuh mereka. Meski sudah kedua kalinya masuk ke dalam dimensi lain ini, Max merasa kalau dia sudah terbiasa berada di dalamnya. Max harus mencoba untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan dan secepatnya keluar dari tempat ini. Tanpa adanya alasan tetap tinggal dan berlama-lama dalam dimensi menyesakkan ini. “Alinzar, apakah kau masih berada di sana?” Teriak Max memanggil bocah Vampir itu dalam ruangan serba gelap ini. Meskipun mereka diselimuti oleh banyaknya dinding-dinding kabut yang sulit untuk dijelaskan, kekosongan di telinga dan kuping Max tidak separah waktu dia pertama kali masuk ke dalam realitas ini. Dia masih mendengar suara pijakan kaki yang menginjak sebuah genangan air dan menyiprat ke dalam kaki dan juga dengkulnya. Walaupun memang dia tak bisa merasakan adanya kondisi basah di salah satu anggota tubuhnya ataupun di dalam kondisi yang membuatnya tidak bisa beraktivitas kembali. Alinzar pun menyahut setelah dipanggil oleh Max tersebut, “Ya aku di sini. Kemana kita harus pergi?” “Entahlah, aku tak tahu lagi harus berada di mana. Semuanya gelap, aku tak bisa mendapatkan barang yang kita inginkan, apakah kita harus kembali dan melawan dua wanita berwujud seram itu?” tanya Max kepada Alinzar di sana. Meskipun tidak bisa melihatnya, Alinzar pun menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau dia tidak bisa kembali ke dunia nyata setelah masuk ke dalam portal ini, “Kembali? Tidak. Kita tidak akan kembali sebelum mendapatkan benda yang kita inginkan. Kita tidak akan melawan dua wanita gila itu dan menghasilkan remuk di tulang dan juga dagingku, aku benar-benar ingin membunuh dan mengalahkannya. Apakah kau menjadi seseorang yang pengecut sekarang wahai pemburu?” “Siapa yang kau bilang sebagai penge-“ tiba-tiba dari depan mukanya, Max bisa merasakan kehadiran sosok makhluk yang berukuran sangat besar, rasanya, karena memang Max belum bisa melihat dengan jelas sekarang. Makhluk itu berada di depan Max entah Alinzar bisa merasakannya juga ataupun tidak. Tapi yang jelas makhluk itu sepertinya hadir karena ingin berinteraksi dengan Max yang sudah repot-repot datang ke dunia lain itu di sana. “Wahai manusia, kenapa kau datang kemari lagi? Bukankah aku sudah memberimu sesuatu yang kau minta sebelumnya? Tidakkah itu cukup untuk membuatmu melawan apa pun yang sedang kau lawan sekarang?” Tak salah lagi, itu adalah suara ikan raksasa yang telah memberi Max bunga dahlia hitam. Makhluk itu muncul entah darimana namun yang pasti memang datang untuk mencoba menolong Max dan juga Alinzar sekali lagi. Tanpa rasa sungkan dan juga malu, Max langsung saja meminta sesuatu kepada ikan raksasa itu. “Wahai ikan Raksasa, aku kemari bukan karena disuruh, melainkan karena keinginanku sendiri. Kami ingin mengambil sebuah benda yang berharga yaitu sebuah trisula dan panah cahaya. Jika kau berkenan, bolehkah kami mengambilnya dan membawanya kembali ke dunia kami?” Ucap Max memohon dengan sopan dan halus kepada ikan raksasa, sesuatu yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya, memohon-mohon kepada seseorang selain dirinya sendiri. “Kami, memangnya kau bersama siapa di tempat ini?” Ikan itu bertanya-tanya. Dan akhirnya tiba-tiba, suatu tempat yang gelap berubah menjadi bercahaya. Tidak terlalu bercahaya, hanya saja cukup untuk membuat Max dan Alinzar bisa melihat penampakan ikan itu dari berbagai sisi. Max tak tahu apakah ini ulah ikan tersebut karena telah menerangkan ruangan ini, Tapi jika memang ikan ini bisa semudah itu bisa mengubah sebuah kondisi dari gelap menjadi terang secepat kedipan mata. Max sepertinya memang perlu berhati-hati dengan ikan ini. Dia mungkin memang sebuah makhluk yang berada di tingkat atas. “Ah, seorang Vampir dan juga seorang... Aku tak tahu siapa dirimu. Jadi katakan padaku, kenapa kau sangat membutuhkan benda berharga itu? Mereka adalah benda pusaka yang memiliki kekuatan luar biasa, aku tidak bisa memberikannya begitu saja kepada kalian. Setidaknya berikan aku sebuah alasan yang jelas agar aku mengerti risiko apa yang kutemui saat memberikannya kepada kalian.” Ucap Sang Ikan tersebut. Alinzar berjalan menuju ke arah Max, menyusun siasat bagaimana cara untuk menipu atau mengelabuhi ikan ini agar dia mau memberikan sesuatu yang dia inginkan. “Kau harus menyusun cara dengan kata-katamu agar dia yakin dan memberikan kita senjata itu; aku bisa merasakan kalau dia akan mudah untuk percaya padamu, mengerti?” ucap Alinzar bisik-bisik kepada Max. “Kalian tahu kalau aku bisa mendengar bisikan itu bukan?” Balas Sang Ikan sepertinya berbisik pun tak menjadi suatu rencana yang bisa membuat mereka aman di dalam siasat berbicara kepada ikan ini. Max pun maju selangkah lebih dekat kepada ikan itu, mencoba untuk mendekatkan dirinya dan membuatnya menjadi lebih dekat dengan ikan itu. “Kami meminjam benda itu hanya untuk mengalahkan orang yang telah menjebak kami. Aku yakin kalau kau sudah mengenal siapa dia, karena kau telah berbicara kepadanya. Dia adalah Mathilda, orang yang telah menyekap kami berdua”. Ikan itu pun tertawa dengan terbahak-bahak, seperti paham dengan apa yang Max inginkan. Air yang mengenang di bawah kaki mereka dan luas yang tanpa batas seperti saling bergetar dan bergemericik membuat bulu kuduk Max dan juga Alinzar benar-benar merinding. Ini benar-benar sebuah sesuatu yang tidak pernah ia temukan di dunia asli mereka. Ikan itu pun membuka dua buah portal yang cukup besar di hadapannya. Dan tak lama kemudian, portal itu memunculkan sebuah Trisula dan juga panah dengan ukiran kayu yang sangat kentara. Max dan Alinzar sangat yakin kalau kedua benda itu adalah senjata yang mereka minta kepada Sang Ikan. “Aku yakin kalau kalian sangat ingin mengalahkannya, karena aku juga ingin mengalahkannya. Dia adalah orang yang telah menipuku, membuatku memberikan setitik dari kekuatanku di dunianya. Dan aku berharap jika kalian mengalahkannya, maka semua kekuatanku akan kembali kepadaku seutuhnya. Aku tidak ingin lagi hidup di dalam kehampaan seperti ini! Mungkin ini adalah permintaan yang konyol karena aku harus meminta sesuatu kepada makhluk fana seperti kalian, tapi aku memang menginginkan Mathilda dan semua keluarganya mati tak bersisa! Yakinkan aku kalau kalian akan melakukannya dengan baik dan benar terhadap ucapan kalian sendiri!” Pinta sang Ikan mencoba untuk meyakinkan pilihannya Ikan itu memberikan dua senjata itu kepada Max dan juga Alinzar. Dan tanpa banyak omong dan berkata-kata banyak, mereka pun langsung saja berkata bersama-sama, “Kami siap!” Max dan juga Alinzar pun keluar dari portal itu, dikirim langsung oleh Sang Ikan untuk kembali ke dunia mereka yang asli. Saat Alinzar memegang senjata trisula yang baru dia dapatkan, dia bisa merasakan rasa berat yang amat sangat di trisula itu, menandakan kalau senjata itu memang bukanlah senjata abal-abal. Aliran sihir di dalam trisula itu membuatnya bisa mengendalikan sihir di dalam dirinya sendiri menjadi sangat teratur dan hebat daripada sebelumnya. Alinzar sangat yakin kalau dia akan bisa mengalahkan Mathilda dan semua keluarganya dengan senjata itu. Sementara Max masih bingung dengan panah yang ia pegang saat ini. Max sesungguhnya masih belum terbiasa menggunakan senjata busur dan panah seperti menggunakan senapan. Max hanya menggunakan senjata ini saat dia melakukan latihan waktu kecil dan sudah lama sekali. Selain itu, Max juga tidak melihat adanya anak panah di busur ini. Membautnya bingung bagaimana menggunakan senjata yang ia pegang sekarang. Namun Max yakin kalau senjatanya ini tak mungkin tak berguna, dia akan menggunakannya langsung saat berhadapan dengan Judy dan juga Jade di ruangan itu kembali. Mereka berdua tak yakin akan dikembalikan kemana oleh Sang Ikan itu. Karena bisa saja mereka dikembalikan ke atas loteng dimana Mathilda berada dan langsung melawannya. Namun kemungkinan besar berdasarkan pengalaman Max yang sudah bertemu dengan ikan dan berada di dalamnya sebelumnya, Max yakin kalau mereka akan kembali ke Jade dan Judy melawannya kembali di sana. Benar saja, Max dan Alinzar melompat dari portal itu, dan melihat sosok berbulu dan berbadan sangat besar menunggu mereka di sana. Lengkap dengan taring dan juga cakar mereka yang tajam, mereka sepertinya sudah sembuh setelah tertusuk oleh tombak darah milik Alinzar sebelumnya. “Jadi kalian datang juga rupanya, dengan mainan baru di tangan kalian. Apakah kalian yakin bisa mengalahkan kami dengan mainan baru itu?” Ucap Jade dan Judy menyambut Max dan Alinzar yang telah tiba di kamar itu. “Hanya satu cara untuk mengetahui itu. Terimalah ini!” Alinzar langsung meluncur menghadapi Jade dengan ujung trisulanya yang bermata sangat tajam. Trisula itu kemudian menusuk badan Jade dengan mudah bahkan mematahkan cakar yang ada di tangan Jade saat dia mencoba menahan trisula itu. Tak berhenti di sana, Alinzar langsung saja menyerang kembali Jade dengan mengayunkan trisula itu menyasar tepat ke samping pinggang Jade. Menusuknya dengan sangat memuaskan sampai-sampai darah keluar dari bahunya sehingga membuatnya teriak kesakitan dengan sangat keras kemungkinan besar menyadarkan orang-orang yang berada di rumah ini. Sementara Max dengan panah cahayanya, dia mencoba untuk menarik panah itu. Dan ternyata saat dia menarik, muncul sebuah anak panah cahaya yang muncul entah dari mana. Max tidak memiliki daya atau kemampuan sihir, dan kemungkinan panah itu memiliki daya sihir sendiri sehingga membuatnya mampu untuk memunculkan anak panah cahaya itu. Max langsung membidik busurnya ke arah kepala Judy, melesatkannya dan langsung saja membuatnya tertusuk oleh anak panah cahaya yang sangat cepat itu. Mata Judy keluar dari tempatnya dan juga taringnya yang tajam juga patah dan tanggal karena terkena lintasan dari anak panah busur cahaya Max tersebut. Max dan Alinzar sejauh ini sangat puas dengan senjata yang mereka miliki tersebut. Namun mereka berdua yakin kalau kemampuan dari senjata-senjata ini masih belum berada di level tertingginya. Mereka masih bisa memunculkan dan juga meningkatkan tingkat senjata ini lebih tinggi daripada sebelumnya. Senjata ini bukanlah senjata biasa, dan diberikan langsung oleh ikan memiliki hierarki dari apa pun yang ada di dunia ini. Max yakin dengan senjata di tangan mereka, akan mampu untuk mengalahkan Mathilda dan membumi hanguskan semua rumah ini menghapus semua sejarah kelam yang menyelimuti tempat ini. Tak pernah disangka oleh Max kalau hari ini akan benar-benar tiba. “Apakah kalian senang karena telah berhasil melukaiku walaupun tidak berhasil membunuhku? Haruskah aku bertepuk tangan untuk kemajuan yang kalian lakukan ini? Aku sangat bangga dengan pencapaian yang kalian lakukan!” Dengan luka yang ada di da-da dan pinggangnya berlubang dan mengucurkan darah tanpa henti, bisa-bisannya Jade masih mencoba untuk memancing Max dan juga Alinzar. Judy dengan kondisi matanya yang hilang satu ternyata juga tak kalah dari saudarinya ingin memancing Max dan Alinzar dengan berkata, “Apa yang kalian lakukan kepadaku bukanlah sesuatu yang besar. Kami akan mencincang dan menggigit kalian dengan serangan yang sangat kuat membuat kalian berteriak memanggil ibu kalian saat ini!” Jade dan Judy menumbuhkan cakar dan juga taring mereka setelah sebelumnya rusak dan hancur. Mereka mencoba untuk menyerang Max dan Alinzar dengan satu-satunya senjata yang mereka punya saat ini dan masih mereka anggap sebagai sesuatu yang sangat efektif untuk melawan dua orang itu. Max dan Alinzar saling melirik satu sama lain, lalu kemudian tersenyum sinis mencoba untuk meremehkan serangan yang Jade dan Judy coba serahkan kepada mereka berdua. “Siapa yang akan menyerang mereka berdua? Kita melakukannya bersama-sama atau kau ingin mendapatkan semuanya? Aku tak keberatan jika kau mengambil nyawa mereka semuanya karena kau mungkin akan kelaparan belum mengambil nyawa sama sekali untuk hari ini.” Ujar Max kepada Alinzar. Ucapan itu tidak didengarkan oleh dua saudari itu. Mereka berdua langsung saja bergerak dengan sangat cepat memantul di setiap dinding mencoba untuk membuat sebuah sensasi serangan dan gerakan yang tak terduga dan dapat di prediksi. Tapi Alinzar hanya diam di sana, sambil mengumpulkan darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Darah itu berputar-putar membuat sebuah aliran dan pusaran yang indah dan juga halus. Darah itu mungkin saja dapat melindungi Alinzar dari serangan Judy dan Jade di sana. Alinzar sangat tenang dan diam sampai-sampai membuat Max khawatir kalau dia sedang baik-baik saja atau tidak. “Hei ada apa denganmu!” Teriak Max kepada Alinzar. Tapi kemudian, Pantulan Judy dan Jade berhenti, mereka berdua langsung saja mengincar kepala Alinzar berusaha untuk mengambilnya sekaligus membinasakannya sekaligus dengan cakar yang tajam. “Kena juga akhirnya kau!” Ucap Judy dan Jade kepada Alinzar. Vampir itu kemudian membuka matanya, darah yang mengelilingi Alinzar menangkap Jade dan Judy secara bersamaan. Menjerat mereka dan melayang di udara. Darah itu kemudian mengeras, membelah Judy dan Jade menjadi dua dengan sangat cepat. Bahkan Jade dan Judy tidak mampu untuk berteriak kesakitan karena kecepatan pembelahan itu. “Sudah selesai semuanya, kita harus bergegas untuk pergi ke ruangan selanjutnya, memberantas ancaman yang selanjutnya yang akan datang kepada kita” Ucap Alinzar kepada Max. Dia langsung saja keluar dari ruangan itu dan berjalan pelan-pelan, membuat Max muak karena dia berlagak sangat keren sekarang ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN