“Melihat kondisimu sekarang, aku sangat khawatir dengan apa yang terjadi nantinya, apa kau memang ingin melakukan ini Max? Aku benar-benar tidak memaksamu jika kau tidak ingin ikut. Kau terlihat sangat menyedihkan sekarang.” Ucap Alinzar kepada Max yang berdiri di lorong sempit bersama-sama sekarang. Kondisi Max memang sangatlah memprihatinkan, ternyata kemampuan regenerasinya tidak mampu menyembuhkan semua luka yang telah melekat di dalam tubuhnya. Mungkin memang kemampuan regenerasi Max dari luar tampak menyedihkan, tapi Max selalu merasa kalau dirinya baik-baik saja dan mampu untuk bertarung sekarang.
“Kau pikir aku siapa? Aku adalah seorang pemburu yang telah membunuh semua kaummu sendirian. Aku mampu membuat mereka mati tanpa menggunakan kekuatan apa-apa. Jadi sebaiknya kau berhenti meremehkanku dan melihat apa yang bisa kulakukan bersamaan dengan mereka sekarang. Kau masih ingat apa rencana kita sebelum menyerang dan masuk ke dalam kamar itu bukan?” Ucap Max kepada Alinzar. Tentu saja pemburu itu cukup tersinggung bila Max selalu mengait-ngaitkan kemampuan bertarungnya dengan kondisi tubuhnya. Saat ini mereka hanya menunggu momentum yang tepat untuk masuk ke dalam ruangan Jade dan Judy itu menyerang mereka secara bersamaan.
“Ya memang kau telah membinasakan seluruh kaumku sendirian, tapi kau melakukannya saat fisikmu masih sehat dan beberapa senjatamu yang sangat mutakhir. Namun sekarang, kau bahkan hanya membawa sebuah pisau perak dan juga sebuah crossbow yang entah anak panahnya dapat menembus sesuatu atau tidak. Kau benar-benar mengkhawatirkan Max. Aku tak yakin kalau kau bisa melawan mereka dengan mudah nantinya,” Ucap Alinzar khawatir kepada orang yang telah membunuh keluarganya itu. Max hanya berusaha mengalihkan pandangannya dari Alinzar yang membuatnya muak lama-lama setelah berada di tempat sempit ini bersama-sama. Ia melihat ke arah ruangan itu dan mencoba untuk masuk ke dalam tanpa menunggu aba-aba. “Benarkah begitu? Lihat ini!”
Max masuk sambil membawa crossbownya membidiknya ke seluruh penjuru tempat. Pintu itu terbuka dengan sangat mudah bahkan tak dikunci oleh orang yang berada di dalamnya. Alinzar tentu saja benar-benar panik karena Max bertindak dengan sendiri setelah harga diri dan juga keegoisannya di sentak. Alinzar lupa kalau Max memang seorang yang sangat mudah di gugah harga dirinya. Dia menyesal telah berbuat itu sampai-sampai membuat kegagalan di rencana ini. Alinzar langsung saja mengeluarkan sihir darahnya berusaha untuk menyerang Jade dan Judy yang kemungkinan sudah berada di tempat ini mencegah siapa pun yang hendak menyusup untuk kabur dari kamarnya.
Sebelumnya, Max dan juga Alinzar diberikan sebuah rencana oleh Marcell dan Julio tentang cara untuk masuk ke dalam kamar Judy dan Jade. Kamar itu adalah kamar yang sangat luas sedikit berbeda bila dibandingkan dengan kamar yang Max masuki sebelumnya untuk mengambil kotak jiwa milik Alinzar. Kamar itu memiliki beberapa objek dan material yang mungkin akan sangat berbahaya bila dirusak atau digunakan tanpa tahu apa fungsi dan kegunaannya. Marcell dan Julio memiliki rencana untuk menggunakan barang-barang di sekitar kamar itu untuk menyerang Judy dan Jade balik. Marcell dan Julio bahkan yakin kalau Jade dan Judy mungkin lupa dengan barang-barang yang dimilikinya di kamar itu.
Dan karena kekacauan di rumah ini telah terjadi, Marcell dan Julio berkata soal keamanan di rumah ini yang semakin diperketat setelah terjadinya kekacauan yang disebabkan oleh mereka sendiri. Marcell dan Julio mewanti-wanti kalau misalnya seseorang selain Jade dan Judy datang melawan mereka, sebaiknya Max dan Alinzar kabur secepat mungkin. Mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk kabur ataupun selamat jika bertemu salah satu anggota keluarga saja dari rumah ini. Marcell dan Julio juga mengatakan kalau kemungkinan besar George dan Josh belum mati saat ini, Mathilda bisa saja menghidupkan mereka kembali semudah membalikkan tangan George dan Josh kembali ke tempatnya semula.
Jika memang semua kondisi sudah terpenuhi, Max dan Alinzar memerlukan untuk mengambil sebuah artefak berbentuk tongkat. Artifak itu berfungsi mirip sekali seperti pisau yang membelah dimensi hanya saja mereka dapat menggunakannya untuk mengambil dan membelah sesuatu yang lebih besar. Tentu saja Max dan Alinzar perlu membagikan tugasnya untuk melakukan hal itu. Satu orang bertugas untuk mengalihkan perhatian sementara yang lainnya bertugas untuk membuka portal itu untuk menuju ke dimensi yang lainnya bersamaan mengambil senjata yang sudah mereka cari. Max dan Alinzar tentu saja tidak boleh pergi ke sana dalam waktu yang lama karena bisa saja mereka terjebak dalam dimensi dan waktu sehingga membuat mereka kesulitan untuk keluar ataupun kembali ke dunia yang sekarang.
Semua ke khawatiran dan rencana yang sudah diinginkan dan dipikirkan oleh Marcell dan Julio terpaksa harus buyar karena Max yang bertindak semaunya sendiri. Max membuka pintu itu dan melihat sosok Jade dan Judy dalam wujud serigala mereka berusaha untuk menyerang Max dengan ganas. Entah kenapa perkiraan dan prediksi Marcell dan Julio benar-benar tepat akurat. Max langsung saja menembakkan crossbownya ke arah kepala Jade dan Judy. Berbeda dengan sebelumnya, anak panah itu mental dari kepala Jade dan Judy tidak mampu menembus kulit kepalanya yang sangat keras.
“Apa yang kau lakukan Max! Kau tidak bisa bergantung sepenuhnya dengan kekuatan regenerasimu itu! Kami para Vampir memelajari kemampuan sihir karena kami tahu kalau kekuatan regenerasi itu tidak akan cukup untuk membuat kami bertahan hidup!” Teriak Alinzar yang kesal karena Max bertindak dengan gegabah. Panah Max yang gagal masuk ke kepala Jade dan Judy malah semakin menambah kekesalan Alinzar yang sangat egois itu. Tapi Max menoleh ke arah Alinzar dengan tatapan yang sinis dan juga kesal. Dia seperti tak ingin menanggapi terlalu serius perkataan Alinzar barusan, “Aku berbeda dengan kalian. Jangan samakan aku dengan kaummu yang memang lemah itu. Bahkan menggunakan sihir darah pun tidak cukup untuk membuat kalian untuk hidup”.
“Sungguh lucu sekali, melihat dua kecoak saling bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting. Kalian tahu bukan kalau kalian tidak akan mungkin mengalahkan kami dengan kemampuanmu yang seperti semut itu. Kalian telah salah memilih kamar sehingga harus bertemu dengan kami. Dan bisa kupastikan, kalau pertemuan kita di ruangan ini adalah pertemuan terakhir kami dengan kalian!” Jade dan Judy melesat menggilas angin sampai membuat udara di ruangan itu menjadi hampa untuk sementara. Max dan juga Alinzar melayang karena kekosongan udara itu. Namun dalam waktu yang singkat, mereka langsung melesat dan mencoba untuk mencabik-cabik Max dan Alinzar dengan sangat cepat.
“Hanya keledai yang akan jatuh di dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku tak akan tertipu dengan seranganmu itu lagi!” Cergah Max yang bersiap-siap untuk menghindar dari serangan Jade dan Judy itu. Dia ingat betul bagaimana rasa sakit yang telah dia rasakan setelah menerima serangan dari kedua wanita itu yang sampai-sampai meremukkan tulang-tulang dan juga dagingnya menjadi manusia yang tak terbentuk lagi.
Bukannya menghindar, Max malah menghampiri Jade dan Judy yang berada tepat di hadapannya. Dengan melakukan itu, Jade dan Judy pasti kehilangan arah karena mereka tidak mengira kalau Max akan seberani itu menghampiri mereka berdua dengan sangat cepat. Max berseluncur dari dua kaki mereka dan lari berlindung di lain tempat yang tersembunyi dari serangan Jade dan Judy. Sementara Alinzar membentuk sebuah perisai tak tertembus terbuat dari darah yang ia miliki. Darah itu hanya mampu menjerat orang-orang yang mencoba menyentuh dan menjerat dari luar. Rencana itu benar-benar berhasil, Jade dan Judy gagal untuk menyerang Max dan Alinzar dengan telak.
“Trik yang dimiliki oleh monyet tak akan mampu untuk membunuh seekor serigala!” Teriak Jade dan Judy ke arah Max dan Alinzar. Saat kedua wanita itu berkata seperti itu, mereka berdua tahu kalau trik mereka berhasil telah membuat mereka terkecoh dan marah untuk beberapa saat.
“Benarkah, kalau begitu rasakan ini!” Max berada di depan lemari dengan banyak sekali barang bertumpuk di sana. Max mengambil salah satu barang di lemari itu dan melempar ke arah Judy. Benda itu merupakan sebuah Vas berbentuk melengkung terbuat dari keramik dan juga porselen. Saat melempar itu tentu saja Max tak memikirkan apa-apa. Bahkan lebih baik lagi jika memang sesuatu yang buruk akan menimpa mereka berdua di tempat ini. Tak hanya itu, Alinzar juga melempar barang yang lainnya ke arah Judy, namun lebih cepat daripada yang Max lakukan sampai-sampai Alinzar tak tahu barang apa saja yang telah dia buang itu.
Judy dan Jade berhenti untuk sejenak, tak bisa menghadapi serangan bertubi-tubi dari barang-barang itu. Asap dan juga debu bertumpuk tepat di muka mereka sehingga Max dan Alinzar tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas sekarang. Namun dari asap dan debu yang mengepul itu, Jade dan Judy malah tertawa terbahak-bahak seperti seorang penyihir di malam hari. Max dan Alinzar tentu saja bingung apa yang telah mereka lakukan sampai-sampai membuat Judy dan Jade tertawa seperti itu. Max pun langsung saja berceletuk kepada Alinzar, “Hei, apakah salah satu barang ini mampu untuk membuat mereka menjadi orang gila? Karena jika memang iya, aku tak tahu harus senang atau sedih karena hal itu”.
“Aku tahu apa yang kalian rencanakan, membuang semua barang yang ada di ruangan ini berharap sesuatu yang berbahaya dan menakutkan terjadi bukan? Tapi sayangnya rencana kalian tidak akan berfungsi semudah dan seindah yang kalian kira. Barang-barang yang ada di ruangan ini bukanlah barang-barang yang berharga, mereka hanyalah sampah kosong yang tak bermakna apa-apa. Kalian boleh membuangnya sesuka hati kalian, dan aku tak akan mendapatkan apa-apa! Hahahah!” Ucap Jade dan Judy. Max dan Alinzar pun langsung saja saling bertatapan, mereka merasa kalau rencana mereka untuk mengubah Judy dan Jade menjadi sesuatu yang lain ternyata gagal.
“Sekarang rasakan ini!” Ucap Judy dan Jade menyerang mereka dengan cakar dan juga taring mereka. Kedua werewolf itu berputar-putar membuat sebuah gasing sehingga mereka tidak mampu disentuh ataupun diserang dengan mudah. Max mencoba untuk menembak crossbow itu ke arah mereka, dan ternyata memang sesuai dugaannya. Anak panah itu tidak lagi terpental, melainkan patah saat menyentuh Jade dan Judy. “Apa yang akan kita lakukan Al? Kita harus melakukan sesuatu sebelum mereka mengubah kita menjadi daging dan bubur halus!” teriak Max kepada Alinzar yang berada di sana dengannya.
Alinzar mengeluarkan tentakel darahnya, mencoba untuk menangkap Judy Dan Jade agar dia berhenti berputar. Namun sia-sia saja, tentakel darahnya tidak mampu untuk menahan cakar dari Jade dan Judy yang sangat tajam di sana. “Bukankah sudah kubilang kalau usaha kalian ini akan sia-sia saja!” Ucap Judy dan Jade mengancam Alinzar. Tapi ternyata alasan Alinzar mengeluarkan tentakel darah itu tidak untuk membuatnya menahan Judy ataupun Jade, tapi membuat Alinzar tahu cara untuk menembus mereka dengan mengukur seberapa jauh ukuran dan ketebalan dari putaran yang mereka buat sekarang. Alinzar membuat sebuah tombak dari darah yang sangat panjang dan tebal, dia akan langsung melemparnya ke arah Judy dan Jade saat ini. “Kena kalian, kupastikan kalau kalian tidak akan selamat terkena tombak ini!”
Tombak itu menembus menancap ke arah tubuh Judy dan Jade secara sekaligus membuat mereka berhenti berputar dan berotasi dengan sendirinya. Tubuh mereka bertumpuk tertahan oleh tombak darah itu. Dari kelihatannya Alinzar telah berhasil mengalahkan Judy dan Jade dengan satu serangan pamungkas miliknya. Tak ingin melewatkan satu detik ataupun menit, Max langsung berteriak menyuruh Alinzar untuk mencari keberadaan tongkat itu yang kemungkinan masih di simpan di kamar ini namun tersembunyi entah dimana. “Kita harus menemukan tongkat itu Al!”
“Kalian tidak akan bisa menemukan tongkat itu!” Teriak Judy dan Jade yang kesakitan dengan amat sangat. Namun dengan tidak sadar, mata Judy dan Jade mengarah ke atas seperti ingin menunjukkan sesuatu. Max dan Alinzar tentu saja langsung melihat ke atas. Betapa bodohnya mereka berdua saat menyadari kalau selama ini tongkat itu tepat berada di atas kepala mereka. Max tentu saja tersenyum ke arah Judy dan Jade karena mereka tidak sengaja telah menunjukkan lokasi dari tongkat itu. Max melompat dengan amat tinggi dibantu oleh lemari yang ada di bawahnya mencoba meraih tongkat itu. “Tidak, jangan gunakan tongkat itu!” Teriak Judy dan Jade dengan penuh putus asa.
“Apakah kau tahu cara menggunakannya Max! Kita tidak memiliki waktu lama, kemungkinan besar Jade dan Judy akan mengambil kembali tombakku dan bangkit dari sana!” Teriak Alinzar bertanya kepada Max yang tampak sedang ragu-ragu. Marcell dan Julio memang sudah menyebutkan bagaimana cara untuk menggunakan tongkat itu dengan baik dan benar, dia hanya sedang gugup jika dia melakukannya dengan salah. Max menghentakkan tongkat itu ke lantai, 3 kali, memutar dan mengayunkannya beberapa saat. Kemudian dia memukul tongkat itu ke depan. Dan sesuai dengan perkiraan, sebuah portal dengan lebar yang bisa dimasuki oleh manusia normal pun terbuka di sana. Max dan Alinzar tanpa ragu-ragu langsung memasuki portal itu untuk menuju ke dunia lain. “Tidak, jangan masuk portal itu!”