bc

Pak Dosen

book_age18+
18
IKUTI
1K
BACA
possessive
badgirl
student
sweet
campus
first love
lecturer
like
intro-logo
Uraian

Felora Audrey Sifabella, seorang mahasiswi baru yang berharap bisa terhindar dari banyaknya tugas dan peraturan setelah masuk ke perguruan tinggi. Namun lagi-lagi ekspektasi itu dihancurkan oleh salah satu dosen yang sayangnya menjadi incaran para kaum hawa. Bukan hanya dikalangan mahasiswi saja, tapi juga para dosen lain.

Namanya Guntur Adhitama Mahatma, dosen tampan yang katanya tampan dan humoris. Percuma saja tampan, kalau pelit nilai dan suka memberi kuis dadakan. Humoris? Iya. Namun sekali marah, bisa membuat spot jantung tiba-tiba.

'Pak Gledek' adalah julukan yang Felora berikan untuk sang dosen kesayangan.

Sayang kalau tidak diajak ribut, maksudnya.

Ini kisah tentang seorang mahasiswi dan dosen yang sering beradu argumen. Kelas berasa milik berdua. Berdebat sepertinya adalah hobi mereka.

Lalu bagaimana kalau tiba-tiba mereka terjerat cinta? Akankah bisa berjalan mulus? Atau mungkin ... akan banyak rintangan yang harus dilewati?

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal yang Buruk
"Kehidupan itu terus berjalan layaknya detik jam. Jadi ... jangan hanya terfokus pada satu tujuan, mari melangkah lebih jauh." ~Pak Dosen Sebuah gedung kampus menjulang tinggi di depannya. Seorang gadis berdiri di sana, menatap kagum bangunan megah itu. Impiannya, kini sudah tercapai. Masuk ke universitas favorit dengan hasil usaha sendiri. Felora Audrey Sifabella, namanya. gadis Yatim piatu yang harus merantau demi masuk universitas impian. Ayah dan ibunya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, ia tinggal dan dirawat oleh neneknya. Namun, tepat dua bulan yang lalu, neneknya pun sudah meninggal. Kini Felora hidup sendiri, maka dari itu ia memilih untuk pindah kota. Masalah biaya hidup, tidak usah khawatir. Keluarganya termasuk orang kaya, jadi mereka meninggalkan banyak harta. Setidaknya, sudah lebih dari cukup untuk membayar uang kuliah dan biaya sehari-hari. Bukankah begitu? Paling tidak, itu semua cukup sampai nanti dia bisa bekerja dan mencari uang sendiri. Atau mungkin, mulai sekarang pun bisa? Tentu saja. Felora bisa bekerja part time, untuk mendapatkan uang tambahan. Tidak ada sanak saudara? Oh, tidak. Tentu saja dia punya. Felora masih punya om dan tante, serta sepupu-sepupunya. Namun, mereka tinggal di luar negeri. Sebenarnya, mereka sudah pernah mengajak Felora untuk tinggal bersama. Namun, Felora lebih memilih tinggal sendiri di kota kelahiran dari pada harus ke negeri orang. Mungkin lain kali, ia akan berkunjung ke sana. Hanya sekedar berkunjung saja, tapi tidak untuk menetap. Apa pun alasannya, selagi bisa, Felora akan tetap memilih untuk tinggal di Indonesia saja. "Hufttt ... akhirnya gue bisa masuk kuliah juga. Mama sama papa pasti bangga sama gue, karena bisa masuk sini," gumamnya pelan. Tatapan matanya berubah menjadi sendu, mengingat kedua orang tua. Dia mendongak, menatap angkasa yang terlihat cerah. Sang mentari bersinar terik, membuatnya sedikit berkeringat. Embusan angin menerpa, menjatuhkan dedaunan kering dari rantingnya. Cairan bening menetes dari pelupuk mata, tak kuat menahan sedih. Dengan cepat dia menghapusnya, lalu menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang terlihat indah, tapi banyak kesedihan yang terkandung di baliknya. Tersenyum bukan berarti baik-baik saja, tertawa bukan berarti bahagia. Justru terkadang, itu hanya sebagai topeng. Sebuah topeng untuk menyembunyikan kesedihan. Banyak dari mereka yang bersembunyi di balik kepura-puraan. Ya, begitulah manusia. Terutama perempuan, sangat sulit untuk ditebak. Banyak macam sifat dan kepribadian. Mereka terlalu pintar dalam hal kepura-puraan, sampai terluka secara perlahan. Namun bagi sebagian orang, itu cara terbaik daripada harus merepotkan orang lain. "Nggak, gue nggak boleh sedih! Harus semangat!" ucapnya menyemangati diri sendiri. Ia sadar, bagaimana juga hidup terus berjalan. Tidak boleh terus berlarut dalam kesedihan, walaupun masih sulit untuk melupakan. Ditambah lagi, kematian sang nenek yang menambah pilu. Sesak rasanya saat harus mengingat itu. Pandangannya tertuju ke depan, tepat di sebuah lapangan yang sudah mulai sepi. Ini hari pertama dia masuk, setelah sebelumnya melaksanakan ospek. Perlahan, dia membawa langkahnya masuk ke dalam. Menyeret kaki dengan penuh riang. Menelusuri setiap lorong, mencari gedung fakultas. Felora berdecak kesal, saat tidak kunjung menemukannya. "Ini gue harus ke mana, coba?" tanya Felora kepada dirinya sendiri. Netranya berkeliling, mencari seseorang yang bisa di tanya. Namun hasilnya nihil, tidak ada orang yang lewat. 'Universitas seluas ini, kenapa sepi sekali?' Kira-kira begitu yang saat ini ada di pikiran Felora. Lihat saja, bahkan seperti tidak ada kehidupan. Atau mungkin, memang gadis itu saja yang belum hapal semua tempat di gedung ini? "Gue berasa jadi orang hilang, jalan nggak jelas tanpa tau arah." Felora lagi-lagi menggerutu, merutuki kebodohannya sendiri. Ini salahnya juga, karena tidak berkeliling dulu saat selesai ospek waktu itu. Mungkin saja, tidak akan sesusah ini kalau waktu itu dia ikut ospek. Kalau sudah begini, dia juga yang susah. Mau bertanya, tapi malu. Ia membuka ponsel, melihat aplikasi w******p. Dilihatnya nama kontak seseorang, tapi ternyata sedang tidak online. Beralih ke aplikasi lain, Felora menekan tombol hijau di sana. Drttt ... drttt ... drttt ..... Ponsel itu terus berdering, tapi tak kunjung di angkat. Drttt ... drttt .... Sekali lagi, dan hasilnya masih sama. Gadis itu tampak frustasi, lalu beralih menekan tombol merah. "Sekarang gue harus gimana, coba?" Memasukkan kembali ponsel itu ke saku, kemudian menghela napas lelah. Felora kembali menatap sekeliling, hasilnya masih sama. Sepi seperti tadi, tidak ada satu orang pun yang lewat. Kemudian, netranya menoleh ke samping, membaca tulisan yang terpampang di salah satu pintu. Gudang Fakustas Teknik Felora membulatkan matanya, mengerjap tidak percaya. Oh, s**t! Pantas saja sepi, ternyata dirinya berada di depan gudang. Enggan berdiri tidak jelas di sana, dia memilih terus berjalan tanpa tau arah. Ia berjalan sambil menunduk. Pandangannya terus tertuju ke arah sepatu sneakers putih yang dipakai. Tanpa sadar, ternyata dia berjalan di tengah-tengah sekumpulan cowok. Semakin menunduk, pertanda malu. Bukan karena takut, hanya saja, masih merasa asing. Bagaimana tidak? Ia masih menjadi Mahasiswa Baru, dan sudah banyak pasang mata yang memandangnya dengan tatapan bermacam-macam. Sebagian dari mereka, bahkan ada yang menatap Felora dengan intens. Melihat dari ujung sepatu, sampai ke ujung rambut. Felora bergedik ngeri, saat pikirannya tiba-tiba traveling entah ke mana. Lebay memang. Padahal biasanya, wanita itu paling bar-bar. Mungkin karena belum terbiasa, makannya masih sedikit malu. "Mau ke mana, Cantik?" tanya salah satu dari mereka. Felora diam tidak menjawab, ia justru semakin mempercepat jalannya. Dugh! Baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang. Felora masih menunduk, belum berani melihat siapa yang ditabraknya. Sampai suara cool khas cowok terdengar di indra pendengaran. "Kalau jalan hati-hati." Felora mendongak, sempat terpana oleh ketampanan orang yang baru saja di tabrak. Di depannya, berdiri seorang pria tampan dengan rahang tegas. Mungkin usianya sekitar tiga tahun lebih tua darinya, itu pikir Felora. "Ma syaa Allah, sungguh indah ciptaanmu," kagum Felora dalam hati. "Hallo? Kenapa diam saja?" Pria itu melambai-lambaikan tangan di depan wajah Felora, karena diam saja. "Eh, maaf, Mas. Tadi saya nggak sengaja." Tersadar dari lamunan, dia menjawab sedikit gugup. Arghh! Ini sungguh bukan sikap aslinya. Namun entah kenapa, sekarang jadi gugup seperti itu. "Iya, tidak masalah." Felora menghela napas lega, untung saja dia tidak marah. "Mas, tau gedung fakultas ekonomi dan bisnis?" Dia memanfaatkan kesempatan untuk bertanya, dari pada nanti malah tersesat semakin jauh. "Kamu mahasiswa baru?" Pria itu balik bertanya. Felora mengangguk, lalu menjawab, "Benar, saya maba di sini." "Kenapa baru datang? Bukankah seharusnya kelas pertama dimulai pukul delapan pagi?" "Em ... anu, Mas. Anu ... tadi saya telat bangun pagi," jawabnya sedikit malu. "Lain kali, jangan diulangi lagi. Kamu belum tau, ya?" Felora mengangkat sebelah alisnya, lalu bertanya, "Tau apa, Mas?" "Saya dengar, ada salah satu dosen FEB yang suka sekali menghukum mahasiswa yang terlambat seperti kamu ini," ucapnya menakut-nakuti. Damn! Niat hati hanya ingin bertanya, kenapa malah ditakut-takuti seperti itu? "Maaf, Mas, gedung FEB ada di mana, ya? Ini saya sudah telat banget, loh," ulangnya sekali lagi. "Kamu salah jalur. Kalau di sini, itu untuk ke fakultas teknik." "Lalu gedung FEB itu, di mana, Mas?" Dia mengira kalau pria itu mungkin saja kakak tingkat, jadi dari tadi memanggil dengan sebutan 'mas.' "Kamu putar balik, nanti di lorong pertama dekat masjid, lurus terus. Nah, di sana letak gedung FEB," jawab orang itu menjelaskan. "Baik, terima kasih kalau begitu." "Ya, sama-sama." "Saya duluan," setelahnya, Felora pergi meninggalkan pria yang belum dia ketahui namanya itu. "Tunggu sebentar!" Pria itu memanggil Felora lagi. Felora terpaksa berhenti dan kembali berbalik badan. "Ya? Kenapa, Mas?" "Saya bukan mas-mas tukang parkir, jadi jangan panggil 'Mas' sebelum –" Pria itu sengaja menggantung ucapannya, membuat rasa penasaran mulai muncul dalam pikiran Felora. Felora kembali mengangkat sebelah alisnya, kemudian menatap wajah laki-laki itu dan berucap, "Sebelum apa?" "Sebelum Kamu menjadi istri saya." Deg! Jawaban yang tidak pernah disangka-sangka itu justru terdengar, membuat kedua alis Felora menukik tajam. "Istri? Maksudnya, apa, ya?" tanya Felora. Bukannya tidak suka, hanya saja, rasanya terlalu tiba-tiba saat ada seseorang yang bahkan belum dikenal lalu berucap demikian. "Tidak usah dipikirkan. Jika saatnya sudah tepat, kamu pasti akan tahu sendiri jawabannya," ucapnya lalu pergi melewati Felora. Felora masih diam mematung, belum paham dengan apa yang baru saja terjadi. "Hah? Maksudnya? Dasar aneh!" Felora mendengus, memaki orang itu dalam hati. Untung tampan, jadi biarkan saja. Dia hanya berharap, semoga tidak bertemu lagi dengan orang aneh seperti itu. Tampan, sih, tapi kenapa mengesalkan? "Jangan terus menggerutu, atau kamu akan terlambat masuk kelas." Nah! Kenapa juga pria itu masih di sana? Bukankah tadi sudah pergi menjauh? Sungguh, Felora membenci pertemuannya hari ini. "Saya tidak mungkin di hukum!" "Kita lihat saja, nanti. Dan saya pastikan, Kamu pasti akan di hukum," jawabnya disertai senyum smirk. Pria yang belum diketahui namanya itu, kemudian melenggang pergi. Kali ini, benar-benar meninggalkan Felora sendiri. "Dia pikir dia itu siapa? Gue yakin, kok, kalau gue nggak bakal di hukum. Lagi pula, siapa, sih, yang berani menghukum seorang Felora Audrey Sifabella?" ucapnya dengan bangga. "Gue nggak mau lagi, ketemu sama orang itu!" Tentang kata-kata pujian yang tadi, lupakan saja. Anggap dia sedang khilaf saat mengatakan hal itu. "Mas-mas aneh!" Saat itu juga, dia kembali menarik ucapannya yang tadi sempat memuji ketampanan pria itu. Percuma saja tampan kalau menyebalkan. Lebih baik biasa saja, tapi humoris. Ah, entah apa yang Felora pikirkan. Gadis itu memilih abai dan melupakan kejadian tadi. Tersadar akan sesuatu, ia segera berlari ke arah gedung yang tadi sudah ditunjukkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook