Seminggu lebih sudah berlalu. Kini, aku sudah memantapkan hati dengan keputusan yang akan diambil. Apa pun reaksi dia nanti, aku akan mencoba tak peduli. Dengan perlahan dan hati-hati, aku keluar kamar. Ibu dan Bapak yang sedang menonton televisi pun serempak menoleh saat menyadari kehadiranku. "Kenapa, Jum? Mau apa? Biar ibu buatin." "Enggak, Bu. Aku ke sini karena ada yang mau dibicaran dengan Bapak dan Ibu." Mendengar itu, keduanya kompak saling menatap, lalu melihatku lagi. "Soal Mustafa?" tanya Bapak. Aku mengangguk. "Sini duduk," kata Ibu sembari memberikan kursi plastik yang diambil dari dapur. "Mau ibu buatin teh manis hangat?" Aku menggeleng. "Kenapa, Jum? Mau bicarain apa tentang suamimu? Apa mau minta tolong bapak buat hajar dia?" gurau Bapak. "Enggak, Pak. Aku mau bic

