Tiga hari sudah berlalu sejak aku kembali ke desa. Ketenangan dan kesejukan di sini belum mampu membuatku lupa dengan masalah itu. Tiga hari terlalu singkat untuk mengobati hati yang patah dan terluka. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan ketika kita berulang kali dikhianati pria. Aku merasa rendah dan tak layak bahagia. Tak layak dicintai sepenuh hati hingga selalu berakhir seperti ini. Mungkinkah aku memang ditakdirkan untuk hidup sendiri? Tapi bukankah setiap makhluk itu diciptakan berpasang-pasangan? "Jum!" Ketukan Ibu di pintu membuyarkan lamunan. "Masuk, Bu!" Ibu menyuguhkan senyum ketika masuk dan berjalan mendekat. "Jangan di kamar terus. Sumpek. Sesekali kamu hidup udara segar di luar, Jum. Cukup duduk di teras aja." Aku menggeleng. "Aku lebih suka di sini." Ibu duduk di

