Keesokan paginya, Arma dan Gilang tiba di sebuah lokasi terpencil setelah perjalanan panjang. Markas Godhand tersembunyi di balik hutan lebat, jauh dari peradaban. Dari luar, tempat itu tampak seperti fasilitas militer biasa, tapi saat mereka melewati gerbang keamanan, Arma bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar pangkalan biasa.
“Jangan bicara kecuali ditanya,” bisik Gilang saat mereka berjalan melewati lorong panjang dengan penjagaan ketat. “Komandan Brahma tidak suka buang-buang waktu.”
Arma hanya mengangguk.
Mereka tiba di sebuah ruangan besar dengan dinding baja dan kaca anti-peluru. Di tengah ruangan itu, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan aura yang sulit dijelaskan. Wajahnya dingin, matanya tajam seperti bisa menembus pikiran siapa pun yang menatapnya.
Komandan Brahma.
Gilang memberi hormat. “Komandan, saya membawa kandidat baru. Namanya Arma Dwijaya.”
Brahma menatap Arma dalam diam selama beberapa detik. Suasana di ruangan itu terasa begitu menekan.
“Kau yang diselamatkan Gilang dari sungai?” suaranya dalam dan tegas.
“Ya, Pak,” jawab Arma tanpa ragu.
Brahma mendekat, meneliti Arma dari kepala hingga kaki. “Kenapa kau setuju bergabung dengan kami?”
Arma menarik napas dalam. Ia tahu ini bukan saatnya berbohong atau ragu-ragu.
“Aku butuh hidup baru,” jawabnya mantap. “Aku tidak punya alasan untuk kembali ke masa laluku. Dan… aku ingin melakukan sesuatu yang berarti.”
Brahma masih menatapnya, lalu tiba-tiba tersenyum tipis senyum yang lebih menyerupai ekspresi puas.
“Kau masih mentah, tapi aku suka tekadmu.”
Ia berbalik, lalu berjalan ke arah meja dan mengambil sebuah berkas.
“Mulai hari ini, kau adalah bagian dari Godhand,” katanya. “Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kau buktikan.”
Brahma melirik Gilang. “Bawa dia ke Ruang Ujian.”
Arma menoleh ke Gilang, yang hanya tersenyum kecil. “Selamat datang di neraka, Arma,” katanya sambil menepuk bahu Arma.
Arma mengepalkan tangannya. Apa pun ujian itu, ia siap menghadapinya.
Ruang Ujian – Baptisan di Godhand
Gilang membawa Arma melewati lorong bawah tanah yang panjang dan gelap. Lampu redup berkelip-kelip, menciptakan suasana yang semakin menegangkan.
“Komandan Brahma tidak sembarangan merekrut orang,” kata Gilang sambil berjalan di depan. “Setiap agen harus membuktikan dirinya layak. Tidak ada pengecualian, termasuk kau.”
Arma tetap diam, tapi ia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Mereka tiba di depan sebuah pintu baja besar. Di atasnya, ada tulisan RUANG UJIAN dengan lambang Godhand terpampang di bawahnya.
Gilang memasukkan kode akses, dan pintu terbuka dengan suara mendengung berat.
Begitu masuk, Arma langsung menyadari tempat itu bukan ruangan biasa. Cahaya neon dingin menerangi arena luas berbentuk lingkaran, dengan berbagai peralatan tempur, target tembak, dan simulator medan pertempuran. Di sisi ruangan, ada beberapa orang yang berdiri dengan ekspresi waspada. Mereka bukan sekadar penonton mereka adalah agen yang sudah teruji.
Di tengah ruangan, seorang pria berambut putih berdiri dengan tangan bersilang di d**a. Matanya tajam seperti elang, dan bekas luka di pelipisnya menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
“Kenalkan,” kata Gilang. “Dia Kolonel Surya, kepala pelatihan di Godhand. Dan dia yang akan menentukan apakah kau layak atau tidak.”
Surya menatap Arma sejenak sebelum berbicara.
“Aturannya sederhana,” katanya. “Kau akan menghadapi tiga tantangan. Satu, ketahanan fisik. Dua, kecerdasan. Tiga, insting bertahan hidup. Jika gagal di salah satunya, kau keluar.”
Arma menelan ludah. “Dan kalau aku berhasil?”
Surya menyeringai. “Maka kau resmi menjadi bagian dari kami.”
Gilang menepuk bahunya. “Siap, Arma?”
Arma mengepalkan tangannya. “Siap.”
“Bagus,” kata Surya. “Mari kita mulai.”
Tantangan pertama baru saja dimulai.
Ujian Pertama – Ketahanan Fisik
Arma berdiri di tengah arena, dikelilingi oleh peralatan latihan dan tatapan dingin para agen yang mengawasi dari kejauhan. Kolonel Surya berjalan perlahan ke arahnya, ekspresinya masih datar tanpa emosi.
“Ketahanan fisik adalah hal pertama yang kami uji,” katanya. “Agen Godhand tidak boleh lemah. Jika kau tidak bisa melewati ini, lupakan dua ujian lainnya.”
Arma mengangguk.
Surya memberi isyarat, dan seorang agen lain mendekat sambil membawa stopwatch. “Tes pertama: lari sprint sejauh lima kilometer dalam waktu kurang dari 20 menit. Jika kau melewati batas waktu, kau gagal.”
Tanpa banyak bicara, Arma berdiri di garis awal.
“Mulai!”
Begitu aba-aba diberikan, Arma langsung berlari. Kakinya menghantam lantai dengan ritme stabil, tapi baru beberapa ratus meter, ia sudah merasakan napasnya mulai berat. Kakinya masih lelah setelah insiden di sungai kemarin.
“Ayo, pemula! Apa itu sudah batasmu?” teriak salah satu agen yang menonton.
Arma menggertakkan giginya. Ia memaksa tubuhnya untuk terus melaju, meskipun paru-parunya mulai terasa seperti terbakar.
Menit ke-10 – Keringat membanjiri wajahnya, tapi ia sudah menempuh separuh lintasan.
Menit ke-15 – Otot-ototnya mulai terasa kejang, tapi ia tahu kalau berhenti sekarang, semua usahanya sia-sia.
Menit ke-19 – Garis finis sudah di depan mata. Dengan sisa tenaga, Arma mendorong tubuhnya sekuat tenaga dan melesat melewati garis akhir.
“19 menit 43 detik,” kata agen pemegang stopwatch. “Lulus.”
Arma jatuh berlutut, terengah-engah, tapi matanya berbinar penuh tekad.
Namun, Kolonel Surya hanya tersenyum tipis. “Jangan senang dulu. Ini baru pemanasan.”
Tes kedua: pertarungan satu lawan tiga
Tiga agen berbadan besar melangkah masuk ke arena. Mereka semua terlihat berpengalaman, dengan postur tegap dan tatapan tajam.
“Kau harus bertahan selama lima menit tanpa tersungkur,” kata Surya.
Arma berdiri dengan napas masih berat. Ia belum sepenuhnya pulih dari lari tadi, tapi tidak ada waktu untuk beristirahat.
“Ayo kita mulai,” kata salah satu agen sambil mengepalkan tinju.
Tanpa aba-aba, mereka langsung menyerang.
Sebuah pukulan meluncur ke arah wajahnya. Arma nyaris menghindar, tapi satu tendangan menghantam perutnya. Ia terhuyung, tapi berhasil tetap berdiri.
Satu pukulan lagi melesat Arma menangkisnya dengan lengan, lalu mencoba menyerang balik, tapi lawannya lebih cepat. Satu tinju menghantam rahangnya, membuat kepalanya berdenyut.
Gilang memperhatikan dari pinggir arena. “Bertahan, Arma!”
Arma menggertakkan giginya. Ia tidak bisa terus bertahan seperti ini.
Ia harus melawan balik.
Melihat celah, Arma langsung melancarkan pukulan ke rusuk salah satu lawannya, lalu menendang lutut lawan lainnya. Mereka sedikit mundur, memberi Arma kesempatan untuk menarik napas.
Sisa waktu: 1 menit
Arma bisa merasakan tubuhnya hampir mencapai batas, tapi ia terus bertahan. Setiap serangan yang datang ia tangkis sekuat tenaga.
Dan akhirnya…
Waktu habis.
Arma berdiri terhuyung, tubuhnya penuh luka dan lebam, tapi ia tidak tersungkur.
Kolonel Surya tersenyum kecil. “Tidak buruk.”
Gilang menepuk bahunya. “Masih hidup?”
Arma tersenyum samar, meskipun tubuhnya nyaris roboh. “Kurang keras.”
Surya tertawa pelan. “Kalau begitu, kau pasti menyukai ujian terakhir.”
Tantangan ketiga: Bertahan hidup selama 48 jam di hutan liar tanpa senjata atau makanan.