Ujian Ketiga – Bertahan Hidup di Hutan Liar
Malam itu, Arma berdiri di tepi sebuah hutan lebat. Di sampingnya, Gilang menyerahkan sebuah tas kecil yang nyaris kosong hanya berisi botol air setengah penuh dan pisau lipat kecil.
“48 jam,” kata Gilang. “Kau harus bertahan hidup tanpa bantuan, tanpa makanan, dan tanpa senjata selain ini.”
Kolonel Surya berdiri tak jauh dari mereka, memperhatikan dengan tangan bersilang. “Di dalam hutan ini, ada lebih dari sekadar pepohonan,” katanya. “Binatang liar, jebakan alami, dan mungkin saja… seseorang yang mengincarmu.”
Arma menelan ludah, tapi ia tetap mengangguk mantap.
“Kalau kau berhasil kembali ke titik awal dalam keadaan hidup,” lanjut Surya, “kau lulus.”
Tanpa menunggu lebih lama, Arma melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan.
Jam ke-1 – Langkah Arma pelan dan penuh perhitungan. Malam begitu gelap, dan suara serangga bercampur dengan desir angin yang menyeramkan. Ia tahu bahaya bisa datang dari mana saja.
Jam ke-3 – Perutnya mulai kosong, tapi ia menahan diri untuk tidak panik. Ia menemukan sungai kecil dan segera mengisi ulang botol airnya.
Jam ke-7 – Udara semakin dingin. Arma mengumpulkan dedaunan kering dan ranting, mencoba membuat api. Tapi tanpa korek, itu tidak mudah. Ia menggosok kayu dengan keras, hingga akhirnya, percikan kecil muncul. Dalam waktu beberapa menit, api kecil mulai menyala.
Jam ke-12 – Saat fajar menyingsing, Arma mulai mencari makanan. Ia menemukan beberapa buah liar, tapi ia ingat satu pelajaran dasar bertahan hidup: jangan makan sesuatu yang tidak kau kenali.
Tapi ia butuh energi.
Menggunakan pisau lipatnya, ia mengupas buah itu sedikit dan mencoba menggigit kecil. Jika dalam waktu satu jam tidak ada efek buruk, ia akan makan lebih banyak.
Jam ke-20 – Tubuhnya mulai lelah. Namun, instingnya memberi peringatan ia tidak sendirian.
Arma menahan napas, mendengar suara langkah kaki dari balik semak-semak. Ia segera merunduk, mengamati dari balik dedaunan.
Dua pria berpakaian hitam sedang berjalan, masing-masing membawa pisau besar.
“Siapa mereka…?” gumamnya dalam hati.
Ia tidak tahu apakah mereka bagian dari ujian atau ancaman sungguhan. Tapi satu hal yang pasti mereka terlihat seperti pemburu.
Arma harus membuat keputusan: menghindari mereka atau menghadapi mereka?
Jam ke-20 – Kabur dan Bersembunyi
Arma menahan napas, tubuhnya menempel di tanah. Dua pria berpakaian hitam itu melangkah perlahan, mata mereka tajam mengawasi sekitar.
“Dengar gak?” salah satu dari mereka berbisik.
“Ya. Sepertinya ada seseorang di sekitar sini.”
Arma merutuki dirinya sendiri. Ia terlalu lama mengamati, dan sekarang mereka mulai curiga.
Dia harus pergi. Sekarang.
Tanpa suara, Arma mulai merayap mundur, memastikan tiap gerakannya tidak menimbulkan suara. Ia tahu satu kesalahan bisa membuatnya ketahuan.
Satu langkah… dua langkah… tiga langkah…
Tiba-tiba, ranting kering di bawah kakinya patah.
KRAK!
“Di sana!”
Arma langsung melesat ke arah hutan yang lebih lebat. Ia menembus semak-semak, berlari secepat mungkin meski tubuhnya sudah lelah. Nafasnya memburu, tapi ia tidak bisa berhenti sekarang.
Peluit panjang terdengar dari belakang.
Sial. Mereka memanggil yang lain.
Arma mempercepat langkahnya, mencari tempat untuk bersembunyi. Pandangannya menyapu sekeliling, lalu ia melihat sebuah pohon besar dengan akar yang menjulur seperti gua kecil.
Tanpa pikir panjang, ia langsung masuk ke dalamnya, menahan napas, dan mendengarkan.
Langkah kaki semakin dekat.
“Aku yakin dia lari ke arah sini,” suara pria itu semakin jelas.
“Tunggu sebentar,” jawab yang lain. “Kita cari jejaknya dulu.”
Arma menempelkan punggungnya ke akar pohon, berusaha memperlambat napasnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Jika mereka menemukan tempat persembunyiannya, dia harus bertarung dan dengan tubuhnya yang sudah lelah, itu bukan pilihan bagus.
Beberapa menit berlalu.
“Dia hilang,” kata salah satu dari mereka.
“Dia pasti masih di sekitar sini. Tapi sudah cukup untuk sekarang, kita lanjutkan nanti.”
Langkah kaki perlahan menjauh.
Arma tidak langsung keluar. Ia tetap diam selama beberapa menit, memastikan mereka benar-benar pergi. Baru setelah itu, ia menghela napas lega.
Dia berhasil kabur.
Namun, satu pertanyaan muncul di kepalanya.
Siapa mereka? Apakah mereka bagian dari ujian, atau ini adalah ancaman yang sebenarnya?
Satu hal yang pasti: mulai sekarang, dia harus lebih berhati-hati.
Sisa waktu: 28 jam.
Arma mengencangkan genggamannya pada pisau lipatnya. Dia akan bertahan, apa pun yang terjadi.
Jam ke-28 – Perburuan Dimulai
Matahari mulai naik ketika Arma keluar dari persembunyiannya. Otot-ototnya masih kaku setelah berjam-jam bersembunyi, tapi ia tidak bisa berdiam diri lebih lama. Masih ada 20 jam lagi sebelum ujian ini berakhir.
Namun, pikirannya masih terganggu oleh dua pria tadi. Siapa mereka?
Jika mereka hanya bagian dari ujian, seharusnya mereka tidak membawa pisau besar dan bergerak seperti pemburu sungguhan.
Dan yang lebih mengkhawatirkan… kenapa mereka tidak mencari dia lebih lama?
Sesuatu terasa aneh.
Arma memutuskan untuk bergerak lebih jauh ke dalam hutan. Ia menghindari jalur terbuka dan mulai menggunakan teknik bertahan hidup yang ia tahu menyembunyikan jejak kaki, bergerak dengan pola zig-zag, dan selalu memeriksa sekelilingnya sebelum melangkah.
Jam ke-32 – Alarm Bahaya
Arma menemukan sebuah tempat yang cukup aman di dekat tebing kecil. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak, tapi instingnya tiba-tiba berteriak.
Sunyi. Terlalu sunyi.
Seharusnya ada suara burung atau serangga, tapi sekarang… tidak ada suara sama sekali.
Arma langsung mengambil pisau lipatnya dan menempelkan tubuhnya ke tanah. Ia mengamati sekeliling, dan saat itulah ia melihat sesuatu.
Sebuah senar tipis yang terikat di antara dua pohon.
Jebakan.
Arma mundur perlahan dan melihat lebih dekat. Jika ia tidak memperhatikan, ia pasti sudah menendang senar itu dan apa pun yang terjadi setelah itu, pasti bukan hal baik.
Perlahan, ia mengikuti kabel itu dengan pandangannya. Kabel itu terhubung ke sebuah mekanisme sederhana yang diikat ke batang pohon. Sebuah tombak kayu runcing siap meluncur jika jebakan itu terpicu.
Arma menghela napas.
Ini bukan ujian biasa.
Seseorang benar-benar mengincarnya.
Dan jika ada jebakan seperti ini, berarti… mereka masih ada di dekat sini.
Jam ke-33 – Menjadi Pemburu
Jika ia terus bersembunyi, cepat atau lambat mereka akan menemukannya. Jadi, Arma membuat keputusan.
Dia yang akan berburu mereka.
Menggunakan ranting dan dedaunan, ia menutupi jejaknya. Ia mencari posisi yang lebih tinggi—sebuah pohon besar dengan cabang yang kokoh. Dari sana, ia bisa mengamati sekeliling tanpa terlihat.
Ia menunggu.
Satu jam berlalu… lalu dua jam.
Dan akhirnya… mereka muncul.
Tiga orang. Bukan dua seperti tadi malam. Mereka mengenakan pakaian hitam yang sama, berjalan perlahan dengan tatapan waspada.
Salah satu dari mereka berhenti tepat di dekat jebakan yang tadi ditemukan Arma. Ia menunduk dan memeriksanya.
“Jebakan kita belum kena. Berarti dia sudah tahu.”
Arma mengepalkan tinjunya. Benar dugaannya. Mereka bukan bagian dari ujian.
Dan mereka mengincarnya.
Sekarang, ia harus membuat pilihan.
1. Tetap bersembunyi dan mengamati lebih lama.
2. Menciptakan pengalihan agar bisa kabur tanpa ketahuan.
3. Menyerang lebih dulu dan menghabisi salah satu dari mereka.
Arma mengepalkan pisau lipatnya, matanya menatap tajam ke arah target.
Apa langkahnya selanjutnya?
Jam ke-36 – Mengamati Musuh
Arma tetap diam di atas pohon, menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ketiga pria berbaju hitam itu masih berada di bawah, berdiskusi dengan suara pelan.
“Dia masih di sekitar sini,” kata salah satu dari mereka. “Jebakan kita tidak kena, berarti dia sudah tahu cara bertahan hidup.”
“Bagus,” sahut pria yang lain. “Berarti dia tidak akan mati dengan mudah. Kita tunggu sampai dia kelelahan.”
Arma mengernyit. Jadi mereka tidak berniat membunuhnya langsung, tapi justru ingin memaksanya kelelahan dulu?
Mereka ingin dia tetap hidup.
Pertanyaan besar muncul di kepalanya kenapa?
Jika mereka hanya pemburu liar, mereka pasti sudah menyerang langsung. Tapi strategi mereka terlalu terencana. Mereka bahkan menggunakan jebakan untuk mengarahkan pergerakannya.
Ini bukan sekadar perburuan biasa. Ini taktik perburuan yang disengaja.
Arma terus mengamati.