Jam ke-38 – Rahasia Terungkap
Salah satu pria mengeluarkan alat komunikasi kecil dari sakunya.
“Target masih belum ditemukan, tapi dia sudah mulai menyadari keberadaan kita.”
Ada jeda. Lalu suara dari alat itu terdengar samar, tapi cukup jelas untuk didengar Arma.
“Lanjutkan. Kita lihat seberapa jauh dia bisa bertahan.”
Arma menahan napas.
Ini bagian dari ujian.
Tapi bukan ujian biasa ini ujian rahasia yang bahkan dia sendiri tidak diberi tahu.
Mereka ingin melihat apakah Arma bisa bertahan dalam situasi di mana dia menjadi buruan.
Tapi ada sesuatu yang mengganggunya.
Jika mereka ingin mengujinya, seharusnya ada batasan. Seharusnya ada aturan yang menjamin keselamatannya.
Tapi sejauh ini? Mereka tidak ragu untuk membuatnya hampir mati.
Ujian ini bisa saja membunuhnya.
Arma mengepalkan tinjunya.
Sekarang dia tahu dua hal penting:
1. Mereka adalah bagian dari organisasi, tapi mereka mengujinya secara ekstrem.
2. Mereka ingin dia tetap hidup, tapi dalam kondisi yang paling lemah.
Dan jika mereka ingin melihat batasnya… maka dia akan menunjukkan sesuatu yang tidak mereka duga.
Jam ke-40 – Strategi Arma
Arma tahu ia tidak bisa terus bersembunyi. Mereka punya peralatan, mungkin juga persediaan lebih banyak. Jika ia menunggu terlalu lama, tubuhnya akan semakin lemah.
Jadi, ia mengambil keputusan.
Dia akan membalik keadaan.
Rencana:
1. Membuat pengalihan – Menggunakan benda-benda di sekitar untuk menciptakan suara di tempat lain.
2. Menjebak mereka balik – Menggunakan jebakan alam yang bisa dimanipulasi.
3. Menghabisi mereka satu per satu – Jika ia bisa memisahkan mereka, peluang menangnya meningkat.
Arma mulai bergerak diam-diam, mengambil ranting dan batu, lalu melemparkannya ke arah berlawanan.
“Suara dari sana!” salah satu pria berseru.
Dua dari mereka langsung bergerak menuju suara, meninggalkan satu orang sendirian.
Kesempatan Arma telah tiba.
Waktunya membalik perburuan ini.
Jam ke-41 – Membalik Perburuan
Arma menahan napas, memperhatikan pria yang kini sendirian. Dua lainnya telah pergi menyelidiki suara yang ia ciptakan, meninggalkan target yang lebih mudah untuk dilumpuhkan.
Langkah pertama: eliminasi satu per satu.
Arma bergerak cepat tapi senyap. Ia turun dari pohon dengan hati-hati, memastikan tidak ada suara yang mencurigakan. Pisau lipatnya tergenggam erat di tangannya.
Pria itu berdiri dengan punggung menghadap ke arahnya, tangannya masih memegang alat komunikasi.
Kesempatan emas.
Dengan secepat kilat, Arma menyerang. Ia membungkam pria itu dengan satu tangan di mulutnya dan menekan pisau lipat ke lehernya.
“Jangan bergerak.”
Pria itu terkejut, tapi tidak panik. Ia mencoba melawan, tapi Arma lebih cepat. Ia menjatuhkan pria itu ke tanah, mengunci tangannya ke belakang.
“Siapa kalian?” bisik Arma tajam.
Pria itu hanya menyeringai. “Kau lebih pintar dari yang kami duga.”
Arma menekan pisau lebih keras. “Jawab.”
Tapi pria itu tetap tersenyum. “Ini baru permulaan, Arma Dwijaya.”
Sebelum Arma bisa bereaksi, pria itu menggigit sesuatu di dalam mulutnya pil sianida.
Matanya membelalak. Dalam hitungan detik, tubuh pria itu melemas. Dia mati.
Arma mengumpat dalam hati. Mereka benar-benar siap mati demi misi ini?
Sial. Sekarang dua orang lainnya pasti sadar ada yang tidak beres.
Jam ke-42 – Dikejar
Seperti yang ia duga, suara langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat.
“Ada yang salah! Kembali ke posisi!”
Arma langsung mengambil alat komunikasi dari tubuh pria yang sudah mati, lalu berlari ke arah hutan lebih dalam.
Tapi kali ini, mereka tidak lagi berburu dengan diam-diam.
DOR!
Sebuah tembakan meledak.
Arma langsung menjatuhkan diri ke tanah, bersembunyi di balik semak-semak. Mereka punya senjata api?!
Ini bukan lagi ujian biasa. Ini eksekusi.
Arma merayap perlahan, memastikan tidak terlihat. Ia tahu dia tidak bisa lari terus mereka punya keunggulan persenjataan.
Ia harus mencari cara untuk melumpuhkan mereka tanpa terlibat baku tembak.
Jam ke-43 – Menjebak Musuh
Arma menemukan sebuah area penuh dengan akar-akar besar dan tanah yang tidak stabil. Jika ia bisa mengarahkan mereka ke sini, ia bisa memanfaatkan lingkungan untuk menjebak mereka.
Menggunakan alat komunikasi yang ia curi, ia menekan tombol dan berbicara dengan suara yang dalam.
“Target di koordinat utara. Segera ke sini.”
Ada keheningan sejenak. Lalu suara dari alat komunikasi berbunyi.
“Siapa ini?”
Arma tidak menjawab. Ia hanya menekan tombolnya lagi, lalu membanting alat itu ke tanah, membuat suara keras seolah-olah ia terlibat perkelahian.
Dan seperti yang ia harapkan…
Mereka termakan jebakan.
Jam ke-44 – Serangan Balik
Arma memposisikan dirinya di balik akar besar, menunggu.
Dua pria bersenjata itu tiba dengan cepat.
“Di mana dia?” salah satu dari mereka bertanya.
Yang lainnya melangkah maju, melihat alat komunikasi yang hancur di tanah. “Ini jebakan”
Terlambat.
Arma melompat keluar dari persembunyian, menendang lutut salah satu pria dengan kekuatan penuh. KRAK!
Pria itu menjerit, jatuh ke tanah sambil memegang kakinya.
Yang satunya mencoba mengangkat senjata, tapi Arma lebih cepat. Ia meraih pergelangan pria itu dan membantingnya ke tanah, lalu memutar lengannya hingga terdengar suara retakan.
Senjatanya terjatuh.
Arma segera mengambilnya dan mengarahkannya ke kepala mereka.
“Selesai.”
Napasnya memburu. Ini bukan hanya ujian fisik. Ini adalah ujian psikologis, untuk melihat apakah dia punya mental seorang pemburu atau tetap menjadi buruan.
Dari kejauhan, suara helikopter mulai terdengar.
Ujian ini sudah berakhir.
Tapi Arma tahu satu hal. Ia baru saja melangkah ke dunia yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Jam ke-46 – Kembali ke Titik Awal
Arma berjalan keluar dari hutan dengan tubuh penuh luka dan pakaian kotor oleh lumpur serta darah. Senapan yang tadi ia rebut kini tersandang di punggungnya.
Di kejauhan, sebuah helikopter militer mendarat di tanah lapang. Di sampingnya, Gilang Wicaksana dan Komandan Brahma berdiri menunggu.
Tatapan Gilang terlihat tenang, tapi sorot matanya tajam menilai kondisi Arma.
Brahma, pria berbadan besar dengan wajah penuh bekas luka, melipat tangannya sambil tersenyum tipis. “Kau berhasil kembali.”
Arma menatap mereka tanpa ekspresi. Ia melempar senjata yang ia bawa ke tanah. “Ujian macam apa ini?”
Brahma mendekat. “Ujian terakhir untuk menentukan apakah kau layak masuk ke Godhand.”
Arma menghela napas,
Setelah seharian penuh menghadapi rintangan di hutan, Arma dengan tubuh yang dipenuhi luka dan kelelahan namun masih hidup berusaha menapaki jalur yang sudah dikenalnya. Saat fajar mulai menyingsing, ia menemukan jalan setapak yang membawanya kembali ke markas Godhand. Langkahnya berat, namun setiap langkahnya penuh tekad untuk menyelesaikan ujian yang telah membuatnya melewati batas ketangguhan.
Pertemuan Kembali di Markas
Beberapa jam kemudian, Arma tiba di sebuah pintu besi besar yang menjadi gerbang masuk markas. Di ruang resepsionis yang dingin dan minim cahaya, Gilang sudah menunggunya. Wajah Gilang yang biasanya tampak tenang kini tersirat kekhawatiran dan rasa bangga yang terpancar saat melihat Arma, sambil mencium aroma darah dan keringat yang masih melekat pada pakaiannya.
Gilang menyambutnya dengan nada tegas namun bersahabat, “Arma, kau telah melalui ujian yang paling berat. Aku tahu perjalanannya tidak mudah.”
Arma hanya mengangguk, mengusap luka di lengannya sambil mencoba tersenyum kelelahan. Dalam diam, ia merasakan campuran perasaan lega dan kegelisahan akan apa yang baru saja dialaminya.
Tak lama kemudian, seorang pria berwibawa dengan sorot mata tajam memasuki ruangan. Wajahnya tak banyak tersenyum, namun kehadirannya menyebarkan aura otoritas.
“Arma Dwijaya,” ucap pria itu dengan suara dalam yang membuat ruangan sejenak hening, “Aku Komandan Brahma, pemimpin Godhand.”
Gilang segera memberi hormat, lalu mendekat ke Arma. “Selamat, kau telah lulus ujian. Ujian di hutan itu bukan hanya menguji ketahanan fisik, melainkan juga kemampuanmu untuk tetap berpikir strategis di tengah tekanan. Kau telah membuktikan bahwa kau pantas berdiri di sini.”
Komandan Brahma melirik Arma dengan seksama, seolah ingin membaca setiap jejak pengalaman yang tertulis di matanya. “Kita tahu bahwa setiap agen memiliki masa lalu. Tapi di dunia ini, yang penting adalah apa yang bisa kau lakukan sekarang dan di masa depan. Ujian ini adalah bagian dari seleksi untuk memastikan bahwa setiap anggota Godhand memiliki tekad baja. Aku puas dengan hasil ujianmu,” tambahnya singkat namun penuh makna.
Arma merasakan beban berat dari kehidupannya yang lama mulai terlepas. Di balik rasa sakit dan luka, kini tumbuh harapan baru. Namanya yang dulu Fiqi telah berubah menjadi Arma Dwijaya, simbol dari senjata dan kemenangan ganda.
“Mulai sekarang, kau resmi menjadi agen rahasia Godhand. Aku dan Gilang akan membimbingmu lebih jauh lagi dalam menjalankan misi-misi kami ke depan,” ujar Komandan Brahma sambil menatap tajam, seolah ingin menanamkan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Gilang meletakkan tangan di bahu Arma, “Kau telah menunjukkan bahwa dirimu mampu bertahan, dan bahkan menguasai situasi. Kami punya banyak misi penting, dan aku yakin kau akan menjadi bagian penting dari setiap rencana besar kami.”
Arma menghela napas panjang, menatap kedua pria itu dengan campuran rasa syukur dan kesiapan. Di balik segala kelelahan, ia tahu bahwa setiap luka dan setiap detik yang terlewati hanyalah awal dari perjalanan yang lebih besar.
Dengan tekad baru dan identitas yang kini terpatri sebagai Arma Dwijaya, ia merasa siap menghadapi tantangan-tantangan berikutnya di dunia rahasia Godhand.