Misi Pertama – Bayangan di Balik Kota
Setelah tiga minggu pelatihan intensif, Arma akhirnya menerima perintah pertamanya sebagai agen rahasia Godhand. Sejak hari pertama, Gilang telah membentuknya menjadi petarung yang lebih tangguh, penembak yang lebih akurat, dan seorang pengamat yang tajam terhadap lingkungan sekitar. Namun, ini adalah pertama kalinya ia terjun langsung ke lapangan dan itu berarti tidak ada ruang untuk kesalahan.
Brifing Misi
Di ruang pertemuan markas, Arma duduk di seberang Gilang. Di antara mereka, sebuah layar hologram menampilkan peta kota dengan beberapa titik yang disorot merah. Komandan Brahma berdiri di depan, tangan bersedekap, suaranya rendah tapi penuh otoritas.
“Target kalian adalah seorang informan bernama Rahmat Sudraja,” kata Brahma. “Dia memiliki data penting tentang jaringan perdagangan senjata ilegal di Asia Tenggara. Tapi ada masalah Rahmat menghilang tiga hari lalu, dan kita punya alasan kuat untuk percaya bahwa dia sedang diburu.”
Gilang mengetuk layar, memperbesar salah satu titik di peta. “Ini adalah lokasi terakhirnya sebelum dia menghilang. Sebuah apartemen tua di daerah selatan kota. Kita akan mulai pencarian dari sana.”
Arma mengamati peta dengan serius. “Jika dia memang sedang diburu, siapa yang mengejarnya?”
Komandan Brahma menatapnya tajam. “Kelompok bayangan yang dikenal sebagai ‘Naga Hitam’. Organisasi yang bergerak dalam jaringan perdagangan senjata gelap, dan mereka tidak segan menghabisi siapa pun yang menghalangi jalan mereka.”
Arma mengangguk. Ini bukan sekadar misi biasa ini adalah misi hidup dan mati.
“Arma, ini adalah misi pertamamu,” lanjut Brahma. “Dengar baik-baik setiap arahan Gilang dan jangan bertindak gegabah. Jika Rahmat masih hidup, bawalah dia kembali dengan selamat. Jika tidak… pastikan kita mendapatkan datanya sebelum jatuh ke tangan yang salah.”
Gilang menepuk bahu Arma, senyum tipis muncul di wajahnya. “Siap, partner?”
Arma menghela napas dalam-dalam. “Siap.”
Operasi Dimulai
Malam itu, Arma dan Gilang menyusuri gang-gang sempit di bagian selatan kota. Mereka berpakaian seperti warga sipil, hanya berbekal senjata tersembunyi dan perangkat komunikasi mini di telinga mereka.
Apartemen tempat Rahmat terakhir terlihat berdiri kusam di ujung jalan, lampunya redup, catnya mengelupas. Gilang memberi isyarat agar Arma mengikutinya dengan tenang.
Begitu mereka memasuki gedung, Arma langsung mencium bau pengap bercampur asap rokok. Lorong-lorongnya gelap, hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip.
Mereka tiba di pintu apartemen nomor 408. Gilang menempelkan telinganya ke pintu, mendengarkan. Arma meraih gagang pistol di balik jaketnya, bersiap jika keadaan memburuk.
“Ada suara,” bisik Gilang. “Seseorang ada di dalam.”
Arma mengangguk. Gilang memberi isyarat: tiga… dua… satu…
Dengan gerakan cepat, Gilang mendorong pintu dan Arma masuk lebih dulu, senjatanya terangkat.
Namun ruangan itu kosong.
Yang mereka temukan hanyalah meja yang berantakan, beberapa dokumen berserakan di lantai, dan secangkir kopi yang masih mengepul di atas meja.
Rahmat baru saja ada di sini.
Tapi ke mana dia pergi?
Arma bergegas ke jendela, melihat ke luar. Saat itulah ia melihatnya seorang pria berlari di gang di bawah, diikuti oleh dua pria bersenjata.
“Itu dia!” seru Arma.
“Kita kejar!” sahut Gilang.
Mereka langsung keluar dari apartemen dan melesat ke gang sempit di bawah, berusaha menangkap Rahmat sebelum orang-orang Naga Hitam mendapatkannya lebih dulu.
Keputusan Kilat – Hadapi atau Kejar?
Arma hanya punya waktu sepersekian detik untuk memilih langsung mengejar Rahmat atau mengamankan situasi dengan melumpuhkan dua pria bersenjata lebih dulu.
“Gilang, kita serang dulu atau langsung kejar?” bisik Arma sambil berlari di samping mentornya.
Gilang melirik ke arah dua pria itu. “Kita buat mereka sibuk dulu.”
Tanpa memperlambat langkah, Gilang meraih sesuatu dari dalam jaketnya bom asap kecil. Ia melemparkannya ke arah gang tempat dua pria itu mengejar Rahmat.
PSSHH! Asap putih tebal langsung menyebar, menyelimuti area sempit itu.
“Ayo, sekarang!”
Dengan asap yang mengaburkan pandangan musuh, Arma dan Gilang mempercepat langkah mereka mengejar Rahmat, yang kini berusaha melompati pagar menuju area gudang kosong.
Arma melompat, meraih pagar besi yang berkarat, lalu meluncur turun di sisi lain dengan gesit. Begitu kakinya mendarat, ia melihat Rahmat tersandung dan jatuh.
“Rahmat! Kami dari Godhand!” seru Arma.
Rahmat mendongak dengan wajah panik. “Siapa kalian?! Pergi! Mereka mengejarku!”
“Kami di sini untuk membantumu!” Gilang menambahkan, mendekat sambil tetap waspada terhadap ancaman di sekitar.
Namun sebelum Rahmat sempat menjawab, suara langkah kaki cepat terdengar di belakang mereka.
“Mereka keluar dari asap!” seru Arma.
Dua pria bersenjata yang tadi kini sudah berhasil melewati asap dan melihat mereka. Salah satunya langsung mengangkat pistolnya.
DOR! DOR!
Arma refleks merunduk, tapi suara tembakan bukan berasal dari musuh, Gilang sudah lebih dulu menarik pelatuknya.
Satu dari mereka terjatuh, sedangkan yang lainnya segera mencari perlindungan di balik tembok beton.
“Bawa Rahmat keluar dari sini!” teriak Gilang.
Arma langsung meraih Rahmat dan menariknya ke jalur lain, menyusuri lorong gelap di samping gudang. Napas Rahmat tersengal-sengal, tapi ia tetap berlari mengikuti Arma.
Namun, baru beberapa meter berlari, sebuah SUV hitam meluncur ke arah mereka dari gang depan. Pintu belakangnya terbuka, dan dua pria lain dengan senjata laras panjang keluar.
Mereka sudah menunggu.
Arma langsung mengeluarkan pistolnya, tapi sebelum ia sempat menarik pelatuk, suara dari dalam SUV menggema.
“Turunkan senjata, atau kami tembak dia duluan.”
Salah satu pria bersenjata menarik Rahmat dari genggaman Arma, menodongkan pistol ke kepalanya.
Sial.
Gilang masih berada di belakang, dan sekarang Arma sendirian menghadapi situasi ini.
Menyerah untuk Menunggu Celah
Arma mengepalkan rahangnya, berpikir cepat. Melawan sekarang hanya akan membuat Rahmat mati sia-sia. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, menunjukkan bahwa ia tidak akan melawan.
“Baik, gue turunin senjata.”
Ia meletakkan pistolnya di tanah dengan hati-hati, memastikan gerakannya tidak memprovokasi musuh. Sementara itu, matanya tetap awas, mengamati setiap pergerakan mereka.
Salah satu pria bersenjata itu mendekat, merogoh jaket Arma untuk memastikan tidak ada senjata tersembunyi. “Pintar. Tapi nggak cukup pintar untuk menyelamatkan nyawa informan ini.”
Rahmat menggertakkan giginya, wajahnya pucat ketakutan. “Mereka bakal bunuh gue… mereka bakal—”
“Diam!” Pria yang menodongkan pistol ke kepala Rahmat menendang lututnya, membuatnya tersungkur.
Arma tetap tenang, meskipun tangannya gatal ingin bergerak. Dia hanya butuh celah kecil.
Dimana Gilang?
Jika mentornya masih di belakang, maka peluang untuk membalikkan keadaan masih ada.
Dari sudut matanya, Arma menangkap sesuatu kilatan cahaya kecil di atap gedung tua di seberang gang.
Sniper.
Arma langsung menyadari itu pasti Gilang. Tapi jika Gilang menembak sekarang, ada risiko Rahmat tetap tertembak dalam kekacauan yang terjadi.
Arma harus memberi Gilang waktu yang tepat untuk menembak tanpa membahayakan Rahmat.
Dengan napas teratur, ia berbicara, berusaha mengalihkan perhatian.
“Gue tahu siapa kalian.” suara Arma terdengar percaya diri. “Kalian dari Naga Hitam, kan? Tapi gue juga tahu bos kalian nggak suka kehilangan informan penting.”
Pria yang tampak sebagai pemimpin kelompok itu menyipitkan mata. “Dan apa peduli gue soal itu?”
“Karena Rahmat lebih berharga hidup daripada mati.” Arma melanjutkan, sengaja menarik perhatian pria itu darinya. “Bos kalian pasti ingin tahu informasi yang dia bawa. Kalau dia mati di sini, kalian pikir atasan kalian bakal senang?”
Pria itu terdiam sesaat, menimbang ucapan Arma.
“SEKARANG!”
Tepat saat pemimpin mereka kehilangan fokus, suara tembakan senyap terdengar.
DOR!
Pria yang menodongkan pistol ke kepala Rahmat langsung terjatuh, darah mengucur dari dahinya.
Gilang menembak tepat di kepala.
Arma langsung bergerak, mengambil pistol dari tanah dan menembak pria lain yang mencoba bereaksi. DOR!
Pria itu jatuh ke belakang, senjatanya terlepas.
SUV hitam itu bergetar, sopirnya mencoba kabur. Tapi Gilang sudah bergerak dari belakang, melepaskan satu tembakan ke ban mobil. DOR! Ban kempes, mobil oleng dan menabrak dinding.
Sisa anak buah Naga Hitam panik, beberapa kabur ke gang gelap.
Arma segera menarik Rahmat berdiri. “Ayo, kita pergi dari sini!”
Gilang turun dari atap dan bergabung dengan mereka, wajahnya masih setenang biasanya. “Bagus, Arma. Lo tahu cara mengulur waktu dengan baik.”
Rahmat, masih terguncang, mengangguk dengan napas tersengal. “Kalian… benar-benar agen rahasia?”
Arma menyeringai kecil. “Baru pemula.”
Mereka bertiga segera keluar dari area itu sebelum bala bantuan musuh datang.
Misi belum selesai Rahmat masih harus dibawa ke markas, dan mereka harus mendapatkan informasi yang ia simpan.
Tapi satu hal yang pasti: Arma baru saja menyelesaikan misi pertamanya.