Arma, Gilang, dan Rahmat bergerak cepat, menyusuri gang belakang untuk menghindari perhatian. Mobil getaway mereka diparkir di sudut jalan yang lebih sepi, sebuah sedan hitam dengan kaca gelap.
Gilang mengambil posisi sebagai pengemudi, sementara Arma duduk di sampingnya, mengawasi area sekitar. Rahmat duduk di belakang, masih terlihat gelisah.
“Begitu sampai markas, lo akan aman,” kata Arma menenangkan Rahmat. “Tapi kita butuh informasi yang lo punya.”
Rahmat mengangguk, menelan ludah. “Data itu… ada di dalam flash drive. Gue sembunyiin di tempat aman.”
Gilang melirik ke kaca spion. “Dimana?”
Rahmat hendak menjawab, tapi tiba-tiba,
BRAK!
Sebuah truk pickup hitam menabrak bagian belakang mobil mereka dengan keras.
Gilang langsung mencengkeram setir, mencoba mengendalikan kendaraan. “Sial! Mereka belum selesai dengan kita!”
Arma menoleh ke belakang, dua pria bersenjata keluar dari truk, yang satu membawa senapan otomatis!
“Mereka pakai senapan, kita nggak bisa lari begitu aja!” seru Arma.
“Kalau gitu, kita lawan!” Gilang menginjak rem mendadak, membuat mobil mereka berhenti mendadak. Pria bersenjata di belakang tak siap dan hampir kehilangan keseimbangan.
Arma langsung membuka pintu, keluar dengan cepat dan berlindung di balik mobil.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan beruntun menghujani mobil mereka. Kaca belakang pecah, Rahmat merunduk ketakutan.
“Kita harus keluar dari sini sebelum bala bantuan mereka datang!” seru Gilang.
Arma mengintip dari balik kap mobil, melihat pria dengan senapan otomatis sedang mengisi ulang magazin. Kesempatan.
Dengan gerakan cepat, Arma menembakkan dua peluru tepat ke dadanya. DOR! DOR! Pria itu terhuyung dan tumbang.
Satu pria tersisa mencoba kabur ke dalam truk, tapi Gilang lebih cepat DOR! Tembakan ke kaki membuatnya jatuh.
Arma segera berlari dan menarik pria itu ke atas aspal, menodongkan pistol ke kepalanya. “Siapa yang mengirim kalian?”
Pria itu menyeringai meski kesakitan. “Naga Hitam nggak akan berhenti… Kalian pikir bisa selamat?”
Arma melirik Gilang. “Dia nggak akan kasih tahu kita apa-apa.”
Gilang mengangguk. “Tinggalkan dia. Kita harus pergi sekarang.”
Arma melempar pria itu ke samping dan kembali ke mobil. Mereka berhasil selamat, tapi ini belum selesai.
Rahmat ternyata lebih bernilai dari yang mereka kira. Jika Naga Hitam mengerahkan sepasukan hanya untuk menghentikan mereka, itu berarti informasi dalam flash drive milik Rahmat bisa mengguncang sesuatu yang lebih besar.
Saat mobil melaju keluar dari area berbahaya, Arma menoleh ke Rahmat. “Sekarang, kasih tahu kita. Dimana flash drive itu?”
Rahmat menghela napas dalam-dalam. “Di rumah lama gue… di balik dinding palsu di kamar.”
Gilang dan Arma saling bertukar pandang.
“Kita nggak bisa langsung ke markas,” kata Gilang. “Kalau flash drive itu ada di sana, kita harus mengambilnya dulu sebelum mereka menemukannya lebih dulu.”
Arma mengepalkan tangan. Misi baru dimulai lagi.
Setelah memastikan mereka tidak diikuti, Gilang memarkir mobil di sebuah gang sempit, beberapa blok dari rumah lama Rahmat. Mobil tidak bisa dibiarkan terlalu dekat agar tidak menarik perhatian.
“Kita jalan kaki dari sini,” kata Gilang. “Rahmat, kasih tahu gue, ada jalan masuk yang lebih aman?”
Rahmat mengangguk. “Rumah gue ada di ujung jalan itu. Rumahnya kosong sejak gue kabur. Tapi kalau Naga Hitam udah tahu soal flash drive, mereka mungkin udah ada di sana.”
Arma mengintip dari balik dinding. Rumah yang dimaksud adalah rumah tua dua lantai dengan cat yang sudah memudar. Lampu di bagian dalam mati, tapi ada satu kendaraan van hitam terparkir di depan.
“Ada kemungkinan mereka udah di dalam,” kata Arma. “Kita nggak bisa asal masuk.”
“Gue tahu jalan belakang,” bisik Rahmat. “Ada lorong kecil di samping rumah yang tembus ke dapur. Dari situ kita bisa masuk tanpa ketahuan.”
Gilang mengangguk. “Oke. Arma, lo maju dulu, pastikan jalur bersih. Gue dan Rahmat bakal nyusul.”
Arma segera bergerak dengan sigap, menyusuri bayangan menuju lorong sempit yang dimaksud. Saat ia mendekat, ia mendengar suara samar dari dalam rumah dua pria sedang berbicara.
“Flash drive-nya nggak ada di sini!” suara kasar terdengar.
“Bos nggak akan suka kalau kita gagal. Terus cari!”
Mereka memang sudah lebih dulu datang.
Arma menempel ke dinding, lalu memberi isyarat ke Gilang dan Rahmat untuk maju. Mereka masuk melalui pintu dapur yang sedikit terbuka.
Di dalam, rumah itu berantakan. Barang-barang dilempar ke lantai, lemari dibongkar paksa, dan beberapa kursi terbalik. Jelas mereka sudah mencari ke mana-mana tapi belum menemukannya.
“Di lantai dua,” bisik Rahmat. “Di balik dinding lemari kamar gue.”
Arma mengangguk dan mengangkat pistolnya. Mereka harus bergerak cepat dan diam.
Namun baru selangkah menaiki tangga,
KREK!
Sebuah lantai kayu tua berderit di bawah kaki Rahmat.
Suara percakapan di lantai atas langsung terhenti.
“Siapa itu?”
Arma langsung memberi isyarat pada Rahmat untuk diam.
Langkah kaki terdengar dari lantai atas seseorang akan turun!
Gilang mengangkat pistolnya, siap menembak, tapi Arma punya ide lain.
“Gue urus ini,” bisiknya.
Saat bayangan pria pertama muncul di tangga, Arma bergerak cepat. Dengan senyap, ia melangkah ke depan dan menghantamkan gagang pistolnya ke kepala pria itu.
BUK!
Pria itu langsung tumbang, jatuh dari tangga dengan tubuh lunglai.
Tapi itu belum selesai satu pria lagi berteriak dari atas. “Mereka di sini!”
Sial.
Begitu teriakan itu terdengar, langkah kaki cepat menggema dari lantai atas. Musuh tahu mereka ada di sini.
“Ambil flash drive-nya, gue tahan mereka!” seru Arma.
Rahmat langsung berlari ke kamarnya, sementara Gilang menempel ke dinding, mengangkat pistolnya.
BRAK!
Seorang pria bersenjata muncul di tangga, menembak ke arah mereka.
DOR! DOR!
Arma dan Gilang langsung berlindung di balik meja kayu yang terbalik. Pecahan kayu beterbangan saat peluru menghantamnya.
“Kita nggak bisa nunggu! Harus habisi mereka sebelum mereka panggil bala bantuan!” kata Gilang.
Arma mengangguk. Ia mengambil pisau lipat dari sakunya, lalu mengintip sedikit ke atas meja. Dua pria bersenjata, satu di tangga, satu lagi di lorong kamar.
“Gue ganggu mereka, lo serang dari samping.” Arma memberi isyarat.
Gilang mengerti.
Arma langsung bergerak cepat, meluncur keluar dari perlindungan sambil menembak.
DOR!
Pria di tangga reflek mundur, tapi itu cukup untuk memberi Gilang waktu melompat keluar dan menembak pria di lorong. DOR! Peluru menembus bahunya, membuatnya tersungkur.
Sisa satu.
Pria di tangga berusaha menembak balik, tapi Arma sudah terlalu dekat. Ia menyarungkan pistolnya dan melompat ke arah musuh.
BUG!
Pukulannya menghantam rahang pria itu. Senjatanya jatuh, dan dalam satu gerakan cepat, Arma menarik pisaunya dan menekannya ke leher musuh.
“Dimana pasukan lain?” desisnya.
Pria itu terengah, matanya ketakutan. “Mereka… mereka di luar! Ada dua orang lagi di van!”
Gilang mendekat. “Mereka pasti dengar suara tembakan. Kita harus keluar sekarang.”
Saat itu, Rahmat berlari keluar dari kamarnya dengan sebuah flash drive di tangannya. “Gue dapet! Ayo pergi!”
“Pintunya udah pasti dijaga,” kata Arma. “Kita cari jalur lain.”
Gilang melihat ke jendela belakang. “Lewat sini.”
Mereka bertiga segera menuju jendela, tapi —
DOR! DOR! DOR!
Peluru menghantam dinding di sekitar mereka. Musuh dari luar sudah mulai menembak!
Mereka terkepung.