Bab 14. Rencana Kudeta

1230 Kata
Kabur Lewat Jendela Tanpa pikir panjang, Arma langsung menarik Rahmat ke arah jendela belakang. “Lewat sini! Cepat!” Gilang segera membuka jendela lebar-lebar, melihat ke bawah. Tiga meter ke tanah, tidak ada tempat berlindung, tapi itu satu-satunya jalan keluar. BRAK! Pintu depan mulai didobrak dari luar. Mereka tidak punya waktu! “Gue duluan, kalian nyusul!” kata Arma. Ia naik ke ambang jendela, lalu melompat ke bawah, mendarat dengan lutut ditekuk untuk menyerap benturan. Rasa nyeri menjalar di kakinya, tapi tidak ada waktu untuk mengeluh. “Ayo!” Rahmat, dengan wajah panik, mengikuti. Gilang membantu mendorongnya keluar sebelum melompat sendiri. Begitu mereka bertiga sampai di bawah, suara pintu depan akhirnya jebol. “MEREKA KABUR!” DOR! DOR! Tembakan dilepaskan dari lantai dua. Arma langsung menarik Rahmat ke belakang kontainer sampah terdekat untuk berlindung. “Mobil kita kejauhan! Kita nggak bisa lari ke sana tanpa ketahuan!” kata Gilang. Arma mengintip, melihat van hitam musuh yang tadi terparkir di depan rumah. Dua pria bersenjata berlari ke arahnya, tampaknya hendak mengejar mereka. Sebuah ide muncul di kepalanya. “Kalau kita nggak bisa lari… kita ambil mobil mereka.” Gilang menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Berani juga lo.” “Selalu.” Mereka harus bertindak cepat. Jika berhasil merebut van, mereka bisa kabur lebih cepat daripada berjalan kaki menuju mobil sendiri. Arma meraih pisau lipatnya, lalu memberi isyarat. “Kita pisah. Gue dari kiri, lo dari kanan. Rahmat tetap di sini sampai gue kasih tanda.” Gilang segera bergerak ke sisi kanan van, sementara Arma meluncur ke kiri, merayap di sepanjang tembok. Dua pria bersenjata itu baru saja sampai di van dan bersiap masuk — Arma menyerang lebih dulu. “ARGH!” Ia menghantam tengkuk pria pertama dengan gagang pisau, membuatnya jatuh ke depan dengan wajah menghantam pintu mobil. Pria kedua terkejut, tapi sebelum bisa bereaksi— DOR! Gilang menembaknya dari arah lain. Pria itu tumbang seketika. Arma segera meraih tubuh pria pertama dan membantingnya ke aspal, lalu merampas pistol pria yang tergeletak di tanah, lalu menodongkannya ke kepalanya. “Kunci mobil. Mana?” Pria itu masih setengah sadar, darah menetes dari dahinya. Tangannya meraba saku celana dengan gemetar, lalu mengeluarkan kunci van. “Bagus,” gumam Arma sebelum menghantamkan gagang pistolnya ke kepala pria itu. BUG! Pria itu langsung pingsan. “Ayo naik!” seru Gilang. Rahmat, yang masih bersembunyi di belakang kontainer sampah, berlari ke arah mereka. Arma melompat ke kursi pengemudi, menyalakan mesin van dengan cepat. BRAK! Pintu depan rumah Rahmat terbuka lebar, tiga pria bersenjata berlari keluar dan langsung melihat mereka. “MEREKA AMBIL MOBIL KITA!” DOR! DOR! DOR! Peluru menghantam sisi van saat Arma menginjak gas. Ban berdecit, van melesat keluar dari gang dengan kecepatan tinggi. Gilang menoleh ke belakang. “Mereka bakal coba ngejar kita!” Arma menyeringai, memegang setir erat. “Biar mereka coba.” Dari kaca spion, ia melihat satu mobil lain **sedan hitam menyala dan mulai mengejar mereka. Kejar-kejaran dimulai. Kejar-Kejaran di Kota Arma membelokkan van ke kanan, memasuki jalanan yang lebih ramai. Lampu jalan berkedip-kedip saat kendaraan lain mencoba menghindar dari laju mereka. “Mereka makin dekat!” seru Rahmat panik. “Tahan!” kata Gilang sambil membuka jendela, menodongkan pistolnya ke luar. DOR! DOR! Salah satu peluru mengenai kap mesin sedan hitam, tapi tidak cukup untuk menghentikan mereka. “Mereka bersiap nembak balik!” kata Arma. “Gue akan coba buat mereka nabrak sesuatu!” Arma melihat ke depan ada sebuah truk besar yang sedang melaju lambat. Ia menginjak gas lebih dalam, lalu mendadak membanting setir ke kanan sebelum hampir menabrak truk. Sedan di belakang mereka tak sempat bereaksi. BRAK! Bagian depan sedan menghantam samping truk dengan keras, membuat kendaraan itu terhenti seketika. “HAHA! Kena lo!” seru Arma dengan puas. Gilang menarik napas lega. “Bagus. Sekarang kita harus keluar dari kota sebelum mereka panggil bala bantuan lagi.” Rahmat, masih terengah-engah, memegang erat flash drive di tangannya. “Gue harap semua ini sepadan.” Arma menatapnya sekilas melalui kaca spion. “Kita akan tahu setelah kita lihat isi flash drive itu.” Tapi satu hal yang pasti ini baru permulaan. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, Arma mengemudikan van ke sebuah gudang tua di pinggiran kota salah satu safe house Godhand yang hanya diketahui oleh anggota internal. Gilang mengetuk pintu besi dengan pola tertentu. Tok… tok… tok tok tok… Beberapa detik kemudian, suara kunci diputar terdengar. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di pelipisnya. “Kalian telat,” katanya. “Masuk cepat sebelum ada yang lihat.” Arma, Gilang, dan Rahmat masuk. Begitu pintu ditutup, mereka berjalan melewati ruangan yang dipenuhi rak senjata, peta besar dengan banyak tanda, dan beberapa layar monitor yang menampilkan berbagai rekaman CCTV dari seluruh kota. Di tengah ruangan, duduklah Brahma, pemimpin Godhand. Tatapan tajamnya langsung mengunci pada Rahmat. “Lo orang yang bikin kita susah payah begini?” suaranya dalam dan berwibawa. Rahmat menelan ludah, tapi mengangguk. “Informasi yang gue punya… bisa bantu lo menghentikan mereka.” Brahma menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu memberi isyarat pada teknisi di dekatnya. “Colokin flash drive itu.” Rahmat menyerahkan flash drive dengan tangan sedikit gemetar. Teknisi segera memasukkannya ke laptop yang terhubung ke layar besar di ruangan itu. Loading… Beberapa detik kemudian, folder berisi banyak file muncul. Beberapa di antaranya berupa dokumen terenkripsi, sementara yang lain adalah video dan rekaman suara. Gilang membaca salah satu nama file dengan dahi berkerut. ”‘Operasi Langit Merah - Tahap Final’?” Teknisi membuka file pertama sebuah dokumen dengan tulisan tebal di bagian atas: “Rencana Kudeta Pemerintah - Eksekusi: Dalam 30 Hari” Brahma langsung bersandar di kursinya. “Sial.” Arma memperhatikan isi dokumen itu dengan serius. Naga Hitam bukan sekadar organisasi kriminal biasa, mereka berencana menggulingkan pemerintahan. File itu berisi rincian langkah-langkah mereka: 1. Penyusupan ke institusi penting – Beberapa nama pejabat dan petinggi militer ada dalam daftar. 2. Serangan simultan ke pusat pemerintahan – Termasuk istana kepresidenan, markas militer, dan pusat komunikasi nasional. 3. Pemutusan jaringan komunikasi – Mereka berencana meretas dan melumpuhkan internet serta jaringan komunikasi nasional agar pemerintah tak bisa meminta bantuan. 4. Pengambilalihan kekuasaan – Setelah situasi kacau, mereka akan mendeklarasikan pemerintahan baru di bawah kendali mereka. Rahmat mengepalkan tangannya. “Waktu gue masih kerja buat mereka, gue nggak sadar seberapa dalam rencana ini. Tapi begitu gue lihat file ini… gue tahu gue harus kabur dan nyari bantuan.” Teknisi membuka file lain sebuah video rekaman rahasia. Di dalamnya, terlihat sekelompok orang duduk di meja panjang. Di ujung meja, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di pipinya berbicara dengan suara dingin. “Dalam waktu tiga puluh hari, kita akan menguasai negara ini. Para pemimpin lemah, aparat mudah dibeli. Tidak ada yang bisa menghentikan kita.” Arma menyipitkan mata. “Siapa dia?” Brahma menghela napas berat. “Itu Baskara.” Gilang menoleh cepat. “Baskara? Mantan jenderal yang menghilang sepuluh tahun lalu?” Brahma mengangguk. “Sekarang kita tahu dia ke mana selama ini. Dia bukan cuma dalang di balik Naga Hitam dia otak di balik kudeta ini.” Semua terdiam sesaat. Arma akhirnya berbicara. “Kalau kita nggak bergerak sekarang, dalam sebulan negara ini bakal jatuh ke tangan mereka.” Brahma menatapnya tajam. “Kita nggak akan nunggu. Kalian punya misi baru temukan markas utama mereka dan hentikan rencana ini sebelum terlambat.” Arma menarik napas dalam. Misi baru dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN