Bab 15. Markas Naga Hitam

1320 Kata
Arma, Gilang, dan Rahmat tak membuang waktu. Setelah mendapat perintah dari Brahma, mereka langsung bergerak ke ruang taktis di dalam safe house. Di depan mereka, layar besar menampilkan beberapa lokasi yang berpotensi menjadi markas utama Naga Hitam. “Ada tiga tempat yang mencurigakan,” kata teknisi sambil menunjuk peta digital. “Semua ini adalah properti yang baru dibeli dalam lima tahun terakhir oleh perusahaan cangkang yang diduga terkait dengan Naga Hitam.” Tiga lokasi itu adalah: 1. Gudang di Pelabuhan Timur – Tempat ini sering dikunjungi oleh kendaraan berat di malam hari, padahal seharusnya sudah tidak beroperasi. 2. Villa di Pegunungan Selatan – Bangunan besar di tengah hutan, dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata. 3. Gedung Perkantoran di Pusat Kota – Tampak seperti kantor biasa, tapi ada aktivitas yang mencurigakan di lantai atas setiap malam. “Kita harus menentukan target pertama,” kata Brahma. Arma berpikir cepat. Naga Hitam bukan kelompok yang ceroboh. Jika mereka benar-benar merencanakan kudeta, mereka pasti punya pusat komando yang tersembunyi. Gilang menatap peta dengan mata tajam. “Gue nggak yakin mereka bakal bersembunyi di tempat yang mencolok kayak pusat kota. Kalau gue jadi mereka, gue bakal pakai tempat yang lebih terpencil.” Rahmat menambahkan, “Tapi mereka juga butuh akses ke jaringan komunikasi dan logistik. Villa di Pegunungan Selatan mungkin markas elite mereka, tapi kalau mau operasi besar, mereka butuh jalur keluar-masuk yang cepat.” Brahma menyilangkan tangan. “Keputusan di tangan kalian. Kita nggak bisa menyerang semuanya sekaligus.” Arma menatap layar peta, berpikir cepat. Ia memutuskan untuk menyusup ke villa di Pegunungan Selatan yang diduga sebagai markas utama petinggi Naga Hitam. Arma, Gilang, dan Rahmat segera mempersiapkan perlengkapan mereka. Jika Villa Pegunungan Selatan memang markas utama para petinggi Naga Hitam, maka ini adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan bukti atau bahkan menghentikan rencana mereka sebelum terlambat. “Kita nggak bisa serang langsung,” kata Gilang saat mereka duduk di ruang perencanaan. “Tempat itu pasti dijaga ketat. Kita harus menyusup diam-diam.” Rahmat mengangguk. “Gue bisa bantu nge-hack sistem keamanan mereka, tapi gue butuh akses dari jarak dekat.” Brahma menatap mereka tajam. “Kalian hanya punya satu kesempatan. Kalau ketahuan, mereka bakal langsung bersiap untuk langkah berikutnya.” Arma memasang pelindung senjatanya dan menatap peta yang menampilkan lokasi villa. “Kalau gitu, kita pastikan nggak ketahuan.” Menuju Pegunungan Selatan Mereka berangkat malam itu juga, menggunakan SUV hitam yang tidak mencolok. Perjalanan memakan waktu tiga jam, melewati jalanan berliku dan akhirnya memasuki area hutan yang mengelilingi villa. Dari kejauhan, villa itu terlihat megah dan modern, dengan pencahayaan minimal untuk menghindari perhatian. Gilang mengambil teropong dan mengamati area sekitar. “Gerbang utama dijaga empat orang. Ada menara pengawas di sisi timur.” Rahmat mengetik sesuatu di laptopnya. “Sinyal radio mereka terenkripsi. Gue butuh waktu buat nge-crack frekuensinya.” Arma berpikir cepat, dia memiliki rencana untuk menyamar sebagai pekerja atau tamu VIP, dengan risiko diperiksa sebelum masuk. Rahmat sebagai tamu VIP sedangkan dia dan gilang jadi pengawalnya. Arma, Gilang, dan Rahmat kembali ke mobil dan segera mengganti pakaian mereka. Rahmat memakai jas rapi, sementara Arma dan Gilang mengenakan setelan hitam dengan earpiece kecil berpura-pura menjadi pengawal Rahmat. Rahmat menatap dirinya di cermin mobil dengan gugup. “Gue keliatan meyakinkan?” Gilang menyeringai. “Selama lo diem dan bersikap sok penting, lo bakal baik-baik aja.” Arma menyalakan mesin SUV dan mulai mengarah ke gerbang utama villa. Dua penjaga mendekat, salah satunya memberi isyarat untuk berhenti. “Identifikasi.” Rahmat menarik napas dalam, lalu berbicara dengan nada tegas. “Tuan Baskara mengundang saya untuk pertemuan malam ini.” Penjaga itu menatapnya dengan curiga. “Nama?” Rahmat dengan tenang menyerahkan sebuah kartu identitas palsu yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh tim Godhand. “Rizky Adinata. Dari divisi teknologi.” Penjaga itu memeriksa kartu tersebut, lalu berbicara melalui radio. “Ada tamu atas nama Rizky Adinata. Konfirmasi?” Beberapa detik sunyi. Rahmat menahan napas. Arma sudah siap menarik pistol dari balik jasnya jika ada tanda-tanda bahaya. Lalu suara dari radio menjawab, “Diterima. Izinkan masuk.” Pintu gerbang terbuka. Gilang menoleh ke Rahmat sambil berbisik. “Itu dewa keberuntungan atau kita bakal masuk perangkap?” Rahmat hanya mengangkat bahu, menyembunyikan kegelisahannya. Masuk ke Dalam Villa Begitu mereka parkir di halaman depan, seorang pria bersetelan abu-abu mendekat. Wajahnya kaku dan matanya tajam, jelas bukan sekadar staf biasa. “Selamat datang, Pak Rizky,” katanya dingin. “Tuan Baskara sedang menunggu di ruang pertemuan. Silakan ikut saya.” Rahmat menoleh sekilas ke Arma dan Gilang sebelum mengangguk. “Tentu.” Mereka berjalan melewati lorong luas dengan interior mewah tapi di balik keindahannya, Arma bisa melihat kamera pengawas di setiap sudut. Keamanan di tempat ini jelas tidak main-main. Rahmat berusaha tetap tenang, meskipun telapak tangannya mulai berkeringat. Jika identitas mereka terbongkar, mereka mungkin tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup. Saat mereka mendekati ruang pertemuan, Arma mengaktifkan mikrofon kecil di jasnya, mengirimkan sinyal ke tim Godhand di safe house. “Kami sudah masuk.” Lalu, pintu di depan mereka terbuka. Dan di dalamnya, duduklah Baskara, sang dalang di balik rencana kudeta. Tatapannya tajam saat ia menyeringai melihat mereka masuk. “Akhirnya kita bertemu.” Arma, Gilang, dan Rahmat tetap tenang saat mereka duduk di kursi yang disediakan. Baskara menatap mereka dengan tajam, matanya penuh kewaspadaan. “Jadi, kau yang bernama Rizky Adinata,” katanya sambil menyandarkan tubuh ke kursinya. “Aku dengar kau punya keahlian di bidang teknologi.” Rahmat mengangguk dengan percaya diri. “Benar, Pak. Saya sudah bekerja dengan beberapa organisasi besar dalam sistem keamanan digital dan pengelolaan data. Saya bisa membantu meningkatkan infrastruktur teknologi operasi ini.” Baskara tersenyum tipis, lalu menoleh ke salah satu asistennya. “Kita butuh orang seperti ini, bukan?” Asisten itu mengangguk. “Ya, Tuan. Apalagi dengan tahap final yang semakin dekat.” Arma memperhatikan setiap detail dalam ruangan itu. Ada papan strategi besar di dinding, dengan peta kota dan beberapa titik merah yang mencurigakan. Sepertinya itu adalah lokasi target operasi kudeta. Baskara lalu menatap Gilang dan Arma. “Dan kalian?” Gilang menatapnya langsung, sikapnya tetap profesional. “Kami pengawal pribadi Pak Rizky. Dia orang penting, jadi dia butuh perlindungan.” Baskara tertawa kecil. “Orang pintar memang selalu tahu cara menjaga diri.” Ia lalu bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke hutan. “Aku tidak menerima orang sembarangan di organisasiku, Rizky. Aku perlu memastikan kesetiaanmu.” Rahmat tetap mempertahankan ekspresi percaya dirinya. “Tentu, Pak. Apa yang perlu saya lakukan?” Baskara menoleh dengan senyum dingin. “Buktikan keahlianmu. Aku ingin kau meretas sistem keamanan markas militer utama kota ini. Jika berhasil, kau bisa bergabung dengan kami.” Arma dan Gilang saling bertukar pandang tanpa menunjukkan ekspresi mencurigakan. Mereka tidak menyangka akan langsung diuji seperti ini. Rahmat menelan ludah, lalu menatap layar laptop yang diberikan oleh salah satu anak buah Baskara. Rahmat mengambil napas dalam dan mulai mengetik di keyboard laptop yang diberikan. Tangannya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang. Dia harus bermain cerdas cukup meyakinkan untuk tidak dicurigai, tapi tidak sampai benar-benar membahayakan keamanan militer. Arma berdiri di belakangnya, tetap waspada. Sementara itu, Gilang melirik ke sekeliling ruangan, memastikan tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda kecurigaan. “Gue butuh akses jaringan langsung,” kata Rahmat, berpura-pura serius. “Tanpa itu, prosesnya bakal lebih lama.” Baskara menyipitkan mata. “Kau bekerja di hadapan salah satu jaringan kriminal terbesar di negeri ini, dan kau meminta akses lebih? Aku harap kau tidak meremehkan kecerdasan kami, Rizky.” Rahmat tersenyum tipis, tetap tenang. “Bukan begitu, Pak. Saya bisa mencoba dengan koneksi yang ada, tapi hasilnya mungkin tidak akan secepat yang Anda harapkan.” Baskara mengangkat alis, lalu mengangguk ke asistennya. “Berikan dia waktu. Tapi jika dalam sepuluh menit tidak ada kemajuan, kalian tahu harus berbuat apa.” Rahmat pura-pura fokus pada kode di layar, sementara diam-diam dia mengaktifkan sinyal darurat yang terkoneksi ke tim Godhand. Arma dan Gilang tetap waspada. Mereka harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN