Fiqi memutuskan untuk tetap bersama Gesi, meskipun ia masih merasa tidak percaya diri. Ia tidak ingin kehilangan Gesi, yang telah menjadi bagian penting dari hidupnya.
Fiqi berusaha untuk mengatasi perasaan tidak percaya dirinya dan memutuskan untuk berbicara dengan Gesi tentang perasaannya.
Gesi mendengarkan Fiqi dengan sabar dan memahami. Ia berkata, "Fiqi, aku tidak peduli dengan apa pun yang terjadi. Aku hanya peduli dengan kamu dan aku ingin kita tetap bersama."
Fiqi merasa lega dan bahagia dengan kata-kata Gesi. Ia memeluk Gesi erat dan berkata, "Aku juga ingin kita tetap bersama, Gesi."
Gesi dan Fiqi kemudian memutuskan untuk menghadapi masa depan bersama, tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Mereka berdua kemudian berbagi ciuman yang panjang dan romantis, menandai awal dari hubungan mereka yang lebih serius dan komitmen...
Gesi pulang ke rumah dengan perasaan bahagia dan sedikit cemas. Ia tahu bahwa ayahnya sudah menunggunya di depan rumah.
Saat Gesi turun dari mobil, ayahnya langsung menyambutnya dengan senyum. Tapi, Gesi bisa melihat bahwa ayahnya sedikit serius.
"Ayah, apa yang terjadi?" Gesi bertanya.
Ayah Gesi memandangnya dengan serius dan berkata, "Gesi, kamu tahu bahwa aku sudah menjodohkan kamu dengan Ardy, anak dari teman bisnis ayah?"
Gesi merasa terkejut dan tidak percaya. Ia tidak tahu bahwa ayahnya sudah menjodohkannya dengan orang lain.
"Ayah, aku tidak tahu," Gesi berkata dengan perasaan tidak nyaman.
Ayah Gesi memandangnya dengan serius dan berkata, "Gesi, kamu harus memahami bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk keluarga kita. Kamu harus menerima Ardy sebagai calon suamimu."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia sudah jatuh cinta dengan Fiqi, tapi ayahnya sudah menjodohkannya dengan Ardy.
"Ayah, aku tidak bisa menerima Ardy sebagai calon suamiku," Gesi berkata dengan perasaan tidak nyaman.
Ayah Gesi memandangnya dengan serius dan berkata, "Gesi, kamu harus memahami bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk keluarga kita. Kamu tidak bisa menolaknya."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin mengecewakan ayahnya, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Fiqi.
Saat itu, Gesi mendengar suara Fiqi yang memanggilnya dari luar rumah. Gesi merasa lega dan berlari keluar untuk bertemu dengan Fiqi.
"Aku sudah tahu tentang jodohmu dengan Ardy," Fiqi berkata dengan perasaan sedih.
Gesi merasa terkejut dan bertanya, "Bagaimana kamu tahu?"
Fiqi memandangnya dengan perasaan sedih dan berkata, "Aku tahu karena aku diberitahu oleh pak satpam didepan."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin kehilangan Fiqi, tapi ia juga tidak bisa menolak jodohnya dengan Ardy...
Fiqi bertanya, “kenapa kamu tidak bilang dari awal kalo kamu sudah dijodohkan.”
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia tidak ingin mengecewakan Fiqi, tapi ia juga tidak bisa menyangkal kebenaran.
"Aku tidak bilang karena aku tidak ingin kehilangan kamu," Gesi berkata dengan perasaan sedih.
Fiqi memandangnya dengan perasaan kecewa dan bertanya, "Apa kamu pikir aku akan meninggalkan kamu hanya karena kamu dijodohkan?"
Gesi menggelengkan kepala dan berkata, "Aku tidak tahu, Fiqi. Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu."
Fiqi memandangnya dengan perasaan sedih dan berkata, "Aku merasa kecewa karena kamu tidak percaya padaku. Aku pikir kita memiliki hubungan yang lebih baik dari ini."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin kehilangan Fiqi, tapi ia juga tidak bisa menyangkal kebenaran tentang jodohnya dengan Ardy...
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin kehilangan Fiqi, tapi ia juga tidak bisa menyangkal kebenaran tentang jodohnya dengan Ardy.
"Aku minta maaf, Fiqi," Gesi berkata dengan perasaan sedih. "Aku tidak ingin menyakitimu."
Fiqi memandangnya dengan perasaan sedih dan berkata, "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Gesi. Aku merasa kecewa dan sakit."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa memandang Fiqi dengan perasaan sedih dan minta maaf.
Tiba-tiba, Fiqi berpaling dan berjalan pergi. Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa memandang Fiqi yang berjalan pergi dengan perasaan sedih...
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa memandang Fiqi yang berjalan pergi dengan perasaan sedih.
Setelah beberapa saat, Gesi memutuskan untuk mengikuti Fiqi. Ia tidak ingin kehilangan Fiqi dan ingin meminta maaf secara langsung.
Gesi berlari mengikuti Fiqi dan akhirnya menemukannya di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah Gesi.
Fiqi duduk di sebuah bangku dan memandang ke bawah dengan perasaan sedih. Gesi mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Aku minta maaf, Fiqi," Gesi berkata dengan perasaan sedih. "Aku tidak ingin menyakitimu."
Fiqi memandang Gesi dengan perasaan sedih dan berkata, "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Gesi. Aku merasa kecewa dan sakit."
Gesi memeluk Fiqi dan berkata, "Aku tidak akan meninggalkan kamu, Fiqi. Aku akan selalu ada untuk kamu."
Tapi, Fiqi tidak membalas pelukan Gesi. Ia hanya memandang ke bawah dengan perasaan sedih...
Gesi merasa sedih karena Fiqi tidak membalas pelukannya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Fiqi memaafkannya.
Tiba-tiba, Fiqi berbicara dengan suara yang lembut, "Gesi, aku tidak bisa memaafkan kamu sekarang. Aku perlu waktu untuk memikirkan apa yang terjadi."
Gesi merasa sedih, tapi ia juga mengerti bahwa Fiqi perlu waktu untuk memikirkan. Ia berdiri dan berkata, "Aku akan memberikan kamu waktu, Fiqi. Aku akan selalu ada untuk kamu."
Gesi kemudian berpaling dan berjalan pergi, meninggalkan Fiqi sendirian di taman. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia berharap bahwa Fiqi akan memaafkannya dan mereka bisa kembali bersama...
Setelah sampai dirumah, Gesi dibuat terkejut oleh ayahnya karena secara tiba-tiba mengumumkan tanggal pernikahan mereka.
Gesi merasa terkejut dan tidak percaya ketika ayahnya mengumumkan tanggal pernikahan Gesi dengan Ardy. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ayahnya katakan.
"Ayah, apa yang kamu katakan?" Gesi bertanya dengan suara yang terkejut.
Ayah Gesi memandangnya dengan serius dan berkata, "Gesi, kamu sudah dewasa dan sudah saatnya kamu menikah. Ardy adalah pria yang baik dan akan membuat kamu bahagia."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin menikah dengan Ardy, tapi ayahnya sudah memutuskan.
"Ayah, aku tidak ingin menikah dengan Ardy," Gesi berkata dengan suara yang lembut.
Ayah Gesi memandangnya dengan serius dan berkata, "Gesi, kamu tidak memiliki pilihan. Kamu akan menikah dengan Ardy dan itu sudah diputuskan."
Gesi merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya bisa memandang ayahnya dengan perasaan sedih...
Tiba-tiba, Gesi mendengar suara pintu yang terbuka. Ia memandang ke arah pintu dan melihat Fiqi berdiri di sana dengan wajah yang sedih.
"Aku tidak bisa membiarkan kamu menikah dengan orang lain," Fiqi berkata dengan suara yang lembut.
Gesi merasa terkejut dan tidak percaya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Ayah, aku tidak ingin menikah dengan Ardy," Gesi berkata dengan suara yang lebih keras.
Ayah Gesi memandangnya dengan marah dan berkata, "Gesi, kamu tidak memiliki pilihan. Kamu akan menikah dengan Ardy dan itu sudah diputuskan."
Tapi, Fiqi tidak mau menyerah. Ia berjalan mendekati ayah Gesi dan berkata, "Aku tidak akan membiarkan bapak memaksa Gesi untuk menikah dengan orang lain."
Fiqi berdiri di depan ayah Gesi dengan wajah yang teguh. Ia tidak mau menyerah dan ingin melindungi Gesi dari keputusan ayahnya yang tidak adil.
"Aku tidak akan membiarkan bapak memaksa Gesi untuk menikah dengan orang lain," Fiqi berkata dengan suara yang keras.
Ayah Gesi memandang Fiqi dengan marah dan berkata, "Kamu tidak memiliki hak untuk campur tangan dalam urusan keluarga kami."
Tapi, Fiqi tidak mau mundur. Ia berpikir bahwa ia harus melindungi Gesi dan membuatnya bahagia.
"Aku tidak peduli dengan apa yang bapak katakan," Fiqi berkata dengan suara yang teguh. "Aku hanya ingin membuat Gesi bahagia."
Gesi memandang Fiqi dengan wajah yang terharu. Ia merasa bahwa Fiqi benar-benar mencintainya dan ingin melindunginya.
"Ayah, aku tidak ingin menikah dengan Ardy," Gesi berkata dengan suara yang lebih keras. "Aku ingin menikah dengan Fiqi."