Bab 19. Memburu Penghianat

1361 Kata
Arma menatap Brahma dalam diam, mencoba membaca maksud tersembunyi di balik matanya. Ia melirik ke arah Gilang, Adrian, Raka, dan Dirga. Tidak ada yang berbicara, tetapi mereka semua tahu bahwa pilihan ini bukan hanya tentang bertahan hidup tapi ini tentang siapa mereka sebenarnya. Akhirnya, Arma menarik napas dalam dan berkata, “Kami bersama Anda.” Brahma tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. “Keputusan yang tepat.” Gilang menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. “Jadi, apa langkah kita selanjutnya?” Brahma berdiri dari kursinya, berjalan perlahan ke arah jendela besar di belakangnya yang memperlihatkan pemandangan kota di bawah. “Mulai malam ini, kalian bukan lagi agen biasa. Kalian adalah inti dari operasi baru ini.” Adrian menyipitkan mata. “Dan apa tepatnya tugas kami?” Brahma menoleh, menatap mereka dengan tajam. “Menghabisi siapa pun yang mencoba menghancurkan keseimbangan. Termasuk musuh dalam selimut yang masih bersembunyi di dalam agensi.” Raka melipat tangan di dadanya. “Berarti… masih ada pengkhianat yang tersisa?” Brahma mengangguk. “Ya. Dan tugas pertama kalian adalah menemukannya sebelum mereka menemukan kita.” Arma bertukar pandang dengan yang lain. Mereka mengira misi mereka sudah berakhir, tetapi ternyata ini baru permulaan. Brahma berjalan kembali ke meja, lalu meletakkan sebuah amplop hitam di tengahnya. “Di dalam amplop ini ada nama-nama yang perlu kalian awasi. Beberapa mungkin hanya pion kecil, tapi ada satu yang bisa mengguncang seluruh agensi jika dibiarkan.” Dirga mengambil amplop itu, membukanya, lalu membaca isinya. Seketika, matanya melebar. “Ini…” Arma meraih daftar itu dan membacanya sendiri. Ia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat satu nama yang tak terduga. Rahmat Sudraja. Mata Arma menyipit. “Rahmat adalah pengkhianat?” Brahma mengangguk. “Dialah dalang di balik semua kekacauan ini. Dialah yang membocorkan informasi kepada pihak luar, menyebabkan operasi kita di lapangan berantakan. Dia juga yang hampir membuat kalian semua terbunuh.” Keheningan menyelimuti ruangan. Akhirnya, Gilang bersuara. “Apa perintah kami?” Brahma tersenyum dingin. “Temukan dia. Habisi dia. Dan buktikan bahwa kalian memang pantas berada di sini.” Arma mengepalkan tangan. Malam ini, mereka bukan lagi buronan. Mereka adalah pemburu. Malam itu, mereka berkumpul di ruang operasi rahasia yang disediakan oleh Brahma. Di layar besar yang terpampang di depan mereka, tampak berbagai data dan lokasi terakhir Rahmat Sudraja. Adrian mengetik cepat di laptopnya. “Rahmat sudah menghilang sejak semalam. Tidak ada catatan pergerakan digital, tidak ada aktivitas komunikasi. Dia benar-benar menghilang seperti hantu.” Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Tidak heran dia bisa menyembunyikan dirinya. Dia informan terbaik di jaringan bawah tanah. Kalau dia tidak ingin ditemukan, akan sangat sulit melacaknya.” Arma menatap peta yang terpajang di meja. “Tapi semua orang pasti punya kelemahan.” Brahma yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Rahmat mungkin licik, tapi dia bukan tidak terkalahkan. Dia masih manusia, dan manusia selalu memiliki pola.” Ia menekan tombol di layar, menampilkan tiga lokasi berbeda. “Ini adalah tempat-tempat di mana dia pernah terlihat dalam tiga bulan terakhir. Dua di antaranya adalah safehouse yang sudah ditinggalkan. Tapi yang satu ini…” Dirga menyipitkan mata, membaca tulisan di layar. “Kedai Kopi Nusantara?” Brahma mengangguk. “Tempat itu bukan hanya kedai biasa. Itu adalah titik pertemuan bagi para informan bayangan. Jika Rahmat masih di kota, besar kemungkinan dia akan kembali ke sana untuk mendapatkan perlindungan atau informasi terbaru.” Arma berdiri. “Kalau begitu, kita mulai dari sana.” Gilang mengangkat alis. “Langsung menyerbu?” Arma menggeleng. “Tidak. Kita tidak tahu apakah dia sendirian atau dilindungi seseorang. Kita lakukan ini dengan cara kita.” Raka tersenyum tipis. “Penyamaran, ya?” Arma menatap mereka satu per satu. “Bersiaplah. Kita bergerak dalam satu jam.” Kedai Kopi Nusantara – 01.23 AM Udara malam terasa dingin saat Arma dan timnya mendekati kedai teh itu. Dari luar, tempat itu tampak sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang masih duduk di dalam. Gilang dan Raka masuk lebih dulu, berpura-pura sebagai pelanggan biasa. Mereka duduk di sudut ruangan, mengamati setiap orang yang ada di dalam. Beberapa menit kemudian, Adrian masuk, mengenakan hoodie gelap, lalu duduk di dekat jendela sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Terakhir, Arma dan Dirga masuk. Mereka berjalan santai, langsung menuju konter, memesan teh, lalu mencari tempat duduk yang memiliki pandangan luas ke seluruh ruangan. Rahmat belum terlihat. Arma menekan tombol kecil di jam tangannya, mengaktifkan alat penyadap suara jarak jauh yang terhubung ke telinga mereka. “Pantau pergerakan. Kita tunggu sampai dia muncul.” Beberapa menit berlalu. Lalu, pintu kedai terbuka. Seorang pria berjaket gelap masuk, mengenakan topi rendah, menyembunyikan sebagian besar wajahnya. Tapi mereka mengenali postur tubuhnya. Rahmat Sudraja. Dirga menundukkan kepala sedikit, berbicara pelan, “Target masuk.” Arma mengamati Rahmat yang berjalan menuju meja di sudut, berbicara dengan seorang pria lain yang tampaknya sudah menunggu. Adrian mengetik cepat di ponselnya, mengakses kamera tersembunyi yang dipasang di dalam kedai oleh Brahma sebelumnya. “Aku dapat wajah pria yang bersamanya. Mengecek database sekarang.” Di layar kecil ponselnya, muncul informasi tentang pria itu. Nama: Danu Prasetya Pekerjaan: Eks-Agen Godhand Status: Buronan Adrian menyipitkan mata. “Danu. Salah satu agen yang seharusnya sudah dihabisi dalam pembersihan Brahma.” Arma mendengar itu dan langsung menyimpulkan. Rahmat tidak bekerja sendirian. Dia sedang membangun aliansi dengan para agen yang selamat dari pembersihan. Dan jika itu benar… Mereka mungkin menghadapi musuh yang jauh lebih besar dari yang mereka kira. Rahmat dan Danu duduk di meja sudut, berbincang pelan. Suara mereka tercampur dengan alunan musik lembut dari radio kedai. Arma dan tim dengan cermat mengintai, masing-masing tersebar di area yang strategis. Di antara desau napas dan suara halus percakapan, Arma mendengar potongan kalimat yang cukup mengejutkan. ”…operasi penyelamatan itu harus segera dilaksanakan. Rahmat, kau tahu konsekuensinya jika Brahma mengetahuinya.” Rahmat menanggapi dengan nada yang berat, “Aku paham. Tapi Danu, kerjasama ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan agen-agen yang tersisa. Brahma tidak akan pernah mengizinkan hal itu terjadi.” Adrian, yang tengah memantau dengan kamera tersembunyi, segera menyampaikan temuan itu melalui earpiece, “Target mendiskusikan operasi penyelamatan. Sepertinya mereka berencana menyelamatkan agen yang dikhianati oleh Brahma.” Gilang menggenggam erat gelas tehnya, matanya terpaku pada Rahmat. “Mereka ingin membentuk aliansi baru. Itu berarti, mereka tidak hanya melawan Brahma, tapi juga sistem yang telah lama mereka anut,” bisiknya pada Raka yang duduk di sebelahnya. Dirga menambahkan, “Jika aliansi ini terbukti nyata, misi kita jadi dua arah. Kita harus segera mengumpulkan bukti lebih lanjut untuk mengkonfirmasi niat Rahmat dan Danu. Namun, satu hal pasti batas waktu kita sangat singkat.” Dalam keheningan yang mencekam, suasana kedai perlahan berubah. Rahmat mengeluarkan sebuah amplop kecil dan meletakkannya di atas meja, seolah hendak menyerahkan informasi penting kepada Danu. Dalam sekejap, Danu membuka amplop itu, wajahnya tampak serius. Beberapa kata pun terucap singkat, namun nada suara mereka menunjukkan bahwa rencana besar tengah dirancang. Arma menatap timnya. “Kita harus bertindak cepat. Kita akan menyelinap masuk ke dalam percakapan mereka. Adrian, teruskan rekaman dan cari tahu siapa saja nama yang disebut. Gilang, Raka, kalian cari tahu tata letak ruangan untuk mempersiapkan langkah evakuasi bila situasi semakin genting. Dirga, bantu aku mengidentifikasi semua data yang mungkin bisa mengaitkan Rahmat dan Danu dengan operasi penyelamatan ini.” Adrian mengangguk sambil menekan beberapa tombol di ponselnya, “Aku akan segera mengirimkan data ini ke markas. Semua informasi yang terekam akan kami simpan sebagai bukti.” Dalam hitungan menit, percakapan di meja Rahmat dan Danu semakin intens. Terdengar rencana penyelamatan agen-agen yang masih tersembunyi, nama-nama yang selama ini dianggap tidak layak ternyata masih disimpan rapi oleh mereka yang percaya bahwa masa depan agensi harus dibangun di atas kepercayaan sejati. Suasana di kedai pun semakin tegang, seolah-olah setiap detik mengandung risiko dan peluang yang harus segera diambil. Arma menghela napas panjang, menyadari bahwa malam ini, tak hanya keberadaan mereka sebagai pemburu yang dipertaruhkan, tetapi juga nasib masa depan agensi dan identitas sejati dari para agen terbaik yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang. “Kita tunggu momen yang tepat untuk menyusup lebih dalam,” ujar Arma pelan, sambil menyamakan pandangan dengan rekan-rekannya. Di balik tirai malam, kebenaran mulai terungkap dan pertarungan antara loyalitas dan pengkhianatan baru saja memasuki babak yang lebih rumit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN