Malam sebelum operasi, Arma duduk di dalam gudang, menatap layar tablet yang berisi semua data tentang Brahma.
Selama bertahun-tahun, Komandan Brahma adalah sosok yang dihormati dan ditakuti dalam agensi. Ia bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga seseorang yang memahami betul medan pertempuran. Tidak pernah ada yang mempertanyakan keputusannya sampai sekarang.
“Apa kau yakin dengan ini?” suara Gilang memecah keheningan.
Arma menoleh. “Tentang apa?”
“Bahwa Brahma benar-benar musuh kita,” jawab Gilang. “Selama ini, dia tidak pernah bertindak tanpa alasan. Jika dia melakukan pembersihan internal, pasti ada sesuatu yang lebih besar.”
Adrian, yang duduk di dekat pintu, menyela, “Kita yang jadi target, Gilang. Itu alasan yang cukup bagiku.”
“Tapi kenapa hanya kita yang bertahan?” Gilang menatap mereka satu per satu. “Kenapa justru kita yang dianggap sebagai ancaman, tapi tetap dibiarkan hidup?”
Pertanyaan itu membuat semua terdiam.
Raka akhirnya angkat bicara. “Mungkin karena kita berbeda dari agen lain?”
Arma mengerutkan kening. “Maksudmu?”
Raka menghela napas. “Kita bukan agen biasa. Kita adalah yang terbaik. Kita yang selalu dikirim ke misi paling berbahaya. Dan lihatlah… kita semua masih hidup.”
Dirga, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Aku sudah menyelidiki sesuatu.”
Semua menoleh ke arahnya.
Dirga melanjutkan, “Sejak Brahma mulai melakukan pembersihan, ada pola yang muncul. Semua agen yang dihabisi adalah mereka yang pernah gagal dalam misi atau memiliki catatan keraguan terhadap agensi. Tapi kita?”
Arma menatap tajam. “Kita adalah agen yang selalu menyelesaikan misi tanpa gagal.”
Dirga mengangguk. “Dan bukan hanya itu. Kita semua memiliki loyalitas yang telah teruji. Kita tidak pernah mengkhianati agensi. Tapi agen-agen lain? Tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan menjual informasi atau berkhianat di masa depan.”
Adrian mengusap wajahnya, mencoba mencerna informasi itu. “Jadi… Brahma tidak ingin membunuh kita? Dia justru ingin kita tetap ada?”
Gilang mengepalkan tangan. “Karena dia ingin membangun ulang agensi ini. Dengan kita sebagai pondasinya.”
Keheningan yang lebih berat menyelimuti ruangan.
Jika itu benar… maka selama ini mereka telah salah menilai Brahma.
Arma menutup mata sejenak, lalu menarik napas dalam. “Kalau begitu, kita tidak bisa datang ke sana hanya untuk menjatuhkannya.”
Adrian mengangguk pelan. “Kita harus mencari tahu niatnya yang sebenarnya.”
Misi mereka berubah.
Bukan lagi sekadar infiltrasi atau balas dendam.
Sekarang, mereka harus mencari kebenaran.
Malam itu, mereka kembali merancang strategi. Kali ini, bukan untuk menjatuhkan Brahma, tetapi untuk menemukan kebenaran di balik semua yang terjadi.
“Jadi rencana tetap sama?” tanya Raka. “Kita menyusup ke markas Godhand, bertemu Tariq, dan masuk ke ruang pertemuan rahasia?”
Arma mengangguk. “Ya, tapi dengan satu perubahan. Kita tidak akan langsung menyerang. Kita dengarkan dulu apa yang sebenarnya direncanakan Brahma.”
Adrian mengetuk meja dengan jarinya. “Dan jika ternyata dia memang berniat membunuh kita?”
Arma menatap tajam ke arah Adrian. “Maka kita habisi dia duluan.”
Semua sepakat. Tidak ada ruang untuk keraguan dalam dunia mereka.
Tepat pukul 23.45, mereka tiba di dekat gedung Trinusa Corporation, markas tersembunyi Godhand. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, dengan penjagaan minimal. Tetapi mereka tahu, keamanan yang sebenarnya ada di dalam.
Arma, Gilang, Adrian, Raka dan Dirga menyamar sebagai staf teknis menggunakan seragam yang didapat dari Rahmat. Dengan kartu akses hitam di tangan, mereka masuk melalui pintu belakang tanpa menarik perhatian.
Setelah melewati pemeriksaan awal, mereka menuju ruang server tempat Tariq seharusnya menunggu.
Raka mengetuk pintu dua kali dengan pola tertentu.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah seorang pria muda dengan ekspresi tegang. “Masuk cepat,” bisiknya.
Begitu mereka masuk, Tariq segera mengunci pintu kembali.
“Aku hanya punya waktu lima menit sebelum mereka menyadari sistem terganggu,” ujar Tariq sambil mengetik cepat di komputer. “Aku bisa menonaktifkan kamera di koridor bawah tanah selama tiga menit. Itu satu-satunya kesempatan kalian untuk masuk ke ruang pertemuan.”
Arma mengangguk. “Baik. Buka aksesnya.”
Tariq menekan tombol terakhir, lalu menoleh kepada mereka. “Aku harap kalian tahu apa yang kalian lakukan.”
Arma menatapnya dingin. “Begitu juga kami.”
Koridor menuju ruang pertemuan utama terasa sunyi. Kamera-kamera yang seharusnya aktif kini mati sementara, memberi mereka celah untuk bergerak tanpa ketahuan.
Saat mereka sampai di depan pintu baja besar, Gilang mengaktifkan alat penyadap yang dipasang di telinganya. “Kita dengarkan dulu sebelum masuk.”
Mereka semua terdiam, hanya suara dari dalam ruangan yang terdengar.
“Operasi Madya Godhand berjalan sesuai rencana. Semua agen yang tidak layak telah dieliminasi.”
Itu suara Brahma.
“Dan bagaimana dengan yang tersisa?” suara lain bertanya, suara yang tidak mereka kenal.
“Hanya ada lima agen yang cukup kuat dan bisa dipercaya.” Brahma menjeda sejenak. “Arma, Gilang, Adrian, Raka, dan Dirga.”
Kelima orang di luar ruangan saling bertatapan.
“Mereka tidak tahu yang sebenarnya. Tapi aku akan memberi mereka pilihan.” lanjut Brahma. “Bergabung denganku… atau mati.”
Arma mengepalkan tangan.
Sekarang mereka tahu kebenarannya.
Dan sekarang, mereka harus memilih.
Keheningan menyelimuti mereka.
Pilihan yang Brahma berikan jelas: bergabung atau mati.
Arma menatap yang lain. Mata mereka penuh ketegangan, tetapi tidak ada yang mundur.
“Apa kita masuk sekarang?” bisik Raka.
Arma menarik napas dalam. “Tidak.”
Adrian menyipitkan mata. “Kau ingin mendengarkan lebih lama?”
“Brahma tahu kita hidup,” jawab Arma pelan. “Jika dia memang ingin kita mati, dia sudah mengirim pembunuh terbaiknya. Tapi dia tidak melakukannya.”
Dirga, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Aku rasa Brahma sedang menguji kita.”
Gilang mengangguk. “Dia ingin tahu apakah kita akan menemukan jalan ke sini sendiri. Jika kita datang… berarti kita cukup cerdas untuk tetap hidup.”
Arma menatap pintu baja itu. Detik demi detik berlalu.
Akhirnya, ia mengambil keputusan.
“Kita masuk.”
Tanpa ragu, Arma menekan tombol di samping pintu, menggunakan kartu akses hitam. Pintu terbuka dengan suara mendesis, memperlihatkan ruangan luas dengan meja konferensi di tengahnya.
Di ujung ruangan, duduklah Komandan Brahma.
Matanya tajam, penuh kewibawaan. Di sampingnya, beberapa petinggi agensi duduk dalam diam, mengamati mereka seperti pemangsa mengamati mangsanya.
Arma melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh yang lain.
Brahma menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum tipis.
“Aku tahu kalian akan datang.”
Arma tetap diam, menunggu.
Brahma menyandarkan punggungnya ke kursi. “Apa kalian sudah mendengar percakapanku tadi?”
Tidak ada yang menjawab.
Brahma mengangguk kecil. “Bagus. Maka kalian tahu bahwa aku telah mengeliminasi semua agen yang tidak bisa dipercaya. Sekarang hanya kalian berlima yang tersisa.”
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya lebih rendah tetapi penuh tekanan.
“Aku ingin membangun ulang Godhand. Aku ingin kalian menjadi inti dari agensi ini. Kalian akan bekerja langsung di bawah perintahku. Tidak ada birokrasi, tidak ada perintah dari atas yang bisa menghalangi kita.”
Arma menatapnya dalam. “Dan jika kami menolak?”
Brahma tersenyum, tetapi matanya tetap dingin. “Kalian sudah tahu jawabannya.”
Keheningan tegang memenuhi ruangan.
Adrian mengepalkan tangan. “Jadi, ini bukan tentang pengkhianatan. Ini tentang kekuasaan.”
Brahma menatap Adrian dengan ekspresi tak terbaca. “Ini tentang bertahan hidup. Dunia berubah. Musuh kita semakin kuat. Kita membutuhkan agen yang benar-benar loyal dan mampu bertindak tanpa ragu.”
Dirga menyipitkan mata. “Kau ingin membuat pasukan bayangan?”
Brahma tersenyum tipis. “Sebut saja begitu.”
Arma menghela napas. Semua kata-kata Brahma masuk akal. Tetapi ada sesuatu yang masih mengganjal.
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami sejak awal?” tanyanya.
Brahma menatapnya lama. “Karena aku butuh kepastian. Aku perlu tahu siapa yang cukup cerdas, cukup kuat, dan cukup loyal untuk bertahan.”
Ia bersandar kembali. “Dan kalian berlima… sudah membuktikan diri kalian.”
Arma melirik ke arah yang lain. Wajah mereka masih dipenuhi keraguan.
Lalu, Brahma memberikan pukulan terakhir.
“Jika kalian bergabung denganku, kalian akan memiliki akses ke segala sumber daya yang ada. Kekuatan tanpa batas. Misi yang tidak bisa diganggu oleh politik atau kepentingan di luar sana.”
Ia menatap mereka satu per satu, lalu mengakhiri dengan kalimat yang menggetarkan.
“Atau kalian bisa berjalan keluar dari ruangan ini… dan aku akan memastikan kalian tidak pernah keluar hidup-hidup.”
Sunyi.
Arma mengepalkan tangannya.
Sekarang, keputusan ada di tangan mereka.