Aku mendorong api di tanganku menuju perapian yang telah disiapkan. Perapian kosong itupun terbakar oleh birunya api abadi. Aku memberikan kesempatan untuk keluarga kedua mempelai agar melakukan sumpah mereka untuk membimbing kedua mempelai dalam rumah tangga yang harmonis. Kedua mempelai menuangkan tujuh air ke dalam api sehingga api abadipun padam. Aku memngambil bara api dan mengusap kedua pipi mereka dengan bara itu. Pipi mereka jadi hitam. “Pernikahan kalian telah di restui sang pualam” ujarku sambil mengusap pipi mereka satu persatu. Aku tersenyum pada Susi, mencoba memberinya sedikit semangat untuk menjalani rumah tangganya. Rangga menjabat tanganku, berterimakasih padaku. Aku turun ke sebuah area yang memang di siapkan untukku menari tarian pengunci. Jefri memberiku dua wadah

