Semalaman aku berdiam diri di kamar, mengepit kaki, berbaring, terbangun, membuka pintu menutupnya lagi. Duduk di kursi baca yang kuwarisi dari nenek Suki. Lalu berbaring lagi…, begitulah aku tidak bisa tidur. Pikiranku di penuhi dengan takdir yang mengikatku dengan Hasan, dan juga paman Jaka, aku masih tidak percaya dia melakukannya pada kami. Kenyataan mengahantamku bertubi-tubi hari ini, membuatku lelah. Aku tidak menyangka paman Jaka bisa berbuat sekejam itu, dia membunuh bapakku. Aku bisa membayangkan wajah Bapak yang penuh percaya diri, ketika menyampaiakan keberadaan Hasan pada Paman Jaka. “Jaka, Lyan anakku. Melihat Hasan. Berita di surat kabar itu salah, kecelakaan pesawat itu hanya di buat-buat keluarganya” Lalu wajah paman Jaka menjadi kaku, dia menyadari pembunuhan

