KASTIL ALLEY

2362 Kata

Rumah itu terlalu sederhana, untuk ukuran tuan tanah seperti Hasan. Tapi begitu masuk ke rumah itu aku tidak bisa tidak menyukai kenyamanan yang tampak nyata disetiap sudutnya. Tidak ada ukiran-ukiran seperti kebanyakan kastil megah. Ada kursi busa empuk di tengah ruangan dan perapian serta bunga sedap malam diletakkan di atas perapian. Sedangkan sumber cahaya yang menerangi hampir seluruh penjuru ruangan di lantai utama berasal dari chandelier yang tergantung rendah di tengah-tengah ruang tamu. Krital itu membuat mataku tidak bisa beralih darinya. Aku tidak melihat adanya lukisan apapun di tembok-tembok yang bisa memberikan aku informasi seperti apa wajah Isiah atapun Camelia. Lorong pintu masuk langsung terhubung dengan tangga menuju lantai dua. Aku menoleh pada Paul. Paul meangangguk,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN