Tadinya kupikir aku tidak akan bisa tidur nyenyak, tapi aku salah. Aku meringkuk seperi Halulu di atas kasur nyaman ini. Entah aku hanya mimpi atau Hasan memang mendatangiku pagi-pagi sekali. Ketika aku terbangun aku sudah tidur dengan rapi seperti tuan putri. Aku ingat sekali kalau aku tidur membentang berantakan di kasur ini perisis binatang piaraan. Paginya ketika kudapati diriku tertidur dengan rapih di atas kasur itu sedikit janggal, aku juga melihat perapian sudah di metikan dan jendea di kamar ini terbuka, tirainya mengayun-ayun terkena angin pagi yang segar. "Dua puluh tahun kita berbeda" terngiang lagi di telingaku apa yang dikatakan Hasan tadi malam. Berulang, setiap kalimatnya berputar merusak suasana hatiku pagi ini "Itu cuma gaun Lyan, aku berharap kamu bisa mengenalnya" D

