Rumah ibuk, cukup berantakkan. Aku menghelan nafas keudara. Aku mengikat rambutku dengan pitah milik Tirani. Bersiap untuk memberishkan ruangan itu. Rio adiknya lebih pendiam dibandingkan dengan Tirani yang ingin tahu banyak. Dan mungkin karena masih berumur 4 tahun. Rio sangat dekat dengan ibuk. Dia selalu menempel di kaki ibukku. Kami duduk di meja makan, meja makan itu sudah jadi lebih baik. Mereka menaruh kursi yang banyaknya sesuai dengan anggota keluarga, kata ibuk, dia selalu menyediakan kursi kosong untukku kalau-kalau aku tiba-tiba pulang. Aku dan Ibuk memutuskan menata meja makan sebelum Riang dan Suminya, Pandi datang. Lalu aku mendengar langkah kaki “Ibuk mereka datang” kataku. Aku merapikan pakaiyanku. Menarik rambutku yang tadi ku kuncir, ku biarkan tergerai agar lebih

