PELAJARAN PERTAMA

2310 Kata
Pagi-pagi sekali aku terbangun karena di bangunkan Rufus “Lyan..Lyan.. bangun” Aku tidak menyangka aku bisa tidur senyenyak ini. Terkhir Aku aku tidur nyenyak adalah sebelum kepergian bapak. Rasanya sangat berharga terbangun dengan tubuh sangat ringan. Sejenak aku bersandar pada akar-akar Rufus. Aku memeluk diriku sendiri menerawang ke luar pintu kaca. Aku mengyadari satu hal, aku seorang diri sekarang. “Rufus…, apa aku bisa jadi seperti nenek suki ?” “Pualam memberi tahuku kalau kamu akan jadi yang terhebat” Aku menengadah ke atas melihat seluruh wujud rufus. Emosi rufus hanya ditunjukkannya dengan menggoyang-goyangkan batangnya. “Cepat mandi Lyan !” Dia menarik sedikit ujung bajuku dengan akarnya “Kamu harus ganti baju. Ini bau sekali” Aku meringis kesal karena hinaan Rufus. Gaun yang ku kenakan ini adalah gaun terbaikku. Ya Walaupun sudah lumayan bau karena ku gunakan seharian menempuh perjalanan ke bukit. Memang baju ini seharusnya diganti. Kata nenek suki aku harus bisa menjait baju sendiri. Aku akan terus menggunakan gaun ini sampai aku bisa menjait sendiri gaunku. Kalau hari ini aku tidak berhasil menjahit satupun baju, besok aku akan menggunakan karung. Baru mau buka pintu, Rufus menarik tanganku dengan akarnya yang bebaas “Coba lewat teras kamarmu, kamar ini aku ciptakan sangat indah buatmu Lyan” Dia membuka-kan  pintu satu lagi yang menuju ke teras kamarku. Aku tercengang “Rufus”   Sebuah rangka kayu tersusun membentuk rumah-rumahan kecil tempat dimana bunga-bunga menyangga dahan besar mereka. Cantik sekali. Nampak seperti taman bunga tertutup. Aku mendonga melihat Rufus. Aku tersenyum “Terima kasih Rufus. Mulai sekrang kita bisa berteman” aku menepuk-nepuk batang pohonnya yang kokoh seperti yang di lakukan nenek Suki semalam. “Baik…, kita teman kalau begitu” suaranya sarkastik. Aku tertawa. Rufus-rufus Aku berjalan melewati taman bunga di depan kamarku lalu terbentanglah sungai jernih yang sangat tenang dan damai. Kabut belum hilang walaupun matahari sudah namapak kan cahayanya. Wajar saja dataran ini lebih tinggi dari pada rumahku. Aku melewati sungi, angsa-angsa mulai turun mandi. “Selamat pagi” sapaku pada semuanya Pagi Lyan.. Jawab angsa-angsa senang. Aku tersenyum. Inilah hidup ku sekarang. Sepertinya aku akan menyukai tempat ini. Tempat ini cocok  dengan kepribadianku.   Aku sampai pada kamar mandi berkat di tuntun Halulu. Aku langsung paham kenapa ibuk benci kamar mandi di luar.  Kamar mandi itu ada di tebingan kecil, dekat terjunan. Bertembokkan anyaman bambu sederhana beratapkan sebuah pohon yang duan-daunnya menjuntai-juntai seperti rambut nenek Suki. Berlantaikan kerikil-kerikil putih, yang diserakkan begitu saja. Di sana menyembul mata air dari dalam tanah, mata iru dibendung sehingga  berbentuk kolam kecil. Sejujurnya menyenangkan mandi sambil merenung di tempat ini, tapi kondisi kamar mandi yang  tidak memberikan privasi membuatku takut. Oh... Lagi enak-enaknya mandi aku mendengar suara yang hampir membuatku loncat ke sungai “Mandi Lyan..” Aku celingukan. Aku menutup bagian tubuhku  yang terbuka  dengan kedua tanganku. Nenek Suki berjalan menuju kandang ayamnya “Setelah mandi kita cari kayu bakar”  katanya sambil terus berjalan menuju ke kandangnya. “Iya nenek” Aku menghela nafas lega. --------------------………………….. Kami mencari menyebrangi sungai untuk mencari kayu bakar di sebuah tanah yang  gersang “Mereka mati ?” aku menanyakan pohon-pohon yang mongering. Daun-daun mereka sudah gugur hanya tinggal batang  mereka yang terlihat rapuh.  “Ini memang jenis pohon musiman Lyan, mereka akan mati lalu kalau musim berubah hujan mereka akan kembali berdaun” Oh… Aku merasa iri pada penampilan nenek suki yang selalu menggunakan gaun bagus sementara aku tidak diijinkannya berganti pakaian. Suki-ku, cantik… Kami menoleh ke arah suara, sebuah pohon menjatuhkan dahannya tiba-tiba “oh Tidak…tidak..” wajah nenek suki mendadak menjadi tegang. Dia menyentuh pohon itu  dengan hitman, dia menunduk. Pohon itu tidak bersuara lagi. Dia menjatuhkan rantingnya lagi. Nenek Suki terlihkan. Dia menjauh dari pohon itu.  Dia duduk berlutut sesasat. Berbicara pelan, bergumama entah apa yang dia katakana sambil teruntuk-tunduk Setelah lama berbisik sendiri, nenek suki mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Dia ingin melihat keseluruhan pohon yang memanggilnya tadi “Baik. Terimakasih atas kehidupanmu” suaranya sangat lirih. Dia berbalik padaku “Kita tidak usa mencari kayu bakar hari ini” Aku sudah memeluk beberapa kayu termasuk ranting pohon tadi yang sengaja dia jatuhkan “Pohon itu kenapa nek ?” “Dia ingin tunasnya  di tanam lagi. Dia menginginkan kehidupan baru. Nanti mintalah paman Didimu untuk menebang pohon ini” Sedih sekali, sepertinya di sudah tidak sanggup bertahan melawan udara dan panas. Memang lebih baik kalau si pohon itu punya kehidupan baru dari sebatang tunasnya yang paling sehat. “Lyan mereka juga mahluk hidup, pada masanya meraka akan lelah” dia menoleh ke pohon tadi “Pada saatnya kamu akan merasakan denyut kehidupan mereka” Denyut kehidupan ? wajahku menunjukkan keingin tahuan yang membuat nenek Suki melanjutkan ucapannya "Semua mahluk punya denyut kehidupan. Seorang juru kunci akan tahu mahluk itu masih bisa bertahan atau masanya sudah berakhir" “ Seperti detak jantung ?”Aku menunjuk jantungku. Nenek Suki menarik tanganku meletakkan poisi tanganku pada posisi jantung yang benar. Sambil mengangguk dia bilang "Iya dan mereka menggema di kelapamu" Kami kembali menyusuri sungai. Menyebranginya berjalan di atas batu-batu besar yang sudah terkena sinar matahari dan jadi sangat panas untuk di jejaki. --------------------………………….. Kata nenek Suki, keindahana adalah dasar dari pekerjaan menjadi juru kunci. Maka dari itu aku tampilanku sebagai juru kunci harus indah untuk melamabangkan keindahan lembah ini. Kata nenek suki aku harus mengikat rambutku dengan baik. Aku harus berpakaian agar terlihat cantik dan menawan. Bukan untuk mencari laki-laki ya ! tapi untuk menjadi simbol lembah ini. Palajaran pertamaku sebagai calon juru kunci  adalah menjahit . Aku tidak berbakat menjahit. Tapi sekali lagi nenek suki memaksaku. Dia sangat tidak menarik kalau sedang jadi guru. Dia jauh dari kelembutannya. Dia kadang menyebalkan. Dia persis ibukku suka memerintah. Dia memukul tanganku yang sedang berusaha memasukkan jarum jait berkali-kali, dengan bambu kering.  Dia mengajarkan aku memotong pola. Lalu menyatukan pola bandan, pola tangan dan polo rok gaunku. Ah ini menyebalkan jaitanku selalu saja miring.  Aku harus melepaskan jaitanku kalau  miring dan kembali menjait lagi. Aku memikirkan gaun paling sederhana, paling simpel untuk di jait. Tapi tetap saja tidak gampang. Kalau ini tidak berhasil aku beneran akan menggunakan. Siang hari setelah berusaha keras menyelesaikan  bagian depan gaun baruku, aku bergabung dengan paman Didi. Di pinggir sungai untuk makan siang. Setelah seharian berkutat dengan mesin jait, menyenangkan rasanya bisa duduk meluruskan kaki di atas rumput-rumput segar. “Bagaimana pelajaranmu ?” “Kalau gaunku tidak selesai hari ini, paman akan melihatku pakai karung besok pagi” Dia terbahak-bahak, suara tertawanya membuat angsa-angsa terbang. Dia sampai terpingkal-pingkal, memegangi perutnya yang gendut. Dia mudah sekali tertawa aku heran dengan selera humornya yang sangat rendah. Aku mengambil ubi bagianku.Ada saus tomat racikan nenek suki ditempatkan di tempurung kelapa. Aku merncocolnya ubi itu dengan saos nenek suki dan ternyata rasanya sangat enak “Ini campuran tomat dengan madu” “Wah ini enak” Dia mengangguk-ngangguk bangga dengan ibunya, sisa-sisa tawanya masih terlihat di raut wajah paman Didi. “Aku lebih kepingin diajarkan bela diri “ sejujurnya bela dirilah yang kuharpakan akan jadi pelajaran pertamaku. Mengingat bagaimana teror-teror yang datang padaku, rasanya sangat penting buatku untuk bisa melindungi diri.  “Astaga Lyan ! Juru kunci tidak beoleh menggunakan kekerasan dengan tangannya sendiri. Mereka di larang mengacungkan benda tajam pada orang lain” Wajahku berubah derasatis, aku merasa sangat bodoh “Benarkah ?” Dia mengangguk-ngangguk yakin “Sudahlah.., percaya saja dengan pelajaran yang diajarkan nenekmu” Ada satu hal yang ingin kutanyakan pada paman Didi “ Oh ya Paman” aku mendadak mengingatnya "Apa juru kunci itu selalu seorang wanita ?" Dia mengangguk “Karena perempuan sangat dekat dengan kata ‘indah’” Indah ? aku melihat bayangan diriku di dalam genangan air sungai. Rambut keriting berantakkan, tidak pernah bisa sempurna ku ikat, wajah kaku tidak dapat tersenyum, mata cekung dan kulit sepucat hantu. Apaku yang bisa dikatakan indah ? “Astaga bagaimana bisa aku dekat dengan kata ‘indah” Paman didi memperhatikan cerminan diriku di dalam air “Rambutmu memang harus sering-sering di minyaki” Aku mengernyit memikirkan rambutku di olesi minyak yang biasa aku gunakan menggoreng tempe di rumah. Dia terkekeh lagi, dengan ejekannya sendiri. Paman didi menghabisi sisa-sisa ubi di tangannya, dia ternyata punya kebiasaan menjilati jari-jarinya sehabis makan. Nenek Suki menghampiri kami “Lyan aku dan pamanmu akan pergi ke kawah” Apa aku harus ikut ? aku tegak berdiri berharap disuruh ikut supaya bisa melupakan tumpukan kain yang belum ku potong di atas meja makan. Paman Didi berdiri setelah aku. Dia menujuk tungkai tempurung kelapa dan gelas kayu bekas kami makan. Dia minta aku membereskannya, aku cuma membalasnya dengan anggutakan kecil. “Kita akan mengambil api abadi” Nenek Suki melanjutkan “Siapa yang menikah bu ?” Tanya paman Didi sambil menepuk-nepuk celananya dari rumput-rumput kering “Tetua desa menyuratiku. aku tidak tahu namanya Didi” dia menghela nafas "Lagian sejak kapan aku mengenali penduduk desa. Kamu tahu kan..." dia menggerakkan bahunya terlihat tidak peduli dengan pertanyaan paman Didi. Tanpa di perintah lagi, Paman Didi sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia pergi ke kandang kuda. Meninggalkan aku dengan nenek Suki saling tatap “Aku boleh ikut ?” tanyaku ragu Dengan tegas dia menggeleng “Selesaikan urusanmu di dalam, dan…” dia melihat sekelilingnya “Yah, jangan lupa nyalakan lentera. Aku mungkin pulang agak larut” Aku menghela nafas kesal. Dia malah tersenyum, dia menyentuh rambut keritingku “Nanti aku bawakan tumbuhan yang bisa meluruskan rambutmu” “benarkah ?” Aku tahu dia tersenyum ketika dia berbalik dan pergi menuju jembatan lengkung. Di belakangnya Paman Didi menuntun dua kuda hitam bersamanya. Wah kuda-kuda itu sangat cantik “Jaga rumah Lyan” Paman Didi melambai padaku Mereka hitam yang gagah,rambut mereka di kuncir kecil-kecil dan sangat rapi. Ekornya bergoyang-goyang, rambut mereka lebih halus dari pada rambutku, rambut mereka terkibas ketika berjalan Kalian cantik sekali kataku pada mereka. Terimakasih, Lyan. Kamu juga… mmmm keriting . Salah satu dari mereka menyautiku Aku tersenyum, satu kuda menoleh ke melihatku, pasti itu dia yang bicara padaku. Aku melihat ke arah jembatan. Nenek suki diam disana menatapku penuh tanya. Aku mengangkat bahu dan merentangkan kedua tanganku. Tanda tidak tahu dengan maksud tatapannya. Lalu seekor kelinci mendatangiku dia kaget karena kamu memulai komunakasi duluan dengan kuda-kuda itu. “Hi..” Sapaku, duduk berjongkok dengan kelinci berwana coklat kemerahan sambari membereskan bekas makananku dengan paman Didi tadi. Sudahlah Lyan jangan beramah tamah denganku selesaikan saja bajumu sana, kamu keliatan jauh dari kata indah “Ih dasar kelinci jelek !” kataku kesal. Sebelum aku tendang, dia sudah lebih cepat lompat dri tempatnya berdiri. Menggoyangkan pantatnya yang bahenol padaku. “Aku tidak akan memberikanmu makan !” kataku menghentakkan kaki keras. Aku bisa cari sendiri, bodoh ! Astaga. Kelinci ini menyebalkan sekali. Awas saja ! sayang sekali aku tidak makan daging kelinci lain kali kalau dia lewat aku akan minta agar paman Didi menyembelihnya. Aku menaruh tempat makanku dan paman didi kembali ke dapur. Itu pertama kali aku ke dapur. Dapur itu di penuhi rak-rak yang berisikan gelas-gelas kaca, gelas-gelas itu terisi ramuan berwana warni dari wana paling gelap sampai warna paling terang. Aku membaca satu-satu, Ramuan Kencing Kuda ; Ramuan janin ; Ramuan pohon mati ; Ramuan getah berdarah ; Ramuan pohon hitam; Ramuan Buah Duras : Ramuan Ari-ari Kucing : Ramuan ludah rusa :…. Banyak lagi ramuan-ramuan lain dengan nama-nama mengerikan,  akan tetapi tidak di jelaskan kegunaan ramuan itu untuk apa. hanya tertulis nama ramuannya saja. Aku menoleh pada sebuah meja bundar di mana di atas meja itu ada tungku kompor mungil yang di atasnya ada kuali tanah. Banyak rempah-rempah berserkana di atas meja. Aku mendekati kuali dan bergidik melihat betapa banyak jangkrik  yang di rebus. Astaga, nenek suki. Bukan kah itu namanya pembunuhan binatang ? Sekali lagi otakku menjawab pertanyaanku sendiri, seperti halnya pohon yang ku lihat tadi, seperti halnya Moris. Juru Kunci menocba membuat yang sudah tidak berguna lebih berguna lagi. Ada binatang yang meminta dan merasa terhormat bisa jadi bagian tugas sang juru kunci. Aku menghela nafas di dapur yang pengap itu. Disinilah dia berlama-lama bekerja membuat ramuan. Ada sebuah pintu, mungkin pintu yang menghubungkan dapur dengan bagian belakang rumah. Dimana nenek Suki menaruh kayu bakar. Selain itu di langit-langit dapur penuh dengan tanaman-tanaman kering lainnya yang di gantung begitu saja seperti di pojokan kursi goyang ruang utama. Aku kembali naik ke ruang utama untuk menyelesaikan jaitanku. Sisa hari itu, aku sibuk menjahit, membongkar dan meluruskan jaitanku berkali-kali. Sampai siang menjadi petang, sampai petang menjadi malam. Nenek suki belum saja pulang. Aku ke kamar untuk bertanya pada Rufus. “Rufus..” “Wah indah sekali..” Aku tersenyum, memutar sedikit untuk menunjukkan gaunku. Akarnya menari-nari di udara. Aku duduk dengan anggun, memastikan gaunku jatuh dengan sempurna di atas ranjangku “Nenek belum pulang, apa mengambil api abadi itu memang lama ?” “Tidak..tidak seharusnya dia sudah pulang” “Jadi ?” “Cuci kakimu dan tidurlah Lyan, ini sudah malam. Jangan khawatirkan nenekmu. Dia akan selalu aman”  Dia akan selalu aman. Itu tujuan ibuku mengirimku kemari, agar aku selalu aman. Aku bisa sedikit mengerti sekarang. Kemarin aku sempat bertanya-tanya kenapa semudah itu dia melepasku. Karena Juru Kunci selalu aman. Aku pergi kelur untuk mencuci kakiku di sungai kecil. Sebelum aku keluar tadi Rufus memberi tahuku agar tidak menutup pintu, nenek suki bisa pulang kapan saja. “Selamat tidur Rufus” sedikit sedih rasanya harus menggunakan gaunku yang baru untuk tidur. Tapi aku tidak punya pilihan. “Selamat tidur Lyan, besok kamu akan melihat tarian pengunci” “Tarian apa ?” “Sudahlah Lyan tidur saja. Kamu pikir pohon tidak butuh istriahat” Aku tersenyum. Aku menepuk-nepuk akar-akar Rifus yang melilit di ranjangku. Sebelum terlelap jauh ke alam mimpi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN