Saat aku terbangun pagi harinya, aku melihat nenek suki sedang menatap lurus ke arah terjunan air di bawahnya. Tangannya memegang wadah berisi. Api ?
“Itu tarian Pengunci. Dia berlatih setiap kali akan menarikan itu. Terlebih lagi Suki sudah tua” Suara Rufus sedikit mengagetkan di pagi seperti ini “Api di tangannya adalah api abadi yang diambilnya dari kawah”
Oh, jadi apinya seperti itu. Api abadi bukan seperti api yang biasa ku lihat. Api abadi berwarna biru kehijauan
“Bukalah pintunya Lyan, perhatiakan lebih dekat. Suatu hari kamu akan menarikan itu pada ritual pernikahan seseorang”
“Ritual pernikahan ?”
“Tarian pengunci adalah tarian persembahan Sang Juru Kunci kepada Sang Pualam untuk kesejahteraan dan ketenangan sebuah rumah tangga”
Aku belum paham, aku membuka pintu kamarku yang menuju ke taman bunga. Di tengah-tengah taman bunga ada bangku kecil, aku duduk di bangku itu memperhatiakn nenek Suki menari.
Gaunnya berwana putih senada dengan warna kabut yang mengelilinginya. Api di kedua tangannya menari-nari. Nenek suki menari dengan kaki telajang tangannya yang memegang api melambai-lambai di tengah kabut, menyilang. Berputar. Lalu dia mengangkat kedua api tinggi-tinggi dan nyalanya semakin besar terkena kabut pagi.
Dia gak akan terbakar kan ?
Setelah berputar memain-mainkan kedua tangannya kekiri dan ke kanan, ke atas dan menyilang lalu kedua tangannya kembali ke sisi tubuhnya. Dia diam sejenak, tertunduk meresapi sesuatu. Dia tiba-tiba menghentakkan kakinya keras ke tanah, lalu tempo gerakannya semakin cepat. Dia berputar dan menggerakan tangannya seperti sebelumnya. Terakhir dia menjatuhkan kedua api di tangannya dengan dramatis ke hadapannya. Api itu menyambar terbakar ke langit dan hilang.
Nenek suki terduduk meletakkan kedua tangannya di atas rerumputan. Rambutnya menjuntai ke depan. Wajahnya penuh penghayatan seakan dia sedang bicara pada tanah.
Aku melihat paman didi di dekat terjunan kecil di sebrang sungai, dia melambai padaku. Aku tidak mau mengganggu ritual nenek Suki. Aku menghampiri paman Didi.
Astaga. Dia bawa siapa
Aku terdiam sejenak untuk mengenali anak itu. Anak itu juga melambai, menirukan gerakan paman Didi. Paman Didi jalan ke dekatku.
“tidur nyenyak Lyan ?” tanyanya, memegang bahuku “Wah, gaunmu indah sekali”
Aku tersenyum malu, kemarin aku katakan padanya kalau aku akan mengankan karung hari ini. Pandanganku teralih pada anak yang bersamanya. Anak itu punya rambut berantakkan tidak terurus. celannaya ketat, menunjukkan kakinya yang kurus. Dia mengenakan rompi kulit dan dalaman kemeja kotak-kotak. Dia mengalungkan ketapel.
“Lyan kenalkan ini Jefri dia anak angkatku”
Tunggu.
Aku pernah melihat anak ini.
Jefri mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan kaku. Masih bertanya-tanya pernah bertemu dengannya di mana “Lyan” aku memperkenalkan diri
“Jefri. Temanmu bilang aku lahir dari b****g kuda” dia berkedip, dia tahu aku berusaha mengingat wajahnya.
Aku baru ingat, dia adalah yang melempar Angga dengan ketapel. Dia masih mengalungkan ketapelnya di leher. Bisa – bisanya aku lupa. Rambutnya lengket, dia sangat kotor. Khas anak yatim piatu yang selalu berkeliaran di pasar.
Paman Didi merangkulnya dengan gerakan santai sambil memberikan seikat jagung “Kita sarapan ini ya”
“Didi kamu bawa titipanku ?”
Paman Didi merokoh kantong, mengeluarkan buah berbentuk seperti lengkuas tapi berwarna merah. Nenek Suki mengambilnya, dia juga mengambil ikatan jagung dari tanganku “Aku harus membuatkan ramuan untuk rambut Lyan”
Jefri memalingkan wajahnya, ke balik bahu babanya. Aku mendengar dia tertawa mengejek.
“Siapkan untuk ritual Didi. Biarkan dua anak ini saling kenal”
“Oh…” Paman Didi melupakan sesuatu “Jefri ini Juru Kunci”
“Oh” Jefri keliatah agak syock. Tiba-tiba dipekernalkan dengan juru kunci. Dia menunduk dan membungkuk untuk memberi salam. Dia keliatan takut-takut melihat ke arah Juru Kunci.
Nenek Suki menepuk bahunya “Babamu banyak cerita tentangmu. Tegakkan kepalamu Jefri” dia meminta Jefri untuk menatapnya “Aku ibunya babamu, tidak apa-apa kamu melihatku” nenek Suki mundur beberapa langkah untuk memperhatikan aku dan Jefri. Dia mengut-mangut. Aku ingin tahu apa yang dipikirkannya. Dia menepuk lengan Paman Didi “Ayo kita persiapakan ritual nanti malam. Biar mereka berekanalan dulu”
--------------------…………………..
“Kenapa kamu disini ? “
Kami sedang duduk-duduk di pinggir sungai dekat jembatan lengkung. Nenek Suki dan Paman Jaka ada di belakang rumah berkutat dengan api yang wananya biru. Nenek suki meracik ramuan sementara paman Didi merangkai bunga untuk di jadikan persembahan ritual pernikahan nanti malam.
“Aku, aku penerusnya”
Matanya membelalak, dia menggeser posisi duduknya untuk melihatku dengan fersi lebih lengkap “Tidak !” katanya tidak percaya “Memang kamu penyihir ? ”Baginya mungkin aku terlihat konyol untuk ukuran seorang penyihir
“Kami bukan penyihir”
“Hah !" suara sarkastik keluar dari bibir kecilnya “Kamu tidak pernah membaca buku sihir sih..” dia melipat tangannya.
“Memang kamu bisa baca ?” setauku anak yatim piatu terlantar di pasar, tidak mendapatkan pendidikan.
“Bisa lah” dia tidak terima dengan nada merendahkanku
“Sihir itu adalah kekuatan yang lebih dari manusia biasa, dia bisa menggerakkan sesuatu dengan pikirannya, dia menyerahkan jiwanya pada iblis..”
Aku melempar sebuah batu ke sungai, percikannya mengenai kakiku yang telanjang ”Bukan seperti itu Jefri. Dia bukan penyihir. Kami di berikan anugrah oleh Sang Pualam. Aku sendiri belum pernah tahu seperti apa Sang Pualam itu tapi Rufus temanku menceritakannya padaku. Aku dan nenek Suki bisa berkomunikasi dengan semua mahluk hidup di hutan ini termasuk pohon dan binatang”
Dia tertawa terbahak. Angsa-angsa terbang menjauhi kami. Dari belakang pohon rambut nenek-di dekat kamar mandi, kelinci merah mengendap-endap memperhatikan kami. Aku mendengar dia mencaci maki aku. Kenapa kelinci itu benci sekali padaku ? Dia loncat pergi ketika aku melihatnya
“Jadi kamu bisa berkomunasi dengan binatang ?”
“Bukan seperti komunkasi yang kamu tahu. Bukan bercakap-capak seperti kita. Aku bisa mendegar suara mereka, tapi orang lain tidak bisa”
“Aku tidak percaya”
“Ayo”
Aku mengajaknya ke kamarku. Dia terkesima melihat bagaimana kamar ku nampak seperti hutan. Aku tidur beratapkan pohon.Bunga-bunga liar yang tumbuh memebelit mengikat di tembok dan cerminku “Dia rufus”
“Siapa ?” tanyanya
Aku mendekati tubuh Rufus. Menepuknya pelan “Ini Rufus temanku”
“Hi Jefri” dia memainkan akarnya melambai pada Jefri. Tapi Jefri tidak mendengar suara Rufus, hanya aku yang mendengarnya. Jefri hanya melihat akar-akar Rufus yang bergerak seolah memberikan salam padany.
“Astaga” Dia mundur beberapa langkah, ingin kabur.
“Dia tidak akan menyakitimu, dia temanku”
Rufus mengangkat salah satu akarnya hingga setinggi Jefri. Dengan tegang Jefri menjabat akar itu bersalaman dengan Rufus “Senang berkenalaan denganmu Rufus”
Setelah berkanalan dengan Rufus pandangan Jefri masih kosong. Dia mungkin masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aku mengajaknya keluar dari kamarku. Kata Rufus tidak boleh mengajak sembarangan orang ke kamarku. Dia sempat memarahiku tadi. Dasar Rufus.
Senang juga bisa berkanalan dengan Jefri dia anak yang lincah, dia pandai membuat banyak hal jadi menarik. Dia menyusun batu-batu dari yang terbesar sampai yang terkecil hingga tinggi batu sepinggangku. Setelah pagi berubah menjadi siang, aku menyadari bahwa aku kembali merasakan masa kecilku. Masa kecil yang normal selayaknya anak-anak lain. Kamu memberi ayam-ayam makan. Dia membantuku membersihkan pondok nenek Suki sementara dua orang dewasa lainya sibuk masalah ritual. Aku ceritakan nenek suki yang menari dengan sebuah api pagi tadi. Aku ceritakan juga segala keajaiban yang ku lihat beberapa hari ini tinggal disini.
Dia sangat baik. Aku rasa aku bisa berteman dengan Jefri. Dia adalah teman manusia pertamaku.
Setelah hari itu Jefri jadi sering datang berkunjung bersama babanya ke pondok nenek suki. Sementara aku sibuk belajar, dia juga sibuk membantu babanya.
Di sela waktu senggang, kami akan bermain bersama. Ada saja yang kami lakukan.
--------------------…………………..
Aku dan Jefri melihat bagaimana tarian pengunci itu di lakukan diritual pernikahan. Karena aku tidak boleh kembali ke kampung. Paman Didi dan nenek Suki memintaku melihat mereka dari dalam hutan.
Aku berdiri bersama Jefri melihat bagaimaa ritual pernikahan dilakukan. Nenek suki di sambut dengan tunduk semua orang. Beberapa orang menjabat tangannya, mempersihlahkannya untuk menyalakan api. Paman Didi membawa api abadi dalam sebuah wadah kecil. Api itu di dorong dengan kekuatan magis menempati sebuah perapian yang sengaja di buat. Lalu semua anggota keluarga mempelai akan menaruh tangannya dia atas api. Mereka semua bersumpah akan membimbing dan membantu pasangan baru ini membina rumah tangga yang harmonis.
Lalu kedua mempelai diminta untuk menuangkan tujuh air dalam wadah tempurung kelapa ke dalam perapian. Setelah ke tujuh wadah habis mereka tuangkan, api yang menyambar-nyambar dalam perapian langsung lenyap. Hanya tersisakan bara api, Nenek Suki mengambil bara api dengan tangan kosong.
“Apa tanganya tidak melepuh ?” tanya Jefri
“Tidak”
Karena memang tidak, dari sisa bara itu kedua tangan mempelai itu di balur dengan bara. Mereka tidak merasakan panas, bara itu menjadi abu hitam di tangan mereka. Wajah mereka datar. Mempelai wanita membalurkan abu di tangannya ke wajah mempelai laku-laki lalu mempelai laki-lakipun melakukan hal yang sama kepada mempelai perempuan.
Setelah saling membalurkan semua orang berteriak bahagia. Dua tempurung kelapa kembali di berikan pada nenek suki. Dari dalam tempurung terjulur lidah api kecil-kecil berwana hijau. Dia menghentakkan kakinya berulang kali. Para tamu undangan memberikan tempat padanya., mereka mundur membentuk sebuah lingkaran. Lalu nenek suki menari dengan indahnya dengan api menyala-nyala di tangannya.
“Indah sekali”
“Iya” aku setuju, tarian itu sangat indah.
--------------------…………………..
Dari pelajaran sederhana yang disebut menjahit, pelajarku naik satu tingkat menjadi membaca. Nenek suki membuka sebuah pintu lain di pondoknya dan terhenyak aku melihat buku-buku yang ada di sana. Buku-buku itu adalah agenda sang juru kunci. Mereka menulis keharian mereka, mereka juga menulis masalah-masalah yang mereka hadapi selama menjadi juru kunci.
Aku sudah mahir menjait, sekarang baju-bajuku sudah banyak. Setiap hari kesibukanku adalah membaca, kalau tidak aku akan ikut memetik tanaman obat. Untuk membuat ramuan, aku berlahan bisa membuat ramuan. Nenek Suki mengajarkan aku banyak hal. Merasakan denyut kehidupan salah satunya. Ketika mahluk hidup memilih mati denyut kehidupannya akan memelan, suara gemuruhnyapun hilang. Beberapa hari lalu aku dan Jefri di ajak dua orang dewasa ini untuk membantu seekor rusa melahirkan.
Aku muntah-muntah, cara nenek Suki mengoyak-ngoyak rahim rusa itu menjijikkan sekali buat aku trauma. Jefri tertawa keras mengolok aku, karena seharunya aku bisa tahan melihatnya. Menurutnya aku tidak pantas jadi juru kunci.
Sekarang akupun tahu kenapa danau tidak bisa digunakan untuk menjaring pada malam jumat. Pada malam itu, nenek Suki melakukan ritual penghormatan terhadap danau. Pada malam jumat danau menginginkan sedikit ritual pemujaan atas dirinya. Agar pada hari berikutnya para nelayan dapat mnjaring banyak ikan. Kata nenek Suki ritualnyalah yang menyebabkan ikan di danau itu tidak pernah habis.
Suatu malam aku dan Jefri di ajak makan di meja makan oleh nenek Suki. Makanan malam itu kalkun yang sangat enak. Jefri makan sampai berpiring-piring.
Disanalah aku dijelaskan bahawa Jefri suatu hari akan jadi abdiku. Dia akan menggantikan paman Didi. Seorang juru kunci hanya boleh punya satu abdi, tidak boleh abdi yang sama. Jadi apabila nenek Suki sudah tiada paman Didi tidak boleh tetap menjadi abdi. Dia harus di gantikan orang lain.
--------------------…………………..