SANG ABDI

2450 Kata
Bertahun-tahun berlalu begitu cepat, musim panas jadi musim hujan, musim hujan jadi musim angin. Bertahun-tahun telah berlalu semenjak bapak meninggal. Aku masih disini di gubuk di tengah hutan. Orang-orang di desa sudah tidak melihatku bertahun-tahun. Tidak ada lagi kejadian aneh kecuali pohon-pohon yang ketakutan karena musim angin yang datang selalu tiba-tiba. Musim angin adalah musim yang menakutkan pada sebagian orang. Orang-orang desa yang rumahnya tidak terlalu kokkh berusaha mebebani atap-atap mereka dengan pemberat. Paman didi dan Jefri membenahi atap pondok kami yang hanya terbuat dari jerami, mereka mengganti jaring yang menutupi jerami. Mengikat ujung-ujung jaring pada tembok yang kokoh.   Aku baru saja membuat ramuan untuk seorang bayi yang lahir tujuh bulan. Tadi malam aku dan nenek Suki di temani Jefri menuju rumah penduduk desa itu. Bayinya sangat kecil, itu pertama kalinya aku melihat bayi hanya sebesar bilah potongan bamboo.Sejak pagi tadi aku mengolah ramuan untuk mereka, di temani nenek Suki yang masih memperhatikan bagaimana aku meramu. Padahal itu adalah ramuan kesekian yang pernah ku buat. Setelah kami selesai dengan ramuannya, nenek memutuskan untuk merebus ubi dan menanak sedikit nasi. Nenek tidak ingin aku membantunya, jadi aku pergi ke depan untuk melihat Jefri dan paman Didi. sudah selesaikah mereka dengan urusan atap rumah ?    Aku memeluk diriku dalam selimut wall yang hangat. Aku melihat mereka dari dalam rumah. Hujan di luar masih sangat lebat. Jefri, dia sudah berubah. Dulu dia seperti anak yang tak terurus, sekarang tubuhnya sudah tumbuh tinggi jauh lebih tinggi dariku. Rambutnya sudah mulai panjang, di ikat kuda. Lengan kemejanya di singsingkan tinggi-tinggi memperlihatkan lengannya yang kokoh. Dia sedang berteriak-teriak memerintahkan babanya untuk mengencangkan tali penguat. Pohon-pohon berayun-ayun di tengah hujan dan angin lebat. Dia melihatku. Aku kaget. Astaga ! Dia mengedipkan matanya. Itulah Jefri. Aku tersenyum memalingkan wajahku memilih kembali ke dapur. Membantu nenek untuk menyajikan makanan hangat buat mereka. “Nenek, Jefri dan Paman Didi tidak mungkin pulang  dengan pakaiyan basah seperti itu” gumamku sambil membantunya mengambil ubi dari dandang, menyajikan ubi itu dengan segelas teh jahe hangat. “Aku ambilkan mereka ganti dulu” nenek membersihkan tangan pada lap yang tergantung di gaunnya.  Nenek suki sudah mulai menua, itu kusadari ketika melihatnya terbungkuk-bungkuk menuju lemari penyimpanan dekat kandang ayam. Belakangan ini, aku sering melihatnya kelelahan tapi ketika berhadapan denganku dia akan berpura-pura tidak apa-apa. Kini, untuk berjalan saja dia membutuhkan tongkat untuk menyangga tubuhnya. Banyak pekerjaan nenek Suki yang akhirnya aku gantikan. Dia sudah tidak kuat naik dan turun bukit terlalu sering. Hal-hal kecil yang biasanya dia lakukan kini akulah yang melakukannya. Tarian penguncinyapun sudah tidak seindah dulu lagi, dia selalu tertatih-tatih menarikannya. Kadang kala melihatnya seperti itu menyadarkanku, kalau waktuku menggantikannya semakin dekat. Aku sering bertanya pada diriku, mamapukah aku ? Instingku kini semakin runcing, aku dapat menrasakan denyut kehidupan dengan sempurna. Aku sudah berlatih belasan tahun untuk itu. Tapi rasanya tetap tak pernah percaya diri untuk menjadi Juru Kunci. Nenek Suki selalu tahu apa yang terbaik untuk dilakukan.Sedangkan  aku ? aku masih buta akan hal benar dan salah. Aku kembali menuangkan teh ke dalam teko kuningan. Uap teh mengepul ke wajahku, wanginya enak sekali. Di luar hujan masih sangat besar tapi angin sudah mereda. Nenek Suki kembali dengan segumpal pakain di tangannya “Aku tidak tahu ini masih layak atau tidak, ini bekas pakaiayan kakekmu”  dia tersenyum melihat baju-baju itu. Menciumnya sesekali “Baunya masih baunya dia. Padahal sudah pulahan tahun sejak aku ditinggalkan” Aku tersenyum “Aku bawa ke meja makan ya nek” aku meminta izin untuk menyajikan makanannya ke meja makan. Dia mengangguk sebelum lebih dulu berjalan ke depan rumah. Sementara aku menyajikan makan malam untuk mereka nenek berdiri di teras berteriak di tengah hujan menyuruh kedua orang itu untuk berteduh makan malam. “Hampir selesai nek” suara Jefri membuatku tersenyum. Aku tidak tahu kenapa, Jefri selalu membuatku merasa lebih baik. Jefri dan Paman Didi sudah mengeringkan diri dan berganti pakaian. Hujan masih sangat deras. Lentera-lentera sudah ku nyalakan kami duduk di meja makan. Berempat. Nenek suki duduk dikursinya yang nyaman. “Jefri saat hujan reda pergilah mengantarkan obat bersama Lyan ke ibu muda kemarin. Lyan bacakan harapan pada anak itu, beri dia penyemat”  penyemat adalah ramuan yang dihaluskan dengan sirih dan buah merah. Setelah membacakan harapan untuk seorang bayi, seorang juru kunci harus mengambil tanah dan menyematkannya pada dahi bayi itu bersama dengan dengan ramuan penyemat. Begitulah cara Juru Kunci mengenalkan kehidupan baru pada Sang Pualam. “Bolehkah aku menghabiskan makananku dulu nenek” Jefri membuat suaranya sangat halus, dia tersenyum bodoh pada nenek, tidak ada orang yang balas tidak tersenyum melihat senyumnya Jefri “Ubi ini terlalu enak. sia-sai kalau tidak ku makan”  Tangannya mengarah ke piringku. Ingin mengambil bagianku, aku menepisnya. “Jangan seenaknya ya” Dia tertawa puas. Bahunya bergerak-gerak ketika tertawa, muka jailnya tertunduk. Dia suka sekali membuatku marah. Dia tahu aku sangat suka ubi madu. Nenek suki duduk di dekat Jefri di menyentuh lengan Jefri “Pakaiyannya cocok di kamu” nenek Suki tersenyum melihat penampilan Jefri. Rambut basahnya terurai di bahunya yang kekar. Dia mengangkat bahu melambangkan kebangganya menggunakna pakaiyan ini. Babanya, melihat anak nya tumbuh seperti itu hanya tersenyum singkat. Paman didi melihatku. Dia tersenyum padaku, entah apa maksud senyum itu. --------------------………………….. Aku dan Jefri berdua saja menuju ke desa untuk melihat keadaan anak itu dan memberikan penyemat bagi si anak. Kami hanya membawa satu kuda. Sebenarnya aku bisa berkuda, tapi  aku sering sekali terjatuh dari kuda kalau berkuda di malam hari. Karena itu Jefri  memutuskan membawa satu kuda saja.  Dia memilih berjalan, tangannya menarik tali pengekang kuda agar kudanya tidak berjalan sembarangan. Sementara aku dengan santai duduk di atas kuda Kami diberikan kuda oleh nenek suki. Satu untuk aku dan satu untuk Jefri. Kuda Jefri bernama Atlas dan kudaku bernama Alaska. Atlas berawan cokrat  dan bercorak putih membentuk sebuah peta di bagian punggungnya, dia kuda yang agresif berbeda dengan Alaska. Alaska kuda yang suka merengut dan malas berjalan. Sekarang ini aku sedang menunggangi Atlas. Menempuh jarak tiga puluh  menit menuju perkampungan. Karena malam yang berangin, kami tidak membawa lentera. Hanya lampu senter yang menerangi kami. Terbatas memang kalau hanya berpenerangan lampu senter di hutan yang rimbun ini. Aku memanggil kunang-kunang untuk membantu kami menerangi jalan. Kunang-kunang berterbangan di antara kami jumlah mereka banyak, suara nyanyian mereka nyaring sekali. “Nenek sakit-sakitan Lyan” Jefri sepertinya menyadari hal itu “dia sudah semakin tua” Aku sedih membayangkan hal buruk akan terjadi pada nenek Suki. Dua puluh tahun terkahir dia telah bersamaku. Dia guruku, dia nenekku dan juga sahabatku. Pertanyaan sering muncul kalau suatu hari aku ditinggalkan olehnya. sanggupkah aku ? “Dia memang sudah tua” suaraku terdengar sangat muram Jefri meraih tangannku di pelana. Mengelusnya pelan. Dia tersenyum padaku. Aku membalasanya. Jefri tahu apa yang kupikirkan, caranya melihat masalah jauh beribu-ribu langkah didepanku. Seperti katakukan kan ? mungkin aku sudah menguasai semua ritual Juru Kunci mungkin aku memiliki kelebihannya tapi membedakan baik dan buruk itu Jefrilah yang lebih tahu. “Kita juga sudah tua Lyan” Aku tertawa kecil, tapi dia tidak tertawa. Biasanya kalau dalam hal tertawa dialah juaranya, wajahnya berubah serius “mmm” dia berdaham.. “Kenapa ?” “Tidak” dia diam sebentar, dia melihat kunang-kunang yang berputar di sekitar kita “Baba bilang..aku seharusnya menikah” Menikah ? “Tapi seorang abdi tidak boleh menikah” Apa dia bertemu dengan soerang wanita dan jatuh cinta, lalu meninggalkanku ? “Kamu mau meninggalkanku ?” tanyaku dengan suara sedih “Tidak..Tidak..” “Kamu akan meninggalkanku kan ? Siapa yang membuatmu jatuh cinta, hah ?” tenang saja aku masih memiliki intonasi menuntut itu dalam suaraku. Dia tertawa cekikkan. Rasanya memancing amarahku adalah tujuan sebenarnya dari percakapannya. Ini sama sekali tidak lucu. Jefri membuatku kesal.  “Siapa perempuan itu ? Kamu sudah berjanji Jefri untuk menjadi abdiku. Kamu ingat kamu pernah bilang janjimuadalah tulangmu”aku tertawa mengejek “ha..ha…”  “astaga Lyan” suaranya yang terdengar menyerah sangat berlawanan dengan tawa di akhir ucapannya. Dia menyebalkan kan ? itulah Jefri  “Tulangmu ternyata mudah rapuh” Kami akhirnya sampai. Dia mengikat Atlas di salah satu dahan pohon “Permisi” katanya pada pohon itu, sebelum mengikatkan tali Atlas pada pohon.  Menganggu saja  kata si pohon Aku menghela nafas melihatnya mengulurkan tangan dengan tampang jahil, dua puluh tahun tidak cukup untuk Jefri menganggu ketenangan batinku. Aku bisa bayangkan sesuntuk apa wajahku ketika dia  membantuku turun dari Atlas. Aku menepuk atlas membungkuk padanya. Untuk berterima kasih pada Atlas. “Lyan” panggilnya sebelum kami melangkah ke perkampungan. Dia menarik tudung jubahku. Menutupnya sampai setengah wajahku. Dia menarik ujung rambutku ke depan “Kamu. Maksud Baba aku seharusnya menikahimu” Aku mundur. Takut sekali aku mendengar kata menikah. Kenapa aku harus menikah ? Jefri ? Matanya jefri  sedalam lautan dan setajam mata elang ketika mata itu menatapku, aku mungkin akan kehilangan keseimbangan. Jefri punya mata yang indah, matany berkilau. Senyumnya tipis, tersungging miring. Meremehkan reaksiku. Dia meraih tanganku dengan santai. “Rekasimu berlebihan…” suaranya pelan hampir berbisik “Itu kan cuma keinginan Baba. Kita harus menikah dengan orang yang kita cintai, bukan ?” Haha.. Kami tidak pernah membahas soal cinta selama 20 tahun kami bersama sejak dia datang dengan ketapel tergantung di lehernya.  Sambil berjalan menuju perkampungan, aku mencoba menganalisa kata cinta. Selama dua puluh tahun ini yang ku pikirkan bukanlah jatuh cinta, menikah dan punya anak. Aku terfokus pada kehidupan Juru Kunci. Bagaimana caranya agar aku bisa sebaik nenek Suki. Suatu hari yang ku pikirkan aku akan tetap tinggal di pondok indah kami, di kelilingi hewan-hewan, hutan dan air yang mengalir. Aku tidak pernah memikirkan sosok laki-laki yang akan ku cintai. Karena aku menganakan tudung jubah, bukan tutup kepala yang menutupi wajah jadi  agak sulit memperhatikan jalan. Jefri di depanku memimpin. Dia masih menggenggam tanganku. Aku melihat tangannya yang besar tertaut di tanganku. Biasanya memang begini, biasanya dia juga menggenggam tanganku tapi hari ini terasa berbeda. Setelah dia mengatakan dia seharusnya menikahiku. Astaga.. “Jefri” aku menarik tanganku. Kita berada di jalan setapak Dia menoleh padaku melihat kekiri dan kekanan memastikan tidak ada yang melihatku. Aku menarik tudung jubahku “Lyan pakai tudungmu” “Aku bisa jalan sendiri” Kataku. Aku mentup kepalaku lagi,  berjalan dengan tertunduk dan hati-hati. “Oh.., kepalamu memang sekeras batu. Awas saja kalau kamu jatuh. Aku tidak sudi mengulurkan tangan” Aku tidak mendengarkannya. Aku berjalan menuju salah satu rumah yang berada jauh ke dalam pemukiaman. Bagian bawah jubahku terkena lumpur. Aku tersenyum mengingat tanah lembab di desa ini. Aku selalu mendapati sepatuku penuh dengan tanah menempel-nempel. Di desa seperti inilah aku tumbuh. Jefri mengetuk pintu “Nyonya” Seorang pemuda yang usianya mungkin jauh lebih muda dariku membuka pintu dan memanggilku nyonya “Selamat malam” Sapa Jefri “Juru Kunci ?” tanya pemuda itu pada Jefri. Aku tahu Jefri mengangguk karena reakasi pemuda itu sungguh tidak terduga. Dia meraih tanganku. Aku mundur karena kaget. “Tidak kawan” Jefri menjauhkan pemuda itu dariku “Kamu tidak boleh menyentuh Juru Kunci seperti itu. Dia orang yang disakralkan. Kamu akan di kutuk pualam kalau menyentuhnya” “Astga maaf kan aku tuan..” dia mengangkat alisnya, lalu mengulurkan tangannya “Aku Bara, aku suaminya Diah” “Aku Abdi Juru Kunci, kamu tidak perlu tahu namaku. Bolehkah kami masuk untuk melihat perkembangan bayimu ?” “Tentu Tuan tentu..” Dia terlihat sangat bahagia menyambut kami. Matanya berkaca-kaca karena haru. Rumahnya hanya bilik bamboo kecil beralaskan tanah. Istrinya duduk bersandar dengan banyinya terlilit kain yang hangat. Bayi itu sudah bisa minum asi. “Terima kasih, Nyonya” dia memanggilku nyonya.  Terdengar janggal, tapi mungkin aku harus terbiasa “Sewaktu istri saya melahirkan saya bekerja ke perbatasan. Istri saya menceritakan proses persalinannya” “Dia perempuan yang kuat, aku hanya membantunya” Aku duduk di sebelah sang ibu yang bernama Diah. Dia tersenyum padaku “Boleh ku rasakan denyutmu ?” dia mengulurkan tangannya yang bebas karena sebelah tangannya sedang menggedong bayinya yang kecil sekali. “Aku sudah bisa berjalan Nyonya” Aku mengangguk. Aku merasakan denyutnya. Pertama kali aku merasakan denyut kehidupan adalah denyut kehidupan sebuah pohon. Kini aku sangat peka dengan denyut kehidupan. Aku mersakan ketukan di pembuluhnya, tapi yang terdengar di kepalaku denyut itu bertalu-talu dan berdesir-desir. Semakin keras denyut kehidupan maka semakin lama dia bertahan. Aku mengeluarkan  seikat kain di dalam jubahku. Kain itu membalut sebuah serbuk ramuan “Larutkan ramuan ini dengan segelas air. Minumlah setiap pagi dan sore. Asimu akan berlimpah. Anakmu butuh asi setiap saat.  Tidurkan dia di tempat yang hangat. Kalau bisa dekat dengan penerangan” “Terimakasih Nyonya” Kami sama-sama melihat si bayi. Dia kecil sekali sunguh kecil dan kurus. Mulutnya mengerucut dia terus ingin asi ibunya. Aku menarik tangan kecil bayi itu keluar dari lipatan selimut yang membalut dirinya. Sekali lagi ku rasakan denyut yang berdesir-desir itu, denyutnya bertalu dan bergema di kepalaku. Aku tersenyum. Semangat hidupnya luar biasa “Dia akan tumbuh jadi anak yang kuat di lembah ini” Kataku. Aku sudah menyampaikan harapanku. Ku keluarkan lipatan daun yang berisi penyemat berwana merah darah. Ku sentuh tanah di bawah kakiku. Ku ambil sedikit saja penyemat itu dan ku usap lembut di kening sang bayi. Senyum merekah di bibirnya “Anakku..” Sang ibu takjub melihat senyumnya “Kamu tampan sekali” “Siapa namanya ?” tanyaku “Ibran” kata Diah lantang “Ibran Malaka” seperti kebanyakan penduduk di lembah ini kami hanya memiliki dua penggal nama. Tidak tiga. Biasanya orang kaya akan memiliki nama keluarga pada penggalan terkahir namanya. Seperti Hasan Kuswardi. Tetapi kalau dia orang lembah biasa dia tidak boleh memiliki nama keluarga. “Ibran Malaka yang tampan dan kuat” aku menyentuh pipinya, mengelus pipinya yang hanya tulang tengkorak berlapis kulit “Menyatulah dengan lembah kami. Pualam, ini dia Ibran Malaka yang akan jadi anak yang tampan dan kuat, dia adalah anugrah untuk lembah mu” Sekali lagi anak itu tersenyum Kami yang menonton anak bayi itu ikut tersenyum, karena senyumnya begitu menghangatkan. Ketika dia tersenyum siapapun tidak akan lagi menghawatirkan kondisi tubuhnya yang kurus dan terlihat rapuh. “Dia menerima tempatnya, dan dia diterima di sini” ujarku akhirnya. Ketika aku memutuskan seringkali kata-kataku keluar begitu saja tanpa kusadari. Aku pernah bertanya pada nenek Suki. Katanya itu suara pualam. Bukan milik-ku. Aku hanya mewakilinya. Suami Diah terus membunguk berterima kasih pada kami.  Dia mau memberikan kami sisa jagungnya sebagai tanda terima kasihnya. Dia penduduk miskin, tidak mungkin kami mengambil persediaannya. Kami punya banyak makanan. “Lebih baik kamu simpan. Ibu menyusui itu makannya banyak, kalau tidak begitu Asinya akan sedikit”  Jefri menepuk-nepuk pundah pemuda itu sebelum kami pergi dari rumahnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN