Kami duduk dalam dia di meja makan, mata kami menerawang ke semua sisi di ruangan itu. Tempat nenek Suki sering menghabiskan waktunya. Aku menatap kursi busa dimana dia selalu duduk, ketika kami semua berkumpul di meja makan seperti sekarang. Kini kursi itu telah kosong. Paman Didi menyeka air matanya “Ini buruk” katanya “Aku pikir dia bisa hidup selamanya” lalu dia tertawa sinis, melihat kursi yang sama denganku. Aku merasa kesunyian memakan kami hidup-hidup, tidak ada yang ingin tertawa tidak ada yang ingin bercerita. Seakan kesunyian ini memamerkan potongan-potongan kenangan dengan nenek kami dengan nenek Suki. “Jefri” Paman didi berlaih pada anaknya, dia melihat gelas kopi yang sudah mulai dingin. Aku buatkan tadi untuknya. Dia mengambil gelas itu. Jefri mengangkat wajahnya “M

