Perjalanan dengan kuda tidak bisa disamakan dengan percajalanan mengunakan mobil, yang didalamanya bisa saling bersentuhan dan berciuman. Kenapa pikiranku malah mengarah ke sana ? Kami, aku dan Jefri berhenti di kotak surat perbatasan dan memilih sedikit berjalan ke dalam hutan untuk beristirahat dan juga menghindari seseorang yang mengejar kami. Aku mengumpulkan kayu-kayu kering dan dedaunan untuk membuat api unggun. Untungnya kabut sudah mulai memburamkan pandangan, menyamarkan keberadaan kami. Menyalakan api unggun kurasa tidak akan jadi masalah. Aku duduk di samping Jefri, aku mengibarkan rambutku di pundak agar sedikit menghangatkanku. Jefri tersenyum "Kenapa kamu jadi segan untuk meminta luaranku ?" dia terkikik. Aku tersenyum, dia mengambil ujung rambutku, merasakannya di uju

