NAMAKU LYAN

2177 Kata

Aku terlalu marah, tapi juga tidak bisa berbuat banyak kecuali menerbangkan kecak ke gelas wine Ruma. Tubuhku mendadak lemas. Aku perlu berpegangan yang paling dekat denganku adalah Natan, aku meraih tangannya "Maaf, kepalaku pusing sekali"  "Oh tentu saja nyonya, apa kamu mau duduk dulu"  Aku menatap Natan. Dia memiliki kulit yang sangat putih, dia laki-laki bermata hitam pekat dengan raut yang amat baik. Aku bisa melihat garis senyum diwajahnya "Iya, ku rasa" air mataku menetes, sedih "Oh maaf aku terlalu emosional"  Raut wajahnya terlihat berusaha memahami "emosional"  macam apa yang membuatku menangis melihat Ruma berpidato padahal pidato itu sama sekali bukan pidato yang sarat akan kesedihan. aku tidak sedang mendengar kata-kata indah yang dibacakan dipemakaman. Natan membantuku m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN