Aku sempat tidak nyaman dengan cara Djaya memandangku, tapi untungnya dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada Hasan "Hasan" gumamanya, dia menyentuh Hasan dengan tongkatkatnya "Kamu pintar sekali" dia mengedipkan matanya, hal yang kupikir tidak akan bisa dia lakukan di usia yang sudah sangat tua itu "Teman-temanku, kau layani dengan baik Hasan. Aku sangat berterimakasih" Hasan mengernyit seditik waktu tongkat Djaya bertalu di lutut kerasnya, tapi dia tetap mendekati Pamannya dan memeluknya, sedetik, pelukan itu secepat kedipan mata. Setelah melepaskan pelukan pamannya, dia mengambil posisi di sebalahku. Aku masih mau tahu maksud dari teman-teman Djaya yang dilayani Hasan dengan baik "Paman dia istriku" tapi Hasan rupanya tidak mau lanjut membahas itu. Hasan memperkenalkanku denga

