bc

DALAM DEKAPAN DUDA ANAK SATU

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
billionaire
family
HE
love after marriage
age gap
friends to lovers
stepfather
single mother
heir/heiress
drama
sweet
bxg
bold
brilliant
single daddy
campus
city
office/work place
enimies to lovers
assistant
seductive
like
intro-logo
Uraian

Setelah lima belas tahun menduda, Deven Adhiguna menjalani hidup hanya untuk putrinya Chiquita dan membesarkan bisnisnya sebagai CEO e-commerce.

Hingga Serenada Gunawan, adik sahabatnya mengungkapkan perasannya.

Menghadaoi dilema hubungan beda usia tiga belas tahun, konflik anak remajanya serta masalah dalam pekerjaan.

Deven memutuskan menikahi Nada secara diam-diam untuk menghindari gosip yang memojokkan Nada. p

Akankah Nada mampu menghadirkan rumah bagi Deven dan Cita?

Mampukah mereka menghadapi tantangan dalam pernikahan beda usia?

Akankah Nada mendapatkan kehangatan dari Deven yang seorang duda?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Kejutan
Deven Adhiguna sudah kehilangan hitungan berapa kali ia datang ke rumah keluarga Gunawan. Lebih dari lima belas tahun dia sudah keluar masuk rumah bergaya klasik di ujung boulevard perumahan tersebut. Datang sebagai sahabat Guruh dan Bram, pulang sebagai bagian dari keluarga yang selalu menyambutnya dengan makan malam dan canda. Bukan hanya dia, tapi juga Cita anaknya telah menjadi bagian keluarga ini. Namun, Malam ini berbeda. Untuk pertama kalinya, telapak tangannya berkeringat sebelum menyentuh bel pintu pagar depan rumah itu. Ting Tong! Seorang perempuan berusia lima puluh tahun keluar. "Mas Deven?" Bi Asih tersenyum ramah seperti biasa. Dengan cekatan dia membuka pintu pagar rumah itu. "Masuk, Mas. Pas semua lagi kumpul." Deven membalas senyum tipis. Dari spion mobilnya dia melihat Bi Asih menutup pagar. Halaman rumah Gunawan masih sama seperti lima belas tahun lalu. Pohon mangga di sudut pagar kini jauh lebih rindang. Sisa rumah pohon masa kecil mereka masih ada di tempat yang sama. Hanya satu hal yang berubah. Malam ini, Deven tidak datang sebagai sahabat Bram. Deven keluar dari mobil, saat Bi Asih dengan cekatan membuka pintu ruang tamu. "Terima kasih, Bi." Suara tawa memenuhi ruang keluarga bahkan sebelum ia melangkah masuk. Suara yang sudah ribuan kali dia dengar. Deven berhenti sesaat di ambang pintu. Dia melihat sepatu sneaker putihnya. Rapi. Lagi-lagi dia mengembuskan napas. Ia ingin berbalik. Namun kali ini, mundur bukan pilihan. "...kubilang juga, timmu kalah gara-gara gak pasang striker andalanku!" "Lah ya itu mas, kenapa gak dipasang" "Fix, ini salah strategi pelatihnya" “Kenapa buka Mbappe yang dipasang? Akhhh…,” “ Wis diam, jangan sok jadi komentator,” Suara Guruh dan Bram serta pak Gunawan yang berdebat di depan layar televisi bukan hal baru. Dulu pun dia juga bagian darinya. Deven mengembuskan napas pelan, untuk kesekian kalinya. Suasana yang begitu akrab itu justru membuat langkahnya terasa semakin berat. "Eh!" Guruh yang pertama melihatnya langsung berdiri. "Lho, Bro! Tumben malam Minggu sendirian? Cita mana?" tanyanya sambil celingak celinguk. "Di rumah." "Serius? Kirain kalian mau ngajak kita makan." Deven hanya tersenyum tipis. Tatapannya menyapu ruangan. Pak Gunawan sedang menonton pertandingan yang sama dari sofa favoritnya. Bu Ratih membawa sepiring buah, diikuti Juni istri Bram yang membawa potongan kue lapis legit. Di lantai dekat rak buku, Oryza anak bungsu keluarga itu dan Raditya anak Bram sedang membaca tanpa terusik sedikitpun oleh keramaian. Seperti biasa Radit memakai headset untuk meredam suara di sekitarnya. Lengkap. Semuanya ada. Bagus. Karena memang itu tujuannya. "Kenapa berdiri?" Guruh menepuk bahunya. "Duduk dulu.” Deven menggeleng pelan. "Sebentar." Suaranya tidak keras. Namun cukup membuat percakapan di ruangan itu berhenti. Semua mata beralih kepadanya. Deven menarik napas. "Om..." Ia menatap Pak Gunawan terlebih dahulu. "Saya datang malam ini untuk meminta izin." Ruangan mendadak sunyi. "Izin?" Pak Gunawan meletakkan remote TV yang sedari tadi dipegangnya. "Izin mengajak Nada keluar." ... Lima detik. Tidak ada yang berbicara. Guruh berkedip dua kali. "Lah..." "Sebentar." "Yang kamu maksud..." "Adikku?" "Iya." "Yang... Nada?" "Iya." Guruh menoleh ke Bram. Bram menoleh ke Pak Gunawan. Bu Ratih dan Juni menatap suami mereka masing-masing. Bahkan Oryza akhirnya mengangkat kepala dari bukunya, diikuti oleh Raditya yang melepas headsetnya. Tepat ketika keheningan mulai terasa canggung… Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Pelan namun pasti, suara itu terdengar menuruni anak tangga. Semua orang menoleh bersamaan. Seakan tahu namanya menjadi pusat kebingungan. Serenada Gunawan, yang biasa dipanggil Nada, turun perlahan dari tangga. Sejenak dia berhenti di ujung Mata Nada dan Deven saling bertatapan. Nada menarik napas, lalu tersenyum kecil untuk menenangkan dirinya. Nada melangkah perlahan sambil menggenggam erat tas bahunya, membelah sikap bingung keluarganya. Dia berjalan ke samping Deven, mengamit tangannya dan berkata,”Ma, Pa, Mas, Nada pamit pergi dulu sama Kak Deven,” Deven memegang tangan Nada yang dilingkarkan di lengannya. Guruh langsung tersedak. Bram diam, dia mengambil remote TV dan mematikannya. Raut wajah Bram berubah menjadi serius. Pak Gunawan cuma mengangguk sekali, sebaliknya Bu Ratih saling meremas tangan dengan Juni. Tepat saat Deven dan Nada keluar dari pintu rumah, suara riuh terdengar dari dalam rumah. “Loh loh itu tadi apa? Ini gimana ceritanya Deven bisa sama Nada?” Bu Ratih kebingungan sambil terus meremas tangan Juni yang mulai kesakitan. “Kamu tahu soal ini Bram, Guruh, kamu Ory?” Tanya Pak Gunawan pada tiga orang anak laki-lakinya. Bram dan Guruh menggeleng. Namun tatapan mata Bram terus mengekor bayangan Deven dan Nada. Melihat reaksi Bram, Guruh menggembungkan pipinya. Cuma Ory dan Radit yang menghela napas melihat kelakuan komikal keluarganya dan memilih masuk kamar Ory. Sementara itu dalam mobil, Deven melirik Nada yang tampak tenang padahal telapak tangannya berkeringat. “Kamu yakin mau terusin ini?” Tanya Deven sambil melirik Nada, dia ingin tahu reaksi gadis yang tiga belas tahun lebih muda darinya itu. “No doubt, seperti yang aku bilang malam itu,” Nada menoleh memandang Deven,”mengapa bukan aku saja yang jadi calon istrimu dan ibu Cita, masih ragu?” Deven melihat keteguhan gadis itu, dia menggenggam tangan gadis itu lembut, menyalakan mobilnya dan mengarahkannya ke arah studio film di pusat kota, meninggalkan keriuhan ruang keluarga Gunawan. Dalam hatinya Deven berdoa semoga ini langkah yang tepat baginya dan Nada. Dua bulan lalu dia bahkan tidak akan berani membayangkan mengajak adik sahabatnya berkencan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
830.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
384.8K
bc

Not just, the Beta

read
361.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook