Surti pun langsung memberikan penjelasan tentang orang-orang yang tinggal di rumah besar itu. Di mulai dari Kakek Baskoro sebagai kepala rumah tangga, beliau sebenarnya bisa makan apa saja karena tidak mempunyai alergi atau penyakit tertentu, tetapi tetap menjaga pola makanan dengan seimbang. Pria yang telah berusia tujuh puluh delapan tahun itu lebih menyukai makanan yang lebih banyak mengandung sayuran.
Makanan favoritnya adalah sayur asam kuning dengan ikan kakap merah dan lalapan. Belum ada yang bisa masak seenak istrinya sehingga beliau pun jarang menikmati masakan itu lagi.
Kedua adalah Shandy Bayu Pratama, cucu kedua dan adik kandung dari Sulthan, pria yang berwajah tampan itu pun lebih senang makan di luar yang cepat saji. Semenjak kematian kedua orang tua mereka Shandy menjadi pria yang tertutup dan suka menyendiri dan menghabiskan waktunya di luar bersama teman-temannya atau menyendiri dengan hobinya melukis.
Dulu waktu ibunya masih hidup dia sangat menyukai makanan dari bahan ikan, tetapi setelah itu dia sangat membencinya, jarang makan sayur dan makan tidak teratur membuat tubuhnya sedikit kurus dan tidak bertenaga.
Di kampus pun tak jarang menjadi sasaran Bullyan karena lemah dan tidak bisa berontak, dia pun hanya mengandalkan uang untuk di berikan kepada mereka agar tidak membully dirinya.
Untuk si kecil Raina anak dari Dirga, Om dari Sulthan. Dia juga sangat menyukai makanan cepat saji, bahkan tidak mau menyentuh makanan di rumah yang menurutnya tidak enak. Sedangkan Dirga juga sangat jarang makan di rumah lebih banyak makan di luar dan sangat jarang untuk memedulikan anaknya.
Salsa pun mulai mengatur bahan makanan itu untuk bisa memasak dengan salah dua jenis masakan. Tampak Mbak Surti dan temannya sedikit bingung dengan apa yang dikerjakan oleh wanita cantik itu.
“Neng Salsa mau buat apa?” tanya Mbak Surti terlihat bingung.
“Salsa mau buat sayur asem bumbu kuning dengan kepala ikan kakap merah, Mbak,” ucapnya sembari tangannya mengambil sebuah kotak besar yang berisikan ikan yang sudah di siangi dan dibersihkan.
“Ini ada ikan kakap merah Mbak, kenapa nggak di masak saja?” tanya Salsa.
“Iya Neng, dua hari yang lalu itu Kakek Baskoro sendiri yang belanja dan ingin sekali membelinya tetapi saat kami ingin bertanya mau di masak atau nggak, Kakek bilang nanti saja, gitu saja Neng,” jawab Mbak Surti menjelaskan.
“Oh ya, kalau begitu kita eksekusi aja.”
“Memang Neng Salsa bisa masak?” tanyanya bingung.
“Ya namanya juga orang kampung pasti bisa masak, iya kan?”
“Oh ya Mbak biasanya Mas Sulthan sebelum sama Salsa, apa makanan kesukaannya?”
“Sama seperti Kakek Baskoro bisa makan apa saja kecuali pete dan jengkol.”
“Masa sih Mbak, padahal saat bersama Salsa malah dia doyan makan dua itu loh,” jawabnya sambil tersenyum.
“Masa sih, Neng, kalau dulu dia nggak doyan itu bau katanya, padahal enak ya Neng.”
“Kami memang menyediakan saja ya biasanya buat kami sendiri, kan sayang makan di luar uangnya, kalau orang kaya ya bebaslah mau beli apa saja tinggal pesan,” jelas Surti sembari membantu Salsa menyiapkan bahan.
“Baiklah Mbak, hari ini kita buat satu lagi yaitu semur jengkol kesukaan Mas Sulthan.”
Salsa semakin heran dengan keluarga suaminya ini, mereka jarang makan di rumah tetapi stok bahan dapur tercukupi dan lengkap, apakah ini pemborosan yang hakiki?
Sangat di sayang kan jika tidak termakan dan akhirnya masuk di dalam tong sampah.
Dengan cekatan Salsa membuatnya walaupun memakai kursi roda. Tidak ada yang menyangka kalau wanita yang di bawa oleh majikan dan berstatus istri itu ternyata pandai memasak.
Surti dan Mimin membantu Salsa agar cepat selesai dan bisa di nikmati saat menjelang makan siang.
Wangi masakan itu telah menyeruak sampai ke penciuman hidung Kakek Baskoro. Beliau terkejut karena wangi masakan itu kembali di rasakan dan mengingat masa lalunya. Penciumannya sangat tajam karena aroma masakan ini sudah lama beliau tidak merasakannya.
Surti dan Mimin mengatur meja makan dan menaruh dua hidangan yang sudah membuat cacing-cacing di perut mereka menari.
Sulthan pun tersadar dari alam mimpinya dan segera keluar dari kamar. Begitu juga dengan Mbok Minah yang sedari tadi sibuk mengurusi Raina yang manja, ikut keluar sambil menggandeng gadis kecil itu.
Dia pun mencium bau yang aneh tetapi menyegarkan.
“Sayang, kamu lagi ngapain di dapur?” tanya Sulthan yang tiba-tiba sudah ada di sana dan mendekati istrinya.
“Mas Sulthan sudah bangun, padahal aku mau bangunin loh tadi,” jawabnya tersenyum.
“Ya mau bagaimana saat bau masakan ini sampai di kamar, mau nggak mau Mas bangunlah dan ini?” tanya Sulthan kaget saat melihat ada masakan yang tidak begitu asing baginya.
“Apa ini Sayang, sepertinya kamu belum pernah memasak makanan ini?”
“Menu baru, ya?” goda Sulthan.
Namun, saat ingin menjawab pertanyaan Sulthan, tiba-tiba saja suara bariton itu terdengar dengan sedikit berteriak kepada Salsa membuat dirinya sedikit tersentak.
“Salsa, berani sekali kamu memasak makanan ini, siapa yang menyuruhmu?”
“Kamu ingin membuat saya terkesan dengan masakan ini?” Sorot mata pria tua itu seperti belati yang hampir menusuk jantung Salsa, tetapi wanita itu tidak bergeming dia tetap memperlihatkan senyuman tulus di wajahnya.
“Maaf Kakek, tidak ada niat Salsa untuk di puji hanya saja Salsa lihat ada ikan kenapa nggak di olah saja dari pada nggak terpakai kan mubasir,” sanggahnya membuat Kakek Baskoro semakin marah.
“Apa hak kamu untuk menjawab seperti itu, saya memang yang membeli semua kebutuhan di dapur tetapi bukan berarti kamu seenaknya mengatur semuanya,” protes pria tua itu yang masih terlihat kesal.
“Kakek, coba in dulu, bukankah Kakek sangat menyukai masakan ini, dan memang pasti berbeda dengan masakan yang dibuat oleh orang yang kita cintai.”
“Salsa mohon Kek, coba saja duku jika memang tidak sesuai dengan selera Kakek, Salsa janji tidak akan memasak makanan ini lagi,” jawabnya dengan penuh semangat.
“Kek, kita makan dulu, tidak baik menganggur kan makanan selezat ini dan sayang kan kalau nggak di makan?” bela Sulthan.
Tanpa pikir panjang Sulthan pun duduk dan melihat pemandangan dibatas meja itu sungguh menggugah selera apalagi ada makanan di kesukaannya yaitu semur jengkol.
Kakek Baskoro pun duduk mengikuti permintaan Sulthan. Begitu juga Raina yang sedari tadi mengamati orang dewasa saling berargumen.
“Apa ini Salsa, Kakek belum pernah melihat masakan ini, bentuknya sangat aneh?” tanya Kakek Baskoro saat melihat sepiring semur yang pasti terbuat dari jengkol.
“Ini namanya semur jengkol Kek, Sulthan suka dengan masakan ini nggak bau dan bikin tagihan, coba in deh,” jelas Sulthan tanpa sungkan mengambil nasi yang masih mengepul dan menuangkan beberapa jengkol dan airnya dia atas nasinya.
“Apa? Sejak kapan kamu suka masakan itu, biasnya kamu alergi dengan baunya ,” protes Kakek Baskoro.
Namun, saat tercium kembali aroma sayur asem di hadapannya, beliau pun ikut mengambil nasi dan menuangkan juga sayur asam, lalu mengambil potongan ikan kakap mereka itu dan mencocolnya dengan sambal terasi, tidak lupa Salsa menambahkan irisan mentimun, daun kemangi, dan potongan kacang panjang mentah sebagai bahan pelengkap.
Kakek pun mencoba satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Salsa begitu tegang saat makanan itu masuk.
Pria tua mengunyahnya sedikit demi sedikit, dan ...
“Apa? Bagaimana mungkin rasanya sama seperti istriku masak?” tanyanya dalam hati.
Kakek kembali memasukkan makanan itu untuk kedua kalinya dan merasakan sensasi yang begitu luar biasa.
Tanpa berucap sedikit pun Kakek Baskoro akhirnya makan tanpa memedulikan yang lain. Beliau melahapnya tanpa jeda, sepiring telah habis beliau pun mengambilnya kembali, mengudap kepala ikan itu sampai tidak berbentuk lagi.
Mereka pun terkejut, sekaligus bahagia karena baru kali ini Kakek Baskoro makan begitu lahapnya.
“Mbok, nggak ada yang lain selain ini?” tanya gadis kecil dengan polos.
Salsa menatap ke arahnya lalu menghampiri gadis kecil itu yang cemberut.
“Hai, mau berteman denganku?”
“Siapa kamu?”
“Oh ya kita belum kenalan ya.”
“Kenalkan namaku Salsa, dan kamu?”
“Namaku Raina, terus kenapa Tante duduk di kursi roda?”
“Kaki Tante sakit , makanya harus duduk di sini dulu, Raina nggak makan?”
“Raina nggak suka Tante, biasanya Raina makan pizza atau ayam goreng crispy , tetapi ini nggak ada,” cercanya.
“Emmh ...begini saja nanti Tante buatkan pizza kesukaan Raina, tetapi Raina harus makan dulu, bagaimana?”
“Memang Tante bisa buat pizza?”
“Apa pun yang Raina inginkan, Tante akan buat, tetapi dengan satu syarat.”
“Apa Tante katakan?” tanyanya bingung.