“Dia itu anaknya Pak Dirga, omnya Den Sulthan tetapi beliau masih di luar negeri kemungkinan dua atau tiga hari lagi akan pulang ke Indonesia.”
“Sebentar ya Neng, Mbok ke sana dulu, permisi,” ucap Mbok Minah berjalan tergesa-gesa.
Salsa di tinggal sendirian di dapur, dia pun bingung untuk melakukan sesuatu di rumah besar itu.
“Maaf, boleh saya membantu?” tanyanya lagi menawarkan bantuan.
“Maaf Non, Anda di sini adalah majikan kami, lebih baik Anda tidak perlu di sini, kami sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang ada di dapur,” ucap salah satu pembantu yang lain.
“Apakah karena saya cacat sehingga saya tidak boleh membatu di dapur ? Setidaknya saya bisa memasakan sesuatu untuk Mas Sulthan,” pintanya dengan iba.
Kedua pembantu itu saling memandang, salah satu dari mereka sedang mengamati sekitarnya takut terlihat oleh sang pemilik rumah ini.
“Aduh, bukannya begitu Non, ini sudah pekerjaan kami, masa majikan juga turun tangan juga sih?” tanyanya bingung.
“Kenapa ada yang salah dengan itu, saya lebih suka bisa membaur dengan kalian, apakah kalian tidak mau berteman dengan karena saya cacat?”
“Bukan begitu Non, tetapi kami mempunyai batasan untuk tidak terlalu dekat dengan majikan dan itu peraturan di rumah ini.”
“Iya Non nanti Non kena marah dengan Kakek, itu sangat fatal.”
Salsa terlihat murung, sepertinya dia tidak mempunyai teman di rumah itu, tetapi kedua pembantu itu semakin tidak enak hati melihat majikan barunya ini terlalu peduli dengan mereka.
“Non kami takut kalau Non kena marah dengan Kakek, bukan kami tidak ingin dekat tetapi ...
“Saya tahu setiap rumah pasti ada peraturan yang dibuat oleh empunya, emmh ...begini saja saya akan meminta izin dulu sama Kakek setelah itu kalau memang boleh, saya akan ke sini lagi, bagaimana?”
“Nah kalau begitu nggak masalah Non, biar saya dorong kursi rodanya,” ucap pembantu itu dengan tersenyum.
“Nama Mbak siapa?”
“Nama saya Surti, dan jangan panggil saya Mbak, saya ini kan hanya pembantu toh,” jawabnya malu-malu.
“Umur Mbak, kalau boleh tahu?”
“Umur saya tiga puluh tahun Non, memang kenapa ya Non?”
“Berarti Mbak lebih tua dari saya, karena lebih muda enam tahun dari saya, jadi nggak apa-apa kan panggil Mbak.”
“Non ...tetapi ...
“Nah itu Kakek, beliau sedang ada di ruang tengah,” sahutnya sembari menjalankan kursi rodanya ke arah Kakek Baskoro.”
“Non, nggak usah beliau sedang membaca surat kabar , nanti marah kalau di ganggu,” ucapnya takut sambil menahan kursi roda itu agar tidak pergi ke tempat pria tua itu.
Mbak , saya meminta izin apa salahnya lagian buat untuk mencuri, santai saja,” sahutnya.
Tidak ada keraguan sama sekali di hati Salsa untuk bisa mengganggu pria tua itu walaupun masih dalam keadaan membaca. Kacamatanya yang sedikit turun ke bawah, wajah beliau pun terlihat serius dan fokus dengan apa yang di bacanya.
“Maaf Kek, boleh minta waktunya nggak?”
Kakek Baskoro yang sedang membaca surat kabar kini sedikit melirik ke arah Salsa sesaat, tetapi setelah itu kembali fokus dengan surat kabar di tangannya.
“Maaf Kek, boleh Salsa membantu mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya masak atau bersih-bersih?” tanyanya dengan hati-hati.
“Apa yang bisa kamu lakukan dengan memakai kursi roda itu , Salsa?”
“Kamu ingin menjadi pembantu di rumah ini?” tanyanya tanpa melihat ke arah Salsa.
“Bukan begitu Kek, hanya saja Salsa merasa bosan, biasanya kalau di ...
Salsa terdiam saat melihat Kakek Baskoro menghentikan aktivitasnya membaca surat kabar, melipat dan menaruhnya diatas meja. Tangannya mengambil cangkir yang berisikan kopi hitam itu.
Menghirup dan meresapi setiap tetesan minuman itu yang masuk ke dalam tenggorokannya.
“Apa yang ingin kamu tunjukan Salsa, apakah kamu ingin terlihat sebagai menantu idaman di depan saya?”
“Apakah kamu ingin menunjukkan kepada semua orang kalau wanita yang cacat juga bisa berguna?” Pertanyaan itu membuat Salsa menciut dan menahan air matanya untuk bisa keluar. Baru kali ini ada yang menghina dan merendahkan dirinya, walaupun dia sering mendapat hinaan dari Pakdhe Tejo tetapi ini lebih menusuk hatinya.
“Tenang Salsa, kamu jangan terbawa emosi, anggap saja ini ujian hidup, dia hanya menghinamu bukan melenyapkanmu,” bathin Salsa berkata.
“Maaf Kek, tidak ada manusia bahkan binatang sekali pun ingin memiliki kondisi cacat baik dari lahir maupun karena kejadian yang berat sehingga menjadikan kondisi seperti itu.”
“Semua adalah takdir dan itu tetap kita syukuri, apalagi kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dan tetap berusaha untuk bisa bertahan hidup.”
“Salsa tidak perlu dikasihani Kek, hanya karena kaki Salsa belum pulih dari kecelakaan itu, dan Salsa bukan wanita yang suka menebar pesona untuk bisa membuat orang lain terkesan.”
“Kakek tahu sebelum Bapak meninggal beliau berpesan agar Salsa tidak larut di dalam takdir, ada rahasia di balik takdir yang akan membuat kita menuju kebahagiaan yang sebenarnya.”
“Maaf Kek, Salsa akan melakukan apa yang Salsa suka di rumah ini, tenang saja Salsa tidak akan membuat rumah besar Kakek ini menjadi berantakan, dan tidak akan menyusahkan Kakek.”
“Dari kecil Salsa sudah di didik dengan keras untuk tidak lemah di mata orang lain, tidak minta di kasihani oleh orang lain, jika kaki tidak bisa bergerak masih ada tangan yang berfungsi, jika tangan dan kaki tidak berfungsi masih ada mulut, jika mulut, kaki dan kanan tidak berfungsi berarti Allah sudah mencabut kenikmatannya di dalam hidupnya untuk segera bertobat.”
“Salsa permisi dulu, Kek.”
Salsa dengan tegas berbicara, tidak bergetar mulus seperti jalan kereta api. Dia berlalu meninggalkan Kakek Baskoro yang masih terdiam dan menatapnya sampai hilang dari pandangannya.
Ada sebuah senyuman kecil di wajah Kakek Baskoro, karena baru ada yang bisa bicara dengan seperti. Tidak seperti Delia yang selalu meminta di puji dan terlihat sangat peduli dengan Kakek Baskoro.
“Sangat unik, seorang wanita kampung yang berpendidikan, ayahnya telah berhasil mendidik anak itu yang tidak silau dengan harta, bahkan dia rela meninggalkan semuanya untuk Sulthan?”
“Kamu memang sangat berbeda Salsa, tetapi masih banyak ujian yang harus kamu lalui, kamu harus bersiap untuk sebuah kejutan Yanga akan datang silih berganti, sampai mana kamu bisa bertahan untuk menjadi seorang menantu dari Keluarga Baskoro Adji Pratama,” ucapnya dalam hati.
Salsa kembali ke dapur dan melihat kegiatan mereka. Tangannya tidak bisa diam ingin sekali membantu mereka.
“Non Salsa lebih baik istirahat saja di kamar, biar kami yang menyelesaikannya, kami sudah terbiasa kok, jangan khawatir,” ucap Surti tersenyum dengan tangan yang masih sibuk menyiapkan bahan untuk memasak.
“Mbak Surti banyak sekali porsinya apakah ini sekalian untuk makan malam untuk menyambut keluarganya Mbak Delia?”
“Ya nggak lah Non, ini buat makan siang saja, nanti sore kita akan membuatnya lagi tetapi dengan menu berbeda. Dan biasanya kalau ada tamu ya kita memesan dari koki hotel saja,” jelasnya lagi.
“Apakah mereka memakan semua ini, Mbak?”
“Ya nggak lah Non, kalau nggak habis ya kita yang makan tetapi kalau nggak habis ya di buang deh.”
“Mereka kadang nggak selera dengan masakan kami bosan katanya, dan kami takut saja sewaktu-waktu Kakek tidak memperkerjakan kami lagi karena seringnya makan di luar.”
“Apalagi Mbok Minah sudah tua, kadang masakannya juga tidak sehebat dulu, dan gadis kecil itu juga itu sering merepotkan Mbok Minah, manja banget anaknya," protes Surti.
Salsa berpikir apakah begini cara orang berpikir, buat apa memasak terlalu banyak jika akhirnya masuk tong sampah juga, dan seringannya memesan makanan dari luar, apakah merek suka sekali menghambur-hamburkan uang karena mereka orang kaya?
“Mbak Surti, Salsa akan bantu Mbak masak ya, tenang saja kalian tidak akan di pecat karena sudah tidak dipakai lagi, Salsa bisa masak kok.”
“Kita akan membuat masakan yang sederhana tetapi sangat menggugah selera, dan mereka akan betah makan di rumah,” sahut Salsa bersemangat terapi kedua pembantu itu masih kebingungan.
“Ayolah jangan seperti itu, kita bisa mencobanya dulu, sekarang katakan berapa orang yang tinggal di rumah ini dan apakah mereka mempunyai alergi dengan makanan tertentu?” tanya Salsa bersemangat menatap mereka berdua yang masih terdiam.