12. Makan Malam

1459 Kata
“Kakek tahu itu tetapi ini adalah jalan satu-satunya agar kamu cepat mengetahui siapa di balik penyerangan kamu dan juga papa kamu, Sulthan.” “Kamu tahu nyawa kita dalam bahaya, bisa saja besok atau lusa salah satu di antara kita akan menjadi korbannya, apalagi saat mereka tahu kalau kamu ternyata masih hidup dan Salsa adalah kelemahanmu.” “Masih ada cara lain dan itu bukan untuk menikah dengan Delia, Sulthan tidak mau mempermainkan hati seorang wanita hanya sebagai alat balas dendam, Sulthan tahu apa yang dilakukan dan Kakek tenang saja, selama pengalaman enam bulan kemarin sudah cukup untuk Sulthan untuk mengetahui sifat orang yang tulus atau tidak,” jelasnya dengan lantang. “Baiklah, Kakek percaya denganmu, Sulthan, lakukan apa yang menurut kamu benar dan jangan sampai kamu masuk ke lubang yang sama, mereka akan melakukan yang lebih parah lagi.” “Kakek sudah tenang kamu ada di sini dan Kakek menaruh harapan denganmu karena kamu penerus keluarga ini dan satu-satunya pewaris tunggal di keluarga kita.” sahut Kakek Baskoro tersenyum kecil. Sulthan hanya mengangguk dan melangkah pergi dari kamar pria tua itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, semua masakan yang di buat oleh Salsa di bantu Mbok Minah, Surti dan Mimin, sudah di tahap penyajian. Tamu akan datang di jam tujuh malam. Semua tertata di meja makan yang berbentuk persegi panjang dengan cantik. Ada bunga mawar yang menghiasi meja makan itu. Bau dari masakan itu pun sudah membuat cacing-cacing mereka menari-nari dengan riang. Mbok Minah dan lainnya tidak menyangka kalau apa yang mereka lihat begitu nyata, semua masakan itu dihiasi dengan cantik, semua tampak seperti makanan di hotel. “Neng Salsa, benaran ini nggak mimpi kan?” tanyanya saat melihat hasil akhir penyajian itu di atas meja makan. “Iya Mbok, nggak mimpi kok, Salsa kan suka masak, gampang nanti kalian juga bisa mencicipinya juga kok.” “Nggak bisa lah Neng, makanan ini hanya untuk orang kaya dan kami tidak boleh memakannya.” “Sudah tenang saja buat kalian sudah Salsa sisihkan, jadi tidak mengganggu makanan yang ada di sini dan makanan kalau masih ada sisa pun ya harus di makan, makanya harus makan sesuai porsi jadi bisa buat besok lagi, jadi tidak mubazir,” jelas Salsa tersenyum. Tak lama kemudian Kakek Baskoro pun datang dan melihat hasil kerja Salsa yang ternyata di luar dugaan. Di dalam hatinya pun sangat menyukai cucu menantunya itu yang cekatan dan pandai memasak. Itu nilai plus buat seorang Kakek Baskoro. Berdasarkan informasi dari Satria kalau Salsa adalah salah satu mahasiswi terbaik dengan hasil sangat memuaskan, banyak tawaran bekerja untuknya di kota tetapi dia tolak, karena ingin membantu bapaknya untuk menjalankan usahanya di kampung. Namun, sayang semuanya telah diambil secara paksa oleh keluarganya sendiri dengan memalsukan tanda tangan ayahnya Salsa. Kakek Baskoro semakin percaya kalau Salsa adalah pilihan yang tepat untuk menjadi istri Sultan Tepat jam tujuh malam akhirnya keluarga Delia pun datang ke rumah besar itu disambut hangat oleh Kakek Baskoro. Pak Seno sangat bahagia saat bisa melihat calon menantunya itu sudah kembali. Ide cemerlang pun tiba-tiba saja muncul di kepala pria paruh baya itu. Tampak Sulthan dan Salsa ikut dalam acara makan malam itu. Sulthan semakin memesona dengan pakaian jas lengkap, sangat tampil memukau dan bersama Salsa terlihat sangat cantik walau hanya menggunakan gamis berwarna merah muda. Delia dengan gaun seksi yang menampilkan semua lekuk tubuhnya agar berharap Sulthan mau meliriknya dengan pakaian terbuka seperti itu. “Mbok, itu nggak masuk angin apa atas dan bawahnya waw banget, untuk putih kalau kita yang pakai begitu di depan Den Sulthan atau Kakek Baskoro bukannya terpesona mah jijik kali ya, lemak kita ada di mana-mana kan ya?” tanya Mbok Surti yang mengagumi kecantikan Delia. “Ya iyalah kita apa toh, orang kampung lah Non Delia itu model dan memang bagus sih tubuhnya tetapi begitu kan bisa mengundang p****************g untuk menggodanya coba kamu lihat Neng Salsa, cantiknya natural, pintar masak dan baik hati nggak sombong loh.” “Saya lebih sreg ya kalau Neng Salsa sama Den Sulthan, secara dia juga loh yang menolong Den Sulthan makanya sampai cacat begitu, kurang baik apa coba dan yang Mbok dengar dari Satria kalau Neng Salsa itu bukan orang miskin, dia itu sebenarnya juga banyak hartanya di kampung, tetapi yaitu direbut sama pakdenya itu, serakah banget itu orang,” jelas Mbok Minah yang berhasil mencari informasi dari Satria. Delia mencuri pandang kepada Sulthan tidak dipungkiri kalai pesona pria tampan itu membuatnya salah tingkah, padahal sebelumnya dia hanya menganggap biasa saja. Ada desiran yang aneh di hati Delia dia pun tak menyangka kalau sekarang dia mulai memperhatikan Sulthan yang auranya begitu kuat. “Del itu siapa yang di kursi roda?” tanya Bu Siska ibunya Delia berbisik di telinganya dengan penasaran. “Dia istrinya Sulthan, Ma,” jawabnya pelan. “Apa? Istrinya?” tanyanya terkejut. “Sudah dong Ma, jangan berisik, wanita itu tidak akan lama tinggal di sini, Delia gitu loh,” sahut dengan mengulas senyuman sinis. “Kamu benar Sayang, singkirkan saja dia, merusak pemandangan saja,” sahut Bu Siska kembali tersenyum kecil. Tanpa basa basi mereka langsung ke ruang meja makan, tampak kedua orang tua Delia langsung duduk dan ingin segera menyantap makanan yang ada di hadapan mereka apalagi aroma masakan dari tadi sudah mengusik mereka. “Wah, masakan ini sangat lezat dan bikin ketagihan, bisa dong Pak Bas kasih tahu di mana pesannya , siapa tahu kami bisa pakai jasanya untuk katering nanti saat pernikahan Delia dan Sulthan?” tanya Bu Siska sembari tangannya tidak berhenti untuk mengambil makanan yang sudah penuh di piringnya. Delia merasa malu dengan sikap mamanya yang memang hobi makan apalagi jika merasa pas di lidahnya dia tidak akan berhenti makan jika perutnya sendiri sudah tidak bisa menampungnya lagi. “Mah, sudah dong jangan tambah terus malu tahu,” sahut Delia sedikit berbisik. “Aduh Sayang ini sudah disajikan di depan mata, ada nggak dicicipi semuanya,” jawabnya tanpa memedulikan omongan Delia. “Sayang, kamu harus bisa seperti ini, kata orang zaman dulu kalau mau awet rumah tangga dan selalu dicintai sama suami, harus bisa menyenangkan perutnya, iya kan Pak Bas?” Bu Siska meminta pendapat Kakek Baskoro. “Itu benar sekali Bu Siska, dan kamu Delia harus bisa belajar memasak di rumah, buat suamimu betah di rumah,” sanggahnya membuat Delia hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Kakek Baskoro. Pak Seno memberi kode untuk bisa menahan mulutnya untuk bisa berhenti makan, tetapi wanita bertubuh tambun itu tetap saja tidak mau menggubris suaminya, dia tetap melanjutkan makan malamnya. Setelah acara makan malam selesai akhiri mereka kembali duduk di ruang tengah, tetapi tidak dengan Bu Siska yang masih enggan untuk beranjak dari kursi di meja makan. Mau tak mau Delia menariknya dengan paksa dan menghentikan ibunya untuk terus makan. “Ma, Ayuk dong jangan buat malu, sangat keterlaluan sekali, pesan di mana sih mereka ini, masakan begitu banyak dan enak sekali?” “Mbok tolong bungkus ya buat mama saya di rumah dan maksudnya porsi untuk tiga orang buat sekalian besok pagi,” ucapnya tanpa basa-basi. “Iya Non, saya bungkusan sebentar, nanti tinggal di panaskan saja di rumah.” “Oke, terima kasih Mbok, tetapi Mbok pesan di mana semua makanan ini sangat berbeda nggak seperti biasanya?” tanya Delia penasaran. “Itu dari ... “Delia, kemari Sayang!” panggil Pak Seno memutuskan pembicaraan mereka. Delia dengan sudah payah membawa mamanya yang bertubuh gempal itu untuk pergi ke ruang tengah. “Maaf Pak Bas, kita mulai saja dengan apa yang akan kita bicarakan sekarang, dan saya juga sangat kaget sekali saat Delia mengatakan kalau Sulthan sudah kembali, dan karena sudah ada Sulthan bagaimana kalau sekarang kita menentukan tanggal pernikahan mereka berdua?” usul Pak Seno bersemangat. “Iya Pak Bas, tidak udah pakai acara tunangan, kelamaan, lebih baik kita segera menetapkan tanggalnya saja,” sahut Bu Siska membenarkan setelah dia bisa memosisikan duduknya dengan benar. “Justru itu saya panggil kalian untuk datang untuk membicarakan masalah ini. Cucu saya Sulthan baru tiga minggu yang lalu di temukan dalam keadaan pingsan dan banyak sekali luka di tubuhnya.” “Dan saya belum tahu kenapa dan siapa yang telah membuatnya seperti itu, dan dia juga tidak bisa mengingat kejadian di mana saat dia tak sadarkan diri dalam artian sekarang Sulthan mengalami amnesia tetapi tidak selamanya, mungkin berjalannya dengan waktu dia kan mengingat semua kejadian yang telah menimpanya.” “Dan perkenalkan dia bernama Salsa dan sekarang dia sudah menjadi istrinya, Sulthan, dan kalian tahu dia dalam keluarga saya tidak pernah mempunyai dua menantu, dan oleh sebab itu saya memutuskan untuk tidak jadi menikahkan dengan Delia, maafkan saya Pak Seno,” jelas Kakek Baskoro dengan lantang. “Apa maksud Anda, Pak Baskoro? Saya tidak setuju dengan keputusan sepihak ini,” sahut Pak Seno dengan wajah merah padam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN