13. Kepanikan Delia

1186 Kata
Pak Seno merasa terhina atas pembatalan tunangan mereka terlebih lagi tidak ada pernikahan, hal ini membuat semua rencana yang telah disusunnya untuk merebut semua harta warisan milik Sulthan tidak akan pernah terwujud. Apa yang harus dia lakukan, haruskah menyerah begitu saja? Tidak bukan sifat Pak Seno Aji Batara Yudha untuk mengalah dan pasrah dengan keadaan. “Apa Anda tidak salah lihat mengangkat seorang menantu cacat sepeti dia, lihat dia dan bandingkan dengan Delia sangat jauh berbeda, antara bumi dan langit.” “Dan kamu Sulthan ini sikap bijaksana kamu sebagai seorang pria?” “Apa yang membuat kamu lebih memilih dia daripada dengan anak saya?” teriaknya dengan emosi. Salsa pun hanya diam ketika ada orang lain yang terlalu berani menghinanya tetapi dia bukan tipe wanita bar-bar yang akan membalas setiap hinaan yang dilontarkan oleh pria paruh baya itu. Sulthan hampir saja tidak bisa menahan emosinya saat Pak Seno melontarkan banyak perkataan yang tidak pantas. Tangan Sulthan di tahan dan memberi kode agar tidak melawan dengan orang yang lebih tua darinya. “Kamu itu sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan, kamu memanfaatkan amnesia Sulthan agar bisa menikah dengan seorang pewaris kolongmerat, dasar miskin,” hardiknya belum bisa menerima begitu saja. “Om memang benar, Salsa dan Delia memang sangat berbeda bahkan tidak bisa dibandingkan dan saya lebih menyukai Salsa karena dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk saya, bahkan dia duduk di kursi roda itu pun karena telah menyelamatkan saya,” bela Sulthan kini bersuara lantang. “Yayaya ... itu hanya alasan Sultan, dia sengaja melakukan itu agar kamu masuk di dalam perangkapnya dan kamu sudah masuk jebakannya kamu terlalu naif, itu hanya trik agar dia bisa menikah denganmu.” “Hei kamu segera tinggalkan Sulthan , kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Pratama sudah miskin pakai kursi roda pula, apakah kalian tidak malu mempunyai menantu seperti dia?” “Bisa apa dia, pasti hanya bisa menyusahkan kalian saja nanti.” “Sebelum kalian terlalu jauh kalian melangkah lebih baik sudahi saja pernikahan kalian, daripada kalian mendapat cemooh dari orang lain,” jelasnya panjang lebar. “Oh jadi menurut Om, wanita seperti Delia yang pantas untuk menjadi istri saya?” “Iyalah, Delia itu cantik, pintar dalam segala hal, kaya , berpendidikan, dan seorang model wajahnya selalu ada di majalah atau pun di media sosial lainnya,” bela Pak Seno bersemangat. “Oh ya, katakan satu hal Om, apakah dia setia menunggu saya atau dia menjalin hubungan dengan orang lain selama saya tidak ada, bukan begitu Delia?” panggil Sulthan tetapi Delia tidak menghiraukannya. Delia terdiam dan sedikit gelisah, raut wajahnya pun mendadak berubah seperti mayat hidup, pucat pasi. Pikirannya menerawang jauh takut semuanya akan terbongkar. “Delia ... Delia!” panggil Pak Seno berulang-ulang. “Tidak! Bukan aku yang melakukannya!” teriaknya spontan. “Delia apa maksudmu, kenapa kamu bertingkah aneh, ada apa?” tanya Pak Seno bingung dan penasaran. “Sayang, ada apa kenapa kamu tiba-tiba berteriak seperti itu?” tanya lembut Bu Siska. “Oh nggak apa-apa Ma, Pa, hanya masalah pekerjaan saja,” jawabnya. “Maaf permisi sebentar mau ke toilet,” lanjutnya lagi. Delia segera beranjak pergi menuju toilet yang ada di dapur. Bergegas masuk ke kamar mandi sambil menggerutu, lalu menyalakan keran air agar tidak terdengar kalau dia sedang meratapi nasibnya sekarang. Dia sangat takut sekali jika Sulthan akan mencari tahu siapa yang telah mencelakainya waktu itu dan sekarang dia sangat menyesal telah membantu Dirga dalam melakukan kejahatan, apalagi saat dia baru menyadari kalau sedang berbadan dua. Tidak mungkin baginya untuk bisa meminta pertanggung jawaban dari Dirga yang sudah mengambil kehormatannya, tetapi mereka melakukannya atas suka sama suka. Bahkan sebelum melakukan hubungan itu Dirga sudah mengatakan kalau dia tidak akan menikahi Delia hanya untuk anak yang di kandungnya. “Bagaimana ini aku tidak jadi menikah dengan Sulthan, apa yang harus aku lakukan?” “Dan di mana Om Dirga, susah sekali orang itu di hubungi? Aku tidak mau anak ini lahir tanpa ada status yang jelas, dan karierku bagaimana, semua akan sia-sia." “Tidak-tidak jika Mama dan Papa tahu kalau aku sedang mengandung anaknya Om Dirga aku pasti akan diusir atau mereka tidak akan menganggapku sebagai anaknya lagi,” batinnya berkata. “Aku harus mencari cara agar Sulthan mau menikah denganku.” “Ayuk pikir Delia ... pasti ada cara lain untuk bisa menjebak Sulthan dan bisa menikah denganku secepatnya, sebelum perutku semakin terlihat membuncit.” “Ah pikiranku sangat buntu sekarang, aku tidak bisa berpikir, tetapi jika aku tidak memberitahukan kepada Mama atau Papa masalahnya akan bertambah runyam,” gerutunya dengan gelisah. “Sayang ...Sayang? Apakah kamu tidak apa-apa di dalam sana? Kenapa lama sekali kamu di dalam kamar mandi?” “Tok! Tok!” Sayang, buka pintunya atau Mama dobrak saja nih, kamu tahu kan siapa Mama?” panggilnya dari luar. Buru-buru Delia membuka pintu kamar mandi itu takut langsung di seruduk oleh mamahnya. Bu Siska melihat wajah cantik putrinya secara saksama. “Kamu sepertinya habis menangis, katakan apa masalahmu, Mama yakin ini bukan masalah pekerjaan kamu kan?” selidik Bu Siska. “Nanti kita bahas di rumah Ma, Ayuk kita ke luar, Delia nggak apa-apa kok,” bujuk Delia tersenyum kecil. Pak Seno masih tetap pendiriannya ingin menikahkan Delia dengan Sulthan, tetapi pria tampan itu pun berisi keras untuk tidak menikah lagi, baginya sudah ada Salsa yang bisa mengurus dirinya daripada untuk menikah lagi untuk kedua kalinya. Malam itu Sulthan sudah memutuskan untuk tidak menikahi Delia. Wanita cantik itu sangat terhina karena orang yang dia mulai sukai ternyata tidak bisa menaklukkan hati seorang pria sedingin Sulthan. Mereka pun pulang dalam keadaan emosi, marah, tetapi mereka tetap membawa pulang bungkusan yang telah disiapkan oleh Mbok Minah. “Oh ya Bu Siska makanan yang di bungkusan oleh Mbok Minah tadi adalah hasil dari masakan menantu saya, Salsa,” ucap Kakek Baskoro dengan lantang. Mereka terdiam tetapi tetap membawanya tanpa ada rasa malu. Salsa tersenyum saat melihat Kakek Baskoro sedikit demi sedikit mulai menyukainya, tetapi sikap dingin yang diperlihatkan oleh Kakek Baskoro masih sama belum ada berubah. *** “Sayang, kamu istirahat saja, kamu pasti sudah lah seharian di dapur untuk memasak semuanya, kamu bukan pembantu, kamu majikan di sini,” ucap Sulthan dengan lembut saat Salsa merenggangkan ototnya dan berpindah di tempat tidur sebentar. “Mas, sampai kapan aku tidak memakai kursi roda ini capek banget rasanya, dan kakiku masih terasa sakit,” lirihnya. Sulthan lalu merebahkan tubuh istrinya dan segera memijat kedua kaki Salsa. “Apa yang kamu lakukan, Mas?” “Aku mau memijat kakimu, apa lagi?” “Nggak usah aku bisa sendiri kok.” “Kenapa aku tidak boleh, kamu menjadi seperti ini karena berusaha menolongku, dan sekarang aku yang harus bertanggung jawab untuk bisa menyembuhkan kamu, Sayang.” “Nggak apa-apa Mas, Salsa bisa sendiri, lebih baik istirahat saja, bukannya besok pagi Mas Sulthan sudah mulai masuk kantor?” Sulthan tidak memedulikan perkataan wanita yang sudah mengambil hatinya , dia lalu mengunci pintu kamar itu, Salsa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukan memijat kakinya tetapi memijat yang lain, apalagi tatapan Sulthan yang berubah seperti singa yang mengincar mangsanya, kalau sudah begini Salsa tidak mungkin menolaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN