Setelah kejadian tadi malam Delia masih saja tidak bisa tenang, hidupnya selalu di hantui rasa takut, cemas dan gelisah. Pekerjaannya pun tidak fokus sehingga harus mengambil beberapa menit untuk menghasilkan foto yang bagus.
Delia membuang napas dengan kasar, dia merasa sangat terhina atas penolakan Sulthan secara halus apalagi jika dibanding-bandingkan dengan Salsa wanita yang sudah mengisi hati Sulthan.
Ingin sekali melakukan sesuatu untuk Salsa agar menjauh dari kehidupan Sulthan, apalagi Kakek Baskoro kini mulai berpihak kepada Salsa bukan lagi kepadanya.
Sedangkan Dirga sudah tiga hari ini masih belum bisa dihubungi semakin membuat Delia emosi. Dia lalu melampiaskannya untuk pergi menghibur dirinya sendiri di sebuah klub malam, tanpa mengenal waktu.
“Delia, dari mana saja kamu? Kamu nggak sadar apa ini sudah jam berapa?” tanya Pak Seno saat menunggu Delia pulang dini hari dalam keadaan berantakan.
Bu Siska menghampiri Delia yang berjalan dengan sempoyongan, lalu mendudukkannya di sofa, mencium bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya putrinya.
Untung saja teman Delia mengantarkan pulang ke rumah sebab jika tidak dia akan menyetir mobilnya dalam keadaan seperti itu.
“Kamu habis minum, Sayang? Apa yang kamu lakukan? Jangan sepeti ini, Sayang?” tanya Bu Siska khawatir melihat kondisi putrinya.
“Kenapa, apa Delia nggak boleh bahagia? Bersenang-senang sebelum Delia menikah dengan Sulthan, iya kan Ma?”
“Mama jangan khawatir setelah hari ini Delia janji sama Mama tidak akan menyentuhnya lagi, hahaha,” tawa Delia menyeringai.
“Kamu sudah nggak waras, kamu itu tidak layak menjadi istrinya Sulthan, kamu itu sudah di buang oleh keluarga Pratama,” Pak Seno bersuara sedikit mengejek.
“Papa kenapa sih, tahu dari mana kalau Delia nggak menikah dengan Sulthan?” tanyanya bingung.
“Apa yang kamu katakan Sayang, kamu itu sudah di tolak oleh Sulthan, kamu itu nggak bakalan menjadi menantu keluarga Pratama, mereka sudah membuang kamu, sadar Sayang,” pinta Bu Siska.
“Aah, apa yang Mama katakan, Sulthan itu tetap menjadi milik Delia, jika Delia tidak bisa mendapatkan Sulthan berarti orang lain juga tidak boleh memiliknya, Delia akan melenyapkannya orang itu, baik Salsa wanita kampung itu atau di tua bangka yang sudah keriput itu!”
“Delia harus bisa menikah dengan Sulthan, Pa, Ma karena Delia harus dan itu harus terjadi, itu harus!” racau Delia semakin berteriak.
“Bagaimana ini Pa, cari jalan keluar dong?”
“Mama juga malu dengan teman-teman sosialita, Mama terlanjur memberi kabar kalau Delia akan menikah dengan pebisnis kaya raya yang sukses, tetapi apa yang kita dapatkan kita harus mencari cara agar Delia bisa menikah dengan Sulthan, Mama nggak mau tahu pokoknya,” ucap Bu Siska ikut merasakan kesediaan yang dialami oleh Delia.
“Papa juga ingin melihat Delia menikah dengan Sulthan, tetapi Mama dengar sendiri kan apa yang dikatakan oleh orang itu, apalagi Pak Baskoro ikut mendukung keputusan cucunya bukan kita,” sahut Pak Seno yang ikutan bingung dengan keadaan putrinya juga.
Bu Siska lalu ingin membawanya ke kamar, tetapi saat memegang keningnya terasa sangat panas dan tiba-tiba saja Delia tak sadarkan diri.
“Pa, badan Delia tiba-tiba panas, cepat bawa ke kamar, Pa,” pinta Bu Siska.
Mereka pun panik, Pak Seno lalu mengendong untuk sampai kamarnya. Bu Siska langsung menelepon dokter keluarga untuk datang memeriksa kondisi kesehatan Delia.
Setelah satu jam kemudian ...
Delia mulai merenggangkan otot-ototnya, lalu menggeliat seperti cacing, kedua matanya masih terasa berat untuk dibuka tetapi perlahan-lahan dia bisa membukanya. Samar-samar melihat kedua orang tuanya sedang menatap tajam ke arahnya membuat Delia ikut merasakan keanehan yang terpancar dari raut wajah mereka.
“Mama, Papa, kalian ada di sini?”
“Augh, sakit kepala Delia,” ucapnya sembari tangannya memegang kepalanya dan sedikit memijat.
“Siapa ayah bayi itu, Delia? Katakan sejujurnya sama kami, dengan siapa kamu berhubungan? Tidak mungkin dengan Sulthan karena dia baru saja ditemukan dan Papa yakin Sulthan tidak akan bertindak nekat untuk berhubungan lebih jauh sepeti ini,” tanya Pak Seno dengan tatapan nyalang
Seketika Delia terkejut dengan penuturan papanya sendiri. Delia berusaha duduk walaupun sakit kepalanya belum hilang juga. Kedua tangannya meremas selimut tebalnya, dia bingung untuk mengatakannya.
“Sayang, kamu nggak perlu takut, katakan siapa yang membuatmu sepeti ini? Saat kamu pingsan Mama memanggil dokter untuk memeriksa kamu, dan kata Dokter sepertinya kamu sedang hamil hampir dua minggu usianya, Mama ingin tahu apa itu benar? ” bujuk Bu Siska dengan lembut.
“Ma—maaf Pa, Ma, Delia memang salah tetapi nggak tahu juga kenapa Delia bisa seperti ini, Delia bosan dan mencari pelampiasan ke orang lain,” jawabnya menunduk.
“Ayolah Delia, kamu tahu kan kalau Papa tidak Suak dibohongi apalagi dengan putri papa sendiri, orang itu pasti punya nama kan?”
“Papa tahu bagaimana kamu dari kecil.”
“Cepat katakan siapa ayah dari anak yang kamu kandung?” tanyanya lagi dengan penuh penekanan.
“Ma-maaf Pa, Ma, sebenarnya dari dulu Delia sangat mencintai Dirga, Om nya Sulthan,” jawabnya pelan.
“Apa maksudmu Sayang, Dirga si duda itu, kenapa sama dia kamu berani berhubungan dengan orang nggak waras itu?”
“Dirga itu sangat berbahaya kamu dengan mudahnya masuk di dalam jebakannya, dan Mama tebak lagu dia belum tahu kalau kamu hamil dan dia pasti sudah dari dulu mengatakan kalau dia tidak ingin terikat dengan wanita siapa pun, dan kalian melakukannya atas dasar suka sama suka, dan dia pasti tidak mau bertanggung jawab, apakah itu benar Delia?”
“Apa yang Mama katakan memang seperti itu kan?” tanya ulang Bu Siska memastikan.
“Jawab Delia, jangan diam saja,” bentak Bu Siska sedikit keras.
Namun, Pak Seno masih terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu di dalam hatinya. Menatap tajam ke arah Delia sehingga membuatnya tidak berani menatap wajah Pak Seno.
Pak Seno kembali duduk di tepi ranjang dan masih terdiam sejenak. Selang lima menit berlalu wajah yang tadi terlihat ingin mengamuk , amarah, emosi tiba-tiba saja sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.
“Kamu memang anak Papa yang paling pintar, tidak apa-apa Sayang. Kesalahan kamu ini adalah jalan keluar untuk kita bisa masuk di keluarga Pratama.”
“Pa, si Dirga itu dia hanya memanfaatkan Dekua, dia tidak mungkin mau menikah dengan putri kita, walaupun dia tahu kalau Delia hamil pasti dia lepas tangan, Papa tahu sendiri bagaimana dengan di Dirga itu, memang sih dia itu lebih dewasa dari Sulthan, Mama saja kadang kesemsem kalau melihat Dirga itu, hehehe.”
Pak Seno kembali terdiam kini tatapannya mengarah ke istrinya yang lebih memuji penampilan fisik seorang Dirga. Walaupun Dirga bergelar paman dari Sulthan tetapi mereka bisa dikatakan seperti adik kakak hanya terpaut sepuluh tahun lebih tua Dirga tetapi penampilannya masih seperti pria kaya yang bertubuh kekar, wajahnya pun menjadi daya tarik setiap wanita yang ingin sekali menjadi pasangannya meskipun hanya sebagai penghangat di malam hari.
“A-apa yang Papa pikirkan?” tanya Delia menatap papanya yang sedari tadi berpikir keras tanpa bersuara.
“Dengar Delia, dengan kehamilan kamu kita akan membuat Sulthan akan bertanggung jawab sepenuhnya, Papa akan mengatur semua tenang saja yang penting kamu tinggal memainkan sedikit peran kamu untuk bisa membuat Sulthan percaya kalau anak yang dikandung kamu itu memang betul-betul anaknya,” jawab Pak Seno bersemangat.
“Bagaimana caranya Pa?”
“Sulthan tidak bisa di bujuk atau pun di raya sedikit pun, sudah ada Salsa dan dia adalah penghalang Delia,” rutuknya kesal .
“Kalau tentang wanita kampung itu sangat mudah, kita bisa singkirkan dia perlahan-lahan yang penting kamu sudah bisa menikah dan menjadi istri sah dari Sulthan, Sayang.”
“Papa sudah ada rencana dan kamu harus mau melakukan sedikit pengorbanan agar aktingmu terlihat nyata, ini juga untuk kebaikan kamu dan kita, perusahaan Papa hampir bangkrut utang Papa di bank semakin besar,” jelasnya.
“Loh Pa, bukannya setiap bulan Delia kasih uang untuk membayar cicilan hutang Papa di bank?” tanya Delia bingung.