Seorang pria muda dengan wajah yang tidak jauh berbeda dengan suaminya, berdiri tegap dengan hanya memakai kaos berwarna putih dan celana pendek.
Tentu saja terlihat sangat jelas tubuh tinggi dan kekar sedang menghampiri Salsa dengan mata melotot ke arahnya.
Pria itu sudah mendekat di hadapan Salsa dengan sedikit membungkuk ke arahnya, seketika pria tampan itu pun terhipnotis dengan wajah cantik Salsa apalagi dengan bola mata yang besar berwarna hitam itu telah membuatnya tersenyum kecil.
Dia lalu meniup ke arah wajah Salsa, membuatnya terkejut dari lamunannya.
“Apakah harus mengulangi perkataan saya?”
“Apa yang kamu lakukan di sini, siapa kamu?” tanyanya lagi.
“Mas ... minta tolong jangan dekat-dekat, geser ke sana ,”pintanya membuat pria itu sedikit kesal.
“Apa yang kamu lakukan? Dan kenapa kamu malah menyuruh saya seperti itu, apakah kamu seorang pencuri?”
“Maaf, apa yang Anda katakan tadi? Memang ada pencuri memakai kursi roda?” protesnya dengan sedikit cemberut.
“Terus ngapain kamu di sini?” tanyanya lagi.
“Dia istrinya kampungnya Sulthan,” sahut Kakak Baskoro keluar dari kamarnya saat mendengar ada suara yang bertengkar.
Kakek Baskoro menghampiri mereka, tampak Salsa malah menundukkan kepalanya karena takut melihat wajah sangar dan tegas itu.
“Apa Mas Sulthan rupanya dia sudah kembali, Kamar temukan di mana dia?” tanyanya sedikit tak suka dengan kakaknya.
“Shandy begitu cara kamu nggak sopan banget.”
“Apa kamu tidak suka kakakmu sudah kembali dan dia dalam keadaan sehat?” tanya Baskoro sedikit kesal.
“Huh ... Iya ...ya ...urus saja Mas Sulthan karena dia ada adalah cucu kesayangan Kakek, bukan aku kan?” protes lagi dan meninggalkan mereka berdua tanpa menghiraukan mereka berdua lagi.
“Shandy kamu mau ke mana?” teriak Kakek Baskoro dengan cucu keras kepalanya itu.
“Itu bukan urusan Kakek, yang penting Shandy tidak berbuat onar seperti Mas Sulthan cucu kesayangan Kakek itu,” teriaknya sepanjang jalan tanpa melihat wajah kakeknya.
Dia langsung masuk ke kamar luasnya dan berganti pakaian. Senyuman manis Shandy tiba-tiba saja merekah membayangkan wajah wanita itu yang sudah menjadi milik kakaknya.
Setelah berpakaian dia pun membuka laci dan mengambil semua kertas-kertas itu. Memperhatikan semua sketsa wajah yang tergambar di kertas itu.
“Apa, wajahnya sangat mirip dengan wanita itu?”
“Apakah ini semua hanya kebetulan?” tanyanya dalam hati dan tersenyum sembari memperhatikan wajah itu yang sudah mengusik hatinya.
“Aku menemukannya ya ... aku menemukannya!” teriaknya bahagia.
Shandy kembali menyimpan kembali kertas-kertas itu yang dihamburkan ya tadi, semua keras yang dia lukis adalah gambar wanita khayalan pikirannya yang kini menjadi kenyataan ada di depan matanya.
Tak sabar Ingin memberitahukan sahabatnya dia lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas ranjang. Buru-buru Shandy menekan nomor milik sahabatnya itu. Dengan wajah semringah, degup jantung yang sudah tidak beraturan dan senyuman manis itu yang melihatkan lesung pipinya kembali muncul setelah sekian lama senyuman khas Shandy tidak terlihat semenjak kematian kedua orang tuanya karena kecelakaan dua tahun yang lalu ditambah saat kematian kekasihnya karena sakit kanker yang merenggut nyawanya setahun yang lalu.
Kini hatinya mulai ada rasa untuk bisa menyukainya, wanita itu sudah menghipnotisnya membuatnya tidak bisa melepaskan wajah itu pada saat dia melotot ke arah Shandy, kedua mata bulat yang besar merupakan daya tarik bagi Shandy, dia tidak peduli kalau wanita yang di sukainya adalah istri kakaknya sendiri.
“Ah s*** ke mana anak itu, dihubungi malah nggak bisa, atau lebih baik aku ke kampus saja lah,” ucapnya dengan semangat.
Setelah di rasa penampilannya sudah oke, dia langsung beranjak keluar dari kamar dan masih ada wanita itu.
“Mau ke mana kamu?”
“Ke kampus,” jawabnya singkat.
“Masih sadar juga akhirnya kamu Shandy?”
“Apa maksud Kakek?”
“Ya setidaknya kami masih mau pergi ke kampus dan mulai besok Kakek akan mencarikan guru pembimbing kamu, supaya pikiran kamu terbuka.”
“Kamu dan Shandy akan bertanggung jawab dengan perusahaan kakek, jadi kamu harus banyak belajar, jangan hanya tahunya hanya melukis yang tidak ada faedahnya,” rutuk Kakek Baskoro berhasil menghentikan langkah Shandy sesaat
Shandy terdiam dan menoleh ke arah kakeknya yang terlihat ketus. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal tetapi saat melihat wajah Salsa dia kembali bisa mengontrol amarahnya dan pergi begitu saja dan menghilang dari hadapan mereka.
Ada guratan kecil sebuah kekecewaan terlihat dari wajah pria tua itu. Salsa ingin mengetahui tentang keluarga suaminya yang terlihat tidak harmonis, mulutnya ingin sekali mengatakan sesuatu tetap tidak bisa terucap.
Kakek Baskoro bisa melihat keraguan di dalam wajah Salsa, mendiamkan sebentar tetapi wajah cantiknya kembali menunduk, tangannya mulai gemetaran.
Kakek Baskoro tersenyum kecil saat melihat tingkah laku Salsa yang memang polos tidak sama dengan Delia gadis kota yang berwawasan luas pikirnya dan berpendidikan tinggi.
“Katakan apa yang ingin kamu mau kataka, saya sudah menunggu lama untuk kamu mau berbicara,” suara bariton itu membuatnya sedikit terkejut.
“Maaf Kakek, Salsa hanya bingung mau mulai dari mana?”
“Maaf Kek, apakah Kakek sedang mencari guru pembimbing buat Mas yang tadi?” tanyanya dengan hati-hati.
“Kalau iya kenapa apakah kamu mau menjadi gurunya? Bisa apa kamu Salsa kamu hanya gadis kampung yang tidak berpendidikan, iya kan?” cerca Kakek Baskoro sedikit menghina Salsa tetapi wajahnya malah tersenyum kecil.
“Salsa bisa membantu Mas yang tadi, tidak perlu sekolah tinggi jika kita tahu letak kesalahannya cukup memahami, mendengarkan, merasakan apa yang membuatnya menjadi seperti itu.”
“Tidak asap kalau tidak ada api, begitu juga dengan Mas yang tadi mungkin ada sesuatu yang membuatnya jengah dalam hidupnya sehingga dia berbuat seperti itu untuk memancing keributan agar mereka menjadi perhatian, maaf Kek itu menurut pemikiran Salsa.”
Salsa mengatakannya dengan penuh percaya diri, tanpa takut melihat wajah Kakek Baskoro yang sedari tadi memperhatikan Salsa bicara.
“Kenapa kamu merasa yakin kalau dia ada masalah?” tanyanya lagi mulai penasaran.
“Maaf Kek, apakah Kakek pernah berbicara dari hati ke hati tentang masalahnya, seperti apa kesuakaannya atau yang tidak dia sukai, atau sekedar basa-basi menanyakan tentang kehidupannya, apakah kamu sudah makan atau belum, bagaimana dengan kampusmu, apa hobimu?”
“Mungkin perhatian kecil dari Kakek sudah membuat dia senang, maaf Kek ini hanya pendapat Salsa saja,” ucapnya pelan dan kembali menunduk.
Kakek Baskoro menatap Salsa dari bawah sampai atas, penampilannya sungguh sederhana tetapi penyampaiannya seperti orang terpelajar.
“Apakah Satria sudah berhasil menemukan penjelasan tentang gadis ini, aku rasa dia bukan warga kampung biasa, dia sangat terpelajar dan apakah dia cocok mendampingi Sulthan cucuku daripada Delia?”
“Di mana Satria, mengapa dia juga belum datang dan memberi informasi yang aku ingin kan?”
“Bagaimana cara mengujinya? Atau aku coba saja untuk membuat anak manja itu mengubah tingkah lakunya yang masih seperti bocah ingusan itu,” ucapnya dalam hati.
“Salsa, sepertinya saya ingin mencoba untuk kamu bisa mengubah anak manja itu menjadi anak yang bertanggung jawab di usianya, apakah kamu sanggup, Salsa?” tanya Kakek Baskoro menatap tajam ke arahnya.
“Dia mana mungkin bisa Kakek, wanita kampung seperti dia hanya bisa menjadi pembantu rumah tangga, iya kan Salsa?” Tiba-tiba saja suara cempreng itu terdengar dari mulut Delia yang menatapnya dengan tersenyum sinis.