“Delia ...halo ...hei apa yang kamu pikirkan, kenapa melamun begitu?” tanya Kakek Baskoro melihat Delia yang sedang memperhatikan kedua insan itu pergi ke kamar mereka.
“Bu—bukan begitu Kakek, tetapi serius itu benaran Sulthan dan kenapa dia tidak mengenal aku dan malah membawa wanita lumpuh itu?” tanyanya penuh selidik.
“Satria menemukan Sulthan dan wanita itu di pinggir sungai saat mereka melihat kondisi lahan yang akan di bangun dengan hotel, ternyata itu tempat tidak strategis ada aliran sungai di sana, dan Kakek sudah membatalkan proyek di sana.”
“Mungkin dia terbawa arus sampai ke tempat Satria, entah siapa yang sudah melakukan itu semua, Kakek sudah menyuruh orang mencari siapa yang sudah membuat cucuku seperti ini,” jelas Kakek Baskoro sedikit menatap tajam kearahnya.
“Kenapa harus di batalkan Kek, tempat itu sangat bagus dan jika mereka jual tanahnya kepada kita dengan harga murah pasti mereka mau,” jelas Delia meyakinkan.
“Tahu apa kamu tentang bisnis Delia, tidak usah menggurui saya jika mengenai masalah itu, anak bau kencur sok menasihati saya,” rutuknya sedikit kesal.
“Bukan begitu Kek, tetapi Papa sangat menyukai tempat itu dan beliau ingin membuka sebuah hotel di sana,” sahut ya yang tak mau kalah.
“Saya lebih suka lahan itu untuk dibuat yang bermanfaat untuk warga tanpa mengambil sejengkal tanah dari mereka, saya tidak mau membuat warga di sana kehilangan lahannya gara-gara kita membuat hotel.”
“Sudahlah Delia kamu tidak paham dengan soalnya ini nanti biar Sulthan yang akan mengurusnya.”
“Apa Sulthan, yang benar saja, dia saja masih kehilangan ingatan bagaimana dia bisa mengurus semuanya, Kek?” sindir Delia meremehkan.
“Dia punya otak untuk berpikir Delia, jadi walaupun dia hilang ingatan bukan berarti dia tidak bisa berpikir mana yang baik dan buruknya,” jelas Kakek Baskoro menatap tajam ke arahnya.
“Lagi-lagi Satria kenapa sih orang itu tidak bisa duduk manis saja, seharusnya dia yang dilenyapkan terlebih dahulu bukan Sulthan.”
“Kalau begini kacau semuanya, sekarang harus mulai awalnya lagi, sialan banget,” gerutunya dalam hati.
“Ke—kenapa Kakek melihat Delia seperti itu?” tanyanya sedikit gugup.
“Tidak ada tetapi hanya penasaran kenapa kamu tidak begitu khawatir dengan hilangnya Sulthan dan kamu lebih memprioritaskan pekerjaan kamu itu!”
“Dan kenapa kamu sangat ingin sekali membangun hotel di sana, apakah ada maksud yang lainnya?” selidik Kakek Baskoro.
“Ti—tidak ada Kek, Delia hanya ingin membantu Papa saja tidak ada maksud lain,” jawabnya tanpa melihat wajah pria tua itu.
“Lantas kenapa kamu tidak pernah berusaha mencari Sulthan?” tanyanya lagi.
“Maaf Kek, saat itu bertepatan dengan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, Kakek kan tahu kalau Delia baru merintis menjadi model dan ada kesempatan yang begitu menggiurkan kenapa tidak diambil, dan polisi juga tidak berhenti mencari keberadaan Sulthan waktu itu, iya kan?”
“Iya kamu benar dan itu adalah hak kamu, tetapi sepertinya saya tidak bisa meneruskan perjodohan ini, karena cucu saya sudah menikah,” sahutnya dengan enteng.
“Jadi Kakek menyuruh Delia datang ke sini hanya untuk melihat ini semua?”
“Kek, tidak bisa seperti itu, bagaimana dengan Mama dan Papa Delia, mereka mempunyai harapan penuh untuk bisa menikahkan putrinya kepada keluarga ini, dan mau di taruh di mana muka kami?” sanggah Delia.
“Delia kenapa kamu selalu keras kepala, itu risiko kamu, kenapa lebih memilih kariermu daripada cucu saya?” hardiknya.
“Maaf Kek tetapi sekarang media sudah tahu kalau Sulthan sudah kembali dan pernikahan itu tidak bisa di batalkan secara sepihak.”
“Kakek kan tahu Papa mempunyai penyakit jantung dan jika dia tahu rencana pernikahan ini batal bagaimana, apa yang kalian lakukan?” tanya Delia memelas.
“Suruh orang tuamu datang nanti malam, kita akan bahas masalah ini dan kakek mau kamu tenang dulu, semua pasti ada jalan keluarnya,” sahutnya lagi.
“Ada Kek jalan yang paling gampang yaitu suruh wanita itu pergi dari sini dan tinggalkan kan Sulthan, apa Kakek mau mempunyai menantu miskin dan lumpuh seperti dia, apa tanggapan orang luar, Kek?”
“Pasti hanya ada cibiran dan caci maki dari orang-orang, dia itu nggak selevel dengan kita dan Kakek harus membuat Sulthan mengerti kalau itu untuk nama baik keluarga,” jelasnya dengan mantap.
Kakek Baskoro hanya diam sesaat tanpa melihat arah Delia dan pergi meninggalkannya.
“Jika kamu ingin pulang sekarang silakan, Kakek mau istirahat dulu,” ucapnya dan pergi berlalu begitu saja.
Delia yang merasa terabaikan membuatnya kesal. Wajahnya memerah, dia menahan amarahnya.
“Dasar bandot tua, seharusnya aku tidak membiarkan pria tua itu hidup, Mas Dirga kita salah sasaran,” batinnya berkata.
“Aku tidak bisa tinggal diam seperti ini apa yang harus aku lakukan, sedangkan Mas Dirga saat ini masih di luar negeri dan ponselnya pun jarang aktif.”
“Aku harus melihat Sulthan peduli amat dengan wanita itu, biar aku buat dia sampai marah saat tahu kelakuan Sulthan sebelum hilang ingatan,” rutuknya kesal.
Tanpa merasa malu Delia menghampiri kamar Sulthan yang sengaja ada di bawah untuk memudahkan Salsa bisa keluar kamar tanpa menggunakan tangga.
“Kamu harus kembali ke aku Sulthan, tidak peduli memakai cara apa pun dan wanita lumpuh itu harus keluar dari rumah ini secepatnya,” ucapnya tersenyum licik sembari melangkah ke arah kamar Sulthan.
“Halo Sulthan!” Delia membuka pintu kamar dan masuk tanpa permisi.
“Kenapa kamu lancang sekali masuk tanpa permisi?” hardiknya kesal sambil menatap Delia dengan tajam.
“Sayang, ada apa denganmu? Aku seperti biasa datang ke kamarmu apalagi kalau kamu sedang tidur, kamu ingat? Aku akan membangunkanmu dengan kecupan mesraku, apakah kamu melupakan semua itu, Sayang?” tanya Delia sembari melirik sekilas kearah wanita itu sehingga terlihat wajahnya sedikit ada rasa kesal.
“Dan kamu, tuh di panggil sama Kakek dia sedang ada ruang tengah,” ucapnya berbohong.
“Sekarang, Mbak?”
“Nggak tahun depan.”
“Apakah aku harus mengulang pertanyaanku lagi, kamu nggak b**** kan?” tanyanya kembali menatap sinis ke arahnya.
“Biar aku temani,” sanggah Sultan ingin mendorong kursi roda Salsa.
“Sayang, Kakek hanya mau bertemu dengan wanita lumpuh ini bukan sama kamu, apakah kamu tidak mempercayai kakek kamu sendiri?”
“Apakah kamu takut Kakek akan mengatakan hal-hal yang membuat wanita ini tersinggung?” tanyanya sembari mendekat ke arah Sulthan.
“Mas, nggak apa-apa kok, aku bisa sendiri,” sanggah Salsa memaksa tersenyum.
“Ya sudah, tetapi kalau ada masa lah segera beritahu Mas, ya Sayang, ingat jangan ada yang di tutup-tutupi, Mas nggak suka, oke?” Sulthan memegang kedua pipi Salsa lalu mengecup keningnya.
Salsa tersenyum dan menjalankan kursi rodanya sendiri, meninggalkan mereka berdua.
“Aku harus percaya Mas Sulthan tidak melakukan hal apa pun, aku tahu dia tidak akan menyakiti aku, tetapi bagaimana jika dia sudah sembuh, apakah dia masih ingat aku sebagai istrinya atau malah membenciku karena menganggap aku telah memanfaatkan amnesianya?”
“Apakah dia akan kembali dengan tunangannya lagi?”
“Aku harap tidak Mas, Aku tulus sayang dan mencintaimu tanpa tahu siapa dirimu,” batinnya berkata.
Namun, di saat telah sampai di ruang keluarga yang cukup besar itu dia tidak menemukan Kakek Baskoro .
“Di mana Kakek Baskoro, atau apakah ini hanya permintaan Mbak Delia untuk pergi keluar dari kamar itu?” Salsa menghela napas panjang mungkin dia sudah tertipu oleh omongan Delia barusan.
Dia pun segera ingin memutar kursi rodanya untuk kembali ke kamar, tetapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya pria itu dengan wajah sangarnya.