Lintang memutuskan untuk mengambil jalur pintas lewat gang belakang kompleks. Alih-alih ke supermarket yang adem tapi jauh, ia lebih memilih warung kelontong milik Mak Tun yang letaknya terselip di antara deretan rumah warga kampung belakang.
Baru saja kakinya melangkah masuk ke gang sempit itu, pemandangan khas sore hari langsung menyambutnya. Di atas lincak bambu bawah pohon mangga, tiga orang ibu-ibu sedang asyik "petan"—mencari kutu sambil membedah gosip terbaru di lingkungan mereka.
"Mari, Bu..." Lintang mengangguk sopan, berusaha tetap ramah meski dasternya sudah mulai lengket karena keringat.
"Eh, Mbak Lintang. Panas-panas begini kok jalan kaki, Mbak? Biasanya kan naik motor kuningnya itu," sapa Bu RT yang sedang memijat pundak tetangganya.
"Nggih, Bu. Lagi pengen jalan aja, cari keringat," jawab Lintang seadanya.
"Halah, cari keringat apa cari perhatian, Mbak? Itu loh, rumah sebelah jenengan kan ada penghuni baru. Katanya bule ya?" celetuk Bu Ida, salah satu warga yang terkenal paling "update" urusan dapur orang. "Ganteng jarene, tapi kok kaku kayak kanebo kering."
Lintang tersenyum tipis, dalam hati mengumpat. Baru pindah, saja beritanya sudah sampai gang belakang. Emang mereka tau mukanya?
"Kurang tahu saya, Bu. Belum sempat kenalan."
"Loh, masa belum kenal? Wong pagarnya nempel gitu kok," sahut Bu Ida lagi dengan nada sedikit julit.
Matanya memperhatikan penampilan Lintang dari atas sampai bawah, dari daster bunga matahari yang sedikit kusut sampai sandal jepitnya.
"Mbak Lintang ini juga, lho. Sudah lulus kuliah kok penampilannya kucel begini. Eman lho, Mbak. Anak dosen sama pengusaha kok malah nggantung ijazah di rumah," lanjut Bu Ida sambil tangannya lincah mencabuti kutu di rambut tetangganya. "Apa ndak pengen cari kerja di kantoran gitu? Eman titelnya kalau cuma buat momong adiknya sama nungguin rumah. Nganggur itu ndak enak, Mbak."
Lintang menarik napas panjang, berusaha menekan egonya dalam-dalam. Sabar, Lintang. Sabar. Kalau kamu bilang gaji sebulanmu bisa buat beli mulutnya Bu Ida, nanti malah dikira sombong.
Lintang hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan—tipe senyum yang sering ia berikan pada pembaca yang protes karena bab novelnya terlalu sedih atau akhir cerita yang membuat penasaran.
"Iya, Bu. Masih menikmati waktu di rumah dulu," jawab Lintang singkat.
"Halah, kelamaan menikmati nanti malah ndak laku, lho," timpal Bu Ida lagi, makin melunjak.
Ya Allah, Ya Rabbi boleh ndak sih, narik mulutnya emak-emak satu ini? Durhaka tidak? Ndak lucu nanti kalau sampai masuk berita.
"Apa ndak kepikiran nikah aja? Sepertinya sudah waktunya. Itu lho, anak saya yang kerja di bank kemarin tanya-tanya soal Mbak Lintang. Daripada nganggur ndak jelas juntrungannya, mending ada yang nafkahi, toh?"
Lintang merasa telinganya mulai panas. Di matanya, daster dan hobi diam di rumah bukan berarti dia tidak produktif. Tapi bagi ibu-ibu ini, kalau tidak pakai seragam dan berangkat pagi pulang sore, ya namanya "pengangguran kurang kerjaan".
"Walah Bu Ida, lha wong cuma mau ke warung kok ya disuruh dandan kayak mau ke kondangan. Soal jodoh itu ya wis ada yang ngatur!" bela Mak Tun yang sedari tadi menunggu di balik etalase warungnya, seolah paham wajah Lintang sudah berubah jadi kepiting rebus. "Sini, Mbak Lintang. Mau beli apa?"
"Tepung terigu satu kilo sama tepung beras satu bungkus ya, Mak," ucap Lintang cepat, ingin segera keluar dari zona gosip yang lebih panas dari suhu Surabaya siang ini.
Sambil menunggu Mak Tun menimbang tepung ke dalam plastik, Lintang terpaksa mendengarkan bisikan-bisikan di belakangnya yang sengaja dikeraskan.
"Iya lho, padahal bapak ibunya orang terpandang. Kok anaknya malah betah di rumah terus. Apa ndak bisa cari kerja ya sekarang? Jarene lulusan kampus ternama, kok malah jadi penjaga rumah," bisik Bu Ida ke telinga Bu RT, tapi matanya melirik ke arah punggung Lintang.
"Mungkin nunggu dilamar bule sebelah itu, Bu," sahut suara lain dibarengi tawa cekikikan yang membuat Lintang makin gemas.
"Ini Mbak, semuanya jadi delapan belas ribu," ucap Mak Tun menyerahkan kresek plastik putih.
"Ini uangnya, Mak. Matur nuwun nggih," Lintang menyerahkan uang pas dengan gerakan cepat. Ia tidak menoleh lagi ke arah lincak bambu itu, ia hanya ingin segera sampai ke rumah, mengunci diri di kamar, dan melanjutkan naskah novelnya.
Lintang melangkah keluar dari warung Mak Tun dengan langkah sedikit lebih cepat dari saat ia datang. Kresek putih berisi tepung itu bergoyang-goyang di tangannya, seirama dengan gerutuan yang tak henti keluar dari bibirnya.
“Pengangguran… nggak laku… disuruh nikah…” gumamnya pelan, tapi cukup tajam untuk melampiaskan kesal. “Ya ampun, Bu Ida itu kalau ngomong bisa nggak sih disaring dulu pakai hati, bukan pakai toa masjid.”
Ia menyusuri gang sempit itu lagi, kali ini dengan alis mengerut dan bibir mecucu. Sandal jepitnya menepak-nepak tanah dengan ritme kesal.
“Emang kenapa kalau kerja dari rumah? Emang kenapa kalau pakai daster? Daster juga ada estetikanya, Bu. Nggak semua orang harus pakai blazer sama heels biar kelihatan ‘jadi orang’.”
Langkahnya semakin cepat ketika suara tawa ibu-ibu tadi masih samar terdengar di belakang. Lintang mendengus.
“Penjaga rumah katanya… ya ampun, Bu. Ini penjaga rumah bisa bayar listrik satu komplek juga kalau lagi rajin upload bab.”
Ia berhenti sejenak di tikungan gang, menghela napas panjang. Kepalanya mendongak sedikit, menatap langit yang mulai berwarna jingga.
“Tenang, Lintang… sabar… kamu masih muda, jangan gara-gara omongan tetangga kamu jadi tua. Rugi dong nanti.” ia bergumam, lalu langsung menggeleng sendiri.
Dan entah kenapa, bayangan wajah seseorang yang ia temui secara tak menyenangkan di sekolah Linggar tadi menyapa ingatannya.
Lintang langsung mendecak.
“Ih, kenapa jadi keinget dia sih? Gara-gara Bu Ida juga, pake bawa-bawa bule segala. Kayaknya trust issue deh sama yang namanya bule sekarang." Ia kembali berjalan, kini sudah keluar dari gang dan memasuki area kompleks rumahnya yang lebih sepi. Namun bukannya mereda, ocehannya justru makin menjadi.
Lintang baru saja menginjakkan kaki di jalan kompleks yang lebih lebar ketika suara klakson pendek memecah lamunannya.
“Tin!”
Ia refleks menoleh.
Sebuah mobil hitam legam berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela perlahan turun, memperlihatkan wajah yang langsung membuat ekspresi Lintang melunak—meski hanya sedikit.
“Dari mana, Mbak?” suara hangat itu menyapa. “Masuk aja, bareng Ayah.”
Lintang mengembuskan napas pelan, lalu membuka pintu mobil tanpa banyak pikir. Kresek di tangannya ia bawa masuk, lalu duduk di kursi penumpang depan.
“Dari beli tepung, Yah. Disuruh Ibun,” jawabnya singkat.
Mobil kembali melaju pelan.
Pria di balik kemudi itu—Bramasta Aryadinata—melirik sekilas ke arah putrinya. Tatapannya tajam, tapi penuh kelembutan yang hanya muncul kalau berhadapan dengan satu-satunya anak perempuannya.
Tangannya yang besar terangkat, mengusap pucuk kepala Lintang dengan sayang. Gerakan sederhana itu… cukup untuk membuat pertahanan Lintang yang dari tadi ia bangun perlahan retak.
“Kenapa toh, Mbak?” tanya Bram pelan. “Kok mukanya kayak abis dimarahin satu RT?”
Lintang mendengus kecil, tapi tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap lurus ke depan.
“Emang keliatan banget ya, Yah?” gumamnya akhirnya.
“Banget,” sahut Bram tanpa ragu. “Ayah ini dosen, Mbak. Biasa baca ekspresi mahasiswa yang lagi bohong, lagi stres, atau lagi patah hati. Apalagi ini anak Ayah.”
Lintang menoleh cepat. “Aku nggak patah hati!”
Bram terkekeh pelan. “Ayah belum bilang kamu patah hati.”
“Ya… pokoknya bukan itu,” Lintang mengalihkan wajah lagi, sedikit kesal karena Ayah yang seakan malah menggodanya.
Beberapa detik hening. Mesin mobil berdengung halus, sementara angin dari AC meniup pelan rambut Lintang yang sedikit berantakan.
“Ada yang ngomong nggak enak?” tanya Bram lagi, kali ini lebih serius.
Lintang terdiam. Lalu, seperti keran yang akhirnya dibuka, ia menghela napas panjang.
“Biasa lah, Yah… ibu-ibu gang belakang,” gumamnya. “Katanya aku nganggur, nggak jelas, cuma nunggu dilamar orang… terus disuruh nikah sama anaknya Bu Ida yang kerja di bank itu.”
Bram mengernyit. “Terus?” tanyanya.
Lintang mengangkat bahu, tapi matanya mulai berkaca-kaca meski ia berusaha menahannya.
“Ya… kesel aja,” lanjutnya pelan. “Aku tuh kerja, Yah. Cuma nggak kelihatan aja sama mereka. Apa harus pakai seragam terus berangkat pagi biar dianggap ‘jadi orang’?”
Nada suaranya naik sedikit di akhir, campuran antara kesal dan… lelah.
Bram tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar setir dengan tenang, lalu memperlambat laju mobil ketika mendekati rumah mereka.
“Lintang,” panggilnya pelan.
“Dalem Ayah?”
“Ayah bangga sama kamu.”
Satu kalimat itu jatuh begitu saja—tanpa drama, tanpa penekanan berlebihan. Tapi cukup untuk membuat d**a Lintang menghangat sekaligus menyesakkan.
“Orang lain boleh nggak lihat usaha kamu,” lanjut Bram, “tapi Ayah sama Ibun lihat. Dari kamu begadang nulis, revisi berkali-kali, sampai kesel sendiri gara-gara komentar pembaca.”
Lintang menunduk, menggigit bibirnya.
“Kerja itu bukan soal kelihatan sibuk atau nggak,” tambah Bram. “Tapi soal tanggung jawab dan hasil. Dan Mbak punya itu.”
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Namun tidak ada yang langsung turun.
“Kalau soal nikah…” Bram melirik sekilas, ada senyum tipis di wajahnya. “Ayah sih santai. Tapi kalau ada yang berani bikin anak Ayah nggak nyaman, kasih tahu. Biar Ayah yang urus.”
"Ayah... " Lintang merasa hatinya penuh dengan penjelasan dari cinta pertamanya ini.
"Sudah sana, tepungnya nanti dicari Ibun."