1
Matahari pukul sebelas siang di pusat kota Surabaya sedang semangat-semangatnya memamerkan kekuatan. Lintang Ayu Aryadinata menyeka keringat yang membasahi pelipisnya dengan punggung tangannya. Sudah lima belas menit ia berdiri di depan gerbang SD Negeri 02 Surabaya, menunggu "si anak ajaib" yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Linggar, adik bungsunya, adalah alasan kenapa Lintang yang biasanya masih bergelung di bawah selimut demi mengejar tenggat naskah, kini harus berdiri di antara kerumunan ibu-ibu penjemput yang heboh membicarakan harga cabai. Jarak usia lima belas tahun membuat Lintang lebih sering dikira ibu muda daripada kakak perempuan.
Perutnya keroncongan. Aroma gurih dari rombong perak di pinggir jalan mendadak terasa seperti magnet. Tanpa pikir panjang, ia melangkah mendekat.
"Mas, beli pentol uratnya 5, nggak pakek kuah ya," ucap Lintang sambil merogoh saku celana jinsnya.
Mas penjual bakso itu mendongak, tangannya cekatan membuka tutup dandang yang mengepulkan uap panas. "Oh, mau dibuat kayak cilok mbak?"
"Iya mas, nanti saos, sambal, sama kecapnya biar saya saja."
"Nggeh mbak. Monggo," Mas itu mengangguk ramah, mulai menusuk pentol-pentol gendut itu satu per satu dan memasukkannya ke dalam plastik transparan. "Lagi nunggu siapa mbak? Anaknya?"
Lintang yang tadinya sedang fokus memandangi pentol, langsung melotot. "Ngawur aja! Emang saya kelihatan kek ibu-ibu kah, Mas?"
Mas penjual itu terkekeh canggung, hampir saja menjatuhkan garpu panjangnya. "Mboten mbak. Mbaknya cantik kok. Masih muda, cuma ya... biasanya jam segini memang jadwalnya ibu-ibu yang jemput."
"Heleh, saya lagi nunggu adik saya, Mas. Masih kelas satu," gerutu Lintang, meski hatinya sedikit terobati dengan pujian 'cantik' tadi.
"Oalah. Iya mbak. Monggo, sampean ambil sendiri saos sambalnya." Mas itu menyerahkan plastik berisi pentol panas ke arah Lintang.
Lintang segera beraksi. Dengan gerakan bar-bar, ia memencet botol saus sambal berkali-kali, seolah ingin menenggelamkan pentol urat itu dalam lautan merah yang membara. Tak lupa, ia mengucurkan kecap manis hingga aromanya bercampur gurih-pedas yang menggoda selera.
Setelah puas meracik, Lintang merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.
"Ini, Mas," ucapnya sembari mengulurkan uang tersebut.
Sambil menunggu kembalian, Lintang membalikkan badan, menghadap ke arah gerbang SD Negeri 02 Surabaya yang masih tertutup rapat. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Ia mengambil tusukan bambu, mengincar satu pentol urat yang paling besar, lalu mulai menusuknya dengan penuh semangat.
Namun, tepat saat pentol itu hampir masuk ke dalam mulutnya—BRUK!
Seorang pria bertubuh tinggi besar menabrak bahunya dari samping dengan cukup keras. Lintang terhuyung, tusukan pentolnya meleset, dan plastik berisi pentol banjir saus itu terlepas dari genggamannya. Tragisnya, sebelum jatuh ke tanah, plastik itu sempat mendarat di d**a Lintang, meninggalkan jejak merah kecokelatan yang lebar di kaos putih bersih yang ia kenakan.
"Jiamput! Heh, You ndak punya eyes kah?!"
Umpatan khas Suroboyoan itu meluncur begitu saja dari bibir Lintang. Ia tidak peduli pada orang-orang yang mulai menoleh. Matanya melotot menatap pria di hadapannya. Seorang pria dengan wajah blasteran, hidung tinggi bak perosotan, dan kulit putih yang kontras dengan kaos hitamnya. Membuat Lintang reflek mengeluarkan bahasa campurannya.
Pria itu tidak meminta maaf. Ia hanya berdiri tegak, memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi yang sangat datar—seolah Lintang hanyalah gangguan kecil di jalan tersebut.
Melihat reaksi tenang itu, emosi Lintang makin mendidih. "Heh! You tak punya mouth kah? Bisu kah?!" semprot Lintang lagi, sungguh emosi Lintang yang sudah panas karena cuaca semakin panas saja. "Liat ini! Kaosku jadi batik saos gara-gara You!"
Pria bule itu tetap diam. Ia hanya memandangi noda di kaos Lintang dengan tatapan kaku, seolah tak terganggu sama sekali dengan apa yang dia sebabkan, tak ada kata maaf atau respon lain.
"Mbak... Mbak, ini kembaliannya, Mbak," suara Mas penjual bakso memecah ketegangan. Ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas dengan tangan gemetar, ngeri melihat Lintang yang sedang dalam mode "macan lapar".
"Mbak Lintangggg!"
Di saat yang sama, lengkingan suara bocah terdengar dari arah gerbang. Linggar, si adik kecil dengan tubuh gembulnya, berlari kencang sambil menggendong tas ransel robotnya yang keberatan. Bocah tujuh tahun itu langsung menerjang kaki Lintang, tak menyadari kakaknya sedang siap meledak.
"Loh, Mbak Lintang bajunya kok berdarah?" tanya Linggar polos sambil menunjuk noda saus sambal di d**a kakaknya.
Lintang mendengus napas pendek, berusaha menahan diri di depan adiknya. Ia menyambar uang kembalian dari tangan penjual bakso tanpa menoleh, matanya masih terkunci pada pria misterius yang masih berdiri di sana.
"Ini bukan darah, Linggar. Ini korban tabrak lari orang yang nggak punya mata," sindir Lintang tajam, suaranya naik satu oktav.
Pria bule yang entah berasal dari mana dan sialnya tampan sekali itu, hanya menatap Lintang dari balik kacamata hitam yang ia pakai kembali. Ia mengeluarkan dompet kulit dari saku belakang, mengambil selembar uang seratus ribu rupiah, lalu meletakkannya begitu saja di atas rombong bakso tanpa bicara sepatah kata pun.
"Ganti rugi pentol dan kaos Anda," ucapnya singkat dengan suara berat yang kaku, lalu berbalik pergi menuju mobil SUV hitam yang terparkir di ujung jalan.
Lintang melongo. "Heh! Maksudnya apa?! Heh, Bule kaku! Back you! Kembali You!"
Namun, pria itu sudah masuk ke dalam mobil. Lintang hanya bisa menghentakkan kakinya ke aspal dengan geram. "Sialan! Dikira aku pengemis apa pakai dikasih uang seratus ribu? Dasar sombong! Awas ya kalau ketemu lagi, tak ulek jadi sambal pentol beneran kamu!"
Linggar yang bingung hanya bisa mendongak, "Mbak, jadi beli es krim nggak?"
"Nggak ada es krim! Pulang! Mbak mau ganti baju!" Lintang menarik tangan adiknya dengan langkah lebar, masih menyisakan sumpah serapah untuk pria misterius yang telah merusak harinya—dan kaos putih kesayangannya.