Lintang mematikan mesin Vespa kuningnya dengan sekali sentakan kasar. Suara deru mesin yang biasanya terdengar retro dan manis, kali ini terdengar seperti raungan singa karena tarikan gas Lintang yang emosional. Ia turun dari motor dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai garasi, mengabaikan Linggar yang masih bertengger di jok belakang dengan wajah bingung bercampur kesal.
Kalinda Prameswari yang sedang asyik memanjakan mawar-mawar di halaman depan, seketika menghentikan aktivitasnya. Ia mengerutkan kening, menatap putri sulungnya yang tampak seperti baru saja kalah tawuran.
"Loh, Mbak? Ini kenapa bajunya?" Kalinda meletakkan selang air, matanya tertuju pada noda merah kecokelatan yang menghiasi d**a kaos putih Lintang.
"Lintang kesel, Bun!" Lintang menyambar helmnya, membukanya dengan paksa, lalu meletakkannya di rak dengan bunyi dubrak yang cukup keras. Rambutnya yang berantakan karena keringat membuat penampilannya makin tak karuan.
"Mbak Lintang... tulunin Linggal dong!" Linggar, si bungsu yang memiliki pipi gembul nan menggemaskan itu, mulai merengek.
Kakinya yang pendek tidak sampai ke lantai karena jok Vespa yang cukup tinggi, membuatnya terombang-ambing seperti kura-kura terbalik.
"Mbak, adiknya itu loh. Ya mbok diturunin dulu, jangan ditinggal merengut gitu," tegur Kalinda lembut namun tegas. Ia segera beranjak mendekati putra kecilnya.
Lintang akhirnya berbalik, meski wajahnya masih ditekuk hingga dagunya hampir menyentuh d**a. Ia memegang ketiak Linggar dan mengangkat adiknya itu turun dari motor dengan sekali angkat.
"Hup! Makanya, jangan makan aja. Badanmu itu loh, sudah gemblung gini, Linggar. Mbak capek angkatnya!"
Linggar yang merasa harga dirinya terluka langsung lari ke arah sang ibu. "Ibunnn! Mbak Linggal nakal!"
"Loh, loh, kok malah Mbak yang disalahin? Siapa yang tadi di jalan minta berhenti beli es krim padahal Mbak lagi emosi jiwa?" balas Lintang tak mau kalah, berkacak pinggang di depan garasi.
Kalinda menghela napas, mengusap punggung Linggar yang sedang mengadu. "Aku ndak suka kalau dijemput Mbak Lintang, malah-malah aja di jalan," curhat si bungsu dengan bibir yang sudah maju ke depan.
Kalinda menatap putrinya dengan tatapan 'tahu sama tahu'. "Jangan godain adik kamu terus, Mbak. Sudah, sana ganti baju. Itu noda saus kalau nggak segera dicuci bisa berbekas permanen, persis kayak dendam kamu."
"Ini bukan sekadar saus, Bun! Ini noda permusuhan!" Lintang mulai menggebu-gebu. "Tadi ada mas-mas, gayanya selangit, mukanya bule ganteng tapi hatinya batu kali. Nabrak Lintang sampai pentol Lintang jatuh semua, eh malah cuma kasih uang seratus ribu terus pergi gitu aja tanpa minta maaf! Dikira Lintang ini apa? Sales kerupuk?"
Kalinda tertawa kecil, suara tawa yang tenang namun entah kenapa membuat Lintang makin gemas. "Ya sudahlah, mungkin dia buru-buru. Namanya juga musibah, anggep aja dia nggak sengaja Mbak."
"Musibah itu kalau Lintang jatuh sendiri, Bun. Kalau ditabrak pria kaku nggak punya mulut gitu, itu namanya permusuhan dan dendam kesumat!" Lintang menyambar tasnya, hendak masuk ke dalam rumah. "Pokoknya Lintang mau mandi air dingin biar otak Lintang nggak mendidih lagi!"
"Iya, mandi yang bersih. Jangan lupa dasteran aja biar adem," teriak Kalinda saat Lintang sudah di ambang pintu.
Kalinda kembali menoleh ke arah rumah sebelah yang gerbangnya baru saja terbuka. Sebuah mobil SUV hitam yang baru ia lihat beberapa hari ini tampak mulai memasuki halaman tetangga yang sudah lama kosong itu. Kalinda tersenyum, hatinya menghangat. Kemungkinan tetangga yang lama fak pulang kampung itu, sedang berada di sini sekarang.
"Linggar, ayo masuk. Kamu juga cepet ganti baju, bau kamu udah kecut Le," bisik Kalinda pada si bungsu yang sekarang tak lagi memasang wajah cemberut.
----
Di dalam kamar yang bernuansa aesthetic dengan rak buku yang penuh sesak, Lintang masih belum bisa melepaskan sisa-sisa kejengkelannya. Suara pintu yang dikunci dengan bunyi klek yang tajam seolah menjadi tanda bahwa ia sedang menutup diri dari dunia luar—termasuk dari ocehan adiknya yang menggemaskan tadi.
Dengan sekali hentakan kasar, Lintang melepaskan kaos putih oversize-nya yang sudah ternoda. Kaos itu tergeletak begitu saja di keranjang baju kotor, menyisakan tubuhnya yang hanya terbalut tanktop croptop putih. Pakaian minim itu memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya yang langsing, perut rata hasil dari genetik Kalinda yang luar biasa, serta kulit kuning langsat yang bersih.
"Amit-amit ketemu bule modelan begitu lagi. Bisa darah tinggi aku sebelum umur dua puluh lima," gerutunya sambil bercermin sekilas.
Ia memastikan noda saus tadi tidak tembus ke tanktop-nya. "Ganteng sih, tapi ndak punya mulut, buat apa? Dikira ganteng saja bisa bikin kenyang? Pentolku lima biji jatuh semua, Mas Bul!"
Lintang menghempaskan bokongnya ke kursi kerja yang empuk. Di depannya, layar laptop sudah menyala, menampilkan draf bab terbaru yang seharusnya ia selesaikan sore ini.
Lintang Ayu Aryadinata. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, ia bukan sekadar gadis cantik yang gemar naik Vespa kuning. Di balik penampilannya yang terkadang cuek, ia adalah otak di balik nama pena "Garis Lintang"—seorang penulis novel romansa digital yang namanya cukup disegani.
Dari kamar inilah, ia merangkai kata demi kata yang membuat ribuan pembaca baper, marah, hingga menangis. Penghasilannya? Jangan ditanya. Jika semua royalti dari berbagai platform online miliknya digabung, angka dua digit sudah rutin mampir ke rekeningnya setiap bulan.
Namun, sore ini imajinasinya buntu. Alih-alih membayangkan adegan romantis untuk tokoh utamanya, pikirannya justru tertuju pada saku celana jeans bagian belakang miliknya.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang tadi diberikan si pria bule kaku. Lintang mengangkat uang itu ke arah lampu kamar, menerawangnya seolah sedang memeriksa uang itu asli atau palsu.
"Uang seratus ribu ini... harga diriku cuma dihargai segini?" Lintang mencibir, jarinya menyentil sudut uang kertas itu.
"Mungkin di luar negeri sana, kamu bisa beli orang pakai uang, Mas Bule. Tapi ini Suroboyo. Di sini, harga diri lebih mahal daripada setumpuk uang merah!"
Ia membayangkan wajah pria itu lagi. Rahang yang tegas, sorot mata yang dingin di balik kacamata hitam, dan aroma parfum woody yang sempat tercium sesaat tadi. Semakin diingat, bukannya makin reda, rasa kesalnya justru makin menjadi-jadi.
"Awas ya kalau ketemu lagi. Aku balas kamu, Mas Bule. Tak jadikan karakter antagonis di novelku biar kamu disumpahserapahi seluruh pembaca se-Indonesia!"
Ia meletakkan uang itu dengan kasar di atas meja, tepat di samping laptopnya. Selembar uang itu kini ia jadikan "monumen dendam". Dengan semangat baru yang dipicu oleh rasa jengkel, Lintang mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.
Tak tok tak tok...
Suara ketikan itu menggema di dalam kamar. Lintang mulai mengetik adegan tentang seorang bos arogan yang tertabrak gerobak sampah. Sepertinya, si pria kaku itu memang memberikan inspirasi, meski dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.