Lintang berdiri di depan pagar, tangannya menyilang di d**a sambil sesekali melambai pada Linggar yang sudah duduk manis di car seat belakang. Matahari pagi Surabaya mulai terasa menggigit kulit, namun suasana di depan rumah keluarga Aryadinata mendadak jadi lebih "panas" saat sebuah siluet tinggi muncul dari tikungan blok. Dewa berjalan santai dengan napas yang sedikit teratur, sisa-sisa lari paginya. Ia mengenakan celana pendek olahraga hitam dan kaos putih yang—sialnya bagi mata Lintang—mencetak dengan jelas lekukan tubuh tegap dan d**a bidangnya. Keringat tipis yang membasahi pelipis dan kaosnya membuat aura pria itu berkali-kali lipat lebih maskulin daripada saat ia mengenakan kemeja kaku. "Mas Buleee!" Linggar berteriak ceria dari balik jendela mobil yang terbuka setengah, melambai

