“BUNDA! VANILLA DITERIMA!” teriak gadis bergelar sarjana statistik sepulang wawancara. Gadis itu duduk sambil menyilangkan kaki di sofa. Sejak tadi senyumnya masih bisa dilihat dengan jelas.
“Iya, Bunda dengar.” Bunda terkekeh di balik telepon. Ia turut senang atas pencapaian sang anak. Mereka menghabiskan waktu berbincang melalui telepon. Vanilla menceritakan perasaannya ketika diwawancarai, sedangkan Bunda mendengar sesekali menanggapi.
“Iya, Bun. Vanilla kira dia laki-laki tua, gendut, tapi ternyata mirip pemainnya The Kissing Booth.” Vanilla senyum-senyum tidak jelas sambil membayangkan wajah tampan Jacob Elordi.
“Yang mana? Bunda nggak tahu.”
“Nanti Vanilla kirim fotonya,” balas Vanilla sembari terkikik.
Mereka terus membicarakan hal-hal yang belum lama ini terjadi. Sesekali juga mereka berdiskusi. Satu hal yang membuatnya dekat dengan Bunda karena mereka sama-sama memiliki pemikiran yang kritis dan perdebatan keduanya selalu berakhir dengan tawa.
“El mana?” tanya Bunda di ujung pembicaraan.
Hubungan mereka hampir menginjak usia dua tahun, wajar jika mereka sudah saling mengenal keluarga masing-masing.
“El sudah pulang, Bun. Besok dia mau flight ke Spore lagi,” jelasnya.
Daniel adalah seorang fotografer profesional. Jasanya sering dipakai oleh acara-acara penting, seperti pemotretan majalah. Walaupun banyak rumor mengenai keburukan seorang fotografer, tetapi Vanilla tetap memercayai laki-laki itu. Ia yakin Daniel tidak akan berpaling darinya.
“Ya ampun, anak itu. Bilang ke El jaga kesehatan, jangan sampai sakit.”
Pesan itu hanya diiyakan olehnya. Tanpa disuruh, Vanilla jelas akan selalu mengingatkan sang kekasih.
“Ya sudah, Bunda mau siapin makan malam untuk papa dan adikmu dulu.”
“Iya, Bun.”
Sambungan diputus oleh pihak seberang. Vanilla menghela napas berat. Ia senang besok akan mulai bekerja, tetapi ia juga sedih karena sang kekasih lagi-lagi meninggalkannya demi pekerjaan. Mau protes pun Vanilla tidak berhak. Ia merasa tidak memiliki kapasitas lebih untuk mengatur pekerjaan laki-laki itu.
– S B T –
Pagi-pagi sekali seorang gadis sudah berlarian menuju stasiun yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar. Vanilla, seorang gadis yang sudah diterima di perusahaan impiannya, kini memulai hari pertama bekerja. Ia sudah mengincar perusahaan tersebut, bahkan sebelum lulus.
Hal tersebut dipicu oleh teman-teman di lingkungannya yang memiliki target cukup tinggi sehingga membuatnya semakin berambisi untuk menyaingi mereka. Seperti pada lagu milik Fourtwnty yang berjudul Zona Nyaman, Vanilla terjebak di dalam ambisi seperti orang-orang berdasi yang gila materi. Secara tidak langsung memang kenyataannya begitu. Banyak sekali orang yang berambisi untuk mendapat puncak karir tertinggi dalam hidupnya.
Hal itu juga menjadi salah satu alasan Vanilla kuliah dan kerja di ibu kota. Selama hampir lima tahun Vanilla hidup di kota orang, selama lima tahun itu pula ia mengalami pendewasaan. Awalnya memang tidak mudah, tetapi hidup harus terus berjalan. Dengan terpaksa, ia meninggalkan zona nyaman di kota kelahirannya.
Hari ini Daniel tidak bisa mengantar. Vanilla pun memutuskan untuk menaiki commuter line. Ia memilih gerbong khusus wanita. Ketika memasuki gerbong, tidak ada kursi kosong yang ia tempati. Mau tidak mau Vanilla berdiri dengan berpegangan pada sebuah tiang. Pikirannya berkelana ke beberapa waktu lalu saat ia diwisuda.
“Selamat siang semuanya. Saya panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya yang melimpah sehingga kita semua bisa hadir di tempat ini tanpa kekurangan suatu apa pun. Saya, Vanilla Pramudya Astari, mewakili teman-teman mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan, dosen, dan karyawan atas segala dinamika dan kebersamaannya.
Tak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada orang tua, saudara, dan para sahabat kami atas doa dan semangatnya hingga kami dapat terus belajar dan pantang menyerah menjalani proses masa studi ini. Banyak hal yang telah kami pelajari semasa kuliah, baik dalam menggali potensi diri mau pun dalam bersosialisasi. Melalui berbagai kegiatan, kami telah memperoleh banyak pengalaman yang dapat membawa kami ke dalam proses pendewasaan diri.
Terakhir, saya sampaikan semangat untuk kita—para pencari kerja. Semoga sukses di karir masing-masing sehingga bisa berbakti pada nusa dan bangsa tercinta kita—Indonesia.”
Saat itu jantungnya berdebar kencang. Entah, mungkin itu kali pertama dan terakhirnya berdiri dan memberi sedikit pidato di depan ribuan orang. Vanilla masih merasakan debaran itu hingga sekarang. Ia melirik jam di tangan kirinya. Masih ada tiga pemberhentian lagi sebelum KRL sampai ke stasiun tujuan, kemudian Vanilla harus naik Trans Jakarta agar sampai di halte dekat kantor yang membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.
Beruntung, ia tidak terlambat. Vanilla bergegas menghampiri resepsionis. Kartu khusus pegawai dan beberapa keperluannya sudah disediakan di sana. Ia hanya tinggal mengambil dan membawanya ke meja kerja. Perempuan itu dengan ramah menyapa beberapa karyawan yang ditemui dengan senyuman. Clarrisa, perempuan resepsionis itu memberikan barang-barangnya sambil berkata, “Semangat hari pertama, Van!” Vanilla balas tersenyum.
Ruangannya berada di lantai empat, maka Vanilla harus menggunakan lift. Di dalam kotak perak itu, hanya ada lima orang. Salah satunya adalah Rey, sang CEO. Tidak ada yang saling berbincang di dalam sana. Vanilla hanya berusaha menetralkan degupannya.
“Saya duluan.” Perempuan yang suka mengucir rambutnya itu keluar lift setelah menyapa Rey. Laki-laki berjas hitam itu hanya mengangguk samar. Lift kembali bergerak dan membiarkan Rey yang sedang asik dengan pikirannya.
– S B T –
Pria berpakaian formal itu mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Kedua tangannya menopang dagu dan pikirannya berkelana ke kejadian beberapa hari lalu. Orang tuanya sudah membahas masalah pertunangan dengan perempuan yang tidak dikenalnya. Ia sempat menolak terang-terangan di depan mamanya. Namun, semua percuma jika sang papa bersikukuh dengan keinginannya.
“Ma, Rey sama sekali tidak setuju.”
“Mama nggak bisa apa-apa, Bang.” Mama mengusap lengan anak sulungnya.
Rey mendesah kuat mendengar pernyataan itu. Melihat sang mama yang terlihat murung, membuatnya merasa bersalah. “Rey mau ngomong sama papa.”
Gina yang tidak tega melihat anaknya kecewa akhirnya mengangguk. “Papa ada di ruang kerja.” Ia membuka jalan untuk Rey. Sebagai seorang ibu, ia merasa tidak berguna karena sang suami yang sangat keras kepala.
Rey berjalan menuju ruangan pemilik Obsidian itu. Diketuknya pintu, kemudian ia langsung mengatakan tanpa berbasa-basi. “Pa, saya menolak perjodohan ini.”
Papa yang sedang membaca sebuah dokumen itu mendongak dan menatap anaknya tidak suka. “Papa tidak menerima pendapat kamu.”
Ungkapan itu membuatnya geram. Mana bisa ia diperlakukan seperti itu. “Didengar atau tidak, saya tetap tidak setuju!”
Suara berat itu sarat akan ultimatum. Rey berbalik dan berniat keluar dari ruangan itu sampai sebuah suara membuatnya tersenyum miring. “Saya akan mempertimbangkannya ketika kamu mendapatkan wanita yang pantas bersanding dengan keluarga Obsidian.”
“Pak.”
“Pak!”
“Bapak Greyson Halim!” seru sang sekretaris pada bosnya yang melamun.
Sudah tiga menit ia memanggil CEO Obsidian Corp yang baru, tetapi tidak ada jawaban. Bahkan, sekretaris itu sudah berada di depan meja kerja sang pemimpin perusahaan. Namun, sepertinya si bos sedang memikirkan sesuatu hingga panggilannya tidak didengar.
Mala, sang sekretaris sekaligus teman Rey, berdeham cukup keras, “Greyson Halim Obisidian!”
Mendengar nama panjangnya disebut, laki-laki itu tersadar dari lamunannya dan mendapati Mala sedang menatap malas ke arahnya.
Mala menyerahkan beberapa dokumen untuk ditanda tangani. Dengan sigap, Rey menerima dokumen itu dan menandatangani setelah membaca isinya.
“Dua pegawai baru sudah mulai bekerja hari ini. Satu data analyst dan dua pegawai di divisi keuangan,” terang Mala.
Pria yang bersandar pada kursi itu mengangguk, kemudian menyerahkan kembali dokumen.
“Terima kasih, Pak ... dan tolong jangan melamun saat sedang bekerja,” pesannya pada Pak Bos sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
Rey menepuk dahinya, “Bodoh!”
– S B T –
Vanilla harus berbagi ruangan dengan kelima rekan barunya. Sebagai pegawai baru, ia berusaha untuk berbaur sebaik mungkin. Ia sudah cukup akrab dengan rekannya yang bernama Kayla. Perempuan itu juga seorang data analyst. Ia memberikan beberapa tips dan saran untuk Vanilla. How kind she is.
Obsidian Corp benar-benar memperhatikan gizi para pegawainya. Tidak tanggung-tanggung, berbagai jenis makanan tersaji di sana. Mulai dari appetizer hingga dessert pun ada. Selain itu, menu makanan akan berubah setiap hari. Tak jarang para pegawai mengantre hanya untuk memilih makanan.
Vanilla membawa nampan. Ia mencari meja yang tidak terlalu ramai. Matanya menjelajah dari sudut ke sudut. Ia menghela napas. Tidak ada meja yang kosong, minimal meja-meja itu sudah terisi oleh satu-dua orang.
“Vanilla.”
“Ngapain bengong di sini? Ke sana, yuk?” Vanilla melihat ke arah yang di tunjuk Kayla dengan dagu lancipnya. Kayla adalah orang pertama yang mengajak Vanilla berbicara di ruang kerja.
Kayla mendahului Vanilla ke meja yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk kantin. Mau tidak mau, ia pun mengekor di belakang Kayla. Mereka menempati meja yang sudah terisi oleh dua orang lainnya. Menu makan Vanilla hari ini adalah ayam bakar dan tumis kangkung. Mereka menghabiskan makanan dengan tenang. Sedikit pun tidak ada yang membuka pembicaraan sampai piring berubah kosong.
“Gimana hari pertama?” tanya Kayla setelah meneguk habis lemon tea-nya.
Vanilla yang sedang menghabiskan minumannya mengangguk. “Menyenangkan.”
“Sudah pernah ketemu Pak Rey?”
“Tentu sudah,” jawab Vanilla.
“So, what do you think?” Kayla ingin tahu kesan pertama perempuan itu terhadap sang CEO. Perempuan itu menaruh atensi penuh pada Vanilla.
“Pak Rey?” tanyanya memastikan. Kayla mengangguk girang. Matanya menyipit dan menyeringai.
“Nice. Dia baik, sih.”
Mendengar jawaban itu, sontak membuatnya merengut. “Bukan itu yang aku maksud.”
Vanilla mengangkat satu alisnya. Ia tidak paham maksud kalimat itu.
“Is he hot?” Kayla bertanya dengan frontal.
Ia berharap perempuan itu menjawab dengan benar karena baru Vanilla, perempuan yang terlihat tidak tertarik dengan seorang Greyson Halim Obsidian dan dengan cuek Vanilla mengangguk setuju. “Ya, he is hot. So what?”
Kayla menepuk jidat pelan. Vanilla kurang bisa mengerti maksudnya. “Do you like him?”
Vanilla menggeleng. “Biasa saja.” Ia tidak mengerti mengapa Kayla menanyakan hal-hal itu kepadanya. Vanilla kembali minum.
“Aku rasa kamu perlu diracunin,” gumam Kayla, tapi masih bisa didengar oleh Vanilla.
“Racunin apa?” tanya Vanilla makin tidak mengerti. Rekannya itu memiliki pemikiran yang amat random.
“Racunin semua hal yang menyangkut Pak Rey.”
“Kenapa harus?”
Kayla mulai kesal karena Vanilla terus menanyakan hal-hal yang membuatnya kehabisan akal. “Ya, supaya kamu suka. Semua pegawai perempuan di sini suka sama dia!”
Vanilla tidak menanggapi. Ia kembali menyeruput es cokelatnya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan yang menyangkut bosnya itu.
“Ya, walaupun belum lama di sini, tapi dia udah jadi hot trending orang kantor!”
Vanilla mengangguk malas atas informasi-informasi tidak penting tersebut. Dia tidak terlalu penasaran dengan itu semua. Mungkin belum.
##
Halo, pembaca SBT! Gimana tanggapan kalian tentang cerita mereka ini? Yuk, kasih komentar, kritik, dan saran!^^
- Venus