Party

1623 Kata
Berulang kali menghubungi sang kekasih, tetapi belum ada jawaban. Panggilannya tidak diangkat sejak sepuluh menit lalu. Laki-laki itu sedang bersandar di kap mobil berwarna putih yang terparkir tidak jauh dari kantor sang kekasih. Laki-laki berpenampilan casual itu adalah kekasih Vanilla. Daniel Hutomo adalah seorang fotografer yang sering bepergian ke luar kota hingga ke luar negeri. Makanya, mereka jarang ketemu hingga sering putus komunikasi karena hal sepele. Tidak lama kemudian Vanilla datang dengan sedikit berlari. “Maaf, aku telat.” Daniel mengangguk sekilas. Suasana di dalam mobil sedikit canggung. Mereka tidak saling membuka mulut untuk memulai pembicaraan. Vanilla dengan pikirannya yang melayang saat kejadian kantor tadi, sedangkan Daniel fokus menyetir. “Loh, ini bukan jalan ke apartemenku, El.” Vanilla baru menyadari kalau laki-laki itu tidak mengantarnya pulang. Daniel balas bertanya, “Memang aku bilang mau antar kamu pulang?” Vanilla mengerutkan dahi. “Jadi, untuk apa kamu jemput aku?” geram Vanilla. Vanilla hanya ingin pulang dan rebahan di kasur kesayangannya. Ia menekuk wajahnya, bibirnya sudah mengerucut. Kalau diteliti lagi, Vanilla terlihat menggemaskan. Daniel selalu mempermainkannya. Entah untuk hal serius entah untuk bercandaan saja. Laki-laki itu membuatnya bingung setengah mati. Alih-alih tertawa melihat wajah lucu Vanilla, Daniel malah bertanya dengan nada sedikit lebih tinggi. “Kamu ingat hari ini?” “Hari Kamis.” Daniel berdecak kesal. “Aku rasa kamu memang nggak benar-benar serius dengan hubungan ini.” Tentu saja pernyataan itu menyulut tanda tanya untuk Vanilla. Bagaimana bisa Daniel begitu sensitif hanya karena melupakan sesuatu. “Kok kamu ngomong kayak gitu, sih?” protesnya. “Sudah jelas ‘kan? Kamu lupa artinya kamu menganggap enteng hubungan ini.” Entah mengapa hari ini ia mudah tersulut emosi. “El! What’s wrong with you?” Vanilla menatap Daniel dengan pandangan tidak percaya. “Kenapa kamu mempermasalahkan hal sepele gini?” “Sepele katamu? Ini salah satu acara keluargaku dan alasanku pulang ke Indo, Van. Dan kamu bilang ini sepele?” Daniel terkekeh sengit. Nada bicaranya perlahan mulai meninggi, membuat Vanilla sedikit ketakutan. “Tapi kamu nggak bisa bilang kalau aku nggak serius sama hubungan ini, El.” Vanilla mengambil napas sejenak. “Okay, I’m sorry if I made you frustrated. Aku ingat, ini hari ulang tahun Niel.” Napas Daniel mulai teratur. Ia mulai mendengarkan penjelasan Vanilla perlahan. Ia pikir Vanilla akan ingat, padahal sudah jauh-jauh hari ia memberitahukan hal tersebut. Daniel melirik Vanilla yang terlihat meringis. Sepertinya perempuan itu mengaku kalau dirinya salah. Vanilla berdeham. “El,” panggil Vanilla karena Daniel belum menjawab pertanyaan Vanilla—lebih tepatnya sengaja tidak menjawab. “Maafin aku.” Daniel menggelengkan kepalanya, ia masih fokus menatap jalanan di depannya. “Mau sampai kapan kamu begini, Van? Ini acara keluargaku dan kamu lupa akan itu? Benar-benar nggak bisa kupercaya.” Vanilla kembali meringis dalam hati. Ia merutuki kesalahannya kali ini. Daniel memang sudah mengingatkannya berkali-kali, tetapi ia kerap kali mengabaikannya. “Maaf, Sayang.” Vanilla mengeluarkan jurus agar laki-laki bertubuh tegap itu memaafkannya. – S B T – “Tante Illa!” Suara anak kecil memanggil Vanilla yang baru saja datang. Tanpa segan, anak laki-laki itu langsung menghambur pada pelukan perempuan yang datang bersama sang kekasih—paman dari anak itu. Lelaki yang berdiri di sampingnya terkekeh melihat kelakuan keponakan yang lengket dengan pacarnya. “Om nggak dikasih peluk, nih?” Anak itu mendongak menatap pamannya, kemudian merentangkan tangan minta digendong. “Om, gendong.” Vanilla berjalan menuju kedua orang tua anak yang sedang pamer kostum itu. Dengan kata lain, kakak dan kakak ipar Daniel. Vanilla menyerahkan kado yang barusan ia beli dengan Daniel. “Makasih, Van. Kamu nggak perlu repot-repot kasih kado. Kedatanganmu saja sudah cukup.” Kakak ipar Daniel mengelus lengan Vanilla. “Nggak apa, Mbak. Ini juga kadonya dari aku sama El.” Mila, kakak ipar Daniel, tersenyum. Ia menyuruh Vanilla menikmati makanan yang sudah disediakan. Pesta ini memang tidak digelar secara meriah, hanya keluarga dan beberapa teman Niel saja yang diundang. “Nathaniel sini,” panggil Mila. Yang dipanggil langsung menuju sumber suara. “Jangan ganggu Om El dan Tante Illa dulu, ya,” lanjutnya. Niel cemberut—hendak memprotes—tapi Mila langsung membawanya ke area bermain. Vanilla dan Daniel terkekeh dibuatnya. “Van, mau makan?” tawar Daniel. Vanilla menggeleng. “Aku masih kenyang, tadi makan di kantin.” Daniel hampir meninggalkan Vanilla sebelum perempuan itu menarik tangannya. “Aku ambilin aja.” Vanilla segera mengambil nasi dan beberapa lauk di atasnya. Hitung-hitung sebagai tanda permintaan maaf karena telah melupakan acara hari ini. Pesta ulang tahun Nathaniel ke lima tahun sudah diberitahu sejak sebulan lalu. Namun, Vanilla tetaplah Vanilla dengan ingatan pendeknya itu. Pesta ini meriah, tetapi tetap sederhana. Vanilla melihat kehabagiaan di raut wajah Nathaniel dan orang tuanya. Perempuan yang masih menggunakan pakaian kantor itu meringis dalam hati ketika membayangkan dirinya di masa depan—bersama suami dan anak-anaknya. Meskipun Daniel pacarnya, tetapi ia tidak yakin bahwa laki-laki itulah yang akan menjadi pasangan sekaligus teman hidupnya. Mereka terlalu kontras di berbagai hal dan itu membuat Vanilla menekan impiannya bersama Daniel. Pesta ulang tahun Nathaniel berlangsung selama dua jam. Vanilla cukup menikmati acara ini karena pada dasarnya ia juga menyukai anak kecil. Anak-anak itu bermain dengan leluasa karena Fajar dan Mila sudah menyiapkan berbagai macam permainan. “Capek?” tanya Daniel perhatian melihat Vanilla yang beberapa kali memejamkan mata di perjalanan. Vanilla hanya menggumam. Tangan laki-laki itu terulur untuk mengusap puncak kepala sang kekasih—kegiatan favoritnya ketika sedang berdua dengan Vanilla. Sepanjang perjalanan Vanilla tidur dengan nyaman ditemani usapan Daniel. Berpikir dalam tidur, apakah semua yang ia jalani selama ini adalah benar? – S B T – Tidur Vanilla terganggu, ia merasa tubuhnya ditimpa sesuatu. Ia mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya remang. Di sampingnya ada Daniel yang memeluknya dengan posesif. Vanilla kaget dengan posisi keduanya. Tangan Daniel menindih perutnya, sedangkan kepala laki-laki itu dibenamkan pada ceruk lehernya. Vanilla yang merasa tidak nyaman, perlahan menyingkirkan tangan Daniel. Ia berusaha menjauhkan diri dari kukungan sang kekasih. Ini kali kedua Daniel berani tidur satu ranjang dengannya. Hatinya bergemuruh. Takut, marah, terkejut, semua perasaan itu bercampur aduk. “EL!” teriak Vanilla. Vanilla mendorong tubuh Daniel agar menjauh darinya. Ia tidak peduli kalau laki-laki itu akan mengaduh dan memarahinya. Daniel membalas dengan gumaman. Vanilla memandang Daniel tidak suka. Beruntung hal-hal yang ada di pikirannya tidak terjadi. Vanilla selalu merasa bodoh dan diperdaya di saat-saat seperti ini. “Daniel, bangun!” Vanilla menepuk pundak Daniel berkali-kali, tetapi laki-laki yang masih mengenakan pakaian yang sama di pesta Niel itu bergeming. Berkali-kali Vanilla melakukan hal yang sama, tapi Daniel seakan menulikan telinganya. Hingga akhirnya Vanilla terduduk dan berusaha kembali membangunkan Daniel. Namun, yang terjadi adalah Vanilla yang ditarik untuk tidur kembali. Daniel mencium lengan atas Vanilla yang bersentuhan dengan hidungnya. Blazer hitamnya entah ke mana karena sejak terbangun ia hanya mengenakan kemeja yang dipakainya saat kerja. Ciumannya perlahan naik pundak, kemudian bersarang di leher Vanilla. Vanilla berusaha mendorong Daniel, tetapi tenaganya kalah kuat. Daniel menciumnya keras hingga berhasil membuat Vanilla mengeluarkan suara. Vanilla merutuk dalam hati. Vanilla lantas menahan tangan Daniel yang sepertinya ingin menjelajah tubuhnya. “Daniel,” panggil Vanilla gemetar. “Stop it!” Suara Vanilla lirih, tetapi tegas. Daniel tidak menghiraukan perkataan Vanilla. Ia kembali menjelajahi tubuh Vanilla dengan satu tangannya. Entah sejak kapan Daniel berada di atas Vanilla. Ia kembali menenggelamkan kepalanya di sekitar ceruk leher Vanilla. “EL!” panggil Vanilla setelah ia mengumpulkan seluruh tenaganya. Sekali dorong, Vanilla berhasil menggulingkan Daniel ke samping. Mata Daniel terbuka dan menatap tajam Vanilla. “Let’s do it, Van!” Vanilla menatap Daniel tidak percaya. “Nggak! Kamu gila apa?!” “You love me, right? So why you reject it?” balas Daniel tak mau kalah. Matanya begitu memancarkan rasa ingin menyalurkan hasrat. Laki-laki sepertinya cukup lemah untuk menolak godaan yang ada. “Kamu sudah kelewat batas, El. Nggak ingat sama kejadian beberapa bulan lalu?” Vanilla menatap mata Daniel terang-terangan. Ingatannya kembali pada saat itu di mana Daniel memaksanya untuk melakukan hubungan tersebut. Sang pria mendekatkan wajahnya yang hanya tersisa jarak satu jari, sedangkan sang wanita mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Katamu kamu percaya, kenapa takut, Vanilla?” Suaranya melembut seakan ikut kabur bersama angin. Gadis yang dipanggil Vanilla itu memalingkan mukanya–menghindari kontak mata. Ini sudah kesekian kalinya laki-laki itu menanyakan sesuatu yang membuatnya risih. “No, until we married, El,” tolak Vanilla tegas. Vanilla berusaha keras menolak keinginan kekasihnya itu. Baru beberapa bulan berpacaran laki-laki itu sudah berani meminta hal yang di luar kendali Vanilla. Rasanya seperti diinjak-injak ketika laki-laki itu sudah memaksanya dengan kalimat yang lembut. Daniel menjauhkan wajahnya. “Are you kidding me? Aku harus nunggu berapa lama lagi?” teriak Daniel tidak terima. Gadis itu mengendikkan bahu. Ia menyipitkan mata dan menunjuk wajah Daniel dengan jari telunjuknya. “If you loved me, you wouldn’t ask for it!” Setelah mengatakan itu, Vanilla meninggalkan Daniel yang sedang menahan emosi. “s**t!” “Itu sudah berlalu, Vanilla. Now I want you!” Daniel hampir mendekatkan wajahnya sebelum Vanilla menamparnya. “s**t!” Kemarahan kian membara di hatinya, rasanya seperti terbakar. “Keluar!” Vanilla menunjuk pintu kamarnya. Harga dirinya tergores untuk yang kedua kalinya. Kotor. Lagi-lagi Vanilla merasa dirinya kotor. Daniel masih menatap Vanilla dengan tatapan ‘ingin,’ tetapi Vanilla meneriakinya lagi, “KELUAR!” Vanilla berang dan Daniel tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Daniel memasang wajah sok malaikat dan perlahan mencium kening Vanilla. Perempuan itu mematung. Daniel memanfaatkan kesempatan itu untuk menuruti perkataan Vanilla. Ia keluar dan membiarkan Vanilla bergelut dengan pikirannya. Air matanya meleleh setelah Daniel menutup pintu kamarnya. “b******k!” gumam Vanilla. Giginya bergemelutuk menahan emosi. “Daniel b******k! Kurang ajar!” makinya terus-menerus hingga terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN