Malam Minggu rasanya malas sekali untuk apel ke rumah Enchy, Arjuno membayangkan bagaimana berdebunya jalanan saat menuju rumah kekasihnya itu. Rumah gadis itu ada di ujung desa Gunung Sindur, di pinggir sungai Cisadane. Debu-debu yang ditiup oleh knalpot mobil tronton menjadi aksesoris pemanis yang siap menggantikan warna pakaian menjadi kelabu. Yang paling menyebalkan adalah ada mobil yang sengaja mengarahkan mulut knalpotnya ke arah bawah sehingga meniup semua debu yang ada di tanah.
Sebenarnya jarak rumah Enchy dengan rumah Arjuno tidak terlalu jauh, andai saja jalan yang dilalui mulus paling lama dua puluh menit jika menggunakan motor. Tetapi jalan menuju ke rumahnya itu sungguh luar biasa, kondisi jalan cor yang banyak patah memaksa mata untuk tetap waspada supaya selamat sampai tujuan.
Lagi pula Arjuno mempunyai kebiasaan unik, dia selalu melakukan kebalikan dari yang biasa dilakukan oleh orang lain. Jika orang-orang datang apel pada malam minggu, sebaliknya pemuda itu melakukannya selain malam itu. Entah sejak kapan Arjuno mulai melakukan kebalikan dan entah sejak kapan juga apel itu harus malam minggu.
Pemuda itu duduk di tepi kasurnya, otaknya mulai berdebat antara mempertahankan kelakuan kebalikannya dan memikirkan perasaan Enchy. Mungkin sekarang dia sedang menunggu Arjuno di rumahnya, menanti kehadirannya yang tak kunjung tiba. Maaf ya Chy, gue tidak datang.
Matanya menerawang melihat langit yang cerah, malam Minggu ini cerah sekali, bintang-bintang di angkasa sana menemani purnama dengan bangga. Rasanya sayang sekali jika hanya dihabiskan dengan mendengarkan musik sambil tidur-tiduran di kamar, lagi pula bete karena di rumah tidak ada yang bisa dikerjakan. Teman-teman nongkrongnya di kampung pasti sudah berangkat ke rumah kekasihnya masing-masing, jadi tidak bisa bergabung dengan mereka.
Dia beranjak dari tempat tidurnya, meraih jaket berwarna biru dengan strip hitam yang tergantung di kapstok. Pemuda itu mengeluarkan motornya dari garasi. Setelah memanaskannya beberapa menit, Arjuno menaiki kendaraan roda duanya menyusuri jalan-jalan g**g yang lumayan lebar.
Di mulut g**g dia terpaku, Dia sama sekali belum merencanakan akan kemana motornya dilajukan. Mau ke manakah ini? Bagaimana jika ke rumah Ahmad Sales saja? Ah, mungkin dia sedang berada di rumahnya Denada. Bagaimana jika ke rumah Syahroni? Dia ada di rumahnya eenggak ya? Tetapi mau apa juga dia malam Minggu-an dengan laki-laki. Memangnya pengusung bendera pelangi?
Dalam ketidak pastian, motornya dia arahkan ke kiri menuju arah Utara. Jikapun tidak ada ide sama sekali akan ke mana tujuannya, mungkin ke rumah Enchy, Anna atau siapapun.
“Mengapa gue enggak ke rumah Shopia saja malam ini? Kayaknya si Sariawan enggak datang malam ini. Dia ‘kan malam Minggu kemarin sudah datang, jadi malam ini dia pasti tidak ada di sana.” Sebuah ide tiba-tiba melintas saat ban motor menapaki jalan yang mulai rusak, di depannya siap menghadang jalan yang lebih parah lagi.
Kendaraan roda dua itu belok ke kanan masuk ke Jalan Anyar, jalan yang masih berbatu menyambut kedatangan motor bebek yang Arjuno kendarai malam itu. Jalan berbatu tergantikan dengan tanah merah saat sudah mendekati tempat tinggal Shopia. Gemerisik daun bambu di depan rumah gadis itu menyapa telinganya, mungkin mereka mengucapkan selamat datang kembali kepada Arjuno, pemuda yang pernah terluka dulu tak jauh dari tempat mereka berdiri berkerumun.
Motor distandarkan tak jauh dari teras rumah Shopia yang sepi, hanya terdengar suara TV lamat-lamat dari dalam. Sebuah lampu neon menerangi teras untuk mengusir gelap menjauh. Pemuda itu turun dari motornya dan terpaku di depan beranda.
Tiba-tiba jantungnya deg-degan tidak karuan, dia baru sadar ada yang tidak dipikirkannya tadi sebelum tiba di rumah Shopia yaitu sebuah alasan. Kira-kira apa alasan tepat dengan kedatangannya ke rumah Shopia malam ini? Ngapel? Sekadar silaturahmi? Belanja online? COD-an? Pemuda itu tersungut, dia memaki dirinya sendiri, seharusnya dia sudah persiapkannya saat masih di perjalanan tadi. Mungkin tidak ada alasan juga bisa dicoba.
Pemuda itu bersiap-siap, dia menghirup napas dalam-dalam. Arjuno berusaha menekan rasa deg-degan yang kian membuat kacau otak. Fokus dan beranikan diri lalu baca bismillah dalam hati. Detik selanjutnya kaki pemuda itu sudah melangkah ke teras rumahnya.
“Assalamualaikum.” Pemuda itu dengan was-was menunggu jawaban dari kalimatnya, dia berharap Shopia segera keluar untuk menyambutnya.
“Waalaikum salam.” Terdengar suara menjawab dari dalam, tetapi itu sepertinya bukan milik Shopia. Pertanyaan pemuda itu langsung terjawab saat seorang gadis muda berdiri di ambang pintu. Dugaannya dialah yang menjawab salam tadi, mungkin gadis ini adalah adiknya yang pernah diceritakan itu.
“Shopianya ada?” Arjuno menatap wajah itu seraya berdoa yang terbaik untuknya.
“Enggak ada,” jawabnya datar dan pendek. Pemuda itu mengerutkan dahinya mendengar jawaban gadis muda itu. Enggak ada? Masa sih? Tadi seperti ada yang beringsut dari depan TV lalu bersembunyi di balik sofa. Apakah itu Shopia?
“Ke mana ya?” Dia masih penasaran dengan apa yang disampaikan kepadanya.
“Enggak tahu, Bang. Dia enggak bilang mau pergi ke mana.” Sebuah gelengan kepala melengkapi kalimatnya. Arjuno tidak yakin Shopia tidak ada di rumah, pasti itu dia yang bersembunyi ke balik sofa tadi. Dari gelagat gadis muda di depannya, pemuda itu semakin yakin dia berbohong, Shopia pasti ada di dalam tapi tidak mau bertemu dengannya.
Akhirnya pemuda itu pun pamit dengan membawa rasa kecewa yang disembunyikannya. Apa mau dikata, tidak mungkin juga masuk ke dalam rumah Shopia lalu memeriksa kamar di rumahnya satu per satu.
***
Minggu sore yang memuakkan, mata masih terasa perih gara-gara kurang tidur dan badan pun rasanya hancur berantakan. Setelah checklock absen beberapa menit lalu dengan langkah gontai Arjuno mulai mengecek roti jalur di floor. Masuk kerja di hari Minggu itu adalah sebuah rutinitas memuakkan. Saat orang-orang menikmati liburan dan baru kerja esoknya, Dia, teman-teman sales dan sopir malam juga dan bagian produksi harus masuk. Memang masuk di hari ini adalah pengganti dari hari Sabtu yang sudah libur kemarin, tetapi tetap saja memuakkan.
Sebenarnya khusus untuk jalur Tangerang, mengecek roti sebelum jam sepuluh malam itu hanya buang-buang waktu saja. Sudah pasti roti jalur untuk jalur belum lengkap, roti manis cuma tinggal beberapa item lagi yang belum ready, tetapi roti tawar belum ada sama sekali.
Bohari, adalah seorang pemuda di bagian produksi yang bertanggung jawab atas roti jalur. Dia selalu memberikan jawaban yang sama saat ditanyakan perihal produksi roti yang terkesan lambat.
“Mau ke mana sih buru-buru? Belanda aja masih jauh.” Pemuda berbadan di bawah rata-rata itu tertawa lepas setelah mengucapkan kalimatnya, dia lalu berjalan menjauh seperti penjahat yang berhasil melarikan diri. Itu adalah sebuah jawaban yang cerdas namun yang sedikit menguras otak, ‘Belanda memang jauh’. Jika negara itu dekat, mungkin Arjuno sudah berangkat ke sana lalu bertanya ‘benarkah mereka sudah menjajah Indonesia selama 350 tahun?’
Karyawan produksi bagian roti tawar shift 1 sudah mulai absen pulang sejak jam tujuh malam. Mereka satu persatu keluar dari ruang produksi dengan badan bersimbah keringat, peluh itu membasahi seragam mereka yang serba putih. Beberapa dari mereka sudah melepaskan penutup kepalanya, mungkin untuk sedikit memberikan oksigen untuk otaknya yang kelelahan. Mereka checklock absen tidak jauh dari tempat pemuda itu berdiri mengecek roti. Mesin absen itu menempel di tembok, tepat di depan pintu ruang produksi.
Shopia keluar dengan kertas-kertas di tangan kanannya, sepertinya dia akan serah terima dengan quality control shift 2. Di belakang gadis itu terlihat Enchy yang keluar dengan wajah malu-malu, dia berjalan sambil menunduk. Apakah dia malu melihat muka Arjuno? Padahal muka manis sudah tersemat sempurna di wajah pemuda itu, tidak lupa sebuah senyum melengkapi di bibir.
Arjuno masih menduga-duga mengapa Enchy menunduk seperti itu? Tiba-tiba ada sebuah rasa bersalah terselip di hatinya. Maaf ya, Chy, selama ini hatiku tidak bisa penuh untuk mencintaimu.
“Aku pulang dulu ya, Jun.” Kalimat itu diucapkannya pelan saat berpapasan di samping tumpukan basket roti tawar yang tersusun rapi. Pemuda itu mengangguk pelan mengiyakan sambil menatap sekilas.
“Aku mau nge-cek roti dulu ya, Chy.” Kali ini gadis itu yang mengangguk lalu berjalan menjauh. Beberapa detik selanjutnya punggung kekasihnya yang pemalu itu hilang ditelan pintu alumunium. Arjuno mengayunkan langkahnya menuju ke tumpukan basket roti manis. Dia mulai memberikan centang pada nama roti dan jumlah pesanannya, tanda itu disematkan di kertas kecil yang ditempel di basket berwarna biru.
“Busyet, ini roti tawar belum juga ada.” Konsentrasi Arjuno terpecah saat mendengar gerutu Ahmad Sales. Pemuda itu melangkah mendekati ruang produksi lalu memanggil nama Bohari dari ambang pintu. “Boh, ini gimana sih? Mengapa tawar panjang belom ada juga?”
“Mau kemana buru-buru sih, Belanda aja masih jauh.” Terdengar jawaban Bohari sambil tertawa saat mendekat. Arjuno ikut tertawa mendengarnya, sebuah jawaban yang selalu sama saat ditanyakan. Roti tawar memang selalu terakhir ready dan ini terjadi setiap malam.
“Sonoh jauhan, gue enggak bisa napas dekat-dekat lo!” kata Abdul Sales sambil tertawa saat Bohari menghampirinya. Arjuno mengernyitkan dahinya, berusaha mencerna apa yang didengarnya. Kok bisa-bisanya si Ahmad enggak bisa napas saat didekati Bohari? Arjuno mendekati mereka dengan kepo.
“Gue enggak bisa napas dekat si Bohari, Teng. Lubang hidungnya gede banget, gue enggak kebagian oksigen jadinya.” Abdul tertawa lepas. Arjuno akhirnya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala, bisa-bisanya si Ahmad meledek seperti itu. Bohari speechless sambil tersenyum getir.
Arjuno mengayunkan langkahnya, dia menjauhkan diri dari mereka yang masih berdebat. Pemuda itu mengabaikan hiruk pikuk yang menyapa telinganya, lalu berusaha berkonsentrasi lagi mengecek kelengkapan roti jalur.