Kisah Baru Dengan Orang Baru

1622 Kata
Meratapi sore dengan kesendirian sekarang telah menjadi aktifitas keseharian Arjuno di warung si Teteh. Seperti biasa dia selalui ditemani dengan segelas kopi hitam dan jemarinya yang selalu siap menggali harta karun di hidungnya. Dia baru saja menandakan semangkuk mie goreng telur dengan sepiring nasi, mungkin obat nafsu makan yang dikonsumsinya mulai berefek.   Arjuno menghela napasnya panjang dan dalam, rasanya tidak enak sama sekali kesendirian yang kini merangkulnya dengan erat, pahit, getir dan hampa. Apalagi jika ditambahkan dengan benaknya yang masih terbelenggu dengan kepingan-kepingan kebersamaannya bersama dengan gadis bermata sendu itu. Mengapa kamu tidak bawa pergi semua kenangan yang pernah terjadi di antara kita, Phia? Apakah mungkin ini dikarenakan dia yang sebenarnya tidak mau Shopia beranjak sedetikpun dari benaknya? Mungkin dia sekarang sudah berbahagia dengan si Sariawan itu, bahagia tanpa ada gangguan lagi dari pemujanya yang sudah diusir pergi. Sebenarnya suasana di warung si Teteh tidaklah sepi, banyak teman-teman sales dan sopir malam yang asyik bersenda gurau dan lainnya. Ada juga karyawan produksi yang kebetulan mampir dulu sebelum menuju rumah masing-masing. Tetapi Arjuno memilih tenggelam dalam kenangannya sendiri, tidak peduli dengan semua manusia yang kadang memandangnya sebagai pemuda aneh karena tidak bergaul. Gue harus move on, gumamnya lirih. Mengenang Shopia bukan hanya rasa sakit yang dirasakannya dalam d**a dia sering kala berkaca-kaca karena siksaan kenangan bersamanya. Memang belum banyak waktu yang dilewatkan tetapi mengusir yang sedikit itupun rasanya seperti tertindih selaksa kesedihan. Arjuno harus segera menemukan seseorang yang bisa menjadi pengganti Shopia. Seseorang yang bisa menjadi penyemangat kerjanya, bisa mengisi  kekosongan di hati. Hal yang paling utama adalah harus bisa mengalihkan pikiran dari semua waktu yang pernah terlewatkan bersama dengan gadis bermata sendu itu.   Dia sebenarnya sudah memulai langkah kakinya untuk menghapus Shopia, menghadirkan orang baru untuk kisah baru. Pemuda itu sudah pedekate dengan Anna, seorang karyawan bagian quality control roti tawar. Gadis itu tidak terlalu cantik, tetapi dia memiliki karakter yang menarik. Setelah dia berusaha menyelami kehidupannya lebih jauh, Arjuno mengetahui bahwa gadis itu masih memiliki seseorang di hidupnya. Memang Anna dan kekasihnya itu sudah lama tidak bertemu, tetapi masih ada komitmen yang masih dijaga dan dipertahankan.  Tetapi dia tidak mau terpaku haanya kepada Anna karena masih ada beberapa target yang masih harus didekati satu persatu. Pemuda itu meneguk sisa kopi di gelasnya yang hampir tandas, ampas kopi berserakan menempel di pinggir bibir. Punggung tangan kanan akhirnya menjadi penyeka untuk membersihkan benda-benda kecil hitam itu. Dia menghela napas panjang. Teman-teman sales malam untuk jalur dalam dan luar kota sudah mulai meninggalkan warung si Teteh satu persatu. Mereka katanya mau masuk untuk checklock absen, beberapa dari mereka akan langsung nge-cek roti. Arjuno tidak ikut dengan mereka, dia memilih tetap berada di tempat favoritnya dulu, berusaha berdamai dengan kesendirian.   Terlihat jam tujuh lewat tujuh menit di jam dinding warung, sebuah helaan napas terdengar. Biasanya dia bersiap-siap mengantar Shopia pulang pada jam ini, lalu sibuk menghabiskan senja berdua hingga malam hampir bergeser. Sekarang dia hanya duduk di pojok warung menyendiri, hanya berteman dengan kopi  hitam yang hanya tersisa ampas, juga bersama dengan mangkok mie yang sudah kosong sejak tadi. Pemuda itu kembali meneguk kopinya yang mulai mendingin, sambil berusaha mengusir jauh-jauh bayangan kenangan bersama Shopia yang tiba-tiba datang menyapa. Dari posisinya duduk terlihat karyawan produksi bagian roti tawar mulai keluar satu persatu dari pabrik. Beberapa dari mereka ada yang langsung pulang, tetapi ada juga yang mampir ke warung untuk pesan makan atau menunggu mobil favorit berangkat. Mobil box sudah standby sejak lepas Magrib tadi, pilot mobil itu terlihat tak jauh dari kendaraannya itu, dia sedang asyik mengobrol dengan sobat karibnya, Bang Dongdot. Laki-laki bertubuh kurus tinggi itu adalah driver Arjuno di jalur Tangerang. Dia menebak pembicaraan antara Bang Ucrit dengan Bang Dongdot adalah tentang Yulia. Yulia, gadis ini adalah karyawan produksi roti manis. Dia adalah idolanya Bang Ucrit. Biasanya Yulia sering disebutkan bersama dengan nama sahabatnya yang pulang searah yaitu Tati. Itulah alasan mengapa nama mereka sering disebut bersama yaitu Yulia Tati. Arjuno menduga alasan sopir antar jemput itu mengidolakan Yulia itu dikarenakan dia sering ikut pulang dengan mobil antar jemput karyawan, sehingga membuat ada sesuatu yang tumbuh liar di dalam d**a Bang Ucrit. Mungkin apa yang dilakukan laki-laki berkepala empat itu cuma sebagai hiburan saja karena sebenarnya dia sudah punya anak dan istri. Mudah-mudahan saja tidak kebablasan. Setiap kali Arjuno ikut mengantar karyawan produksi pulang, materi pembicaraan kesukaannya adalah tentang idolanya terus, Yulia beginilah, Yulia begitulah. Sebagai teman baik yang rajin membaca dan gemar menabung pemuda itu mendengarkan saja ceritanya itu, walaupun kadang dengan menyembunyikan rasa malas dan bete. Seseorang dengan wajah familiar masuk ke warung, dia adalah Anna. Gadis itu melangkah gontai dengan gurat lelah di wajahnya lalu duduk di bangku paling pinggir warung. Matanya nanar memandangi satu dua teman satu shift-nya yang pulang. Dia melambaikan tangan ke arah teman laki-lakinya yang lewat dengan berboncengan motor, pemuda gemulai itu menyambutnya dengan lambaian tangan dan sebuah teriakan. Arjuno duduk menghampirinya untuk sekadar menyapanya. Gadis itu menoleh setelah dan sebuah senyum lelah dipaksakan hadir di bibirnya. Pemuda itu sebenarnya masih agak risih dekat dengan Anna setelah penolakannya beberapa hari lalu. “Ada yang salam, Jun.” Anna membuka pembicaraan. “Salam? Dari siapa?” jawab Arjuno dengan memasang wajah yang sok imut. Pemuda itu berharap wajahnya tidak menjijikan saat itu di mata Anna karena ke-imut-annya. Tetapi kalimat ‘ada yang salam’ itu otomatis membuat percaya diri Arjuno tiba-tiba meningkat. Wajarlah untuk laki-laki seperti dia pasti banyak yang perhatian, guraunya dalam hati. “Dari Enchy, Jun.” Astaga, salam dari Enchy ternyata, gue pikir dari lo, Na. Pemuda itu memandang wajah lelah gadis itu, tetapi gadis itu terlihat tak peduli dengan apa yang dilakukannya. Sebenarnya ini bukanlah pertama kalinya dia mendapatkan ‘salam’ dari Enchy. Mungkin sudah lebih dari tiga kali dan sering kali dititipkan kepada teman-teman satu shift-nya. “Mengapa gue enggak jalan dengan Enchy saja?” Hatinya berbisik. Tidak ada salahnya, gadis itu sepertinya ada feeling kepadanya, walaupun memang dia tidak terlalu cantik tetapi cukup menarik. Gadis itu memiliki tinggi di atas rata-rata dengan hidung yang lumayan mancung, ada satu hal lagi yang penting Enchy adalah perempuan baik-baik dan tidak neko-neko. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya terhadap gadis itu dan belum ada rasa yang hadir untuknya. Apakah mungkin dengan berjalannya waktu rasa itu akan tumbuh dan beranak-pinak? *** Setelah pertimbangan panjang dan meminta pendapat kepada kedua sahabat-sahabatnya di pabrik, akhirnya Arjuno memutuskan untuk jadian dengan Enchy. Tidak susah untuk mendekati gadis itu karena mungkin dia sudah ada rasa terlebih dulu kepada Arjuno. Pemuda itu memaksakan diri untuk dekat dengan Enchy karena rasa dalam dadanya belum juga tumbuh. Dia melakukan itu supaya psikis-nya tetap sehat juga agar otaknya tidak selalu terbebani dengan wajah makhluk itu. Dalam beberapa hari yang masih bisa dihitung dengan jemari tangan, kisah baru antara Arjuno dan Enchy menjadi trending topic dan viral di pabrik roti. Cerita mereka santer di telinga karyawan produksi roti tawar dan manis, tetapi teman-teman sales malam yang tahu hanya Ahmad Sales dan Syahroni saja. Karyawan produksi lebih banyak yang nyinyir dari pada mereka yang support hubungan sepasang kekasih baru itu. Penilaian merekapun macam-macam saja, ada yang bilang Enchy hanyalah pelarian  Arjuno saja. Mereka juga bilang pemuda itu playboy yang hanya akan mempermainkan Enchy. Menurut Arjuno, istilah playboy yang disematkan untuknya sama sekali tidak pantas karena biasanya yang diberi gelar dengan julukan itu biasanya tidak menjijikan seperti Arjuno.  Tetapi pemuda itu tidak peduli dengan penilaian macam-macam mereka. Bodo amat! Hirup aing kumaha aing. Hidup gue, gimana gue! Berdasarkan penuturan teman-teman akrab satu shift-nya, Enchy katanya senang sekali bisa mempunyai hubungan dengan Arjuno. Dia juga berharap banyak kisah mereka akan mempunyai langkah yang pasti ke depan. Mungkin gadis itu sedang mencari sosok yang bisa diajaknya membina hubungan yang serius. Walaupun hubungannya dengan Enchy adalah sebuah keterpaksaan, tetapi dia tidak main-main untuk memulai hubungan ini. Pemuda itu ingin menjadi pacar yang baik untuk Enchy. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Arjuno berusaha hadir sesering mungkin di hidup kekasihnya itu. Dia selalu menyempatkan untuk menjemputnya saat mau berangkat kerja dan mengantarnya pulang. Pokoknya dia berusaha untuk bertemu sesering mungkin dengannya, termasuk bertemu di floor dan mengobrol di warung si Teteh. Untuk mengikis semua kenangan yang pernah terjadi dengan Shopia, apapun yang pernah dia lakukan bersama gadis itu kini dilakukannya lagi bersama dengan Enchy. Tetapi, mengapa hatinya tetap HAMPA? Setelah  lebih dari dua minggu cerita barunya berjalan perlahan, rasa yang diharapkan tumbuh untuk menghiasi kisah ternyata belum juga bertunas. Bagaimana bisa beranak pinak dan membelukar jika berbenihpun tidak? Apakah ini dikarenakan otaknya yang belum bisa ikut move on? Ataukah karena dia memang belum siap melepas cerita lalu itu? Padahal dia sudah berusaha mati-matian untuk menumbuhkan rasa untuk kekasihnya yang baru itu setiap hari. Rasanya menumbuhkan rasa suka saja sulit sekali, bagaimana mau menyemai yang lebih dari itu? Help me ya Allah. Jadikanlah hamba laki-laki yang baik, bukan laki-laki yang pura-pura baik. Bunuh, sirnakan semua rasa. Setiap hasrat kepada makhluk-Mu yang bermata sendu itu. Hapuskanlah prasasti namanya segera, walaupun masih terpahat dengan sempurna. ***              Kala itu dia sangat  membenci diri sendiri, saat dini hari sedang mengantar Enchy pulang kerja shift 2 dengan mobil box favorit. Saat gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu karena didera kantuk, tetapi mengapa justru yang hadir di otak Arjuno saat itu adalah bayangan Shopia. Sungguh terlalu. Ya Allah, Hapuskanlah bayangan Shopia dari benak hamba. Mengapa hamba selalu tidak bisa melupakannya? Apakah mungkin karena hamba belum rela.Tidak ingin dia pergi menjauh? Pemuda itu mulai merasa percuma saja memaksakan dirinya mati-matian untuk menumbuhkan rasa, karena sepertinya tidak bisa dipaksakan hatinya untuk mencintai Enchy. What should I do now? Apakah harus dibunuh mati saja keinginan untuk menjadi pacar yang baik untuk Enchy? Apakah mungkin sebaiknya seperti itu saja, daripada ini hanya akan menjadi sebuah hubungan bohong belaka yang berhias pita dusta.                     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN