PILIHAN

530 Kata
Deru mesin kendaraan terdengar riuh, bersahutan dengan suara para calo yang sedang berburu penumpang. Ragu-ragu, Savana melangkahkan kakinya memasuki terminal. Tujuannya satu, mencari bus yang akan membawanya ke tempat tujuan. "Jakarta, Mbak?" Seorang calo mendekatinya. Sava dengan cepat menggeleng. Dia berjalan tergesa menuju deretan kendaraan yang berjejer rapi di depan sana. Bus yang akan mengantarnya ke Jakarta. Keputusan Sava sudah bulat. Dia akan mencari ayahnya. Berbekal sebuah alamat yang dituliskan almarhum sang nenek, dia akan mengawali petualangannya. Sebuah bus kelas eksekutif melaju lambat, meninggalkan terminal Tirtonadi. Sava duduk di bangku depan dengan hati berdebar. Ini pengalaman pertamanya bepergian seorang diri. Meskipun sempat ragu, dia tetap nekat untuk melanjutkan perjalanan. Keinginannya sudah tak terbendung. Dia bahkan rela mengubur mimpinya, demi bisa menemukan keberadaan ayahnya. *** Gedung SMA 1 Surakarta sudah sepi. Para guru dan murid sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun, di salah satu ruang kelas tampak sepasang guru dan murid sedang terlibat pembicaraan yang serius. Wanita paruh baya mengenakan jilbab berwarna biru tua, senada dengan seragam yang dia kenakan, sedang duduk di kursinya dengan raut wajah serius. Di depannya remaja putri dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai, diam tertunduk sambil memain-mainkan ujung roknya. Apa kamu sudah memikirkan keputusan ini baik-baik, Va?" Wanita itu menatap Sava lekat-lekat. Hening. Ruang kelas berdinding putih itu seketika senyap. Sava masih diam. Dia tak berani menatap Bu Farida, wali kelas yang selama ini sangat perhatian kepadanya. "Kenapa, Va? Bukankah beasiswa ini impianmu? Kamu sudah bekerja keras untuk bisa mendapatkannya. Dan sekarang kamu ingin melepaskannya begitu saja?" Mendengar ucapan gurunya, Sava semakin menunduk. Bu Farida memang benar. Selama ini dia sudah berjuang untuk mendapatkan beasiswa itu. Dia bisa melanjutkan kuliah sampai lulus tanpa perlu memikirkan biayanya. "Apa karena nenekmu sekarang sudah tak ada?" Wanita 50 tahun itu terdengar begitu emosional. Selama ini Sava sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dia tahu betul, bagaimana perjuangan remaja itu. Sebagai yatim piatu, Sava harus bekerja keras untuk bisa tetap melanjutkan hidup. Dia membantu neneknya berjualan di sela waktu sekolahnya. Namun, semua itu tak menghalangi gadis cantik itu untuk tetap berprestasi. Dia tetap bisa menjadi siswa terbaik setiap tahunnya. Itulah salah satu alasan Farida begitu menyayangi Savana. "Dengarkan ibu baik-baik, Va. Bagaimanapun keadaanmu sekarang, jangan pernah merasa sendiri. Kamu masih memiliki ibu dan guru-guru yang lain di sini. Kami semua menyayangimu, Va. Kami ingin kamu berhasil meraih cita-citamu." Savana semakin terpenjara dalam rasa bersalah. Dia sangat mengerti bagaimana dukungan para guru di sekolah, terutama Bu Farida. Wanita itu pasti menginginkan yang terbaik untuknya. Namun, ini pilihan yang sulit untuknya. "Maaf, Bu. Tapi ... saya harus mencari ayah saya." Hati-hati Sava menyampaikan kalimatnya. "Ayahmu?" Sava hanya menggangguk. "Ayah saya masih hidup," terang Sava melihat wajah kebingungan sang guru. "Tapi ...." "Saya tidak tahu kenapa selama ini Nenek menyembunyikan kebenaran ini. Tugas saya sekarang untuk mencari tahu jawabannya. Jika memang sudah rezeki, beasiswa itu akan bisa saya dapatkan kembali." Kalimat terakhir diucapkan Sava dengan ragu. Dia tak yakin apa dia bisa mewujudkan mimpi-mimpinya untuk kuliah dan menjadi dokter. Saat ini, tidak ada yang lebih penting dibanding ayahnya. Keputusan Sava sudah bulat. Dia harus bisa menemukan sang ayah. Dia harus mencari tahu, kenapa laki-laki itu pergi. Dan kenapa, neneknya menyembunyikan semua dari Savana Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN